
Sepeninggalan nya Egi dan Annisa.
Arga melirik Ayah Putra yang tampak tersenyum senang.
Arga berdiri di samping ranjang putra.
"Ayah, acting mu sangat bagus. Sehingga bisa meluluhkan adik ku yang keras kepala," tutur Arga.
Tersenyum kecil."Itu karena ayah pernah mendapati juara kontes drama saat SMA nak, jadi acting ayah berjalan sesuai rencana. Dan lagi anak bodoh itu saja bisa bersandiwara di hadapan ayah, masa ayah harus kalah oleh nya," bangga Putra.
"Tp ayah, kenapa harus menampar nya. Selama ini ayah tidak pernah berlaku kasar terhadap kita," tanya Arga.
"Dia sudah berani berkata akan melepaskan tanggung jawab nya terhadap nak annisa, karena bagaimana pun dia sudah menyentuh nak annisa meskipun itu tidak di sengaja. Jadi ayah tidak ingin dia jadi pria brengsek tak bertanggung jawab," jelas Putra.
"Dan rencana ayah kali ini benar benar berhasil. Selama ini egi selalu keras kepala tidak mau di bujuk dengan apa pun. Tp apakah ayah yakin jika masa depan egi akan bahagia dengan di sandingkan nya bersama wanita itu, dan sudah memikirkan nya. Ayah tahu kan ini pernikahan, merupakan hal yang sakral sekali seumur hidup dan bukan untuk di ajak becanda atau main main ayah," tutur Arga panjang.
Putra mengangguk yakin."Ayah yakin nak, Egi pasti akan bahagia. Jika tidak begini cara nya, mau sampai kapan anak itu melupakan wanita pujaan hati nya yaitu istri mu. Apa kau ingin jika Egi selalu mendamba istri mu?" ucap Putra.
"Tidak ayah, sudah cukup selama ini arga mendiamkan Egi yang selalu memperhatikan dan mencuri curi pandang pada romisa di belakang arga. Jika ini yang terbaik untuk adik ku, menurut arga tidak apa apa. Karena arga yakin keputusan ayah selalu yang terbaik untuk anak anak nya."
"Jika kau sudah paham, maka jangan meragukan ayah lagi," ucap Putra.
Arga mengangguk paham.
"Baiklah ayah, sepertinya arga akan menjelaskan keadaan ini pada istri arga yang saat ini mungkin kebingungan karena rumah sudah ramai dengan aktivitas yang tidak biasa. Ayah bersiap siaplah lagi untuk pernikahan Egi," ucap Arga.
"Kau jangan pergi dulu. Tolong lepaskan dahulu selang infus ini, serasa benar benar sakit saja, harus menempelkan benda ini di tangan ayah," rajuk Putra menyodorkan tangan kiri nya ke Arga.
Arga terkekeh."Kalau tidak begini, tidak akan menghayati dengan peran nya," ucap Arga sambil mencopot selang infus yang hanya menempel oleh plester di punggung tangan Putra.
"Ya sudah Arga permisi dulu ayah, selamat beristirahat dan bersiap siap," pamit Arga setelah mencopot selang.
Arga menunduk hormat di ikuti Sekertaris Tang yang berada di belakang Arga.
Lalu kedua nya berlalu meninggalkan ruangan Putra.
Arga berjalan di lorong dengan Sekertaris Tang menggiringi langkah kaki nya.
"Tuan" panggil tang.
"Iya Tang."
"Kenapa hal ini tuan tidak menceritakan nya pada saya, dan seperti nya Tuan Egi dengan Nona Annisa bukanlah sepasang kekasih seperti yang di akui oleh Tuan Egi. Karena melihat saat tadi duduk bersama di luar, mereka bertengkar hebat sampai sampai mereka mengumpatkan perkataan kasar pada satu sama lain nya, saya yakin jika mereka sepasang kekasih tidak akan mereka mengumpat kasar seperti tadi," tutur Tang panjang.
