
"Nona annisa." Panggil dokter frans mengalihkan perhatian annisa yang tengah mengamati perbincangan ayah putra dan jhon yang masih saling lempar ucapan tanya dan jawab mengenai nama panggilan 'brandal'.
Menoleh ke dokter frans. "Iya dok." Sahut annisa pada dokter frans yang tampak nya usia dokter frans sama dengan arga.
Dokter frans melirik annisa dari atas sampai bawah lalu tersenyum.
"Benarkah kalian ini suami istri?" Tanya nya.
Kenapa dia bertanya seperti itu? Bukannya dia pernah memeriksa ayah mertua waktu itu, pasti tahu dong aku adalah istri nya s egi. Oh ya aku lupa, saat itu kan dokter ini di suruh pulang setelah aku dan egi masuk ruangan jadi tentu dia belum tahu aku.
Mengangguk mengiyakan. "Benar kami adalah suami istri, ada apa ya dok?"
Masih memasang senyuman. "Tidak apa. Hanya tidak menyangka saja," ucap nya menatap annisa.
Dih aneh.
"Ah, maaf dok. Bagaimana kondisi egi. Sakit apa dia sebenarnya?" Tanya annisa mengalihkan pembicaraan.
"Dia hanya terkena dehidrasi dan maag nya kambuh, demam nya juga cukup tinggi. Dari hasil pemeriksaan saya menunjukkan nya seperti itu." Tutur dokter frans tersenyum.
Menautkan alis dan termenung sejenak.
Benarkah tadi yang di katakan nya jika s egi terkena dehidrasi dan maag. Berarti perkiraan ku tidak salah, lalu kenapa waktu itu aku memeriksa ayah mertua semua nya salah. Jadi bingung. Apa karena sewaktu itu aku juga lagi shock atas kejadian yang tak terduga itu, jadi tidak konsen dalam memeriksa nya.
"Hey, nona annisa." Panggil dokter frans membuyarkan lamunan annisa.
Terperanjat. "Eh, maaf dok," tersenyum canggung dan kembali menatap dokter frans. "Jadi egi harus di infus ya?" Tanya annisa.
Mengangguk. "Iya nona. Soal demam dan maag nya saya sudah resepkan obat nya, dan nona jika dia mengigaukan sesuatu, itu sudah hal wajar jangan panik, karena saat ini kesadaran tuan egi kurang, akibat dehidrasi dan demam tinggi yang menyerang nya. Baiklah saya akan menginfus dahulu, karena saya tidak membawa asisten saya, jadi harus saya sendiri." Jelas dokter frans dan mengeluarkan seperangkat infusan dari tas yang di bawa nya.
Annisa berdiri dan mendekati dokter frans. "Bolehkah saya saja dok yang menginfus nya." Pinta annisa.
Menoleh. "Oh, tentu saja boleh. Silahkan nona annisa." Tersenyum dan menyerahkan alat infusan ke annisa.
Annisa mengambil alih dan mulai menginfus tangan egi.
Sementara dokter frans setelah menyimpan 3 botol obat di atas meja nakas, ia melangkah mendekati sofa ayah putra dan terlibat percakapan di antara nya menjelaskan kondisi egi ke ayah putra.
Sedangkan Jhon melirik annisa dan seakan mengerti situasi, ia berlalu keluar kamar dan tidak beberapa lama, jhon kembali lagi dengan membawa tiang infusan dan meletakkan nya di samping ranjang egi.
Ayah putra menghampiri ranjang egi.
"Nak annisa, istirahatlah dan jaga suami mu. Ayah permisi dulu." Ucap Ayah putra.
Mengangguk kecil. "Baik ayah. Annisa akan menjaga egi dengan baik," jawab nya.
"Ah, iya. Soal nama panggilan mu itu, ayah tidak akan membiarkan anak ayah bebas dengan hukuman nya karena telah memanggil mu dengan panggilan yang jelek itu. Jadi kau rawatlah dia agar sehat kembali, supaya nanti saat dia menerima hukuman dari ayah dia sudah siap mental dan fisik." Tutur ayah putra dan tersenyum.
__ADS_1
Hukuman? Dia tidak akan di hukum secara kasar kan!
"Ayah.." berucap ragu ragu menatap ayah putra.
"Annisa tidak merasa di rugikan kok dengan panggilan itu, jadi tidak bisakah ayah melupakan nya. Jangan memberikan egi hukuman." Ucap annisa lamat lamat dengan suara pelan namun jelas.
"Tidak bisa nak." Ucap nya tercekat karena melihat annisa yang menatap nya penuh mohon.
Menghela napas pelan. "Baiklah akan ayah pikirkan lagi. Sekarang, sebaiknya kau istirahat. Ayah keluar dulu." Tegas ayah putra tersenyum lalu mengisyaratkan mata pada jhon dan dokter frans agar mengikuti nya.
"Terimakasih ayah." Balas annisa dan tersenyum.
Dokter frans yang memperhatikan. Tersenyum kecil. Wanita yang polos pikir nya.
Mereka bertiga telah keluar dari kamar egi dan kini berganti dengan dua orang pelayan yang mendorong troli dua tingkat, yang di bagian tingkat bawah berisi mangkuk dan handuk untuk mengompres, sedangkan di bagian atas terisi nampan besar yang tersedia dengan berbagai menu makanan dan minuman untuk dua orang.
Dua pelayan wanita itu menaruh troli itu dekat meja sofa, dan kembali keluar dari kamar egi.
