Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 56


__ADS_3

Di Rumah Sakit.


Dalam ruangan pribadi itu Egi, Ray, Farhan dan beberapa dokter tengah berkumpul menjelaskan mengenai keadaan dua pasien wanita yang sudah selesai di operasi dan di bawa ke kamar rawat masing-masing.


Seorang dokter wanita paruh baya duduk di sofa panjang bersama dokter lainnya, ia menjelaskan cedera yang di alami Rika juga Annisa dengan menunjukkan gambar hasil pemeriksaannya.


"Jadi untuk Nona Annisa, kita tinggal menunggunya siuman selepas menjalani operasi cedera ringan di bagian tulang lengan atas kiri nya. Dan untuk kandungannya, tuan muda kedua tak perlu khawatir, kandungan Nona baik-baik saja."


Egi bernapas lega mendengarnya, ia mengangguk kecil. Namun tidak dengan Ray dan Farhan yang terlihat gelisah menatap berkas hasil pemeriksaan Rika di tambah lagi saat ini Gadis manis itu terbaring bukan di kamar inap biasa melainkan di ruangan tempat pasien yang perlu pemantauan khusus.


"Sekarang kau jelaskan mengenai keadaan Nona Rika," perintah Egi yang mengerti akan tatapan penasaran Ray.


Dokter Erika mengangguk tipis, ia beralih menggeser berkas pemeriksaan Annisa bergantikan berkasnya Rika. "Mengenai Nona Rika...," terjeda sejenak membuka perlembar yang menggambarkan tulang rusuk belakang, tulang kaki, lengan dan kepala.


Farhan yang melihat gambaran itu, seketika mata nya melebar. "Dia mengalami patah tulang sebanyak ini?"


Mengangguk mengiyakan, dokter Erika menunjuk bagian-bagian cedera. "Patah tulang di bagian tulang rusuk belakang, kaki dan tangan yang membutuhkan penanganan khusus lebih lanjut di tambah cedera bagian kepala yang cukup berat, Nona Rika-"


"Langsung saja ke intinya dok. Bagaimana keadaanya sekarang? Kenapa dia di masukkan ke ruang ICU."


Dokter Erika menghela napas panjang, menatap serius pada Ray. Begitu pun dengan Farhan yang terlihat sudah memasang wajah murung tertunduk menatap terpaku pada gambaran CT-Scan hasil pemeriksaan Rika.


"Dia koma." Serempak Farhan dan dokter Erika.


Seketika Ray dan Egi menatap diam dengan mata membelalak terkejut.


"Ko-koma." Celetuk Ray menunduk lemah, tangannya terkepal.


Ceklek.


Pintu ruangan pribadi itu terbuka memunculkan seorang pria tampan. Raut wajahnya terlihat syok mendengar pembicaraan mereka, ia masih mematung di ambang pintu dengan tatapan tak berkedip dan rahang tegasnya mengeras. Pegangan tangan di daun pintu itu meremet kuat.


Semua orang yang berada di dalam ruangan menoleh, dan sama-sama menatap diam tak berani berbicara.

__ADS_1


"Tidak mungkin dia...," Ucap Jhon tercekat, kemudian dengan gerakan kaku seperti robot ia berbalik melangkahkan kaki.


"Bang Jhon." Seru Ray bangkit dari duduknya.


"Ray." Egi mencekal lengan Ray sehingga gerakannya terhenti. "Biarkan dia sebentar, berikan waktu untuknya."


"Aaarrgh." Mengusap wajah dengan kasar dan menepis kasar tangan Egi di pergelangan tangannya. "Gue mau tahu siapa di balik dalang semuanya."


Egi memberikan isyarat mata pada sekertaris Leon agar menyuruh para dokter di sana keluar kecuali Farhan.


Setelah semua dokter keluar ruangan. Sekertaris Leon meletakkan laptop ke atas meja dan memutar beberapa video rekaman cctv beserta foto-foto yang menampilkan siapa musuh di balik semuanya ini.


"Dia? Bukannya dia wanita gila yang pernah menjebak Annisa di lift lima tahun lalu?"


Egi mengangguk menatap serius. "Wanita itu masih terkurung di penjara dengan mengidap penyakit paru-paru yang mematikan dan dia masih lama masa tahanannya. Tapi yang ini adalah kakak kandung dari wanita gila itu."


"Jadi dia mau balas dendam terhadap Annisa?"


