Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 9


__ADS_3

Cukup lama keheningan menyelimuti suasana dalam mobil hitam itu, Jhon yang fokus mengemudi dengan pandangan lurus ke jalanan, ia belum juga mengutarakan maksud pernyataan yang ingin menyampaikan sesuatu untuk di bicarakan dengan Rika.


Sebenarnya dia mau ngomongin apa? Dari tadi hanya diam saja.


Rika yang merasa bosan dengan suasana canggung dan hening, Ia membuka paper bag kertas yang sempat di tenteng nya tadi dan mengeluarkan kotak makanan dari dalamnya.


Jemari lentik Rika bergerak membuka tutup kotak makanan itu, mata nya berbinar penuh nafsu lapar ketika bola mata hitam nya menatap dua porsi sandwich yang ada dalam kotak makan tersebut.


Mama tahu aja jika anaknya ingin makan sandwich.


"Sarapan pak." Rika berucap seraya mengambil satu porsi sandwich, dan menggigit langsung dengan gigitan besar.


Jhon melirik sekilas, ada senyuman kecil di sudut bibirnya.


Rika kembali menggigit sandwich yang di pegang tangannya dengan rakus dan dengan cara mengunyah sembarang tanpa memperdulikan lirikan Jhon sedari tadi.


"Kau lapar apa doyan sampai makan seperti yang takut di rebut oleh orang lain?" tanya Jhon tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.


"Dua dua nya." Rika menyahuti di sela kunyahannya. Kemudian menoleh ke Jhon dan menyodorkan kotak makan yang masih ada satu porsi sandwich. "Napa? Bapak mau?"


Jhon menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak. "Saya sudah sarapan, buat kau saja yang kelihatannya belum makan berhari hari," tolak Jhon mendorong kotak makan itu kembali ke Rika.


"Ya sudah jika nggak mau, saya juga hanya basa basi saja, karena sebenarnya satu porsi tak cukup untuk saya yang kelaparan," ketus Rika mengambil porsi sandwich terakhir dari kotak makan. Ia kembali menggigit besar dan mengunyahnya sembarang.


Jhon menggelengkan kepala beberapa kali. "Ckckck, kau itu wanita. Tidak bisakah cara makan mu itu lebih anggun dan tenang."


"Memang apa yang salah dengan cara makan saya? Saya masih makan lewat mulut tidak lewat hidung." Sewot Rika menggigit dengan gigitan penuh lagi.


"Ck," Jhon tersenyum miring. "Cara makan mu bagai seekor bebek, sangat jelek sekali. Makan sandwich saja sampai belepotan kemana mana, jangan mengotori mobil saya." Omel Jhon dengan nada sinis.


Huh! Dengus Rika. Ia mengerucutkan bibirnya yang masih penuh dengan sandwich dan sengaja mengecap keras saat mengunyah makanan dalam mulut nya.


Bodo, dia mau marah. Seenaknya dia mengataiku bagai bebek.


"Hey," Jhon melirik kesal. "Saya jadi semakin yakin jika kau itu wanita jadi jadian, otak bodoh, bicara kasar, makan serampangan nggak ada sisi baiknya sama sekali dan selalu ceroboh," ucap Jhon kembali menjelek jelekkan Rika.


"Weleh bapak, mulut nya tajam amat dah. Tapi meskipun wanita jadi jadian tetap saja bapak masih butuh untuk di ajak sandiwara kan?" Rika menyahuti dan mendelik.


Dan untung nya aku suka dengan mu pak Jhon. Kalau saja kau orang lain sudah ku tinju bibir pedas mu.


Jhon memukul pelan stir mobil. "Ah, saya jadi lupa dengan maksud saya mengajak mu masuk mobil."


"Lupa apa sengaja pura pura lupa agar bisa mengantar saya," Rika menutup kotak makan yang sudah kosong, Ia mengambil tisue basah dan tisue kering dari dalam paper bag untuk mengelap tangannya.


"Percaya diri nona terlalu tinggi. Sayang nya saya benar benar lupa ketika melihat cara makan mu yang sangat jorok dan jelek," ledek Jhon yang tak mau kalah.


Rika menghembuskan napas pelan. "Baiklah terserah bapak mau ngatai saya seperti apa, jadi apa yang akan bapak sampaikan pada saya?"


Jhon memutar stir mobil, dan fokus mengemudi tanpa menoleh ke Rika, wajahnya berubah serius. "Karena saya sudah mengatakan mengenai mu ke keluarga, jadi mereka mengundang mu untuk makan," tutur Jhon.


