
Annisa terduduk di atas kursi belajar di kamar asrama nya. Ia tengah di sibukkan dengan tugas kuliah yang sudah menumpuk lagi.
Ceklek. Pintu kamar terbuka, menampilkan rika yang baru memasuki kamar nya.
"Assalamualaikum," sapa annisa tanpa mengalihkan pandangan dari lembar kertas.
Membalikkan badan kemudian berjalan gontai menuju kursi. "Walaikumsalam umii," jawab rika lemah kemudian duduk.
"Baru pulang dinas rik?"
"Iya nis. haduh, rasa nya aku bagai robot bolak balik tanpa jeda. Hah... tak sanggup menjalankan dinas lagi Nis, aku tak sanggup sungguh tak sanggup," celoteh rika bernyanyi.
Annisa menggeleng beberapa kali. "Fals ah, suara mu rik," sahut annisa lalu memutar kursi nya untuk melihat rika. "Ada apa rika?"
"Aku tuh nggak sanggup menghadapi tugas tugas nya yang berjibun Niis, belum lagi KTI serasa mau pecah nih kepala ku, menghadapi nya," oceh rika sembari meletakkan paper bag ke atas meja.
Mengangguk kecil lalu kembali lagi memutar kursi nya ke arah meja. "Wajarlah sayang nama nya juga mahasiswi, tugas menumpuk itu jika sama kita nya nggak di kerjain. Coba kalau di kerjakan satu persatu, dan berurut pasti beres tanpa menggerutu nggak jelas."
Rika berjalan ke arah meja belajar annisa dan melihat apa yang tengah annisa kerjakan. "Widih rajin nya kau Nis. Oh iya, ada titipan makanan tuh dari kak Alan," tunjuk rika dengan gerakan kepala ke arah meja bundar yang tidak jauh dari meja belajar annisa.
"Hemm..." gumam annisa mengiyakan.
Mengalihkan pandangan ke arah lain, melihat sebuah mantel tersampir di sisi ranjang annisa. "Mantel siapa nih, kok bentuk nya kayak mantel cowok?" heran rika sambil membeberkan mantel itu.
Annisa tidak menggubris pertanyaa rika, ia fokus pada tugas yang tengah di tekunin nya.
Puk... suatu benda jatuh dari dalam saku mantel itu.
Melihat ke bawah dimana benda itu jatuh. "Eh, nis ada dompet nya," ucap rika hendak mengambil dompet yang tergeletak di lantai.
Annisa yang mendengar kata dompet, segera annisa memutar kursi nya dan melirik ke arah rika yang sudah membungkuk akan mengambil dompet itu. Dengan gerakan cepat annisa langsung mendahului rika dan mengambil dompet tersebut.
"Kok bisa jatoh rik?" tanya annisa beranjak dari duduk nya mengambil alih mantel di tangan rika.
"Ah, itu aku nggak sengaja jatohin nis pas lagi liat mantel mu," ucap rika jujur dan cengengesan.
Mengangguk kecil dan hendak memasukkan kembali dompet egi ke saku mantel, namun tidak sengaja annisa menjatuhkan nya kembali sehingga terbukalah dompet itu tergeletak di lantai.
Seketika annisa menunduk melihat ke bawah, mata annisa sedikit melebar saat melihat foto siapa yang ada di dalam dompet egi.
Merunduk mengambil dompet egi kemudian memasukkan nya ke dalam saku mantel.
Bukannya itu fto yang waktu itu di robek oleh dia, kenapa ia simpan di dalam dompet.
Sepertinya rika tidak melihat foto ku dengan egi, tp meskipun begitu... sudah waktu nya aku jujur pada nya.
"Nis, mantel siapa sih itu dan ada dompet cowok nya lagi?" tanya rika membuyarkan lamunan annisa.
__ADS_1
Annisa menyampirkan kembali mantel itu ke ranjang lalu berjalan ke meja belajar. "Mantel suami ku," jawab nya acuh sambil duduk di kursi.
"Suami!" Teriak rika kaget.
