
Di Rumah Putra.
Annisa tengah mengemasi pakaiannya juga pakaian Egi ke dalam koper yang berukuran kecil.
"Egi," panggil Annisa di sela gerakan tangannya yang sibuk.
Egi yang berdiri menyender ke lemari mengamati kesibukan Annisa, ia menjawab. "Hemm."
"Kak Jhon jemput Rika nggak?" Annisa bertanya sembari merapihkan beberapa setel pakaian yang sudah di pilih nya.
"Sudah, dan sepertinya mereka lagi dalam perjalanan," jawab Egi masih berdiri santai memasukkan kedua tangan ke saku celana. Mengamati wajah Annisa.
Annisa mengangguk tanpa menoleh, ia kembali sibuk membereskan pakaian. "Apa yang kau rencanakan mengenai hubungan kak Jhon dan Rika?" tanya Annisa, sambil memasukkan dua setel pakaian Egi ke dalam koper.
Egi mendekati Annisa untuk mengambil kemeja hitam yang sudah di masukkan ke dalam koper. "Aku ingin warna navy yang sama seperti gaun mu," ucap Egi meletakkan kemeja hitam ke penutup koper.
Annisa menghela napas pelan, menggelengkan kepala. "Jawab dulu pertanyaan aku tadi, jangan mengalihkan."
Egi duduk di sofa bundar itu, bersedekapkan tangan menatap Annisa. "Ganti dulu pakaian ku dengan model dan warna yang sama seperti gaun mu," pintanya dengan manja.
Kenapa dia jadi gampang merajuk? Apa ini efek dari kehamilan ku? Tapi kan seharusnya aku yang begini, kenapa malah kebalik?
Annisa berdecak sebal, lalu ia berdiri membuka lemari lagi untuk mengambil beberapa kemeja yang sama dengan gaunnya. "Sudah, jadi sekarang jawab pertanyaan ku." Dia memasukkan kemeja itu ke dalam koper.
Tersenyum tipis, Egi mengusap puncuk kepala Annisa yang wajahnya masih memberenggut sebal. "Soal si Jhon. Kau akan tahu nanti di akhir cerita. Yang terpenting aku melancarkan apa yang kau minta, dan memenuhi janji ku pada mu, sayang," jawab Egi.
Annisa menutup resleting koper yang sudah penuh oleh perlengkapan untuk bermalam di sana. "Di rencana itu, kamu tidak melakukan hal yang akan menyakiti perasaan Rika kan? Rika itu orangnya terlihat kuat dari luar, tapi di belakang dia akan memendam perasaan sakitnya sendirian. Jadi aku harap kak Jhon tidak menyakiti perasaannya," ujar Annisa dahi nya berkerut cemas.
Egi beranjak dari duduknya lalu mengangkat koper kecil itu untuk di tenteng, dan merangkul bahu Annisa menggiringnya keluar dari ruang walk in closet. "Aku hanya melancarkan rencana untuk mencomblangkannya. Soal masalah perasaan kembali lagi pada mereka berdua, karena itu urusan mereka berdua untuk menyelesaikannya tanpa bisa aku ikut campur," tutur Egi tenang.
"Benar juga apa kata mu," Annisa menatap Egi yang ada di sampingnya.
"Jangan khawatir sayang, meskipun si Jhon keras dari luar. Tapi dia baik hati nya, jadi kau jangan mencemaskan hubungan mereka berdua. Cukup kepala mu isi dengan wajah dan senyuman ku saja," Egi mengecup puncuk kepala Annisa, sambil berjalan keluar kamar.
Annisa tersenyum mengangguk kecil. Ia menggiringi langkah kaki Egi yang membawanya keluar kamar menuju teras luar rumah.
--------------------------
Sementara dalam mobil hitam yang sedang melaju di jalanan kota. Tampak Jhon dan Rika saling terdiam membungkam bibirnya masing masing tanpa ada yang mau mengawali pembicaraan untuk memecahkan kecanggungan itu.