"Hemm. Dan gue nggak nyangka dia sampai berbuat sejauh ini. Dengan kekuatan yang di miliki pamannya dia sampai menyewa banyak pembunuh bayaran untuk menyerang Annisa."


"Sudah terencana dengan rapih." Celetuk Farhan mengamati setiap gambar yang tertera di layar laptop.


"Mau terencana atau apalah. Gue gak mau tahu, lo kan sudah memiliki kekuatan cukup besar dengan kekuasaan lo, gue mau dia di hukum seberat-beratnya-"


"Gue udah tahu Ray, apa yang harus gue lakukan." Potongnya cepat, menyeringai misterius melirik sekertaris Leon yang berdiri.


Sementara di ruangan ICU.


Tampak seorang gadis yang terbaring lemah tak berdaya dengan mata tertutup di atas ranjang. Tangan, kaki, dan kepala gadis itu telah di bebat oleh perban yang tebal serta beberapa selang yang menempel di punggung tangan juga hidungnya. Ruangan itu terdengar hening, tenang hanya suara detak jantung yang berasal dari monitor pendeteksi.


Gadis manis itu tidak sendiri dalam ruangan, ia di temani oleh seorang pria paruh baya yang terus meneteskan air mata menatapnya dalam diam.


Pak Adi berdiri di sisi ranjang, menyentuh jemari tangan anaknya yang terasa dingin. "Neng...," terjeda sejenak mencengkram dagu dan menghembuskan napas kasar. "Apa yang terjadi pada anak Papa? Kenapa bisa begini, Neng? Papa membelikan mobil bukan untuk membuat mu seperti ini?... hiks... hiks... bangunlah anak Papa yang selalu ceria, jangan begini Neng."

__ADS_1


Pria itu terus meracau sembari menatap anak gadisnya yang tak merespon atau bergerak sama sekali.


Di luar ruang ICU.


Terlihat pria tampan berjas yang berjalan pelan di koridor dengan kepala menunduk Jhon berusaha menguatkan hatinya untuk melangkahkan kakinya yang terasa berat.


Langkah demi langkah ia terus berjalan terseok meraba dinding koridor untuk menopang dirinya agar tidak terjatuh karena kakinya sudah terasa lemas dan berat tak ada tenaga, napasnya sudah berderu terengah sesak menahan agar tidak menangis.


Gadis bodoh, apa yang kau perbuat? Kenapa kau melakukan ini? Apa kau ingin membuktikan jika aku tak layak untuk mu?


Jhon terus melangkahkan kakinya, walaupun berat rasanya ia tetap melangkah hingga akhirnya kedua kaki nya terhenti tepat di depan pintu dengan bahan kaca tebal transparan menyorot ke dalam ruangan.


Dia... dia benar tertidur.


Sreet... Bruk.


Tubuhnya merosot lunglai ke bawah, Jhon menyenderkan punggung ke dinding dekat pintu kaca tersebut, kakinya tertekuk dengan sebelah lainnya menjulur ke depan. Pandangannya lekat menatap ke dalam terarah pada sesosok gadis yang terbaring lemah itu. "Rikaa...," gumamnya serak nan berat.


Hingga beberapa menit dia hanya berdiam diri menatap termenung tertunduk tanpa bicara.


"Nak Jhonathan." Pak Adi memanggil saat dirinya baru keluar dari ruangan.


Jhon menggerakkan kepalanya untuk mendongak menatap siapa yang memanggilnya.


Pak Adi jongkok untuk menyetarakan dirinya dengan Jhon. "Kenapa di lantai? Jika ingin melihat si Neng, kedalam lah."


Jhon menghembuskan napas panjang, menatap lurus dan tersenyum paksa yang terlihat pahit. Lalu ia bangkit dari duduknya dengan menapakkan tangan ke dinding untuk memapah tubuhnya.


Pak Adi ikut berdiri, membantu dengan memegang sebelah tangan Jhon untuk berdiri. Dia terluka karena si Neng... akan kah dia mengalami trauma lagi.


"Jaga dia baik-baik," ucap Jhon parau menggenggam sejenak tangan Pak Adi, lalu berbalik melangkahkan kaki dengan gontai.


Pak Adi mematung menatap punggung Jhon yang mulai menjauh. Dia benar-benar terluka. Neng, kamu lihat itu... pria yang kamu cintai pun ikut terluka. Jadi bangunlah, jangan membuatnya menjauh dari mu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2