
Setelah melaksanakan shalat magrib dan Isya berjamaah di salah satu masjid yang di lewati saat di jalanan. Jhon membawa Rika ke sebuah butik yang cukup tersohor di kota itu, mobil hitamnya terparkir rapih di area parkir depan bangunan bertingkat tiga tersebut.
Rika keluar dari mobil, ia mendongakkan pandangannya menatap bingung pada bangunan yang terlihat megah itu.
Mau apa dia bawa aku kemari?
"Ikuti saya," instruksi Jhon berjalan melewati Rika yang berdiri mematung.
Rika menurut melangkahkan kakinya dengan pandangan menatap punggung Jhon yang sudah berjalan beberapa langkah dari jaraknya.
Begitu memasuki kedalaman butik, pegawai yang melihat Jhon langsung menunduk hormat dan tersenyum ramah menyambut kedatangannya seakan sudah terbiasa mereka melihat Jhon ke tempatnya.
Jhon duduk di sofa panjang dekat cermin besar di ruangan yang penuh dengan berbagai model pakaian. "Dandani dia untuk pergi ke acara keluarga, 15 menit cukup," Jhon menunjuk Rika yang berdiri di samping sofa, dengan tatapan dingin menginstruksi pada seorang wanita yang sedari tadi mengikuti Jhon dan Rika.
"Baik tuan," jawab wanita itu, kemudian mengedikkan dagu ke kedua pegawai lain.
Kedua pegawai lain mendekati Rika. "Mari nona ikuti kami," ucap salah satu pegawai dengan gerakan tangan agar Rika mengikutinya.
Sejenak Rika menatap Jhon yang sudah tenggelam dalam permainan ponsel. Lalu beralih menatap dua pegawai di depannya. Ia menganggukkan kepala pelan, tersenyum canggung dan mengikuti apa yang di perintahkan.
15 menit kemudian.
Rika yang sudah di dandani dengan make up natural dan di balut dengan sebuah gaun indah sederhana berwarna peach senada dengan kerudungnya. Ia berjalan perlahan menghadap Jhon yang masih asyik memainkan ponsel, entah apa yang di mainkan Jhon terhadap ponselnya.
"Khusyuk amat, pak, lihatin layar," ujar Rika yang sudah berdiri di depan Jhon.
Jhon mendelik sekilas ke arah suara, Ia mengangkat pandangannya menatap Rika dengan jelas. Seketika Jhon terpaku diam menatap Rika tanpa berkedip, alis nya terangkat sebelah bagai termenung. "Ke-kenapa harus gaun model dan warna ini yang dia pakai!" Jhon bertanya dengan intonasi tajam pada pegawai butik yang mendandani Rika.
Pegawai itu maju selangkah dan menunduk kepala. "Maaf tuan, tapi nona sendiri yang memilih ingin memakai gaun itu."
"Iya, saya sendiri yang memilih gaun ini karena saya suka, memang kenapa? Gaun yang bapak pilih terlalu kebesaran di badan saya. Memang bapak pikir badan saya gentong, sampai di pilihkan gaun ukuran double XL," cerocos Rika melipat kedua tangan di depan dan mendengus kesal.
Jhon menghela napas pelan, ia mengusap pelipisnya dan berdiri menatap Rika tak terbaca. "Tidak masalah kau ingin memakai gaun itu, hanya saja... saya kasihan pada desainer yang membuat gaun indah ini, harus berakhir dan di pakai oleh orang jelek, bodoh, seperti mu. Sangat di sayangkan kesan keindahan gaun ini di rusak oleh mu," tutur Jhon menusuk kemudian tersenyum mengejek.
Tangan Rika terkepal kuat, bibirnya menipis geram. "Terimakasih pujiannya pak Jojo. Gaunnya sudah saya bayar, saya tunggu di luar," tersenyum kepaksa, ia berbalik melangkah sedikit menghentakkan kaki ke arah pintu keluar.
"Ck, selain bodoh ternyata angkuh juga. Dia pikir aku tidak bisa membayar tagihannya," gumam Jhon, kemudian melirik pegawai toko yang masih berdiri di tempatnya. "Kembalikan uang yang di keluarkan wanita itu, ganti dengan uang di kartu ini," Jhon menyodorkan kartu debit. Lalu setelah beberapa saat Ia menerima kembali kartu nya. Jhon melangkah ikut menyusul Rika yang sudah berdiri di luar teras butik.
--------------------------------
Selama perjalanan tidak ada percakapan, keduanya sibuk berkelana dalam pikiran masing masing. Rika masih terlihat cemberut dengan wajah di tekuk menatap keluar jendela, dan Jhon sesekali melirik Rika di sela fokusnya mengemudi.
