Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 54


__ADS_3

Ray mendapati panggilan dari Pak Tio yang mengharuskan untuk menjaga dua wanita di dalam ruangan kerja agar tidak keluar kafe dan mengamankan mobil Rika, selain itu Pak Tio pun menceritakan kejadian yang menimpa tadi serta keributan yang terjadi di kafe adalah ulah musuh yang berencana mengalihkan fokus agar bisa menyerang Annisa.


Ray berlari dengan tergesa di koridor menuju ruangan. Dan...


Brak... Dugh.


Dia dengan keras membanting pintu ruangan kerja.


"Mak, Nisa." Panggilannya menggelegar, ia memeriksa ruangan itu dengan berjalan cepat melihat kamar tidur yang terdapat di sebelah ruangan juga kamar mandi yang ternyata kosong.


"Sial, kemana mereka?" Mengusap kasar wajahnya.


Dan bersamaan dengan itu datang salah satu bodyguard Annisa yang sempat di perintahkan oleh majikannya tadi. Pria itu memegang nampan berisi makanan juga menenteng tas selempang wanita memasuki ruangan.


"Dimana Nona?" tanya bodyguard itu.


Ray melangkah cepat dan langsung menarik kasar kerah baju pria berjas rapih itu hingga sebagian minuman dalam gelas tumpah ke jasnya. "Lo ****, apa dungu hah. Sudah tahu keadaan genting gini malah ngebiarin mereka pergi tanpa penjagaan."


Pria itu menatap dengan tenggorokkan tercekik. "Ma-af tuan Ray. Sa-saya tadi di peri-ntah-kan un-tuk mengambil tas, tap- uhuk... uhuk."


"Aarrgh." Ray melepaskan cekalan di kerah bajunya, lalu dengan tergesa merogoh ponsel untuk mendial nomer Rika.


Namun... Nut...Nut.


Panggilan teleponnya tidak tersambung yang malah suara operator wanita yang keluar memberitahukan jika nomer tersebut sedang berada di luar jangkauan.


"Gila! Apa si Egi mengutus pengawal bayangan yang di tugaskan untuk menjaga Annisa?" Tanya Ray tajam penuh kekesalan. Dia masih mencoba menghubungi Rika dengan terus-terusan mendial nomer nya namun nihil tak ada jawaban.


"Iya tuan." Menundukkan pandangan merasa takut dengan tatapannya. Ia meletakkan nampan ke atas meja dan merogoh sebuah benda kotak berukuran kecil dari saku jasnya, lalu menekan sebuah tombol di benda kecil yang menempel di sebelah telinga nya.


"Hubungi mereka, kita lacak keberadaan Rika dan Annisa." Ujar Ray, dan berhambur keluar ruangan.


Pria berjas itu ikut menyusul dari belakang.


Di sebuah mobil biru langit.


Rika dan Annisa tampak riang berceloteh bercerita, dengan di iringi alunan musik dari audio yang dinyalakan.


Annisa melirikkan pandangan keluar jendela. "Rik beli snack dulu yuk, kayaknya enak nih sambil ngemil ngobrol gini."


Rika melirik sekilas pada gadis cantik di sampingnya. "Tak perlu Nis. Di kursi belakang ada banyak tuh snack."


"Serius?" Menengok ke kursi belakang yang memang benar ada sekotak besar bungkusan snack dekat dengan tumpukkan beberapa bantal mobil yang bersarung keropi. Annisa meraih bungkusan berwarna hijau rasa rumput laut yang berukuran besar.


"Kok bisa banyak camilan gini? Nyetok nih ceritanya?"


Rika tertawa, fokus mengemudi. "Itu kerjaan Mama Nis, kalau malam kan suka ngajak jalan-jalan keliling komplek pake mobil ini, dan yah itu harus sedia camilan."


Annisa manggut-manggut sambil menyuapkan keripik ke dalam mulutnya. "Mau?" Menyodorkan keripik ke bibir Rika yang langsung di sambut dan dilahap.


"Enak juga ternyata ngemil snack. Pantas si Mama doyan ngemil sampe tuh perut melar nyaingin ibu hamil."


Annisa tertawa geli, dan kebetulan bola mata nya melirik sebuah benda pipih di dashboard.


"Eh, Rik aku lupa belum izin sama si Egi untuk keluar kafe. Ponsel ku di tas lupa bawa. Boleh pinjem ponsel mu nggak?"


