Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 47


__ADS_3

Di pagi Hari. Rika mendapat panggilan telepon dari Annisa untuk mengabari mengenai pemesanan cupcake berapa kotak yang akan di ordernya sekaligus pengiriman uang untuk pembayaran awal. Setelah perundingan dengan sang Ibu, Rika di tugaskan untuk membeli bahan-bahan kue ke Mall terdekat sementara Ibu Asih mengabari kepada para tetangga komplek untuk meminta bantuan dalam pembuatan kue.


Saat ini, gadis manis itu telah berpakaian rapih menenteng tas tangan tengah berjalan di trotoar jalanan besar dengan pandangan sesekali melirik ke arah kanan, kali saja ada taksi yang lewat.


Di saat menunggu, tiba-tiba sebuah mobil merah melaju lambat dan akhirnya berhenti tepat di pinggir jalan di hadapannya.


Kaca mobil itu perlahan turun dan seorang pria tampan berpakaian jas kantor melongokkan kepala tersenyum ceria. "Mau kemana, Mak?"


Alis Rika terangkat sebelah menatap ke arah kaca jendela mobil yang terbuka itu. "Ke Mall." Sahutnya tak acuh.


Ray turun dari mobil, menghampiri gadis manis tersebut. "Gue anter yuk."


"Lo nya kagak ngantor atau kafe gitu?" tanya Rika sembari memegang tali tas selempang untuk di kaitkan ke pundak.


Ray membuka kan pintu penumpang depan. "Kagak ngantor sehari juga gak bakal bikin bangkrut si Egi."


"Ck," Rika berdecak sebal melangkah mendekati mobil yang pintu nya sudah terbuka. "Sebenarnya gue masih kesel sama lo, soal semalem. Tapi gue nggak bisa marah lama juga sih."


Nyengir dengan kekehan geli. "Napa lo yang marah, seharusnya kan gue yang marah, karena lamaran gue di tolak tanpa basa basi."


"Ray...," geram Rika mendelik sebal.


"Iya, iya. Nyonya putri. Cepet masuk, mobil gue berhenti bukan di parkiran tapi di jalan kegelisahan."


Rika mendengus dan memasuki mobil duduk di kursinya, di susul Ray setengah memutari mobil dan duduk di kursi kemudi.


---------------------------------


Di Perusahaan Putra Grup.


Jhon memasuki ruangan Egi dan langsung duduk di sofa panjang. Ia menyenderkan punggung dan kepalanya ke senderan sofa, terdengar helaan napas panjang yang di keluarkan dari mulutnya. Jhon memejamkan kedua mata nya dengan sebelah lengan berada di atas kening.


Egi yang tengah di sibukkan dengan berkas menumpuk di atas meja. Ia menoleh dan tersenyum kecil. "Kenapa Jhon?"


Jhon lagi-lagi menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. "Si gadis bodoh," ucapnya terjeda sejenak kemudian mendengus kesal. Dia membuka mata nya menatap lurus ke depan pada langit-langit ruangan. "Saya sudah mengajukan surat perizinan rumah sakit itu, pada si Tang untuk event besok?"


"Hemm. Dia sudah mengurusnya." Egi menghentikan kegiatan membaca berkas, ia menatap serius pada pria yang berada di sofa. "Kau sudah yakin dengan keputusan mu?"


Jhon menegakkan punggung dan membenarkan posisi duduknya dengan kedua kaki sedikit terbuka lebar. Dia membalas tatapan Egi dengan tatapan serius. "Sudah. Saya sudah memikirkannya semalaman."


"Benar, jangan kalah cepat dengan yang lain, Jhon." Egi kembali memeriksa perlembar setiap kertas.


"Jhon."


"Iya."


"Hari ini kau kunjungi ke Mall A bersama sekertaris Lia." Perintah Egi sambil melemparkan seberkas kertas ke bagian meja yang kosong. "Ada yang salah dengan beberapa toko di dalam Mall itu. Kau periksa sesuai yang ada di berkas."


Menghela napas pelan, Jhon beranjak dari duduknya. "Bukannya ini tugas Direktur pemasaran?"


Egi menatap, "Aku mau nya kau yang tangani."


"Baiklah." Pasrah Jhon, mengambil berkas lalu berbalik melangkah pergi ke arah pintu keluar.


---------------------------------


Di sebuah Mall.


