
Setelah pemeriksaan dari beberapa dokter, akhirnya Rika sudah di pindahkan ke ruang rawat namun masih harus di pantau lebih lanjut kondisinya yang masih lemah di tambah keadaan cedera di beberapa bagian tubuhnya masih belum sembuh. Dan saat ini dia masih di temani Annisa dan Egi di ruangan itu.
Gadis manis itu duduk setengah terbaring di ranjang menatap sayu pada sahabatnya. "Nis, kau baik-baik saja kan? Kenapa wajah mu terlihat sangat pucat dan lesu? Bahkan mata mu sampe bengkak segede bola tenis gini."
Annisa tertawa geli, "Aku baik-baik aja Rik, jangan menatap ku aneh gitu."
Rika tersenyum masih menatap. Dia berbohong... "Oh ya Nis, Papa ku mana?" tanyanya mengalihkan.
"Om masih di perjalanan kemari, Rik." Balas Annisa sembari merapihkan selimut yang menutupi tubuh Rika.
Rika melihat keadaan tangan kanannya yang di bebat ke depan di tambah kaki kanannya juga yang di perban tebal kaku. Sepertinya akan sulit untuk berjalan..
Dia melirik wajah Annisa yang sibuk merapihkan selimut juga seprai di ranjangnya. Lalu melirikkan bola mata nya ke arah sofa dimana Egi berada yang tengah menyiapkan segala menu makanan di atas meja. Aku pasti telah menyusahkan orang-orang terdekat ku, sampai mereka terlihat kelelahan dan lesu.
Egi beranjak melangkah ke arah kedua gadis itu. Ia memegang bahu Annisa. "Sayang, sekarang sudah waktunya makan."
"Sebentar Egi, aku masih belum lapar."
Mengusap bahu Annisa dengan lembut. "Sayang, ini sudah sore dan kamu belum makan apa pun dari pagi."
"Tapi aku masih belum-"
"Nisa, benar kata suami mu. Cepatlah makan, aku tadi mendengar terus suara perut mu yang minta di isi." Rika memotong ucapan Annisa.
Annisa beralih menatap Rika. "Nanti setelah kamu di bolehin makan, aku juga akan ikut makan bersama kamu Rik."
"Tidak Nis." Ucap Rika cepat. "Kamu itu sedang mengandung, jangan menyiksa diri seperti itu Nis. Cepat makan sekarang juga, jika kamu benar-benar peduli pada ku juga bayi mu."
Menghela napas pelan, Annisa mengusap punggung tangan Rika. "Baiklah, kalo kamu butuh sesuatu panggil saja. Aku dan Egi di sofa nggak jauh-jauh." Yang di balas anggukkan kepala pelan.
Annisa bangkit dari duduknya yang langsung di rangkul bahunya oleh Egi, ia di giring ke sofa bersiap untuk makan bersama.
Dan bersamaan dengan itu...
Ceklek.
Pintu ruangan terbuka lebar, dan masuklah seorang pria paruh baya berpakaian jas kantor. Seketika Annisa dan Rika menoleh ke arah pintu, namun tidak dengan Egi yang memilih menyiapkan makanan ke piring kosong.
"Neng, anak Papa." Ujar Pak Adi sambil berhambur melangkah cepat ke arah ranjang.
"Papa." Menatap sendu dengan mata berkaca-kaca.
Pak Adi menaruh tas kantor ke atas kursi samping ranjang Dan...
__ADS_1
Grep.
Dia langsung merangkul dan memeluk anak gadisnya, ia mencium puncuk kepala Rika secara bertubi-tubi sembari mengucap kata syukur. "Anak Papa akhirnya berubah juga jadi manusia lagi, setelah sebulan jadi putri tidur."
Rika membalas pelukannya dengan melingkarkan sebelah tangan yang tak cedera ke punggung. "Mama nggak kemari Pah?"
"Ah, Mama...," terjeda seiring gerakan tangannya yang sedang mengusap kepala melambat. "Dia-"
"Aku tahu Pah, pasti Mama tidak tahu soal aku kecelakaan. Tapi syukurlah Papa berhasil menyembunyikannya demi kesehatan jantung Mama."
Pak Adi mengelus kembali kepala Rika. "Anak Papa memang paling pengertian. Untung kamu segera bangun Neng, kalo tidak, Papa berencana akan menukar mu dengan anak gadis lain."
"Ish, memang ada gitu gadis lain yang sebaik dan secantik aku ber-gen Pak Adi sunjaya." Rika tersenyum dengan mata sudah memerah dan berair.
Pak Adi tertawa tanpa menjawab ucapannya.
Hingga sejenak keheningan membentang di ruangan itu, hanya deru napas penuh haru bahagia dari mereka yang menandakan ada makhluk hidup dalam ruangan tersebut. "Maafin Ika udah bikin khawatir, Papa."
"Papa nggak bisa maafin kamu Neng, takut di ulangi lagi bikin Papa cemas setengah mati. Kamu kan ahli mengulang kesalahan."
