Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 27


__ADS_3

Di Rumah keluarga besar Lily.


Dalam sebuah ruangan yang berada di lantai paling atas bangunan rumah itu, masih terdengar suara melodi yang begitu menyayat hati seakan menggambarkan kesedihan, keperihan bagi siapa pun yang mendengarkannya, alunan irama musik itu tercipta dari jemari lentik seorang pria yang menekan tuts berwarna putih, hitam. Pria itu terduduk di depan alat musik yang berukuran cukup besar, terlihat jelas kepedihan dari raut wajahnya yang tampan nan dingin, ia begitu menghayati setiap alunan nada yang di ciptakannya dari permainan piano yang sedang ia kuasai sekarang.


"Atan," panggil seorang wanita paruh baya yang baru memasuki ruangan tersebut.


Namun Jhon tidak menggubris panggilan itu, ia tetap membiarkan jemari nya menari di atas tuts.


Ibu Lily menghela napas pelan, tatapan mata nya terlihat sayu sendu, melihat keadaan anak nya kembali ke masa kepedihan. Ia tahu jika saat ini suasana hati anaknya sedang mengalami kesedihan, dan teringat akan almarhumah Sanny sang calon istri. Dengan bukti Jhon mau menyentuh alat musik itu bahkan memainkan lagu yang menyayat hati.


"Atan," Ibu Lily menghampiri anak semata wayang nya. Ia berdiri di belakang tubuh yang terduduk itu, lalu memegang kedua bahu kokoh terbalut kemeja putih.


Merasakan sentuhan lembut di bahu nya, seketika jemari yang menari indah itu terhenti, bersamaan dengan kedua mata nya yang semula terpejam kini perlahan terbuka. "Ibu," ucap Jhon bergetar serak dan tercekat di tenggorokkan nya.


Ibu Lily merangkul dan memeluk bahu Jhon dengan sayang. "Ada apa dengan mu? Sedari pulang kau terus bermain piano sampai larut seperti ini, tanpa sempat makan?"


Jhon memegang lengan ibu nya yang berada di leher, lalu memejamkan mata merasakan kasih sayang itu. Ia menghela napas panjang tanpa mau menjawab pertanyaan sang ibu.


"Setelah dia tiada, kamu tidak pernah menyentuh benda ini lagi, tapi kenapa sekarang jemari mu menyentuhnya bahkan memainkan lagu itu lagi? Ada apa Atan, ceritalah pada Ibu?" Ibu Lily mengelus lembut rambut hitam anaknya dengan sayang.


"Aku...," ucapnya terjeda, Jhon menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar penuh dengan perasaan sedih, dan enggan bercerita mengenai keadaan hati nya. "Aku ingin membersihkan diri, Ibu turunlah ke bawah. Ayah pasti sudah pulang kerja." Sambungnya, menghindari topik pembicaraan yang mengarah ke perasaan hati.


Pasti akan seperti ini. Kamu tidak akan menceritakan apa yang terjadi pada ibu mu, Atan.


Ibu Lily hanya bisa mengangguk pelan, ia mengecup lembut pelipis anaknya. Dan melepaskan rangkulannya. "Segera ke bawah untuk makan malam."


"Hemm," Jhon menggumam mengiyakan.


Dengan perasaan masih di penuhi pertanyaan di pikirannya yang di kalahkan oleh perasaan berat untuk lebih bertanya pada anaknya. Ibu Lily dengan pasrah, berbalik melangkah dengan pelan ke arah pintu keluar.


"Ibu," panggil Jhon menghentikan langkah kaki wanita paruh baya itu.


"Iya Atan." Menoleh terdiam di tempat.


Jhon bangkit dari duduknya, melangkah pelan ke arah jendela kaca besar. "Apakah aku termasuk menghianati nya jika bahagia dengan wanita lain?"


Seketika mata nya sedikit melebar. Ibu Lily tertegun dengan pertanyaan itu, seperkian detik keheningan menyelimuti di antaranya. Dia sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Jhon yang jika salah berucap akan membuat putra nya salah mengarti kan.


Setelah merangkai kata yang tepat di otak nya. Ibu Lily tersenyum tenang, menatap Jhon. "Kau pantas bahagia, anak ku. Dan kau tidak menghianati nya, karena meskipun kau bahagia bersama wanita lain... Sanny bersama kenangannya tetap berada di bagian hati mu, sebagai cinta pertama namun bukan yang terakhir. Sudah 9 tahun lama nya, kau sudah seharusnya memikirkan kebahagiaan untuk hati mu yang terkunci."