Sontak Rika tertegun menoleh. Beberapa detik Ia terdiam sebelum menyahuti ucapan Jhon. "Ka-kapan undangan itu?"


"Nanti malam," sahut Jhon cepat.


"Hah," kaget Rika.


Alis Jhon terangkat sebelah. "Hah?" Tersenyum mengejek. "Kenapa kau harus sekaget itu? Tenang saja, kita hanya berpura pura sampai misi saya selesai dengan rapih, jadi kau tidak perlu sekaget itu menanggapinya."


Rika gelagapan, mengalihkan pandangan. "Tap-tapi kenapa harus mendadak begini? Bapak pikir saya juga tidak punya acara, saya juga sama ada acara penting di rumah!" Ujar Rika.


"Saya tidak pedulikan itu, yang penting kau tidak melupakan kesepakatan kita." Jhon mengeluarkan benda kotak dari balik jas yang di pakai nya, kemudian menyodorkan benda itu ke Rika. "Masukkan nomor ponsel mu, biar mudah saat saya menjemput."


Dia tidak tahu jika aku sudah punya nomer ponsel nya.


Rika terdiam memandangi ponsel yang ada di hadapannya. Ia masih bergeming menatap benda pipih itu tanpa mau menerima nya.


Jhon menggerakkan tangan. "Kenapa kau diam? Cepat ketikkan! Jangan membuat saya meng-"


Rika dengan cepat dan kasar merampas ponsel Jhon sehingga menghentikan ocehan Jhon. Lalu, ia menyalakan layar ponsel Jhon yang menampilkan sebuah foto wanita cantik berkerudung putih, di layar.


Alis Rika menaut menatap jelas dan terpaku pada layar ponsel.


Wanita yang sangat cantik. Siapa dia? Apa dia kekasih pak Jhon? Tapi kenapa dia tidak mengajak wanita ini saja untuk bersandiwara di depan keluarga nya?


"Hey," seru Jhon membuat Rika terhenyak menoleh ke arahnya.


"Bisa nggak jangan ngagetin gitu pak, jantung saya cuman ada satu." Omel Rika.


"Sedang apa kau memandangi layar ponsel sampai segitunya. Saya menyuruh mengetikkan nomer ponsel bukan memandangi layar nya." Ucap Jhon tanpa melihat ke arah Rika.

__ADS_1


"Ck." Rika mendelik sebal.


Rupanya dia menyadarinya.


Lalu Ia menggeser layar ponsel dan menekan menu kontak untuk mengetikkan nomer ponsel nya dan di save. "Nih, sudah di save," Rika menyodorkan kembali ponsel Jhon yang langsung di terima dan di masukkan kembali ke saku jas.


Rika masih menatap wajah Jhon yang tengah serius menyetir.


Aku masih penasaran dengan wanita itu.


"Wanita di layar ponsel bapak, sangat cantik. Kenapa nggak dia saja yang bapak ajak sandiwara?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Rika yang pikirannya sudah di penuhi oleh rasa penasaran.


Jhon teridam membisu, raut wajah nya seketika menjadi dingin di sertai hawa di dalam mobil itu ikut mencekam. Ia mencekal stir mobil dengan kuat, dan geraham rahangnya mengeras seperti menahan emosinya agar bisa terkendali.


Kenapa raut wajah dia jadi berubah? Apa ada yang salah dengan pertanyaan ku?


"Ekhem...," Rika berdehem mengalihkan pandangan ke arah jendela. "Maaf jika pertanyaan saya telah menyinggung bapak, tapi saya hanya merasa pen-"


"Jangan mencampuri urusan pribadi saya yang tidak ada sangkut paut nya dengan anda, nona Rika. Tugas anda hanya untuk membantu saya dalam kesepakatan itu, di luar itu. Anda tidak berhak tahu tentang hal pribadi saya," jhon menyela ucapan Rika dengan nada dingin dan tajam.


Benar katanya, aku hanya wanita samaran yang berhubungan dengannya, karena kesepakatan yang menguntungkan ku juga diri nya agar terhindar dari perjodohan orang tua.


Hati Rika berdenyut perih, ia menundukkan pandangan termenung, dan tangannya reflek memegang dada yang terasa perih itu.


Tapi tidakkah dia tahu jika hati ku sudah menyukainya sejak beberapa tahun ini. Dan apa hubungan wanita itu dengannya sehingga memunculkan ekspresi seperti itu di wajahnya.