"Boleh, inget kan nomer suami mu Nis. Soalnya aku nggak ngesave nomernya."


"Ingetlah." Mengambil ponsel dan menekan tombol untuk menghidupkan layar yang tak menyala. "Eh, kok mati."


"Habis kali batreinya, soalnya tadi juga udah merah."


Hmm... Semoga saja si Egi nggak marah, gara-gara lupa izin. Annisa mendesah kecewa mencharger ponsel itu lalu meletakkan ke dashbord kembali, kemudian menatap lurus ke depan. "Rik, nggak bisa cepetan dikit yah bawa mobilnya? Perasaan lambat amat kayak keong."


Rika terkekeh melirik sekilas. "Nggak bisa Nis, entar aku kena omel sama si Jojo yang sudah nyeramahin sewaktu pagi."


"Aciee. Yang udah di lamar, yang sebentar lagi ke pelaminan," goda Annisa mencolek pipi Rika.


"Ap-apaan sih Nis, kok jadi bahas pelaminan." Gugup Rika yang pipinya sudah merona.


Annisa tertawa puas. "Seneng nggak Rik di lamar sama Kak Jhon, sang idaman hati?" Lalu ia menyuapkan keripik ke mulutnya.


"Ah, umii." Cicit Rika tanpa mengalihkan tatapan lurus ke jalanan, pipi nya bertambah merah padam.


"Hahaha....," Annisa semakin asyik menggoda Rika.

__ADS_1


Dan pada saat sedang keadaan santai di penuhi tawa Annisa, tiba-tiba sebuah mobil hitam dari arah belakang terlihat ugal-ugalan dengan kecepatan cukup tinggi.


Bruum... bruum. Tin...tin.


"Eh," kaget Rika melirik kaca spion luar. "Dih kenapa mereka? Bawa mobil kok ugal-ugalan gitu sih. Ngajak balapan?"


Tawa Annisa terhenti, dan ikut melirik kaca spion luar. "Kamu minggir aja Rik, kali aja mereka lagi keadaan darurat."


"Iya deh." Rika membelokkan setir mobilnya hingga mentok ke pinggiran jalan.


Namun tetap saja mobil itu terus membuntuti di belakangnya seakan mempermainkan ingin menguasai jalanan.


Bruum...bruum... Tin. Tin.


Alis Rika berkerut dalam, mulai panik dan cemas. "Kok mereka semakin menjadi Nis? Apa mereka begal atau penjahat yang ingin merampok?"


"Ngaco kamu Rik. Ini kan di jalanan ramai, mana ada begal." Annisa melihat keluar jendela yang ternyata semua mobil menyampir dari jalanan seakan membiarkan mobil hitam itu menguasai jalanan. Ada yang aneh. Kenapa mereka terlihat berkomplotan.


Dugh...brak.


"Mama, Papa!" Pekik Rika.


Mobil hitam itu menyenggol bagian body belakang, hingga membuat keduanya terperanjat kaget bercampur takut.


"Nis gimana ini?" Panik Rika mulai tak seimbang mengemudikan setir mobil.


"Tenang Rik, jangan panik. Kita coba alihkan perhatian mereka dulu."


"Tapi gimana caranya mengalihkan mereka Nis? Kalau mereka mau begal atau penjahat semacam rampok komplotan gimana?" Tangan Rika mulai gemetar memegang kemudi.


"Semoga saja bukan Rik." Annisa melihat sekitar jalanan. Lalu tangannya menunjuk nyerong. "Lihat di depan sana, ada belokan. Kamu belokkan ke sebelah kiri saja Rik, daerah situ suka ramai oleh warga."


Dugh...brakk.


"Niiis." Lirih Rika.


Lagi-lagi mobil hitam itu menubruk body belakang mobil, hingga mobil yang di kendarai Rika mulai terhuyung tak seimbang akibat salah memutar stir.


"Tapi... tapi...," gagap Rika takut dan gemetar melirik kaca spion luar dan jalanan depan secara bergantian.


Bruum...bruum.


Kaca jendela mobil hitam itu turun yang menampilkan seorang pria berkaca mata hitam dan berjaket jeans yang entah Annisa atau pun Rika tidak mengenalnya. Pria itu menyeringai menatap tajam lalu kembali menaikkan kaca jendela.


Annisa yang melihat wajah pria itu, alisnya berkerut dengan raut wajah waspada penuh kecurigaan. Siapa mereka? Dan apa mau mereka sampe melakukan hal ini pada kita? Kalau begal rasanya nggak mungkin di jalanan ramai seperti ini.


