Pejuang Move On

Pejuang Move On
Janji Suci


__ADS_3

Adzan isya telah berkumandang dengan sangat indah di masjid terdekat. Annisa yang semula tengah mengaji, menghentikan bacaan al-Qur'an nya dan di lanjutkan melaksanakan Shalat Isya. Setelah nya Annisa memanjatkan doa untuk ibu, bapak nya yang telah tiada.


Annisa merenungkan semua kejadian hari ini yang telah terjadi pada nya, ada bulir bulir berbentuk kristal dari sudut mata Annisa.


Ya Tuhaan jika memang laki laki itu adalah takdir yang telah engkau tuliskan untuk menjadi Imam hamba, maka lapangkanlah hati hamba untuk menerima dan mudahkanlah hamba untuk menjalankan kewajiban sebagai istri nya.


Mama, papa. Annisa malam ini akan di ikat dengan janji suci oleh laki laki yang jelas jelas Annisa baru mengenal nya bahkan Annisa tidak menyukai nya.


Doakan lah anak mu mama, papa. Semoga anak mu ini bisa menjadi istri yang baik meskipun Annisa tidak yakin karena awal Annisa kenal dengan nya sudah menciptakan kebohongan yang besar sehingga membawa Annisa ke lubang yang cukup dalam dan terjerat hingga ke ikatan seperti ini.


Apakah Annisa harus menyatakan pada semua orang di rumah ini jika sebenarnya Annisa tidak mempunyai hubungan yang di sandiwarakan tp jika melakukan hal seperti itu, Annisa rasa tidak akan merubah apa pun sedangkan sekarang waktu nya sudah sangat mepet dan telah menyatakan persetujuan iya dalam pernikahan ini. Yang bisa Annisa lakukan hanya menerima dan ikhlas dengan yang terjadi ini. Annisa janji mama, papa. Meskipun Annisa tidak menyukai laki laki yang akan menjadi suami Annisa.


Annisa akan menjalankan kewajiban sebagai istri yang baik, karena istri yang taat akan menghantarkan mama dan papa untuk ke surga-Nya.


Lama Annisa merenungkan dan selesai mencurahkan isi hati nya dengan mengeluarkan semua unek unek yang ada dalam hati nya.


Annisa melipat mukena yang telah di pakai lalu menaruh ke dalam lemari kecil dekat meja nakas. Setelah nya Annisa bangkit dari duduk dan berbalik hendak duduk di sofa.


Kamar tamu yang Annisa gunakan tidak seluas kamar yang di gunakan Egi juga Romisa. Kamar itu, hanya terdapat ruang tidur lengkap dengan lemari pakaian yang berjejer, kamar mandi dan ada satu sofa panjang di ujung ranjang.


"Nona Annisa," ucap wanita paruh baya yang baru datang ke dalam kamar.


Annisa menoleh ke arah suara, seketika mata Annisa melebar kaget karena melihat beberapa orang berdiri berjajar yang kini ada di hadapan nya.


"Ada apa bu?," tanya Annisa heran.


"Nona Annisa, kami adalah anggota Perias muslimah terbaik, dan kami di tugaskan untuk merias Nona sebaik mungkin," ucap wanita paruh baya yang berdiri di antara yang lainnya.


Annisa mengangguk paham dan teridam menoleh ke arah lain.


Mau di rias ataupun tidak tetap saja, pernikahan ini tidak akan menjadi berwarna dan menciptakan kebahagiaan bagi ku juga bagi nya.


"Nona Annisa sudah boleh kah kami melakukan tugas kami?,"tanya wanita paruh baya tersebut.


"Silahkan," pasrah Annisa.


Mendengar persetujuan dari Annisa para perias mulai melakukan tugas nya untuk meriasi Annisa seperti semesti nya merias seorang pengantin yang akan menikah, Annisa hanya bisa pasrah kala para perias memake up wajah dan menyuruhnya mengganti pakaian dengan gaun pernikahan yang berwarna putih dan elegan.


Annisa telah selesai di rias dan memakai gaun putih dengan di setiap sekeliling nya di selimuti dengan kain brukat yang bercorak bunga dan mutiara mutiara merah jambu tersebar di sekitarnya. Annisa tampak sangat cantik dengan make up dan gaun pengantin itu, namun kecantikan di wajah nya tidak terpengaruh untuk hati Annisa agar berbahagia dengan hari terakhir masa lajang nya.