Menutup kedua telinga karena suara rika yang begitu nyaring, lalu menempelkan telunjuk ke bibir nya. "Iya suami ku. Jangan teriak teriak rika, bisa budeg kuping ku."
Segera menghampiri annisa dengan menyeret kursi agar duduk berhadapan dengan annisa. "Berarti benar mengenai rumor yang beredar jika kau selalu di antar jemput oleh laki laki. Jadi itu suami mu Nis? Kapan kau menikah nya, kenapa nggak mengundang aku annisa? Dan aneh nya kenapa aku belum pernah mergoki mu yah?" rentetan pertanyaan dari mulut rika menghujani annisa.
Mengangguk mantap sebagai jawaban dari pertanyaan rika. "Pernikahan ku dengan nya sudah berjalan beberapa bulan yang lalu," jawab annisa menunduk kemudian menghela napas pelan. "Maaf rik, baru memberitahu mu sekarang, karena saat itu... aku juga belum percaya dengan pernikahan ini," tutur annisa menatap rika.
"Tidak apa Nis, Yang terpenting kan akhirnya kau mengakui nya pada ku. Tapi Nis soal kak Alan bagaimana? setau ku kak Alan menyukai dan bahkan menyimpan rasa loh pada mu."
Menautkan alis, "kak Alan. Apa hubungan nya dengan ku rika, dia itu kan hanya sebagai kakak kita selama ini dan darimana kau tahu jika dia menyukai ku."
"Yaa karena....," ucapan rika terpotong karena sebuah ponsel berbunyi menghentikan ucapan rika.
Ting... ting. Bunyi notifikasi ponsel annisa menandakan ada sebuah pesan masuk.
Annisa beralih menoleh dan meraih ponsel nya yang tergeletak di atas meja belajar. Mengangkat sebelah tangan ke hadapan rika, "sebentar rik aku mau lihat pesan dulu takut nya penting," intruksi annisa yang di balas anggukkan kepala oleh rika.
Membuka pesan yang masuk dan membaca nya. Alis annisa terangkat sebelah melihat isi pesan yang di kirim egi.
From : My Husband
"Jangan di makan bekal yang di berikan oleh teman pria mu itu."
Ponsel annisa berbunyi kembali, menandakan pesan baru masuk.
Membuka dan membaca pesan baru dari egi lagi.
From : My Husband
"Makan siang ke kantin asrama dan jangan keluar area asrama sebelum aku datang."
Lagi lagi annisa menatap heran dan terpaku pada pesan yang di kirim egi pada nya. Dan rika yang melihat annisa terheran setelah membaca pesan, rika menepuk pelan pundak annisa. "Hey," sentak rika membuat annisa terperanjat dan tersadar dari keterpakuan nya.
"Ada apa nis?" tanyanya.
Menggeleng pelan, "tidak ada apa apa," sangkal annisa kemudian meletakkan kembali ponsel nya ke atas meja. "Rik sehabis dzuhur, makan di kantin asrama yuk!" ajak annisa lalu beralih melihat ke arah paper bag di atas meja bundar. "Dan makanan itu, apakah kamu mau?"
"Eh..." bingung rika kemudian menggelengkan kepala. "Nggak ah, aku kan mau nya makan bakso," tolak halus rika.
"Baiklah, kita berikan pada seseorang yang mau saja soalnya aku pun sama lagi kepengen bakso. Asal jangan sampai ketahuan oleh kak Alan nya jika makanan itu kita berikan ke orang lain. Bisa tersinggung nanti nya."
Mengangkat tangan kemudian menyatukan telunjuk dan ibu jari membentuk huruf O sebagai jawaban 'oke'.
---------
__ADS_1
Sementara di sebuah ruangan khusus yang cukup luas di bangunan tempat makan yaitu cafe. Egi tengah duduk santai di sofa panjang dengan kaki di selonjorkan ke atas meja, dan sebuah ponsel di pegangan tangan nya.
Ray yang berada di meja kerja, menghampiri egi dengan menenteng beberapa berkas.