Hingga hanya tersisa annisa dan egi berdua di kamar.
Annisa mengambil botol sirup obat maag untuk di suapkan ke mulut egi. Karena obat itu di minum sebelum egi makan.
Menyuapkan satu sendok makan obat ke mulut egi.
"Minumlah egi, obat nya enak kok rasa strawberry." Ucap annisa.
"Iya.. iya nanti kau meminum jus nya. Sekarang kau harus sembuh dulu." Ucap annisa menanggapi gumaman egi yang masih setia memejamkan mata nya.
Annisa menyimpan kembali botol obat itu ke atas meja nakas, lalu beralih mengambil mangkuk yang berisi air dan handuk untuk mengompres egi.
Meletakkan handuk yang sudah di basahi ke kening egi. "Cepatlah sembuh egi, biar aku ada teman berdebat lagi." Ucap annisa.
Egi mengernyitkan alis menahan sakit dan menggerakkan kepala nya merasa terusik dengan benda basah yang di tempelkan ke kening nya.
"Brandal... aku lapar. Aku ingin makan kimbap yang kau buatkan, aku ingin jus strawberry yang manis nya pas. Makanan di rumah ini tidak enak semua brandal.. aku lapar," Oceh egi di sela pejaman mata nya.
Annisa terkekeh pelan dan mengusap punggung tangan egi. "Kau ini tengah curhat atau apa. Jadi kau sampai terkena maag begini karena kangen dengan masakan ku. Hah dasar bocah."
"Brandal.. makan. Lapar, kopi.. jus.. pancake... lapaaar..." Oceh egi lagi.
Annisa menahan tawa nya. "Kau sedang mengabsen makanan yah. Tapi sayang di atas nampan itu tidak ada tuh, satu pun yang kau sebutkan tadi." Ucap annisa menimpali egi.
"Makaan... Manaa kimbap.. brandal.." Oceh egi lagi.
Tersenyum dan mengusap pipi egi yang tampak pucat. "Baiklah kau bangunlah egi, jika kau lapar. Makan dahulu." Ucap annisa.
"Heemm.. " gumam egi.
__ADS_1
Menepuk nepuk pelan pipi egi. "Bangunlah egi, makan dulu. Baru tidur lagi." Titah annisa.
Egi membuka kan mata nya perlahan dan menatap sayu ke annisa. "Brandal." Ucap egi serak dan pelan.
"Iya ini aku. Cepat makan dulu, biar ada tenaga dan perut mu tidak sakit lagi."
Mengangguk lemah. "Bangunkan aku. Badanku lemes." Pinta egi mengangkat sebelah tangan.
Menghela napas pelan. "Baiklah.. baiklah manja sekali sih." Jawab annisa lalu merangkul badan egi agar terbangun dari tidur nya dan menyenderkan punggung egi di antara bantal yang di susun agar tertidur setengah terbaring.
Hah..huft. Napas annisa setelah membangunkan egi.
Namun egi kembali memejamkan mata nya.
"Hey egi, bangunlah. Kata nya kau ingin makan. Ada kimbap, ada jus strawberry loh.. kalau kau tidak mau. Buat aku saja yah." Pancing annisa.
Seketika mata egi terbuka kembali karena mendengar makanan ke sukaan nya yang di sebutkan annisa.
"Kemarikan, aku ingin makan." Pinta egi lemah.
Annisa mengulas senyuman dan mengambilkan semangkuk bubur ayam yang di atas nya di lengkapi dengan berbagai sayuran dan potongan daging, lalu menyodorkan nya ke pangkuan egi.
"Makanlah. Dan awas masih panas," ucap annisa.
Egi menatap mangkuk di hadapan nya, dan beralih menatap annisa. Karena mata nya sedikit buram akibat pusing dan lemes yang di rasa nya, egi kembali menyender kan kepala nya di antara bantal.
"Ini bukan kimbap. Kenapa kimbap kok cair dan lembek gini," ucap egi pelan.
"Ini kimbap terenak tahu egi dan di masak dengan cara di cairkan jadi nya gini. Tapi cobain deh, rasa nya lebih enak dari yang biasa nya." Timpal annisa.
Menghembuskan napas kasar. "Baiklah suapi, tangan ku lemes." Pinta nya.
"Baiklah bocah nakal ku," ucap Annisa meraih mangkuk di pangkuan egi dan mulai menyendok, mengaduk bubur di dalam mangkuk.
Setelah memastikan dingin yang di sendok nya."Nih, makanlah." Menyodorkan satu sendok bubur ke bibir egi.
Tanpa curiga egi memakan yang di suapkan ke bibir nya.
Mencecap dan merasakan makanan di mulut nya. "Kenapa rasa nya aneh, tidak ada rasa kimbap nya sama sekali." Ucap egi di sela kunyahan nya.
Jelas tidak ada rasa kimbap nya lah. Ini kan bubur bukan kimbap. Lagian masih sama sama berasal dari nasi ada mirip nya lah, toh bahan bahan nya juga hampir sama lengkap nya, hanya saja ini lebih cair.
Annisa menyodorkan kembali satu sendok ke bibir egi. "Memang begitu rasa nya, enak kan? Jadi kau harus menghabiskan nya," ucap annisa menahan tawa nya.
Memakan kembali suapan bubur yang di suapkan oleh annisa. "Hah.. baiklah. Meskipun rasa nya aneh, tp setidak nya perutku tidak lapar lagi," ucap egi.
BERSAMBUNG...
__ADS_1