Jhon berdiri tegap di depan kaca jendela besar dengan kedua tangan di saku celana, ia menatap lurus ke langit malam yang penuh dengan hamparan bintang. Tersirat senyuman kecil pahit, dengan sorot mata kepedihan.


Melihat anaknya terdiam bergelut dengan pikirannya, ibu Lily tersenyum tenang. Ia melangkah kembali. "Segera ke bawah, setelah kau merasa tenang." Ucapnya sambil lalu pergi dari ruangan itu.


Sepeninggalan Ibu Lily.

__ADS_1


Jhon masih menatap lurus pada langit malam. "Perasaan ini. Apa aku akan kehilangan yang kedua kali nya?" Dia tersenyum pahit, menghembuskan napas kasar dan menundukkan kepala. "Gadis bodoh, apa itu kau? Sungguh aku sudah gila."


-----------------------------------


Sementara di Rumah Rika.


"Aaa... Mama pelan-pelan dong, ini kaki Ma bukan ulek an ," terdengar teriakan kesakitan dari gadis manis yang saat ini terduduk setengah terbaring di ranjang.


Ibu Asih yang tengah mengurut dan memijit pelan kaki bengkak anaknya, terdengar omelan yang tak ada hentinya.


"Ini itu kualat dari Mama, sebab Neng nggak ngabari Mama lagi setelah melihat tangan Neng di perban, kan Neng nggak pernah ngabari Mama lagi hanya berkata mau pulang aja. Jadi gini nih, akibatnya kalau anak-"


"Mama," peringatan dari sang suami menghentikan ocehan Ibu Asih. Pria itu terduduk di sofa memperhatikan.


Huh... mendengus sebal, Ibu Asih melirik sewot. "Apa pah! Jangan ikut campur urusan ibu dan anaknya." Kemudian menekan cukup keras pada bagian yang bengkak.


"Aaa... Mama sudah, sudah, Ika udah nggak kuat sakitnya," pekik Rika berteriak, meronta-ronta kaki nya agar terlepas dari cekalan Mama Asih.


Pak Adi menggelengkan kepala beberapa kali. "Sudah. Jangan siksa anak mu, Mah. Kasian si Neng."


"Diam Papah! Sudah Mama bilang ini urusan ibu dan anaknya. Lagian Mama nggak akan menyiksanya kalau si Neng nggak nakal dan membuat kaki nya jadi segede gini... jadi sudah Papa jangan ikut campur." Ketus Ibu Asih sembari terus mengurut kaki bengkak.


Rika menatap melas pada Pak Adi. "Papa, hiks.. hiks," ucapnya mencebikkan bibir manja dan merajuk seakan menangis.


"Sudah diam, jangan ngadu. Papa mu nggak bakal bantu, jadi kau nurut saja kalau mau sembuh." Ibu Asih memutuskan tatapan Rika dari pak Adi, membuat kedua nya menghembuskan napas kecewa dan pasrah.


"Maafkan Papa Neng, nggak bisa bujuk. kalau Mama mu sudah marah gini, dan Papa bersikeras membujuk. Bisa-bisa Papa tidur di luar malam ini," ucap Pak Adi beranjak duduk pindah ke kursi kecil dekat jendela besar.


"Huh... Papa tega," rengek Rika mencebikkan bibir.


Ibu Asih tersenyum, menekan kembali pada bagian yang bengakak. Dan...


"Aaa!" Rika kembali berteriak keras.


Selama beberapa menit suasana kamar gadis itu cukup mencekam dengan suara teriakan, tangisan kesakitan dari bibir Rika karena merasakan pijatan di kaki bengkaknya dari tangan yang penuh kasih sayang sang ibu.


"Sewaktu siang Nak Farhan telepon Papa, kata nya mau lihat kondisi si Neng. Apa dia ada datang, Mah?" tanya Pak Adi yang kali ini tengah menutup jendela kamar.


Rika yang mendengar pertanyaan Papanya tertegun, diam menundukkan pandangan. Semoga Mama tidak tahu mengenai kejadian siang.


"Nggak ada tuh, tapi tadi sempat telepon ke Mama sih. Kata nya nggak bisa datang karena banyak pasien."


Terbesit senyuman tenang di bibir Rika. Syukurlah Mama tidak mengetahui kejadian di depan rumah.


Pak Adi mengangguk pelan. Kemudian pandangannya melirik ke arah anak gadisnya. "Ekhem, si Jhonathan nggak menjaga anak ku dengan benar. Sepertinya Papa harus kasih dia pelajaran agar tahu bagaimana cara menjaga anak gadis yang benar."

__ADS_1


"Eh," terhenyak dari lamunan. Rika melirik ke arah Pak Adi. "Ini bukan kesalahan dia Pah, tapi memang Ika nya aja nggak hati-hati."