Dugh...brak.


Mobil Rika kembali di senggol dari belakang.


"Nis, aku takut... gimana ini?" Cicit Rika gemetaran.


Annisa melirik sekeliling mobil yang depan belakang juga samping sudah di kepung oleh mobil hitam. "Kita di kepung Rik. Sebaiknya kamu hentikan mobilnya, kita hadapi mereka. Apa maunya."


"Hah! Se-serius Nis." Mata Rika melotot menatap sejenak ke arah samping, lalu ia beralih melirik kaca spion lagi. Kenapa seakan kita akan di culik? Tapi aku kan nggak punya musuh. Atau jangan-jangan mereka mengincar Annisa.


Tangannya memegang erat pada setir kemudi, Rika menatap fokus menghembuskan napas panjang untuk menetralkan perasaannya yang sedang takut bercampur cemas.


"Rik berhentiin mobilnya di sini." Perintah Annisa sedikit meninggi.


Rika menginjak pedal rem, namun alhasil mobil tetap melaju yang malah menambah kecepatan laju nya.


Mata nya semakin melebar terkejut dengan bibir menganga panik. "Nis, rem nya blong."


"Serius?"


Rika semakin panik, gelisah. "Nis, Nis. Mobilnya nggak bisa di kendaliin. Gimana ini?... hiks...hiks. Mama Papa Ika belum minta maaf karena sering bandel ngerengek minta jajan... hiks... hiks. Jojo kamu benar, mengemudi itu menakutkan, aku takut... aku nggak tahu harus bagaimana sekarang-"


Memegang bahu untuk menenangkan. "Rika! Tenanglah, kamu jangan panik."


Dengan tangan gemetar dan jantung berpacu cepat seiring kecepatan mobilnya, Rika masih berusaha agar bisa mengontrol kemudi.


"Nggak panik gimana Nis, aku nggak bisa ngendaliin setir mobilnya. Nis, ambil bantal-bantal di belakang. Pakai buat ganjal perutmu. Jangan sampai terbentur apa pun. Cepat Nis!"


Annisa melirik ragu dengan tatapan penuh penyesalan bersalah. "Tapi Rik-"

__ADS_1


"Jangan banyak kata tapi. Untuk sekarang keselamatan mu dan anak mu yang lebih penting. Cepat Nis, turuti aku." Teriak Rika masih menguasai kemudi dan fokus ke jalanan.


"Keselamatan kamu juga penting Rika." Ucap Annisa tak kalah tinggi.


Rika menghembuskan napas kasar, air mata nya sudah tak terkontrol untuk mengalir. "Aku mohon, dengarkan aku...hiks." Setidaknya aku masih bisa jadi bidan yang baik.


Annisa tertegun, terdiam sejenak ia memejamkan mata sejenak. "Ba-baiklah." Pasrahnya menurut mengambil tiga bantal bertekstur empuk untuk mengganjal perut bagian bawah.


"Perketat sabuk pengaman mu Nis."


"Kamu... kamu mau apa Rik?"


"Diam! Turuti saja aku." Bentak Rika yang sudah bercucuran dengan air mata. Mungkin aku tidak akan selamat dari kecelakaan ini, tapi setidaknya aku bisa membantu menyelamatkan dua nyawa.


Annisa dengan tangan gemetar menatap cemas, ia memperketat sabuk pengaman agar dirinya menempel lekat di kursi. Maafkan aku Rik, ini salah ku yang ngajak kamu keluar.


"Hiks...hiks. Sudah Nis?" Mengusap air matanya dengan kasar.


"Hemm." Annisa melirik ke arah luar jendela yang pandangannya menangkap sebuah mobil merah dari arah belakang mobil hitam.


"Rik, itu mobil Ray." Ujarnya melirik ke belakang, namun sudah tak di dengar oleh Rika yang sudah bersiap-siap untuk mengendalikan setir mobil ke arah yang di tuju.


Mama, Papa, Jojo maafin aku. Rika memejamkan mata sejenak yang sudah kabur akan air mata. Ia menghembuskan napas kasar, membelokkan setir mobil ke arah pinggir untuk membelokkannya agar mobil itu terhenti.


"Bismillahirrohmanirrohim...," gumam Rika melepaskan kedua tangan dari kemudi. Lalu ia menjulurkan kedua tangan itu menjadikan tubuhnya untuk menahan melindungi tubuh Annisa agar tidak terperosok ke depan atau terbentur apa pun.