Arga menghela napas lalu menghentikan langkah kaki dan menyerong menghadap Tang.
Puk..Arga menepuk sebelah pundak Tang.
"Dugaan mu memang benar Tang, jika mereka bukanlah sepasang kekasih. Dan maaf aku tidak sempat menceritakan nya pada mu, karena ku tahu jika kau sudah memendam rasa pada wanita itu, jadi lebih baik kau tahu sendiri akhirnya karena dengan begitu kau tidak akan merasa terlalu sakit hati," tutur Arga.
Tang tertegun sejenak lalu menatap Arga.
"Sebenarnya benar yang dikatakan tuan, saya sempat menaruh rasa suka pada nona annisa. Tp melihat sekarang sepertinya saya sudah tidak ada harapan lagi, karena ikatan sakral akan di ucapkan oleh Tuan Egi terhadap nya. Jadi saya akan berusaha untuk menghapus rasa yang sempat saya bangun terhadap Nona Annisa," ucap Tang sambil menundukkan pandangan nya.
Puk..puk..Arga menepuk kembali sebelah pundak Tang.
"Tenang saja Tang masih banyak wanita di luar sana yang sedang menanti mu, jangan kau seperti adik ku lagi yang tidak bisa melupakan istri ku padahal jelas jelas istriku tidak mencintai nya dan sekarang sudah menjadi milik ku," tutur Arga lalu kembali melangkah pelan.
Tang ikut mensejajari langkah kaki Arga.
"Saya tidak akan menjadi Egi kedua tuan, karena saya bukan laki laki bodoh yang terlalu dalam memendam cinta dan tidak di sampaikan hingga menjadi penyesalan," ucap Tang.
__ADS_1
Arga terkekeh."Ternyata kau sangat mengenal cinta juga tang. Belajar dari mana kau?" tanya Arga.
Tersenyum kikuk."Dari buku panduan yang pernah tuan baca," ucap jujur Tang.
"Jadi kau yang mencuri buku panduan ku!!" tanya Arga menoleh ke Tang.
Mengangguk kecil."Tuan sudah berhasil mengikat Nona, jadi saya rasa tuan tidak membutuhkan nya lagi."
"Hah kau ini. Tahu saja jika itu buku sangat manjur." canda Arga.
"Dengan barang bagus, mata saya tidak akan salah Tuan."
-----------
Arga memasuki kamar nya yang langsung di sambut bi ane juga beberapa pelayan yang menunduk hormat ke arah nya.
"Dimana Istriku?" tanya Arga.
"Nona tengah berada di perpustakaan Tuan," ucap Bi Ane.
Arga melangkah menuju perpus untuk menghampiri Romisa.
Sedangkan bi ane dan beberapa pelayan nya keluar kamar meninggalkan mereka berdua.
Memeluk Romisa dari belakang yang tengah duduk di sofa panjang dengan kaki di selonjorkan.
"Romisa istriku, kau sedang membaca apa?" tanya Arga pelan sambil mempererat pelukan di pundak Romisa.
Romisa menurunkan kaki nya, lalu melepaskan pelukan arga dan menggiring Arga untuk duduk di sofa di hadapan nya.
"Sudahkah Suamiku mengurus urusan nya dengan Agi dan Ayah. Tadi aku mendengar nya dari bi ane jika suamiku pulang kerumah langsung menuju ruang kedokteran tanpa mengunjungi ku dahulu," ucap Romisa dan mencebikkan bibir nya sebal.
"Kau marah padaku istriku?" tanya Arga.
Romisa menundukkan pandangan nya ke karpet sofa.
"Aku tidak marah, hanya saja aku merasa semua orang di rumah ini seperti tengah menyembunyikan sesuatu dari ku. Dan bahkan keributan di luar kamar pun aku tidak mengerti apa yang terjadi di rumah ini. Apakah aku tidak di anggap keluarga oleh mu suamiku," tutur Romisa membuat Arga terkekeh pelan.