Jhon memegang stir mobil dengan erat, ia melirik Rika yang memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ada sedikit keraguan dan rasa penasaran dari sorot mata Jhon saat melihat Rika. "Ekhem...," dehemnya sebelum melanjutkan bertanya. "Tadi, Papa dan Mama mu?"
"Eh," Rika terhenyak dari lamunannya, dan menoleh. "Iya," jawab singkat Rika, lalu kembali memalingkan wajah ke jendela.
Dia jadi pendiam. Apa benar yang dikatakan Papa nya jika aku pernah membuat gadis bodoh ini menangis? Tapi apa yang membuatnya menangis karena ku?
"Papa, Mama mu bisa tahu nama saya dari mana? Dan seperti sudah mengenal saya, padahal saya baru bertemu dengan mereka," tanya Jhon, kembali mencoba memecahkan keheningan.
"Maaf jika ucapan Mama, Papa saya ada yang menyinggung hati bapak. Mereka tahu nama bapak, mungkin karena saya memberitahukannya sesudah pulang makan malam dari rumah bapak, karena mereka bertanya teman mana yang membuat saya telat pulang," tutur Rika tanpa menoleh ke arah Jhon.
"O-oh begitu." Mengangguk dan melirik sekilas pada Rika. Bersamaan dengan lirikkannya mobil yang di kendarai Jhon telah memasuki area rumah Putra. "Apa kau banyak bercerita tentang saya pada kedua orang tua mu?" tanya Jhon yang masih penasaran.
"Tidak, dan mereka hanya menanyakan nama bapak saja." Jawab Rika masih tak menoleh ke arah Jhon.
Jhon menghela napas panjang, ia memberhentikan mobilnya di halaman dekat taman anggrek. Membuat alis Rika tertaut bingung namun tetap memandang keluar jendela tanpa menoleh ke Jhon.
"Malam itu, apa kau menangis?" tanya Jhon dengan intonasi dingin, mengintimidasi menatap Rika yang sama sekali tak membalas tatapannya.
Degh... seketika jantung Rika berdetak kencang, ia mencengkram kuat rok yang di pakai nya. Dan menggigit bibir bawah untuk menyalurkan keterkejutannya. Ia masih diam membisu tak menjawab pertanyaan Jhon.
Bagaimana bisa dia tahu jika aku menangis pada malam itu?
"Kenapa kau diam? Jawab pertanyaan saya, Apa kau menangis saat malam itu?" Ulang Jhon bertanya masih dengan intonasi dingin mengintimidasi hanya nada suara yang sedikit meninggi.
__ADS_1
"Tid-tidak," jawab Rika terbata. Ia menghela napas pelan. "Saya tidak menangis, memang kenapa saya harus menangis? Melihat drama korea juga tidak, karena hanya drama korea bercerita sedih yang bisa membuat saya menangis," ujar Rika mencoba setenang mungkin.
Dugh.
Dia berbohong... Jhon memukul stri mobil dengan keras. Lalu, dengan cepat Jhon mencekal dan menarik lengan Rika sehingga mau tak mau Rika menoleh ke arahnya.
"Aww. Bapak!" Kaget Rika meringis menatap lengannya yang di cekal kuat oleh Jhon.
"Tatap saya, dan jawab dengan jujur. Kau menangis kan sewaktu malam itu?" Jhon bertanya dengan tegas dan memaksa.
Harus sekasar inikah dia? Pak Jhon, kenapa harus begini?
Rika memberontak dari cekalan tangan Jhon. Kemudian mendongak menatap sengit pada Jhon dengan gigi gemertak kesal.
"Kalau iya kenapa? Dan apa masalahnya dengan bapak jika saya menangis pada malam itu? Juga apa hak bapak berbuat kasar seperti ini pada saya? Apa salah saya sama bapak? Padahal saya sudah berbuat baik mau membantu bapak untuk terhindar dari perjodohan itu?" Pertanyaan beruntun dari bibir Rika dengan menggebu karena emosi.