Annisa menoleh cepat saat merasakan sebuah tangan merangkul dirinya. "Rikaa!" Teriak Annisa melindungi perutnya dengan memegang bantal-bantal itu, mata nya melotot dengan apa yang di lakukan sahabatnya yang berkorban terhadap dirinya.


Dan...


Brak... Bamm.


Mobilnya menabrak sebuah pohon besar, hingga body depan mobil hancur sebagian menimbulkan kepulan asap.


"Uhuk...uhuk... Rik-a, Rik-Rikaa...," lirih Annisa melihat sahabatnya tergeletak lunglai menimpa tubuhnya.


Annisa yang keadaan dirinya baik-baik saja hanya mendapat benturan di bagian lengan atas saja. Ia mengguncang kedua bahu Rika untuk membangunkannya, seketika mata nya melebar air matanya mulai terjatuh mengalir di pipinya melihat gadis manis di hadapannya sudah lemas, menutup mata dengan darah merembes di bagian kepala yang kebetulan kerudung yang di pakai Rika berwarna biru langit sehingga terlihat jelas warna merah pekat darah itu.


"Kenapa begini? Rikaa, bangun. Aku mohon... Rikaa... hiks...hiks... bangun Rika. Jangan menakutiku...," Mengguncang keras pada bahu gadis manis yang sudah tak berdaya menutup mata.


Masih mengguncang bahu Rika. "Maafkan aku Rikaa... tolong bangun... hiks... hiks. Jangan seperti ini Rik. Aku mohon banguun." Annisa mendorong kedua bahunya dengan tenaga yang tersisa untuk mendudukkan Rika ke kursinya kembali.


Dugh...dugh...


Jendela kaca mobil di pukul dari luar.


"Nisa! Rika!" Ray memanggil dari luar dengan terus berusaha membuka pintu yang terkunci.


"Ray." Lirihnya, beralih menekan tombol untuk membukakan pintu.


Ray membuka pintu dengan kasar dan lebar ia langsung berhambur melihat keadaan di dalam mobil. "Nisa, kau baik-baik saja?"


Memegang lengan Ray dan menangis melirik ke arah samping. "Rika... Ray. Tolong dia...hiks...hiks. Rika...," ceracaunya lemah seiring mata nya terpejam dan tak sadarkan diri.


Ray mengikuti arah pandang Annisa. "Mak." Matanya melotot. Ia langsung bergerak cepat memutari mobil mendekat ke arah pintu kemudi.


Sedang Annisa telah di bantu oleh beberapa bodyguard untuk di angkat ke ambulan yang keadaan sekitar telah ramai.


Ray dengan kasar membuka pintu mobil. Ia melepaskan seat belt di tubuh Rika lalu dengan tangan gemetar dan tatapan berkaca-kaca takut penuh kecemasan, ia menyelipkan tangan ke bawah bahu.


"Mak... jangan tinggalin gue, buka mata lo. Jangan becanda gini sama gue, Mak. Bangun... Mak." Ucap Ray, menepuk pipi gadis manis itu beberapa kali berharap mendapat respon namun nihil tak bergerak sama sekali.


Ray menundukkan kepala hingga dekat dengan wajah Rika, tangannya terkepal kuat namun tubuhnya seakan lemas untuk mengangkat tubuh lunglai gadis manis yang di rangkulnya. "Maak...," ucapnya serak nan parau tercekat dalam tenggorokan.


"Tuan Rayhan, biar kami bawa Nona ini ke dalam mobil ambulan untuk melakukan pertolongan pertama."


Ray mengangguk lemah, masih menundukkan pandangan dan dengan enggan melepaskan rangkulannya di tubuh Rika untuk di ambil alih oleh petugas medis.


Tubuh Rika di keluarkan dan di angkat oleh kedua petugas medis untuk di bawa ke dalam ambulan.


Ray masih bersimpuh dengan lutut tertekuk menopangkan tubuh ke kursi mobil. Ia menundukkan kepala mengepalkan tangan kuat, giginya gemereletuk menahan gejolak amarah bercampur kesedihan dalam hatinya. "Aaargh, sialaaan... ********, gila." Geram Ray. Napasnya terengah menatap nanar pada mobil ambulan yang membawa Annisa dan Rika di dalamnya.


"Mak lo harus selamat."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2