Pejuang Move On

Pejuang Move On
Nyamuk


__ADS_3

Sementara di inggris.


Dalam sebuah rumah megah yang bertingkat dengan halaman luas terhampar taman bunga.


"Jhon!" Teriak Egi kesal melemparkan ponsel ke kasur, bersamaan dengan melemparkan diri dengan posisi tengkurap ke atas kasur.


Jhon yang tengah fokus mengerjakan pekerjaan menatap laptop, diam acuh tak acuh membiarkan Egi yang terus mendengus kesal dan ngedumel dari sejak menginjakkan kaki nya di negeri asing sampai sekarang sudah memasuki hari ke 3. Egi masih tetap saja ngedumel, merengek ingin pulang menjumpai Annisa yang mengabaikan panggilan telpon nya.


Egi menggeliatkan tubuh menatap Jhon sebal. "Aku rindu suara Annisa ku, Jhon lakukan sesuatu! Atau aku bertekad pulang saja," rengek Egi mengambil kembali ponsel yang ada di samping tubuh nya.


Jhon hanya menggelengkan kepala beberapa kali. "Tuan Egi, dari pada terus merengek bagai bayi besar, mending tuan periksa berkas dokumen perusahaan di atas meja itu. Karena besok akan ada rapat untuk membahas proyek dari perusahaan X," ujar Jhon tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.


Egi yang mendengar kata bayi besar, seketika diri nya terdiam menatap termenung ke layar ponsel yang ternyata wallpaper nya, menampilkan foto Annisa tengah tertidur.


"Kau membuat ku semakin merindukan dia, Jhon kau keparat tengil!" Teriak Egi menutup kepala dengan bantal dan melemparkan ponsel sembarang di atas kasur.


"Tapi tak heran juga jika nona marah dan malas mengangkat telpon dari tuan Egi, secara nona Annisa di bohongi dan di tinggalkan pergi begitu saja tanpa ada pamit terlebih dahulu," ujar Jhon di sela fokus mengetik.


"Aku melakukan itu juga karena aku tidak bisa melihat dia menangis Jhon, aku lemah jika melihat wanita yang ku sayangi menangis di depan ku, bisa nggak jadi pergi jika aku melihat air mata nya," imbuh Egi yang masih menutupi kepala dengan bantal.


Jhon manggut manggut. "Masuk akal alasan tuan. Tapi tuan kenapa harus uring uringan begitu, makan nggak makan, minum nggak minum, sampe sampe harus membawa pekerjaan kantor untuk di kerjakan di rumah. Bukannya tiap 1 jam sekali tuan Egi selalu mendapat laporan dari para kamera pengawas sekitarnya yang melaporkan setiap gerak gerik nona. Jadi sudahlah, sekarang itu harusnya tuan...," ocehan Jhon terhenti.


"Jhon!" Sentak Egi melemparkan bantal ke arah sofa yang di duduki Jhon.


"Kau diam Jhon jika tidak tahu perasaan ku saat ini." Egi kembali menenggelamkan kepala di antara bantal guling. "Aku sangat merindukan suara lembut nya, aku sangat merindukan senyumannya." Gumam Egi.


Jhon mengambil bantal yang tergeletak di karpet dekat kaki nya. "Hey, sabar tuan. Saya juga sama sangat merindukan nona Annisa apalagi masakan lezat nya yang selalu nona siapkan untuk saya... jadi terbawa merindu adik tersayang."


"Jhon!" Geram Egi.


"Iya saya di sini tuan Egi." Saut Jhon lalu tertawa keras.


Kriing...kriing.


Suara ponsel Egi berdering menghentikan tawa Jhon, dan mengalihkan perhatian nya.


"Siapa tuh yang telpon, siapa tau nona Annisa tuan," ucap Jhon sambil kembali fokus ke laptop.


"Sudah beratus kali aku menelpon nya, dia masih marah pada ku, mana mungkin dia menelpon ku, palingan Asyila yang ingin memarahi dan memanasi ku lagi," saut Egi dari balik bantal guling dan masih belum bergerak untuk meraih ponsel nya yang berdering terus.


Jhon menghela napas pelan, beranjak dari duduk nya lalu berjalan menghampiri kasur untuk mengambil ponsel Egi yang terus berdering tanpa henti.


"Bunyi ponsel tuan membuat konsentrasi saya buyar, saya silent saj...," ucapan Jhon terhenti saat melihat nama si pemanggil yang tertera di layar ponsel Egi.