__ADS_1


Meskipun Annisa sudah merelakan dan ikhlas dengan keadaan yang akan di jalani nya namun tetap saja, pernikahan dadakan seperti itu siapa yang akan bahagia dan tersenyum seakan tidak terjadi apa apa.


Ceklek..pintu kamar Annisa terbuka.


Annisa yang semula menatap diri nya kosong di depan cermin, ia berbalik untuk melihat siapa yang datang ke kamar nya.


"Mbak Misa," celetuk Annisa mendapati Romisa yang sama sama sudah di rias, berjalan menghampiri nya.


Sementara Para Perias yang seakan mengerti dan tugas nya sudah selesai, mereka semua menunduk hormat dan pamit meninggalkan Annisa dan Romisa berdua di dalam kamar.


Romisa memeluk Annisa dengan erat." An an, kenapa kau tidak cerita pada mbak?," ucap Romisa sambil mendekap tubuh Annisa.


Ingin rasa nya Annisa menangis dalam pelukan Romisa dan menceritakan semua yang terjadi, tp mengingat Romisa tengah mengandung dan kondisi nya saat ini sedang lemah. Annisa mengurungkan niatan nya, dan bersikap seolah olah tidak ada beban apa pun dalam hati nya.


"Maafkan Annisa mbak, Annisa takut mbak akan marah dan kepikiran melihat kelakuan Annisa yang tidak baik ini," tutur Annisa.


Romisa melepaskan pelukanya dan menangkup kedua sisi wajah Annisa.


"An an, bagaimana mungkin mbak akan marah. Mbak tahu sikap dan sifat mu seperti apa. Tp jika memang kamu bahagia menikah dengan nya, mbak merestui itu An. Mbak yakin Egi adalah pria yang baik, meskipun usia mu dengan nya terpaut beberapa tahun tapi jangan merasa minder An. Justru dengan begitu kamu harus membimbing nya jika dia melakukan hal yang salah, sekarang kamu akan menikah dengan nya. Jadi An an, jalankan lah tugas mu sebagai istri nya dengan baik, buat Egi menjadi lupa dengan wanita yang ada di hati nya. Mbak yakin kamu pasti bisa An, " tutur Romisa lembut.


Apakah mbak berpikir jika pernikahan ini adalah keinginan kita berdua, ternyata mbak Misa mendengarkan hal yang bukan sebenarnya terjadi. Tp tidak apalah itu lebih baik, karena jika mbak Misa mengetahui yang sebenarnya. Aku yakin mbak akan banyak memikirkan aku dan masalah ini, dan hal itu sangatlah tidak baik untuk kesehatan nya yang sekarang.


Menurunkan tangkupan tangan Romisa di wajah nya."Iya mbak, Annisa bahagia menikah dengan nya, dan akan mendengarkan nasihat mbak," balas Annisa lalu tersenyum.


Annisa menggiring Romisa agar duduk di sofa panjang bersama nya.


"Saat Annisa memukul nya di kamar mbak dan meminta maaf pada nya, lalu sejak saat itu kami sepakat menjalani hubungan sebagai seorang kekasih," jawab Annisa dengan pandangan menunduk menghindari kontak mata dengan Romisa.


Romisa mengangguk kecil."Ternyata takdir mu di sini An an, mbak nggak nyangka. Selalu berbahagia An an, mbak mendoakan yang terbaik untuk mu," tutur Romisa dan mengusap sebelah sisi wajah Annisa.


Annisa mengangguk pelan mengiyakan.


Semoga saja apa yang di katakan mbak itu benar, ini adalah takdir untuk kebahagiaan Annisa.


--------


Sementara di ruang utama telah ramai dengan banyak nya orang para penjaga rumah Arga dan ada Pak Ustadz beserta rombongan nya, juga tidak lupa ada Pak Penghulu yang di undang untuk menyelenggarakan pernikahaan Egi dan Annisa.


Selang beberapa waktu.

__ADS_1


Kini Egi sudah terduduk di atas sofa panjang dengan sebuah meja kotak di hadapan nya, dan di kelilingi oleh para tamu undangan.


Ayah Putra ikut mendampingi Egi dari belakang dan duduk di kursi roda, begitu pun dengan Arga ikut mendampingi Egi di samping nya agar pengucapan Ijab Kabul Egi lancar tanpa hambatan.