Pak Adi beranjak dari tempatnya. "Jangan membela laki-laki kemayu kayak dia, Neng. Pokoknya akhir pekan dia suruh datang kemari. Papa akan memberi nya pelajaran." Ucapnya sambil melangkah ke arah pintu keluar.


"Tapi Pah-" sangkal Rika yang tercekat.


"Papa ke bawah duluan, Mah. Nanti setelah mengurut si Neng, buatkan susu jahe." Pak Adi membuka pintu kamar dan mengangkat sebelah tangan sebagai tanda tidak ada sangkalan atas perintahnya pada Rika yang hendak berbicara kembali, lalu ia berlalu pergi meninggalkan dua wanita di dalam kamar.


Huft... Rika menghembuskan napas menundukkan kepala.


Bagaimana mungkin aku bisa mengajak si Jojo. Dia pasti akan menjauh dari ku gara-gara ucapan kak Farhan. Buktinya aja, aku udah meneleponnya berpuluh kali tapi dia tak menjawab dan bahkan chat dari ku saja tak ada yang di read.


Ibu Asih telah selesai mengurut, mengoleskan krim memar dan saat ini ia tengah memperban kaki yang sedikit mengecil dari bengkaknya itu.


"Hey, Neng! Mama perhatikan sejak pulang tadi, kamu terus mengurung diri di kamar bahkan melamun. Ada apa, Neng? Kalau ada masalah biasanya Neng selalu cerita ke Mama. Coba ceritakan, ada masalah apa?"


Rika mengangkat wajahnya menatap wanita paruh baya di hadapannya itu, ia sedikit ragu untuk membuka bibirnya bertanya namun demi kebenaran dan keberaniannya ia akhirnya bertanya. "Ma, apa benar Mama dan Papa sudah menerima lamaran dari keluarga Kak Farhan?"


Ibu Asih tersenyum tenang, sembari membalut perban. Ia melirik sekilas pada Anaknya. "Mama dan Papa tidak gegabah memutuskan perihal besar seperti itu begitu saja. Karena keputusan itu ada di tangan mu, Neng. Sekali pun Mama dan Papa sangat menyukai merasa cocok dengan Pria-Pria yang akan melamar mu, tapi kembali lagi. Keputusan ada di Neng... Kamu yang akan menjalani kehidupan dari pilihan itu."


Rika memegang tangan Ibu Asih. "Tapi kak Farhan, dia bilang. Ika akan menikah dengannya, kenapa dia bilang seperti itu, Mah."


Tertawa pelan, Ibu Asih telah menyelesaikan memperban kaki Rika. Ia menengadah menatap wajah putrinya dengan hangat. "Sepertinya dia telah salah paham, karena Mama pernah mengatakan sangat menyukai dan merasa cocok dengannya. Jadi dia menganggap Neng telah menyetujui perjodohan ini."


"Hah!" Kaget Rika mata nya melebar. "Ma-ma berkata seperti itu pada nya?" Yang di balas anggukkan kepala dari Ibu Asih.


Oh, pantas kak Farhan sampai bilang begitu.


"Ap-apa Mama menyukai Kak Farhan?" Rika bertanya menyelidik.


Ibu Asih beranjak dari duduknya, mengusap puncuk kepala Rika dan mengecupnya lembut.


"Memang benar Mama merasa cocok kamu dengannya, dia mempunyai sikap lembut terlihat jelas dari senyuman dan cara bicaranya, akan merasa tenang Mama jika Neng bisa bersanding dengan Nak Farhan. Tapi keputusan ada di tangan mu, Neng. Mama hanya mengutarakan pilihan Mama," tuturnya lembut. Lalu Ibu Asih berbalik melangkah ke arah pintu keluar.


"Jendela dan pintu balkon, sudah Mama tutup. Segera istirahatlah, besok pagi Neng kan ada tugas." Sambungnya sambil lalu tanpa mau mendengar ucapan dari Rika yang terlihat termenung diam. Ibu Asih tersenyum dan menutup pintu kamar dengan pelan.


Sepeninggalan Ibu Asih.


Rika merebahkan tubuhnya terlentang, menatap lurus tanpa berkedip ke langit-langit kamar. Ia menghela napas panjang kemudian perlahan memejamkan mata.


Aku mencintai Jhonathan ivander, Ma. Bukan kak Farhan. Kenapa keadaannya sangat ruwet di tambah Mama memilih kak Farhan, aku harus bagaimana untuk mengatakan pilihan hati ku. Melihat kondisi Mama... membuat ku dilema.


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...

__ADS_1


__ADS_2