Mobil yang di kemudi kan Jhon perlahan melaju lambat di jalanan sebuah komplek perumahaan elit, mobil itu memasuki gerbang tinggi dan kokoh yang telah di buka kan oleh penjaga rumah. Hingga akhirnya terparkir ke garasi di rumah yang bertingkat tiga dan bercat putih itu.
"Besikap seperti biasanya sebagai diri mu sendiri, dan satu lagi jangan sampai kau keceplosan memanggil saya, bapak. Panggil saja nama saya," Jhon memperingatkan sambil membuka seat belt sebelum keluar mobil.
Rika menghembuskan napas pelan, dan mengangguk paham. Ia ikut menyusul keluar mobil.
Begitu kaki nya menapaki tanah, Rika mengamati rumah megah dengan halaman luas. Ia mendongak ke atas untuk melihat bagian lantai dua dan tiga rumah itu.
Rumah yang mewah, tidak salah lagi. Pak Jhon kan lahir dari keluarga kusuma sang pemilik perusahaan Eco.
__ADS_1
Jhon berjalan ke arah pintu kembar yang sebagai pintu masuk, sedang Rika mengikutinya dari belakang.
"Assalamualaikum," salam Jhon seiring mendorong pintu rumah dan masuk kedalam.
Rika mengikuti langkah Jhon dan sama mengucapkan salam.
Dalamnya jauh lebih megah dari bagian luar.
"Walaikumsalam," serempak wanita dan pria paruh baya menyambut kedatangan Jhon dan Rika dengan senyuman ramah.
"Ibu, Ayah," Jhon mencium punggung tangan kedua orang tua nya secara bergantian.
Sedang Rika masih asyik mengamati barang barang dan interior ruangan utama, tanpa menyadari orang sekelilingnya.
"Ternyata kau tidak melupakan janji mu untuk berkunjung," ucap Ayah Kusuma menepuk bahu Jhon.
"Aku tidak akan melupakan janji ku Ayah," Jhon menjawab dan melirik Ibu Lily yang tengah menengok ke arah belakang tubuhnya.
"Ah, gadis ini," seru wanita yang di panggil ibu oleh Jhon, wanita itu berwajah cantik meskipun sudah berusia di atas Mama Asih, Ia mengenakan gamis dengan kerudung blus yang senada warna dan model dengan baju nya.
Jhon melangkah menyingkir agar Rika terpampang jelas untuk di lihat oleh kedua orang tua nya. "Iya, dia gadis yang aku ceritakan pada ibu dan Ayah," meneruskan keterkujatan Ibu Lily.
"Gadis ini-" ucapan Ayah kusuma terhenti karena Ibu Lily menyenggol lengannya.
"Sangat cantik aslinya," lanjut Ibu Lily mengamati Rika yang masih belum tersadar akan keberadaannya.
Jhon mendekat ke Rika. "Wanita bodoh," setengah berbisik namun tegas di samping telinga Rika.
"Eh," tersadar Rika menoleh ke arah Jhon, alis nya tertaut dengan mata menyipit bingung. "Ada apa?"
Rika mengikuti arah pandang lirikan Jhon. Seketika mata nya sedikit melebar lalu tersenyum manis pada dua orang tua yang tengah menatapnya. "Hmm, malam tante," Mencium salam pada Ibu Lily."Om," Ucap pelan Rika menangkup kedua tangan di depan sebagai tanda salam pada pria.
Ibu Lily tersenyum ramah. "Panggil Ibu saja seperti Atan memanggil saya Ibu," merangkul sebelah tangan Rika untuk di ajak duduk di sofa.
Atan? Jadi panggilan sayang dari ibu nya adalah Atan. Imut sekali panggilannya.
Rika masih menundukkan pandangan tak berani bersitatap dengan ibu Lily. "I-ya, ib-ibu." gagap Rika, duduk di sofa bersampingan dengan Ibu Lily.
Jhon dan Ayah kusuma duduk di sofa bersebrangan dari dua wanita itu.
"Ekhem...," dehem Jhon sebelum berucap. "Dia bernama Rika, seorang bidan," Jhon memperkenalkan menatap Rika.
"Nama yang cantik seperti orangnya, juga profesi yang mulia untuk seorang wanita," Ibu Lily mengusap punggung tangan Rika dengan lembut.
"Ibu terlalu memuji," timpal Rika tersenyum canggung.