Meletakkan berkas itu ke atas meja dan duduk di sebelah egi. "Bro, sibuk bener dari tadi tang ting tung terus tuh ponsel lo. Lagi chat an dengan siapa lo?" tanya Ray menatap egi lalu memicingkan mata menatap curiga ke egi. "Lo nggak nyelingkuhin bidadari tak bersayap kan? Awas aja kalo lo sampe kayak gitu, tak rebut dia dan bawa kabur biar tau rasa lo."
Plakk... egi menimpuk keras kepala Ray.
Seketika Ray mengusap kepala nya yang perih dan panas. "Kebiasaan lo, maen timpuk aja. Ini kepala woy bukan batok kelapa," sewot Ray.
Mendelik tajam ke Ray. "Sekali lagi lo berani memanggil dia bidadari, bukan hanya sekali gue timpuk kepala lo...," ancam egi kemudian kembali menatap layar ponsel yang sudah berbunyi notifikasi pesan masuk. "Gue nggak selingkuh, tapi lagi ngerjai cowok gila yang ingin mendekati Annisa ku," sambung nya dengan nada tenang.
Ray mengkerutkan alis bingung. "Maksud lo?" tanya nya kemudian mendekat dan mengintip ke ponsel egi."Ngerjai gimana gi?"
Sembari mengetik sesuatu di layar ponsel, egi menanggapi pertanyaan Ray. "Gue sadap ponsel annisa, dan memblock khusus pria gila ini agar semua pesan dan panggilan yang dia kirim ke ponsel annisa tidak ada, melainkan datang nya ke gue dan yang balas semua isi chat pria gila itu adalah gue dengan menggunakan duplikat nomer annisa."
Menepuk sebelah pundak egi. "Boleh juga ide lo, bagi bagi bro buat nerapin ke cewek gue yang baru nih," ucap antusias Ray.
Egi melirik Ray sekilas, "Lo udah punya pacar lagi?" tanyanya.
"Udah dong, gue kan ganteng," sahut nya cepat.
"Cih!" decih egi kemudian mengalihkan pandangan ke atas meja, dimana ada beberapa berkas.
Mengambil dan mulai membuka setiap lembar nya untuk di periksa dan di baca.
"Itu laporan dari keseluruhan beberapa cafe. Kalau showroom gue belum kelar ngerjain nya," ucap Ray lalu beranjak dari duduk nya. "Gi! Lo nggak berniat angkat satu sekertaris buat di showroom? Gue nggak sanggup harus rangkap gini, kerjaan gue terlalu berat bro. Mana nanti mau kuliah lagi, bisa stress gue," ucap Ray yang sudah duduk kembali ke meja kerja.
"Nggak." Jawab egi singkat dan cepat.
Menghembuskan napas kasar. "Dasar bos otoriter, tidak memikirkan keinginan karyawan nya. Gue juga kan pengen senang senang dan santai nggak tiap hari mainan gue kertas dan janji temu bukan dengan cewek gue."
Egi mendelik tajam ke Ray yang tengah mendumel. "Mau gue potong gaji lo?" seru egi membuat Ray terdiam kemudian fokus pada laptop.
"Udah otoriter, pelit lagi. Huft... nasib nasib jadi bawahan."
"Gi, lo beneran udah menerima Nisa di hati lo paling dalam? Secara kan waktu dulu, susah banget lo move on dari bu misa," sambung Ray sambil fokus menatap laptop.
"Hemm..." gumam egi mengiyakan pertanyaan Ray.
"Sejujurnya sih gue masih belum rela lo jadi suami nya Nisa, karena gue masih belum percaya dan takut saja di tengah jalan lo nyakiti dia."
Egi melirik Ray. "Jangan urusi urusan hati gue. Urus saja hati lo yang selalu bercabang," ketus egi.
Menghela napas pelan, "yaa dah. Serah lo gi... tapi jika saja nanti suatu saat gue liat Nisa tersakiti oleh mu, jangan anggap gue sahabat lagi," ancam Ray.
"Hmm..." gumam egi yang malas menanggapi ocehan Ray.
__ADS_1
BERSAMBUNG...