"Caelaaah Papa, siapa juga yang mau kayak gini lagi sih. Gak enak tau."
Pak Adi terkekeh senang dengan air mata mengalir dari kedua sudut matanya. Ia melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata. "Papa sangat senang, dan pastinya Nak Jhonathan juga akan bahagia mendengarnya."
Kemudian pria paruh baya itu berbalik menengok ke arah sofa pada pasangan suami istri yang tengah menonton dirinya sambil menikmati makanan. "Nak Annisa, Nak Jhonathan apa sudah di kabari?"
Seketika gerakan rahang Annisa yang mengunyah terhenti, ia menatap diam.
"Bapak tenang saja, saya sudah mengutus orang kesana untuk menjemputnya." Egi menyahut sambil menyuapkan satu sendok sup ke mulut Annisa.
Pak Adi tersenyum senang, "terimakasih tuan muda kedua, selama ini saya telah banyak merepotkan tuan."
Egi membalas tersenyum tenang. "Tak perlu sungkan, bagaimana pun Nona Rika adalah sahabat istri saya. Dan lagi dia terluka karena menyelamatkan dua nyawa yang amat penting dalam hidup saya."
Rika terlihat termenung, dengan tatapan terpaku menatap vas kaca yang berisi bunga mawar di atas bufet kecil dekat televisi sebrang ranjangnya. Jojo... Setelah mendengar cerita dari Annisa tadi bahwa dia trauma berat karena kecelakaan ku, akankah dia kemari?
---------------------------------
Di Rumah Jhon.
Di lantai paling atas rumah itu, terdengar alunan nada yang berasal dari alat musik seukuran cukup besar yang sedang di mainkan oleh pria tampan berbaju t-shirt putih dengan lengan tanggung sebatas siku.
Raut wajahnya terlihat pucat dengan mata tertutup, Jemari tangannya terus menari di atas tuts piano hingga menciptakan nada yang amat menyayat hati seakan menumpahkan segala kesedihan, kegundahan dan rasa cemas dalam hatinya lewat nada itu.
__ADS_1
Kreet.
Pintu tunggal bercat cokelat ruangan tempatnya bermain musik terbuka. Namun tak membuat Jhon menghentikan jemarinya yang perasaannya sudah larut dalam alunan nada.
Semoga dia senang setelah mendengar kabar baik ini... Ibu Lily menghembuskan napas panjang, berjalan pelan mendekat. "Atan." Panggilnya.
Dan tak mendapat tanggapan apa pun dari Jhon yang masih terlarut dalam permainannya.
"Atan." Wanita paruh baya itu memberanikan diri menyentuh sebelah pundak pria yang terduduk di depan piano.
Jhon masih tak menghiraukan panggilan juga kehadiran wanita di sampingnya, ia tetap menarikan jemarinya.
"Atan. Ibu bawa kabar baik untuk mu." Ucap Ibu Lily dengan nada suara jelas sedikit meninggi agar terdengar mengalahkan alunan suara musik piano.
Kabar baik? Tersenyum kecut nan pahit. Tak ada kabar baik selain mendengar gadis bodoh ku hidup.
"Dengarkan ibu Nak, ini soal Nak Rika." Ibu Lily bersuara kembali saat masih tak mendapati tanggapan apa pun dari Jhon.
Rika... seketika gerakan jemari di atas tuts itu terhenti, Jhon membuka matanya namun duduk dengan kepala tertunduk.
"Nak Rika... dia telah sadar dari koma nya."
Mendengar hal itu, seketika mata Jhon melebar terpaku diam tak berkedip. Dia... sadar?
"Salah satu pengawal utusan Nak Egi ada di bawah untuk menjemput mu agar bertemu Nak Rika."
Senyuman bahagia ketidak percayaan akan apa yang di dengarnya. Jhon mengangkat wajahnya namun tak mengarahkan ke sang ibu. "Apa aku tak salah dengar ibu?" Bertanya menuntut kejelasan yang di harapkan.
"Kau tak salah dengar Atan, Nak Rika telah tersadar dari koma nya."
Kreet... sreet.
Sontak Jhon berdiri secara tiba-tiba membuat Ibu Lily terperanjat sedikit melangkah mundur.
"A-Atan kenapa? A-ada apa?" Heran Ibu Lily saat melihat putranya berdiri kaku dengan sorot mata menunduk dan tersenyum lebar menyeringai.
Rikaa... gadis bodoh ku. Jhon yang sudah tak memperdulikan sekitarnya juga tak terkontrol lagi perasaan senang bercampur kelegaan dalam hatinya, ia segera berbalik keluar area kursi dan melangkah ke pintu keluar ruangan melewati Ibu Lily begitu saja yang tengah memandangnya terbengong bingung.
"Apa itu ekspresi bahagia campur terkejutnya? Seumur-umur aku jadi ibunya baru kali ini melihat dia memiliki ekspresi seperti itu." Ibu Lily ikut berjalan ke arah pintu keluar sambil menggeleng beberapa kali dengan senyuman di bibirnya.
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...
__ADS_1