Sementara di ruangan sebelah nya telah terduduk Annisa di sofa panjang dengan di dampingi Romisa di samping kiri dan di samping kanan terdapat Bi Ane ikut mendampingi Annisa, dan untuk Para Pelayan ikut menjadi saksi dalam pernikahan nya.


Tangan Egi di jabat oleh Pak Penghulu lalu Egi mulai mengucapkan Ijab Kabul dan akhirnya pengucapan Ijab Kabul telah di laksanakan dengan lancar, meskipun dalam pengucapan Ijab Kabul, Egi sempat harus mengulang sampai dua kali pengucapan karena Egi merasa gugup juga gerogi.


Jantung Annisa berdegup sangat cepat begitu mendengar suara Egi dari pengeras suara yang telah mengikrarkan Ijab Kabul terhadap diri nya, yang menyatakan jika Annisa sekarang telah menjadi istri Sah nya Egi.


Air mata tidak bisa terbendung lagi untuk Annisa menahan nya karena sekarang Annisa telah menjadi seorang istri dari laki laki yang jelas ia tidak menyukai nya begitu pun sebalik nya, Annisa memikirkan bagaimana nasib ke depan nya yang harus hidup bersama dengan Egi.


"An an, selamat atas pernikahan mu. Jangan menangis An an, ini hari kebahagiaan mu jadi jangan menangis. An an meskipun acara nya tidak megah tapi pernikahan mu bersama Egi berjalan dengan khidmat, berbahagialah An," tutur Romisa memeluk Annisa dan menghapus air mata di pipi Annisa.


Annisa hanya bisa mengangguk kecil dan tak mampu berkata apa pun.


Papa, mama. Annisa telah menjadi seorang istri dari pria yang jelas Annisa tidak menyukai nya, bahkan yang membawa Annisa dalam keadaan seperti ini, mungkinkah ini takdir annisa ma, pa?.


Syila bertukar duduk dengan Bi Ane."Kakak ipar, apakah ini kakak ipar ke dua nya Syila?," tanya Syila yang menggeser duduk nya mendekati Annisa.


Romisa mengangguk."Iya Syila, ini kaka ipar ke dua mu," mengiyakan.


Syila menelisik penampilan Annisa dari atas sampai bawah dan meneliti wajah nya.


"Syila tahu, dia ini wanita yang sok akrab ke kakak ipar waktu itu kan. Tapi karena sekarang dia sudah menjadi kakak ipar kedua, jadi Syila akan menerima nya meskipun sebenarnya Syila tidak menyukai dia," tutur Syila.


Romisa tersenyum dan mencubit ujung hidung Annisa yang merah karena habis menangis."Dia anak baik dan menggemaskan kok An. Hanya saja kadang bersikap manja saja, jadi jangan merasa kesal dengan ucapan nya," tutur Romisa yang di balas anggukkan kepala oleh Annisa.


"Kaka ipar ke satu, kita ambil makan di sana yuk. Syila lapar, dari sore belum makan," rajuk Syila manja pada Romisa dan menunjuk tempat jamuan di sediakan yang sudah ramai dengan Para Tamu yang menikmati nya.


"Tapi kak Annisa bagaimana Syila?," balas Romisa.


"Kakak ipar kedua ikutlah, pasti kakak ipar kedua juga lapar kan," ajak Syila.


Annisa menggelengkan kepala kecil."Kakak tidak lapar, pergilah mbak Misa ajak Syila kasihan dia sudah lapar, biar Annisa di sini dulu," ucap Annisa.


Romisa menghela napas lalu melirik Syila dan Annisa secara bergantian."Baiklah, mbak kesana dulu yah An," ucap Romisa yang di balas anggukkan kepala oleh Annisa.


Romisa dan Syila pergi meninggalkan Annisa yang masih betah duduk di sofa panjang dekat dinding. Pikiran Annisa masih kalut, hati nya masih merasa sakit tidak rela dengan kenyataan yang terjadi, namun nasi sudah menjadi bubur, Annisa hanya bisa pasrah dan menerima untuk menjalani kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang Annisa inginkan.

__ADS_1


Dengan keadaan seperti ini bagaimana mungkin aku masih ada nafsu makan dan tersenyum bahagia, sedangkan hati ku merasa sakit.


BERSAMBUNG...


__ADS_2