
Tok...tok...tok.
"Tuan Egi," panggil Jhon dari luar.
Annisa menoleh ke arah pintu, melepaskan pelukan nya dari tubuh Egi. "Kau mengunci pintu nya?"
Mengangguk kecil. "Jika tidak di kunci, mana bisa aku meminta madu," ucap Egi sambil merangkul pinggang Annisa dengan sebelah tangan, memegang tiang infusan dan menggiring Annisa agar duduk di sisi ranjang.
"Kau duduklah," titah nya setelah menempatkan infusan ke tempat nya, kemudian berbalik melangkah menuju pintu.
Ceklek.
Egi membuka pintu, yang memunculkan Jhon dengan pramusaji wanita membawa troli makanan.
Menghela napas pelan, menatap Jhon. "Bukannya kau sudah ku beri tugas banyak, kenapa kau masih santai di mari?" Seloroh Egi tidak suka, sambil berbalik melangkah kembali mendekati ranjang Annisa.
Jhon memasuki kamar di buntuti pramusaji mendorong troli makanan. "Saya membawakan sarapan untuk nona Annisa adik saya tersayang, mana bisa saya akan pergi, sementara belum berpamitan untuk memastikan jika nona Annisa baik baik saja," tutur Jhon mendekati ranjang, setelah melihat pramusaji wanita itu keluar.
"Jhon," geram Egi menatap tajam. Lalu mendesah kesal. "Bisakah kau kali ini saja jangan membuat ku marah," ucap nya sambil menggenggam jemari Annisa.
Terkekeh pelan menarik troli makanan agar mendekat ke ranjang. "Nona Annisa belum sarapan kan? Biar saya melayani nona untuk sarapan kali ini, silahkan menunjuk menu apa yang nona inginkan," ucap Jhon.
Annisa tersenyum cangggung, lalu melirik Egi yang sudah memasang wajah muram menatap tajam ke Jhon, dan kembali menatap Jhon. "Ti...tidak usah kak Jhon, bi..biar Egi saja yang membantu saya," tolak nya halus.
Jhon memasang wajah kecewa, sedih. "Jadi nona menolak niat baik saya. Padahal saya hanya ingin menunjukkan rasa terimakasih saya karena nona sudah sering memasak kan makanan enak di rumah," tutur Jhon.
Kenapa suasana nya jadi tegang gini sih? Kak Jhon tidak lihatkah wajah si Egi sudah seperti ingin memakan mu. Tapi masih senang saja menggoda nya...
Annisa terdiam menatap Jhon juga Egi secara bergantian.
"Tidak perlu begitu kak Jhon, saya memasakkan anda saat di rumah kan memang kita sudah serumah dan anggap saja kami sebagai satu kelua...," ucapan Annisa menggantung.
"Cukup!" Sentak Egi kesal. Memotong ucapan Annisa, menatap dengan tatapan tajam penuh kekesalan ke Jhon. "Jhon kau keluar! Pergi sana, sebelum aku menambah pekerjaan mu," tegas Egi.
Tersenyum tenang dan melirik Annisa. "Nona sepertinya saya telah di usir, makanlah sarapan nya selagi hangat dan jaga kesehatan selalu nona," ucap Jhon ramah menambah kegeraman Egi.
Annisa hanya manggut manggut kecil sebagai jawaban iya.
"Jhon!" Ucap Egi menggeram.
__ADS_1
"Iya tuan Egi, segitunya tuan ingin memisahkan jarak antara kakak angkat dan adik nya," ucap Jhon hendak melangkah pergi.
"Jhon keluar sekarang! Sebelum kesabaran ku habis!"
Jhon menghembuskan napas panjang, dan berbalik melangkah menuju pintu keluar. "Baiklah, karena takut di tambah pekerjaan saya keluar tuan Egi," pasrah Jhon.
Ceklek.
Jhon membuka pintu kamar yang berbarengan dengan datang nya seorang gadis sepantaran Annisa berdiri di depan pintu bagian luar, Jhon menutup pintu kamar dan dengan tajam menatap menyelidik, melihat penampilan dari atas sampai bawah pada gadis yang ada di hadapan nya.
"Siapa Anda?" tanya nya dengan nada dingin.
Gadis itu menunduk kan pandangan tidak mampu bersitatap dengan Jhon yang sudah memasang wajah dingin tanpa ekspresi. "Sa...saya," ucapan nya menggantung.
"Siapa yang membiarkan gadis tidak di kenal ini masuk kemari!" Teriak Jhon dengan cepat memotong ucapan gadis yang ada di hadapan nya.
Para bodyguard yang berdiri di sekitar, terlonjak kaget dengan teriakan Jhon, lalu ada seorang di antara bodyguard yang bertugas sebagai penjaga pintu masuk di bagian lift, berjalan menghampiri Jhon.
Menunduk hormat pada Jhon sebelum berucap. "Maaf tuan Jhon, kami mengizinkan dia masuk karena wanita ini berkata jika diri nya adalah teman Nona Annisa," tutur bodyguard tersebut.
