Pejuang Move On

Pejuang Move On
Menjalankan Kewajiban part 2


__ADS_3

Annisa memasuki area dapur yang sudah ramai oleh para koki yang tengah menyiapkan sarapan, Bi Ane yang melihat Annisa memasuki dapur, Ia menghampiri nya.


Ternyata di pagi hari rumah ini sudah ramai oleh para pelayan juga para koki yang mengerjakan tugas mereka masing masing. Tapi jika begini, tugas ku sebagai istri Apa dong, aku tidak ingin diam saja menyerahkan semua tugas dan tanggung jawab ku pada mereka, yaa setidaknya harus ada yang aku kerjakan agar tidak di nilai istri durhaka lagi oleh tuh bocah.


"Dek Annisa," panggil Bi Ane yang sudah berdiri di samping Annisa.


Mengalihkan pandangan nya dari para koki ke Bi Ane."Eh, iya bi," sahut Annisa dan tersenyum.


"Dek Annisa ada perlu apa, ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Ane.


Sepertinya meminta bantuan ke bi ane, itu lebih baik.


Sedikit mendekatkan diri ke Bi Ane.


"Bi, saya ingin menyiapkan sendiri makanan untuk sarapan Egi, bisakah Bibi membantu saya," pinta Annisa.


Bi Ane menatap Annisa sejenak.


"Tapi Dek, biasanya para koki yang menyiapkan makanan," ucap Bi Ane.


Menangkupkan kedua tangan di hadapan wajah seakan memohon.


"Saya hanya ingin menyiapkan masakan nya untuk Egi saja kok bii, jadi bisakah Bibi membantu saya?" Pinta Annisa dengan tatapan memelas.


Menghela napas pelan menatap Annisa sejenak lalu mengangguk kecil.


"Baiklah sebaiknya Dek Annisa memasak nya di dapur samping saja, karena dapur utama tengah di pakai para koki. Tidak apakah jika di dapur samping?" tanya Bi Ane.


Mengangguk semangat."Iya bi, tidak apa. Yang terpenting semua bahan dan alat alat nya juga lengkap di sana," girang Annisa.


"Bahan dan alat alat sama lengkap nya dengan dapur utama jadi tidak perlu khawatir, jika Dek Annisa akan menyiapkan nya sekarang. Mari ikuti saya, akan saya tunjukkan letak dapur nya," tutur Bi Ane yang di balas anggukkan kepala oleh Annisa.


Bi Ane berjalan di depan Annisa untuk menunjukkan dapur samping, dan Annisa dengan patuh mengekori bi Ane dari belakang.


Selain megah rumah ini juga benar benar luas ternyata, bahkan dapur saja ada beberapa tempat. Jadi minder aku, sudah di nikahkan paksa karena gara gara sandiwara, s Egi yang tidak menerima ku sebagai istri nya. Apa aku bisa bertahan lama di sini. Jika di bandingkan aku dengan nya, aku hanyalah sebuah debu kecil yang menempel di barang nya.


Sesampainya Annisa di dapur.


"Silahkan Dek Annisa untuk memasak, bahan bahan masakan ada di lemari pendingin sebelah sana," tutur Bi Ane sambil menunjuk beberapa lemari pendingin yang ada di dekat meja dapur.

__ADS_1


Namun mata Annisa melirik ke arah lain yaitu ke atas meja dapur yang tersedia bahan bahan untuk membuat kopi caramel Latte.


Bi Ane yang melihat Annisa terbengong, Ia tersenyum lalu melambai kan tangan di depan wajah Annisa.


"Dek Annisa," panggil Bi Ane membuat annisa kembali lagi memperhatikan nya.


Tersenyum kikuk."Eh, iya bi. Maaf saya hanya memikirkan hal lain jadi tidak memperhatikan, tadi bibi menunjukkan apa?" tutur Annisa.


"Tidak apa, saya hanya menunjukkan tempat bahan masakan ada di lemari itu."


Mengangguk melihat apa yang di tunjukkan bi Ane.


Lalu mendekati mesin kopi dan bahan bahan untuk membuat nya.


"Saya akan buatkan dulu kopi untuk Egi, kira kira dia suka kopi tidak bi?" tanya Annisa.


"Tuan Egi menyukai kopi caramel macchiato namun dia tidak menyukai teh hitam."


Mulai menyiapkan bahan yang tersedia di meja dapur untuk membuat kopi."Bi kalau makanan kesukaan Egi itu apa yah, dan yang biasa di jadikan sarapan nya apa bi?" tanya Annisa sambil meracik kopi ke dalam mesin kopi.


Memperhatikan Annisa yang tengah meracik kopi.