Sejenak Jhon terdiam, menatap kedua sorot mata Rika.
Jadi benar dia menangis karena ku? Apa selama ini aku sudah keterlaluan terhadapnya? Tapi entah kenapa setiap melihat kecerobohan dia, selalu membuat bibir ku ingin terus memojokkannya.
Lalu perlahan cekalan tangannya di lengan Rika mengendur dan terlepas. "Kau benar, saya tidak punyak hak apa pun bertanya soal ini." Ucapnya rendah, dan menghembuskan napas kasar. Ia membenarkan posisi duduknya, untuk kembali menyalakan mesin mobil.
Rika mengusap lengannya yang terasa panas. "Kalau ingin bertanya bisa nggak jangan kasar kayak tadi, kan sakit lengan saya. Pantas saja bapak tak dapet jodoh terus, kelakuannya selain tajam di lidah tangan juga bermain kasar," sinis Rika menatap wajah datar Jhon yang fokus memarkirkan mobilnya di depan teras rumah.
"Kau sendiri juga belum dapat jodoh, itu artinya kau tak jauh berbeda dengan saya," sewot Jhon melepaskan seat belt, dan keluar mobil.
"Ck," decak sebal Rika. Ia ikut melepaskan seat belt dan keluar mobil yang langsung di sambut senyuman dari Annisa.
"Rika," seru Annisa salam perjumpaan yaitu cipika cipiki. "kenapa tadi kok mobil nya berhenti di dekat taman?" Penasaran Annisa memicingkan mata curiga.
"Ah, itu." Gelagap Rika menunjuk Jhon. "Mogok mobilnya. Oh iya, mbak Misa nya mana. Bukannya sama keluarga besar kita berangkatnya?" Rika mengalihkan pembicaraan dan celingukkan melihat ke arah pintu rumah yang terbuka lebar.
"Mereka masih di dalam lagi bersiap siap," jawab Annisa tersenyum lalu beralih menatap Egi yang tengah memasukkan koper ke bagasi di bantu Jhon. "Rik, bawa alat pemeriksaan kan? Soalnya punya ku ketinggalan di RS," tanya Annisa yang di balas anggukkan kepala oleh Rika.
Annisa tersenyum penuh arti dan mengangguk kecil.
"Woaa," teriak Rika mata nya melebar dan mulutnya ternganga terkejut.
Seketika orang sekitar melihat ke arah kedua nya.
Annisa dengan cepat menutup bibir Rika dan menaruh telunjuk di bibirnya. "Bisa nggak, kagetnya biasa aja. Neng," melototkan mata karena sebal.
Rika cengengesan menurunkan telapak tangan Annisa di bibirnya. "Maaf, reflek."
Egi menghampiri Annisa. "Sayang, ngobrol nya nanti di teruskan lagi, cepat masuk mobil. Kita akan berangkat," ujar Egi merangkul bahu Annisa.
"Emang Mbak Misa, kakak ipar, terus Ayah udah masuk mobil?" tanya Annisa celingak celinguk melihat sekitar.
Egi mengusap bahu Annisa. "Kau keasyikan ngobrol. Ayah sudah di mobilnya, kalau kakak masih di dalam rumah," ucapnya mengedikkan dagu ke arah mobil yang berjejer di depan mobil hitam Jhon. Kemudian Egi berjalan ke arah pintu mobil penumpang.
Annisa cengengesan, beralih menatap Rika yang masih mematung di hadapannya. "Rik, di kursi depan. Aku dengan suamiku di kursi belakang, yuk masuk." Ajak Annisa melangkah ke arah pintu mobil yang sudah di buka kan oleh Egi.
"Iya," sahut Rika ikut melangkah ke arah pintu mobil depan dan masuk ke dalamnya.
"Ateu cantik, Ateu cantik, tunggu Atih." Ujar Fatih sambil berlari menghampiri Annisa yang masih berdiri di ambang pintu mobil.