Terbesit senyuman jahil di bibir Jhon. Ia membawa ponsel Egi ke sofa dan duduk kembali dengan tegap di depan laptop.


"Ekhem..." dehem Jhon sebelum mengaktifkan panggilan video di layar laptop dari Annisa yang telah di sambungkan dari ponsel Egi.


"Assalamualaikum," suara Annisa dari speaker yang sengaja di perkeras suara nya oleh Jhon agar terdengar oleh Egi.


Egi yang terkapar tengkurap di atas kasur, ketika mendengar suara yang amat di rindukan dan ingin di dengar nya. "Annisa," terlonjak dari tiduran, melempar bantal guling dan langsung menoleh ke arah sofa dimana Jhon berada.

__ADS_1


Jhon melirik Egi sejenak, dan kembali melihat ke layar laptop. "Walaikumsalam nona Annisa adik ku tersayang," saut Jhon dengan wajah ceria menatap wajah cantik Annisa yang berkerudung biru langit.


Egi duduk di atas kasur, menatap tajam ke Jhon.


"Eh, kak Jhon?" Annisa menatap bingung karena yang di telpon Egi namun yang menjawab panggilan video nya malah Jhon.


Jhon mengabaikan tatapan Egi yang seakan menusuknya, dan tetap menatap layar laptop.


"Iya nona ini saya kak Jhon. Kenapa raut wajah nona terlihat sangat terharu begitu melihat saya? Apa segitu merindu nya nona terhadap saya?" Ucap Jhon tersenyum hangat.


Annisa terdiam sejenak menatap Jhon. "Kak Jhon memang suk...," ucapan Annisa terhenti karena Egi dengan kasar memutar laptop agar terarah pada nya.


Egi duduk di atas karpet dan menyenggol kasar lengan Jhon, lalu memberi nya tatapan tajam. "Kau tidak bilang istriku yang menelpon! Berani sekali kau mengangkat panggilan telpon dari istriku!" Ujar Egi dengan menggeram kesal.


Jhon tertawa pelan, sengaja duduk di sofa belakang Egi terduduk agar terekspos ke kamera. "Bukannya tadi tuan sendiri mencampakkan ponsel karena tidak mau mengangkat panggilan dari nona."


"Jhon!" Sentak Egi menatap tajam. "Minggir kau!"


"Egi," panggil Annisa yang melihat perdebatan Egi dan Jhon.


Egi menoleh ke layar laptop dan tersenyum hangat. "Iya sayang," sautnya.


"Apa benar yang di katakan kak Jhon tadi? Kau tidak mau mengangkat panggilan dari ku?"


"Bukan begitu sayang, jangan dengarkan si Jhon tengil ini. Kau jangan percaya pada omong kosong penuh kebohongan nya..." ucap Egi, lalu melirik tajam ke Jhon yang tersenyum menahan tawa.


Annisa tersenyum menatap hangat ke Egi. "Aku percaya pada mu Egi, karena kak Jhon pernah membohongi ku sewaktu di rumah sakit. Tapi tadi kamu kemana padahal aku menelpon mu sampai 3 kali, dan yang mengangkat malah kak Jhon?"


Sedang Jhon hanya menggelengkan kepala beberapa kali melihat tingkah Egi. "Dasar ABG lagi kasmaran," gumam nya, lalu mengambil berkas di atas meja dan beranjak untuk keluar kamar Egi.


Di balkon kamar.


Egi terduduk di kursi meletakkan laptop di atas meja dan menghadapkan ke arah nya.


Annisa tampak terlihat menghela napas pelan, menatap Egi teduh. "Tadi nya aku menelpon mu karena ingin mengakhiri pertengkaran kita yang sudah memasuki akhir batas amarah yaitu tiga hari. Tapi sepertinya kau membuatku menjadi kesal lagi Egi," ujar Annisa.


"Sayang, aku pikir kau masih marah karena sudah beratus kali aku memanggil mu, tapi tak sangka kau bakal menelpon ku balik seperti ini. Jadi tadi aku mencampak kan ponsel karena kesal," ucap Egi merasa bersalah.


"Ku Akui itu salah ku yang selama beberapa hari ini menonaktifkan ponsel karena masih kesal oleh mu...," terjeda sejenak Annisa mendekatkan wajah nya menatap layar ponsel untuk menelisik wajah Egi yang terlihat kusut, dan pucat. "Kau sakit Egi? Kenapa wajah mu seperti zombie?"