Annisa mengangguk paham."Terimakasih Bi atas info nya, saya akan menyiapkan masakan nya sekarang," ucap Annisa sambil menyiapkan secangkir kopi yang sudah di buatnya ke atas nampan.


Harum nya aroma kopi yang di racik dek Annisa tak kalah harum dengan kopi yang di buat para koki.


"Iya Dek, jika begitu saya permisi untuk kembali pada tugas saya selamat memasak semoga berhasil," pamit Bi Ane lalu menunduk hormat dan berbalik hendak meninggalkan Annisa.


Annisa menanggapi nya hanya dengan senyuman dan anggukkan kepala ke arah bi Ane sebelum bi ane pergi dari dapur.


Sepeninggalan Bi Ane.


Annisa menaruh segelas penuh air putih di nampan yang sudah terdapat secangkir kopi hasil racikan nya.


"Sebaiknya aku mengantarkan ini dulu untuk dia yang belum sempat meminum air dari sejak bangun tidur," gumam Annisa lalu beranjak untuk menuju kamar nya mengantarkan minuman untuk Egi.


Sesampainya di kamar.


Annisa berjalan ke arah balkon untuk menghampiri Egi yang masih betah dengan posisi nya. Egi belum menyadari Annisa yang tengah berjalan ke arah nya.

__ADS_1


Apa sebenarnya yang di kerjakan ni bocah. Bukannya dia ini masih sekolah SMA kenapa sok sibuk kayak orang kantoran, pagi pagi buta sudah menatap laptop dengan serius seperti itu.


Meletakkan nampan berisi secangkir kopi dan segelas air putih ke atas meja bundar dekat kursi yang di duduki Egi.


"Nggak kering tuh tenggorokan, nih minum dulu," ucap Annisa.


Mendengar suara Annisa, Egi mengalihkan pandangan dari layar laptop ke arah meja di hadapan nya lalu melirik Annisa.


"Sepertinya kau punya rencana tersembunyi," ketus Egi, lalu kembali lagi menatap layar laptop.


Menghela napas kasar dan menatap jengah ke Egi.


"Rencana apa lagi bocah, kau selalu su'udzon saja pada ku," ucap Annisa dengan nada mulai kesal.


Masih menatap layar laptop."Siapa tau kau taruh racun dalam minuman itu, bukannya kau sangat tidak suka terhadap ku jadi wajar saja aku harus bersikap waspada terhadap mu," tutur Egi dan tersenyum sinis.


"Yang tidak suka di sini itu siapa? Dan yang harus waspada juga siapa? Bukannya kau yang sangat membenci ku. Hah sudahlah, pokok nya minum tuh air sudah kering tuh bibir mu, kayak kerak nasi yang gosong," tutur Annisa.


Egi terdiam dan menatap layar laptop nya dengan serius tanpa menggubris ucapan Annisa seolah olah tidak mendengar.


"Apa kau masih tidak percaya jika aku tidak menaruh racun, baiklah akan ku cicipi dulu air ini biar kau lihat. Jika aku tidak menaruh racun apa pun di dalam nya," ucap Annisa dan hendak meraih gelas.


Egi menatap tajam ke arah Annisa.


"Kau mencari alasan agar bisa meminum air satu gelas berdua dengan ku. Cih!! Sudah waktu malam kau menggoda ku, sekarang pun kau ingin melakukan hal yang sama," ucap Egi membuat Annisa geram dan menaruh kembali gelas itu ke atas nampan dengan sedikit kasar.


Lama lama di sini di bikin emosi saja oleh nya, lebih baik aku ke dapur lagi untuk memasak. Huh... kalau saja sekarang dia status nya bukan sebagai suami ku, sudah ku sembur dengan kopi wajah nya agar dia sadar.


Menghela napas kasar.


"Jika kau mati karena meminum air ini, maka cari saja aku," ucap Annisa lalu melengos pergi meninggalkan Egi.


"Cih!! Bagaimana aku mencari mu sedang aku sudah dalam keadaan tak bernyawa. Dasar gila," gumam Egi.


Setelah melihat Annisa telah keluar dari kamar nya, Egi menyimpan laptop nya ke kursi samping lalu Ia tersenyum miring dan meraih gelas untuk meminum air putih, setelah nya Egi meraih cangkir kopi untuk mencicipi kopi yang di buat Annisa.


"Rasa dan aroma nya berbeda dari seperti biasanya para koki yang membuatkan, apa wanita itu yang membuat nya. Benar sangat nikmat. Lumayan juga kerja keras nya, setidaknya dia sedikit berguna," gumam Egi dan kembali menyesap menikmati kopi nya.


Setelah membaca usahakan tekan tombol LIKE nya yaa.😊

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2