Rika memasuki Mall itu dengan di buntuti oleh Ray, sesekali ia melirik pada pria di sampingnya dan tersenyum. "Lo seriusan mau nemenin gue belanja?" tanya Rika mengambil dua buah keranjang belanjaan berbahan besi yang berukuran jumbo.


Ray mengambil alih satu keranjang untuk di dorong. "Kalo gak gue temenin nanti lo nya ngambek."


"Dih," mengkerutkan sekitar hidung dengan sudut bibir atas terangkat, Rika melangkah menuju rak-rak tempat bahan kue. Ia mulai memasukkan beberapa pack margarin ke dalam keranjang hingga terisi penuh menumpuk.


"Bahan kue, buat tasyakuran Annisa?"


Rika mengangguk. "Hemm." Berganti ke bagian rak tepung terigu.


Ray ikut membantu memasukkan pack tepung terigu ke dalam keranjang yang di bawanya tadi hingga terisi penuh bahkan menumpuk menggunung. "Ini seriusan, Mak. Banyak amat dah. Emang ordernya berapa kotak sih?"


"10.000." Sahut Rika sambil berusaha mendorong keranjang yang penuh menumpuk itu sekuat tenaga.


"Seriusan? Banyak juga, ordernya." Ray mengambil alih keranjang tersebut untuk ke sampingkan.


Hah... Rika menghembuskan napas panjang. Menarik keranjang baru berukuran jumbo lagi dari jajaran keranjang kosong di sekitar situ. "Lo banyak tanya deh," Ketusnya berjalan ke arah rak yang sama melewati Ray begitu saja.


Ray kembali menyusul langkah kaki Rika dengan membawa satu keranjang besar yang kosong. "Galak amat deh kamu manis." Goda Ray mencolek pipi gadis manis itu.


Menepis jemari dengan kasar. "Ray, jangan becanda. Malu di lihatin banyak orang." Kata Rika sembari kembali mengisi keranjang dengan margarin dan tepung terigu berprotein sedang.


Terkekeh senang, Ray semakin menjadi menggoda Rika dengan merangkul bahunya.

__ADS_1


Rika mengedikkan bahu agar tangan yang bertengger terlepas. "Ray! Bisa die-" ucapannya terhenti.


Seet. Plak.


Sebuah tangan pria tiba-tiba menarik dengan kasar tangan Ray lalu menekuk ke belakang punggung hingga membuat Ray terpekik mengaduh sakit.


"Aw aw, woy lepas. Gila, sakit!" Ringisnya, menengok ke belakang.


"Abang." Celetuk Ray menyipitkan mata.


"Jojo," caletuk Rika menatap bengong pada Jhon yang tengah memegang tangan Ray.


Jhon tersenyum melepaskan kedua tangan itu."Sedang apa bocah tengik di sini?" tanyanya dan melangkah maju ke tengah-tengah antara Ray dan Rika.


Ray memijat tangannya yang terasa berdenyut nyeri. "Gak punya mata bang? Nggak lihat kita lagi apa?" Sinis Ray, mengambilkan asal satu pack butter.


"Aku lagi beli bahan kue, tapi dia nggak tau tuh lagi ngerecoki. " Timpal Rika kembali mengisi keranjang baru dengan bahan kue lainnya.


"Lah kok gitu sih, Mak. Jelas dia yang ngerecoki kencan kita."


"Ck, kencan." Jhon berdecak dan mendelik tajam lalu...


Plakk.


Dia mengeplak kepala Ray cukup keras.


"Bang!" Teriak Ray mengusap bagian kepalanya yang terasa berdenyut panas kemudian menatap kesal.


"Kecilkan suara mu, bocah tengik. Ini bukan di hutan." Tanggap Jhon mengambilkan beberapa bungkus cokelat bubuk.


Sret.


Ray merampas kasar bungkusan cokelat bubuk itu dari pegangan tangan Jhon. "Si Mak gak suka pakai merek ini." Menyimpan kembali bubuk itu ke tempatnya dan berganti dengan yang lain.


"Sok tahu." Sewot Jhon.


"Bukan aku yang sok tahu, tapi abang yang sok tahu!"


"Oh, yah." Menatap geram seakan menantang.


"Jojo, Ray kalau kalian mau berantem lanjutin aja. Aku mau terusin belanja, siniin keranjangnya." Rika berucap sambil menarik keranjang yang berada di hadapan mereka lalu berbelok pergi.