"Ma-maaf." Ucap pelan Rika merasa bersalah.


Tidak ada percakapan lagi di antara kedua nya. Mereka sibuk dengan pikirannya masing masing sampai Jhon mengantarkan Rika ke depan rumah sakit tempat Rika bertugas.


Rika meraih handle pintu untuk membuka dan sebelah kaki nya telah menapak ke tanah hendak keluar.


"Pulang tunggu, saya akan menjemput." Jhon berucap sebelum Rika benar benar keluar sepenuhnya dari mobil.


"Hemm... Assalamualaikum, hati hati di jalannya pak, makasih atas tumpangannya." Ucap Rika tanpa menoleh dan keluar mobil.


Brak.


Pintu mobil itu tertutup rapat, Jhon menoleh ke arah jendela menatap kepergian Rika. Ia menghembuskan napas kasar. "Walaikumsalam." Jawabnya. Kemudian menekan pedal gas untuk melajukan kembali mobilnya meninggalkan rumah sakit.


----------------------------


Rika yang telah selesai tugas, Ia berjalan di koridor rumah sakit hendak keluar untuk pulang.


Kriing...kriing.


Ponsel Rika yang berada di dalam saku jas berdering keras. Ia mengambil dan tanpa melihat nama si penelpon langsung mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum," sapa Rika sambil kaki terus berjalan.


"Walaikumsalam, kau sudah siap?" Suara pria yang terdengar familiar dari sebrang telpon, membuat Rika menjauhkan sesaat ponselnya untuk melihat nama siapa yang tertera di layar.


Rupanya pak Jhon.


"Siap apa? Siap untuk pasien lahiran?" Sahut Rika ketus.


"Apa kau lupa, soal apa yang saya sampaikan sewaktu pagi?" Jhon sedikit menggeram marah.


Rika tersenyum mendengar nada suara Jhon yang berubah.


Jahili dikit tak apalah. Memikirkan soal pagi aku jadi teringat foto wanita itu lagi.


"Maaf memang anda siapa yah? Di kontak tidak ada nama nya," ucap Rika pura pura tidak mengenal Jhon.


Terdengar Jhon menghela napas panjang sebelum berucap. "Hey, wanita bodoh jangan menguji kesabaran, cepat keluar untuk bersiap," tegas Jhon, masih dengan nada menggeram kesal.


Rika telah melewati pintu geser otomatis dan kini Ia berdiri di teras rumah sakit dengan pandangan melihat ke satu arah. "Tapi saya benar benar tidak mengerti maksud anda dan tidak mengenal anda," jawab Rika santai. Di akhiri senyuman geli di bibirnya.


Tidak terdengar jawaban dari sebrang telpon, hanya suara kendaraan berlalu lalang dan langkah kaki.


"Benarkah anda tidak mengenal saya?" Suara pria yang serak dan jelas tepat di telinga.


Sontak Rika terhenyak, Ia menoleh ke arah samping. "Eh," gelagap Rika nyengir tak berdosa. "Pak Jhon," lanjutnya.


"Sudah tahu siapa saya?" Jhon bertanya sembari menegakkan punggungnya.


Rika mengangguk pelan, dan menyeringai. "Ka-kapan bapak ada di sini?"


Jhon melangkahkan kaki menuruni anak tangga teras rumah sakit, dengan santai Ia berkata. "Masuk ke mobil, kau perlu merubah penampilan mu dulu sebelum berangkat ke rumah keluarga," perintah Jhon sambil lalu.

__ADS_1


"Eh," Alis Rika berkerut, Ia ikut membuntuti langkah kaki Jhon yang membawanya ke mobil. "Dirubah? Memang tidak bisa gitu dengan penampilan saya yang ini saja."


Langkah kaki Jhon terhenti tepat di samping mobil. Ia menolehkan kepala melihat penampilan Rika dari atas sampai bawah. "Kau kerumah untuk menghadiri makan malam bukan menangani pasien melahirkan. Cepat masuk! Jangan membantah," titah Jhon kemudian setengah memutari mobil dan masuk ke dalamnya.


Rika menghembuskan napas pelan. "Masih seenaknya, menyebalkan." Gerutu Rika meraih handle pintu mobil dan duduk di kursi samping kemudi.


Jhon melajukan mobil nya, setelah memastikan Rika memakai seat belt. Selama beberapa saat tidak ada percakapan di antara kedua nya, masing masing sibuk dengan pikirannya dan fokus dengan apa yang di lihat.