Egi mengangguk patuh. "Aku sakit karena tidak mendengar suara mu, kau menyiksa ku Annisa...," Egi menyentuh layar laptop yang menampilkan wajah Annisa. Seakan Annisa tengah berada di depan nya.


"Aku sangat merindukan mu, sangat sangat, bahkan sampai aku tidak bisa melakukan apa pun karena kau selalu tampil dalam pikiran dan hati ku, tolong jangan menyiksa ku dengan hilang kabar dan menghindari ku," tutur Egi memelas.


"Maafkan aku," celetuk Annisa menundukkan pandangan. "Aku telah egois hanya memikirkan perasaan ku sendiri, padahal kau berjuang demi aku juga."


"Tak apa, aku mengerti jika kau marah padaku."


Annisa tersenyum hangat menatap wajah Egi yang ia rindukan nya. "Egi, aku juga mer...," ucapan Annisa terpotong.


"Kakak ipar kedua," seru Syila ikut nimbrung di samping Annisa.

__ADS_1


"Arrgh...," Egi mengusap wajah nya dengan sebelah tangan. "Kenapa ada nyamuk kedua," gumam Egi memaling kan wajah.


"Ah, ternyata kakak pengecut ku yang menelpon kakak ipar kedua." Ucap Syila lalu sengaja mengganti kamera ponsel Annisa. "Kakak coba tebak kita dimana?"


Egi melihat gambar tak asing di mata nya yang di tampilkan oleh Syila. "Kalian ada di kafe?" tanya Egi cepat.


Syila kembali mengganti kamera ponsel menjadi kamera depan yang menampilkan syila juga Annisa. "Iya, kami ada di kafe kamu, Egi," jawab Annisa.


"Sedang apa kalian di sana? Syila kau jangan mengajak keluyuran kakak ipar mu!" Sentak Egi.


"Kita hanya bermain di kafe kakak, kenapa di bilang keluyuran," sahut Syila.


Egi menatap ke Annisa. "Sayang kenapa keluar rumah tidak izin dulu pada ku?


"Kakak jangan menyalahkan kakak ipar kedua, kita keluar untuk terapi ke rumah sakit dan soal ke kafe, ini syila yang mengajak nya," seru Syila menatap geram ke Egi.


"Kau tahu kakak ipar mu masih dalam pemulihan. Malah di ajak keluyuran, cepat ajak kakak ipar mu pulang, di luar sangat bahaya," titah Egi di kuasai kecemasan.


"Woy, bahaya napa dah. Tenang ada gue di sini, Nisa aman dengan gue." Suara Ray yang tidak terlihat wajah nya di layar laptop.


"Sayang siapa itu? Apa si Ray?"


Annisa terlihat mengangguk mengiyakan.


"Aaarrghh...," Egi mengusak kasar rambutnya. "Kenapa nyamuknya bertambah lagi." Gumam nya.


"Kakak ada apa tuh dengan ekspresi seperti itu?" tanya Syila membuat Egi menoleh kembali melihat layar.


"Annisa, pulang sayang," titah Egi menatap wajah Annisa.


Annisa menghela napas pasrah. "Baiklah, kita akan pulang sekarang."


"Loh kok pulang Nisa, wah gi, lo kebangetan Nisa baru nyampe dan baru minum jus nya seteguk, gak kasihan apa lo," ujar Ray lagi yang tak terlihat wujudnya.


"Diam Ray!" Sentak Egi geram. Lalu kembali menatap hangat ke Annisa. "Pulang sayang," ucap Egi yang di balas anggukkan kepala oleh Annisa.


Syila merebut ponsel dari tangan Annisa. "Kak Egi menyebalkan, huh." Menutup panggilan secara sepihak.


Egi mendengus kesal melihat tampilan layar tidak menampilkan wajah Annisa lagi. Ia menjatuhkan kepala ke senderan kursi dengan tangan jadi bantalan kepala. "Jhon!" Teriak Egi.


Tidak mendengar jawaban dari Jhon, Egi kembali berteriak. "Jhon!"


Namun tidak mendapat jawaban dari Jhon.


Egi memejamkam mata. Menikmati angin yang menyentuh kulit nya. "Kemana orang tengil itu," menghela napas panjang, bangkit dari duduknya masuk ke dalam kamar.


"Annisa, aku masih merindukannya. Dasar para nyamuk pengganggu," gumam Egi menjatuhkan diri ke kasur dengan posisi tengkurap memeluk bantal guling.


BERSAMBUNG...


Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...

__ADS_1


__ADS_2