"Ah, kalian pasti belum makan malam kan? Bu, ajak mereka ke meja makan, bukannya kita mengundang karena untuk makan malam," Ayah kusuma mengawali topik utama.
"Benar juga kata Ayah. Kebetulan aku sudah lapar juga," Jhon bangkit dari duduknya. "Aku ke atas dulu Yah, Bu," beranjak menuju tangga setelah mendapati anggukkan kepala dari Ayah Kusuma.
Hingga menyisakan tiga orang dalam ruang tamu.
__ADS_1
"Mari Nak, biar para pria menyusul," Ibu Lily beranjak dari duduknya sambil menarik tangan Rika.
"Eh, i-iya." Gugup Rika menatap tangannya yang di gandeng ibu Lily dan membuntuti langkah kakinya.
Keluarga yang ramah. Rasa nya nggak mungkin jika keluarga nya menjodohkan Pak Jhon pada gadis yang sembarang. Tapi kenapa Pak Jhon ingin menghindar dengan cara seperti ini yah?
Selang beberapa lama.
Ke empatnya telah duduk di kursi mengelilingi meja makan dengan berbagai macam menu makanan di tengah tengah meja.
"Jangan sungkan Nak, ibu memasak hanya seadanya, semoga Nak Rika menyukai makanannya." Ibu Lily mengawali, mengambilkan satu porsi sup iga sapi untuk Ayah Kusuma.
"Iya bu, makasih jamuannya, Ika jadi merepotkan Ibu," Rika yang duduknya berdampingan dengan Jhon, ia melirik ke arah mangkuk mangkuk makanan.
"Aah, ibu merasa senang Nak Rika di ajak kemari. Jangan merasa sungkan atau canggung terhadap ibu yah," ucap Ibu Lily tersenyum.
"I-iya bu," Membalas dengan senyuman ramah. kemudian dengan sedikit ragu tangan Rika terulur untuk mengambil satu porsi mangkuk sup tomyam bersamaan dengan Jhon memegang mangkuk yang sama.
"Eh," kaget Rika menatap jemari tangannya yang bersentuhan dan beralih saling tatap dengan Jhon. "Ma-maaf," canggung Rika menarik cepat tangannya. "Silahkan bap-," tercekat sejenak. "Ma-maksudnya, kamu aja Joe."
"Joe, panggilannya?" celetuk Ibu Lily menatap Rika memastikan.
Kenapa Ibu nya seperti terlihat kaget saat aku memanggilnya Joe?
Rika melirik Ibu Lily dan tersenyum. "Iya bu, itu biasa Ika memanggilnya Joe."
"Hemm, Nak Rika suka sup tomyam juga yah?" tanya Ibu Lily, mengambil satu porsi steak sapi untuk di taruh ke piringnya.
"Suka," sahut cepat Rika beralih mengambil mangkuk sup iga sapi seperti Ayah kusuma.
Jhon terdiam beberapa detik masih memegang mangkuk sup, hingga akhirnya mengambil alih mangkuk sup tomyam itu. "Ibu tidak membuat dua porsi sup tomyam ini?" tanya Jhon mengambil dua ceplok telor mata sapi.
"Nggak, ibu pikir hanya Atan saja yang suka sup itu. Jadinya bikin satu porsi," sahut Ibu Lily. Beralih menatap Rika yang tengah mengambil satu ceplok telor mata sapi. "Maaf Nak, ibu tak tahu jika kamu juga suka sup itu. Atan nggak pernah cerita soal makanan kesukaan mu."
"Ah, tidak apa bu." Rika mencapit putih telor dengan sendok untuk memisahkan kuning telor dari putih telor lalu menyisihkan ke samping piring.
Begitu pun dengan Jhon memisahkan kuning telor dengan putih telornya. Untuk di ambil bagian kuning telornya saja, sementara yang putih di sisihkan ke samping piring.
Sontak Ayah kusuma dan Ibu Lily yang melihat kedua nya, langsung terdiam kaku menatap tak percaya. "Ka-kamu nggak suka kuning telor?" Heran Ayah kusuma.
Rika mengangkat wajahnya tersenyum. "Iya, Om. Ika lebih suka putih telornya. Soalnya yang kuning terlalu berbau anyir, jadi suka mual."
Prang...
Jhon menghentakkan sendok dan garpu cukup keras ke piring, membuat Rika terperanjat menoleh ke arahnya.
Raut wajah Jhon berubah dingin, gerahamnya mengeras, menundukkan wajahnya dengan pandangan tajam ke piring.
Alis Rika tertaut bingung.
Kenapa dia terlihat marah? Apa aku melakukan kesalahan?
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...