Rika mengambil ponsel dan memandangi layarnya.


Aku harus mengabari Mama karena tidak bisa ikut undangan dari keluarga Roselly, tapi bilang nya gimana yah? Apa pura pura lupa dan matikan ponsel saja, seakan terlihat tidak ada apa apa. Haish... kenapa jadi bingung gini sih.


Ia menghembuskan napas kasar, menepuk kepala nya beberapa kali.


"Kebiasaan bodoh mu masih belum hilang. Apa kepala mu akan berubah wujud jika di tepuk begitu?" Jhon yang melihat aksi Rika tersenyum mengejek.


Rika mendelik. "Iya berubah jadi kepala kucing," sahut Rika menimpali ejekan.


"Humph, kucing tidak pantas untuk wanita bodoh seperti mu. Tapi kau pantasnya di sebut kodok berbadan manusia," Jhon makin senang mengejek Rika di sela fokus mengemudi nya.


"Bapak tahu saja jika saya suka keropi," Rika tersenyum tenang menanggapi.


Jhon melirik sekilas. "Panggilan itu harus di ganti, jangan panggil saya bapak. Cukup nama saja, bisa curiga keluarga saya jika kau memanggil bapak."


Rika menoleh dan menempelkan telunjuk di dagunya. "Baiklah saya panggil Jojo saja, gimana? Baguskan?" tanya Rika tersenyum.


Jhon tertegun seperkian detik terdiam, sebelum berucap tenang. "Ck, jangan Jojo juga. Sejelek itu nama saya. Panggil Jhon saja."


Rika tersenyum geli. "Nggak, Jojo nama mu bagus Jojo."


"Jhon, bukan Jojo," sergah Jhon tidak terima.


"Jojo."


"Jhon, wanita bodoh. Jangan panggil saya Jojo, menggelikan sekali." Ucap Jhon sedikit meninggi.


"Jojo," Rika memanggil dengan senyuman jahil.


"Apa kau budek. Jhon bukan Jojo, tapi Jhon!" Sentak Jhon dengan wajah memerah akibat amarah, terlihat jelas di kulit nya yang putih bersih.


Lucu sekali jika dia marah seperti anak kecil yang merajuk, dari pada berwajah dingin bagai patung jalan.


"Jojo, kita mau kemana? Ini sudah hampir magrib loh, Jojo," tanya Rika dengan nada manja yang di sengaja.


"Kau," geram Jhon mendelik tajam.


"Iya Jojo, ini saya Rika," sahut Rika cepat.


"Jika kau masih memanggil saya dengan panggilan jelek itu, akan saya turunkan kau di pinggir jalan." Ancam Jhon menambah kecepatan laju mobil.


Rika menahan tawa geli, menutup bibirnya. "Jika berani tinggal turunkan saja," tantangnya.


Ckiit.


Jhon mengerem mendadak tepat di jalanan yang sepi hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang.


"Turun!" Perintah Jhon dengan suara tegas dan dingin.


"Eh," Rika terlonjak menatap ke arahnya.


Dia benar benar melakukannya. Padahal aku hanya becanda.


"Kenapa kau diam? Turun!" Sentak Jhon keras.


"Ng-" sekali lagi Rika terlonjak kaget dengan bentakan Jhon, Ia menatap sejenak ke Jhon yang menatap lurus ke depan. Rika menggigit bibir nya, mencekal tas selempang yang ada di pangkuannya.


Dia serius.


"Ba-bapak serius ingin menurunkan saya? Inget loh, kesepakatan itu. Tapi jika bapak ingin menurunkan saya di sini, berarti kesepakatan kita batal juga." Tutur Rika tenang yang sudah mengkontrol diri untuk tetap tenang.


Jhon menghela napas panjang, menginjak kembali pedal gas. Ia memasang wajah dinginnya dan tatapan tajamnya lurus ke jalanan. "Jangan melewati batasan anda terhadap saya. Panggil nama saya seperti orang umumnya memanggil, jangan memakai panggilan itu, seakan kita telah mengenal lama dan akrab. Saya tidak menyukai wanita yang sok akrab tak tahu diri," tutur Jhon mempertegas.


Rika menolehkan pandangan ke arah jendela. "Maaf," Celetuk Rika pelan.


Memang kita sudah mengenal dari beberapa tahun lalu kan? Dan apa salahnya dengan panggilan itu, sehingga membuat dia dengan mudah mengucapkan kata kata yang menyakitkan untuk ku.


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa Klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...

__ADS_1


__ADS_2