Melirik dan tersenyum sinis ke arah Ray. "Bocah tengik yang sok tahu." Ketus Jhon sambil lalu membuntuti Rika dari belakang.


Beberapa waktu kemudian.


Rika telah selesai berbelanja ia mengantri di bagian kasir untuk membayar semua belanjaannya hingga sekitar 20 keranjang lebih berukuran besar terisi penuh oleh bahan-bahan kue juga lainnya.


"Lo belanja untuk setahun, banyak amat Mak." Ray melihat barang-barang yang tengah di data dan di perhitungkan jumlah harganya oleh sang kasir.


"Ray titip dulu yah, gue mau ke toilet. Dan ini kartu debit gue untuk bayarnya." Rika berucap tanpa menjawab pertanyaan darinya. Sambil menarik sebelah tangan pria itu untuk meletakkan kartu.


"Pergilah biar aku yang jagain." Jhon menyahut cepat. Yang di balas senyuman juga anggukkan kepala dari gadis manis itu, lalu Rika pergi meninggalkan keduanya dengan keranjang belanjaan seabrek.


Ray memasukkan kartu debit milik Rika ke saku jas. Lalu melambaikan sebelah tangan ke arah gadis yang sudah melangkah beberapa langkah. "Jangan lama-lama Mak. Nanti gue kangen."


Rika menoleh dan memeletkan lidah. "5 jam gue baru balik." Timpalnya sedikit berteriak.


Hingga beberapa waktu kemudian, kasir itu telah mendata semua belanjaan yang Rika beli.


"Berapa total semuanya?" tanya Jhon.


"Wey ada yang mau carmuk (cari muka) nih. Jangan dengerin dia mbak. Kasih saya aja nota nya." Menengadahkan sebelah tangan ke arah mbak kasir.


Plak.


Jhon menepuk keras telapak tangan Ray. "Kasih saya saja mbak."


"Ck," Ray berdecak meremehkan. Ia mengeluarkan dompet untuk mengambil sebuah kartu debit dari dalam dompet lalu menyodorkan kartu itu ke si Mbak kasir.


Jhon yang sudah melihat kertas nota jumlah total harga belanjaannya. Ia tersenyum jahil dan pura-pura ikut merogoh saku jas juga saku celana bahannya namun ia tidak mengeluarkan dompetnya. "Sepertinya dompet saya ketinggalan di mobil."


Ray tertawa mengejek. "Udah mbak pakai kartu saya saja." Kemudian ia melirik Jhon meremehkan. "Gaya nya doang, tapi kere." Sindirnya.


Jhon membalas dengan tatapan sinis, sudut bibirnya berkedut tersenyum kecil. Namun tak membalas ucapan Ray.


"Kartunya Kak," Mbak kasir menyodorkan kartu debit milik Ray dengan kertas belanjaan. Yang langsung di terima oleh pria itu.


Ray masih tersenyum mengejek pada Jhon, kemudian ia beralih melihat kertas belanjaan untuk melihat jumlah total belanjaan. Seketika mata nya melotot. "197 juta!" Kaget Ray mulutnya sedikit ternganga. "Ini...ini serius Mbak? Nggak salah?" tanyanya menyodorkan kertas ke arah Mbak kasir.


Mbak kasir itu terkekeh menutup bibirnya dan mengangguk mengiyakan. "Udah bener kok kak. Segitu jumlahnya."

__ADS_1


"Haaah," Ray mendesah masih menatap kertas nota itu.


Puk...puk.


Jhon menepuk beberapa kali bahu Ray, tersenyum dan merogoh saku jas yang terdapat kartu debit milik Rika untuk di ambilnya. "Bukannya mau CarMuk, jadi harus ikhlas."


Plak.


Ray menepis kasar tangan Jhon dan melirik tajam. "Abang sengaja kan?"


Terkekeh senang. "Hanya memberi sedikit pelajaran untuk bocah tengik yang suka sombong saja."


"Bang Jhon!" Geram Ray kesal meremas kertas setruk hingga menjadi buntelan kecil.


Dan bersamaan dengan itu, Rika datang bergabung dengan keduanya.


"Udah Ray bayarnya?" tanya Rika melirik kedua pria itu secara bergantian.