Annisa menoleh dan tersenyum. "Dek Fatih belum masuk mobil?"
"Atih ikut mobil Ateu, nggak mau mobil Mama," ucap Fatih yang sudah ada di hadapannya.
Annisa sedikit membungkukkan badan, ia menunduk untuk mensetarakan menatap wajah mungil Fatih yang mendongak ke arahnya. "***-"
"Sayang," tegas Egi memegang bahu Annisa. "Masuk mobil," titahnya.
__ADS_1
Annisa menegakkan punggungnya. "Tapi dek Fatih...,"
"Masuk!" Tegas Egi lagi.
Annisa menghela napas pelan. "Baiklah," pasrahnya. Lalu beralih menatap Fatih sejenak sebelum akhirnya masuk mobil.
Brak.
Egi membanting keras pintu mobil, kemudian bersedekap tangan menatap sengit ke Fatih. Begitu pun sebaliknya.
"Kau ingin satu mobil dengan istri Om?" tanya Egi dengan nada tak bersahabat.
Fatih mengangguk, dan ikut mensedekapkan tangan di depan.
"Fatih sayang, sini mobil Mama di sebelah sana." Romisa yang baru keluar rumah menghampiri Fatih.
"Atih ingin masuk mobil Ateu cantik," Fatih memberenggut merajuk dan menarik narik ujung rok Romisa.
"Nggak boleh sayang, sama Mama saja yuk," Ajak Romisa menarik sebelah tangan Fatih.
"Tapi Atih pengen bareng Ateu cantik," kekeh Fatih dan menarik dengan kasar tangannya dari genggaman Romisa.
"Gak. Di mobil sudah ada 4 orang, Om tak mengizinkan dia masuk mobil!" Seru Egi dengan tegas menatap kesal ke Fatih.
"Badan Atih kan kecil pasti masih muat di dalamnya," Rajuk Fatih memaksa.
"Ck, mau badan mu segede ulat bulu juga. Om tak izinin, sana bawa pergi bocah kecil pengganggu," ketus Egi, kemudian menarik handle pintu dan masuk ke dalam mobil.
Brak.
Egi membanting keras pintu mobil.
Dugh...dugh.
Tangan mungil Fatih memukul pintu mobil sambil merengek. "Om buka Atih ingin masuk, Ateu cantik. Ini Atih, buka."
Annisa dan Rika yang melihatnya merasa iba. "Egi," memegang tangan Egi yang ada di sampingnya.
"Nggak, sayang. Biarkan dia, nanti juga ada yang menampungnya," ujar Egi menatap lurus ke depan.
"Tapi...," ucapan Annisa terhenti karena melihat raut wajah Egi berubah dingin.
Annisa kembali melihat keluar mobil yang dimana Fatih masih merengek memberontak dari pelukan Romisa dengan terus berteriak 'ingin bersama Ateu cantik' sampai beberapa menit kemudian akhirnya Fatih bisa tenang setelah kedatangan Arga dan di tatap tajam oleh papanya, baru Fatih diam, menurut masuk ke mobil bersama Romisa.
Huft... Rika dan Annisa menghembuskan napas lega.
"Heran aku Nis," celetuk Rika masih memandangi mobil Arga yang berada di depan.
"Heran kenapa?" tanya Annisa bingung.
"Keponakan mu itu, lebih nurut pada mu di bandingkan Mama nya. Jadi aneh, yang ibu nya itu kamu apa Mbak Misa," ujar Rika melirik kaca depan.
"Mungkin karena keseringan maen dan tidur bareng sama aku saat Egi pergi ke luar negeri jadinya gitu, berasa nyaman saja," jawab Annisa.
Rika manggut manggut, tersenyum. "Kalau kau beneran ham-"
"Nona bodoh. Pakai seat belt mu, kita akan berangkat sekarang," instruksi Jhon menghentikan ocehan Rika.
"Eh, i-iya," terlonjak Rika, menarik seat belt dan memakainya.
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...
__ADS_1