Jhon menatap tajam ke bodyguard itu. "Dan kau percaya dengan ucapan nya begitu saja! Cepat seret balik wanita ini, dan kau terima hukuman mu karena telah berani memasukkan orang tak di kenal menerobos masuk ke lantai ini!" Tegas Jhon beralih menatap dingin ke gadis yang tubuh nya tampak bergetar masih menundukkan pandangan.
Ceklek.
Pintu kamar Annisa kembali ke buka, memunculkan Egi menatap heran ke Jhon.
"Ada apa kau ribut ribut di luar Jhon? Kau mengganggu istirahat nya istri ku saja," tanya Egi.
Jhon menoleh ke Egi dan menghembuskan napas kasar. Lalu melirik ke arah gadis yang masib ada di tempat nya. "Ada penyusup masuk, yang mengaku ngaku teman nona," jawab Jhon.
Gadis itu menengadahkan pandangan nya menatap Jhon. "Saya bukan penyusup, dan saya memang teman nya Annisa." Sangkal nya.
Jhon berdecak dan tersenyum sinis. "Ck!, anda pikir kami akan percaya, banyak orang orang seperti anda datang ke lantai ini mengaku ngaku sebagai teman nona tapi sebenar nya mereka berniat mencelaka kan Nona, dan mengincar agar bertemu tuan Egi untuk bahan berita kalian kan," ucap Jhon.
Menggenggam jemari nya kesal. "Tapi saya benar benar teman Annisa, jika anda tidak percaya saya akan menunjukkan bukti nya." Hendak mengeluarkan ponsel dari dalam tas.
"Cukup!" Sentak Egi membuat kedua nya menoleh.
Menatap Jhon. "Biar Annisa sendiri yang pastikan jika dia benar teman nya atau bukan. Dan berikan foto anda pada Jhon," tegas Egi berbalik memasuki kamar kembali meninggalkan Jhon, gadis itu dan beberapa bodyguard.
__ADS_1
Jhon menghela napas jengah, lalu menengadahkan sebelah tangan. "Kemarikan ponsel anda untuk menunjukkan foto anda pada nona," pinta nya.
Puk.
Dengan kasar gadis itu meletakkan ponsel nya ke tangan Jhon. "Wallpaper saya telah di setting menjadi foto saya dengan Annisa," jawab nya dengan nada ketus.
Jhon mengangguk kecil, mencondongkan tubuh mendekat ke gadis itu, memberikan seringaian dingin. "Jika saja nona tidak mengenal anda, siap siap menghadapi hadiah duka dari kami," ancam nya, lalu berbalik berjalan memasuki kamar Annisa.
Menatap kepergian Jhon. "Kenapa Annisa bisa kenal pria menyeramkan seperti dia."
Di dalam kamar.
Annisa tengah memakan sarapan nya dengan di suapi Egi terduduk di ranjang.
Menatap heran ke Jhon. "Kak Jhon tadi saya dengar ada ribut ribut di luar, ada apa kak Jhon?" tanya nya sambil menyuapkan sandwich ke mulut Egi.
Jhon mendekat ke arah ranjang, berdiri di hadapan Annisa dan Egi. "Nona Annisa, Apakah nona mempunyai seorang teman wanita yang seperti ada di foto ini?" Mengulurkan ponsel ke Annisa.
Egi mengambil alih ponsel itu dan menyalakan layar nya untuk di tunjukkan ke Annisa.
Seketika mata Annisa melebar. "Ini Rika, dimana dia kak Jhon?" tanya Annisa mengambil ponsel yang ada di pegangan tangan Egi.
Jhon melirik Egi sejenak lalu kembali menatap annisa. "Dia di luar, jadi benar nona mengenal nya?"
Annisa mengangguk mengiyakan. "Tentu, dia teman satu fakultas dan satu kamar di asrama saya. Kenapa dia masih di luar? Kenapa nggak di suruh masuk?"
Egi menyodorkan satu suap bubur ke mulut Annisa. "Annisa, di sini belum ada yang mengenal teman mu itu, jadi dia tertahan di luar untuk memastikan jika dia aman untuk mu," jawab Egi. Lalu memberikan isyarat mata ke Jhon agar keluar untuk menyuruh rika masuk.
Jhon yang mengerti, berbalik dan berjalan ke pintu keluar.
"Aku lupa jika belum memperkenalkan mu dengan nya, tapi kenapa harus seketat itu Egi penjagaan di sekitar ku. Aku baik baik saja."
"Kau harta paling berharga bagi ku jadi aku harus ekstra menjaga dan melindungi mu," jawab Egi mencubit pelan pipi Annisa.
Seketika Annisa tersipu merona. "Dasar bocah sudah pintar merayu yah," ucap Annisa mengapit hidung mancung Egi dengan jemari.
BERSAMBUNG...
Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...
__ADS_1
Agar author tambah semangat...