Ray dengan wajah sedikit muram mengangguk pelan mengiyakan. "Udah beres, barang-barangnya juga udah sekalian di angkut ke mobil pengantar."


Rika menengadahkan sebelah tangan. "Kartu gue mana?"


Jhon meletakkan kartu debit di telapak tangan terbuka itu, lalu ia menarik untuk di genggam tangan Rika dan berbalik melangkah. "Ray bayarin semua belanjaan kamu." Keduanya melangkah dengan Ray membuntuti dari belakang.


"Hah!" Kaget Rika menghentikan langkah kaki. Dia menoleh ke belakang. "Kok lo yang bayarin sih Ray? Kan gue udah kasih kartu gue ke lo, napa bayarin segala sih."


Ray mengangkat wajahnya tersenyum manis. "Gak apa gue ikhlas. Kali-kali kan gue belanjain lo."


"Bukan gitu Ray, tapi-tapi..."


"Dia sudah berkata ikhlas." Jhon memotong ucapan Rika dan kembali menarik lengannya untuk di gandeng agar berjalan kembali menuju pintu keluar.


"Ya tapi kan itu belanjaan buat orderan kue, Jojo bukan belanjaan asli punya aku."


"Nggak apa, lo jangan merasa keberatan gitu." Sahut Ray melangkah maju ikut bergabung dengan keduanya.


Rika menghela napas panjang melirik ke arah samping kiri dimana Ray berada. "Setruk nya mana?" Menengadahkan sebelah tangan.


Ray menggaruk pelipisnya tersenyum cengengesan. "Gue robek, jadi hilang dah jadi upik abu."


"Raaay." Geram Rika mencubit lengan Ray hingga mengaduh kesakitan. "Lo sengaja kan biar gue gak bisa ganti."


"Nggak... eh iya iya, nggak Mak!" Oceh Ray menjauh menjaga jarak dari Rika sembari mengusap lengannya yang terasa perih panas.


"Jojo, kamu tahu kan berapa jumlah harga semuanya?" Beralih menatap Jhon di samping kanan.


Jhon menggeleng tipis. "Nggak lihat." Sahutnya cepat, kemudian ia menarik sebelah tangan Rika ke arah lain yang ketiga nya telah sampai di teras parkiran mobil.


Ray ikut mengikuti dari belakang karena kebetulan arah mobil terparkirnya di dekat mobil hitam Jhon.


Jhon membuka kan pintu mobil kursi depan di ikuti Ray membukakan pintu mobil kursi penumpang depan mobilnya.


"Masuk." Titah Jhon.


"Eh," Rika mematung di antara dua mobil hitam dan merah itu.


"Lo kan dateng bareng gue, jadi pulang juga harus bareng gue."


Jhon menarik tangan Rika dan menggiringnya ke arah mobilnya. "Dia pulang dengan ku."


"Nggak bisa. Dia harus pulang bareng gue." Ray hendak meraih sebelah tangan Rika namun kalah cepat oleh Jhon yang sudah menekan bahu Rika agar masuk dan duduk di kursi.


"Sayangnya dia sudah duduk di kursi mobil ku."


Hah... Rika menghela napas panjang, melirik Ray. "Karena udah duduk di sini, gue ikut Jojo. Dan Ray soal uang belanjaan nanti gue ganti ke rekening lo."


Tersenyum miring, Jhon menutup pintu mobil kemudian berjalan setengah memutari mobil untuk menuju bagian pintu kemudi.


"Mak, napa lo lebih milih ikut si Jhon tua sih?"


Jhon tersenyum menyeringai sebelum akhirnya masuk kedalam mobil.


"Sialan." Umpat Ray, memasuki mobilnya dan mulai menyalakan mesin mobil untuk melajukannya. Namun tidak bergerak sama sekali.


Dugh... Dugh.


Ray memukul stir mobil dengan kasar, lalu kembali keluar dari mobil dan memeriksa setiap benda bulat sebagai roda mobil.


"Pantas ban nya bocor, perasaan mobil gue masih baik-baik aja deh sewaktu tadi kenapa sekarang ban nya bocor, sampe semua nya lagi. Gilaa!" Gerutu Ray menendang ban mobil, kemudian melirik tajam pada mobil hitam yang sudah mundur keluar jalur parkiran melaju menjauh.


"Bang Jhon tua! Awas kau, gue balas!" Teriaknya lantang.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2