Arga mengusap puncuk kepala Romisa.
"Hilangkan pikiran buruk itu dalam otak mu Romisa, karena kau istriku dan tetap akan menjadi istriku jadi jelas kau adalah anggota keluarga paling penting dalam rumah ini terutama dalam hidup ku."
Romisa menatap Arga.
"Jika begitu, jelaskan lah suamiku situasi yang sedang terjadi saat ini, jangan membuat ku bingung dan kepikiran hal yang negatif," pinta Romisa.
Arga menghela napas pelan, lalu menarik Romisa ke dalam dekapan nya.
"Sebenarnya yang terjadi di rumah ini tidak ada kaitannya dengan mu Romisa, hanya saja untuk membuat mu tidak kepikiran aku akan menceritakan semua nya. Tapi kau harus berjanji jangan merasa kaget ketika mendengar nama yang akan ku sebutkan nanti. Demi kesehatan mu dan bayi kita jadi kau harus berpikiran positif terus mengenai masalah keluarga kali ini," jelas Arga sambil mengusap lembut punggung Romisa.
Romisa mengangguk pelan dalam dekapan Arga.
"Baiklah Suamiku aku berjanji, jadi ceritakan lah," pinta Romisa.
Arga mengecup puncuk kepala Romisa lalu dengan perlahan bibir nya mulai terbuka untuk menceritakan apa yang terjadi di rumah nya.
Arga menceritakan nya dimulai Egi yang mempunyai kekasih namun menyembunyikan nya dari keluarga dan akhirnya ketahuan oleh Ayah bahwa Egi sudah mempunyai kekasih.
Dan sekarang Egi akan di nikahkan dengan wanita yang sebagai kekasih nya itu untuk menghindari hal hal yang tak di inginkan juga untuk menyembuhkan rasa patah hati nya dari wanita yang dulu pernah Egi cintai.
"Jadi begitulah Romisa istriku, sehabis shalat isya pernikahan egi dan kekasihnya nanti akan di selenggarakan sesuai hukum agama," tutur Arga dan mengecup kembali puncuk kepala Romisa.
__ADS_1
Romisa mendongak menatap Arga.
"Suamiku, kalau boleh tahu. Siapakah wanita yang sudah berhasil menjadi kekasihnya Egi, sementara selama ini Egi sangat sulit sekali melupakan wanita itu," tanya Romisa penasaran.
"Ekhem.." dehem Arga dan menghindari tatapan Romisa.
Romisa mengkerutkan alis nya heran.
"Ada apa Suamiku, apakah ada yang salah dengan wanita nya. Atau wanita itu tidak sesuai harapan mu dan keluarga ini," curiga Romisa.
Arga menangkup sisi wajah Romisa.
"Istriku, semua anggota keluarga sangat menyetujui nya terutama ayah. Dan wanita itu kau pun sangat mengenal nya," tutur Arga membuat Romisa ambigu.
"Mengenal nya, siapakah itu Suamiku?" tanya Romisa penasaran.
Arga mengecup kilas bibir Romisa.
"Perawat mu sekarang" ucap Arga.
Sejenak Romisa terdiam untuk berpikir siapa yang di maksud Arga dan setelah pikiran nya konek dengan yang di maksud Arga, mata Romisa membelalak kaget dan bibir nya terbuka karena ketidak percayaan nya.
"Maksud suamiku itu. Apakah An an?" tanya Romisa memastikan.
Arga mengangguk mengiyakan. Membuat Romisa semakin terbelalak kaget.
"Benarkah, tp An an tidak pernah bercerita pada ku. Dan bahkan dia tidak terlihat punya hubungan sepesial terhadap Egi karena an an baru mengenal nya beberapa hari ini. Bagaimana bisa dia akan menikah dengan Egi, ini pasti salah suamiku. Pasti bukan an an yang akan di nikahi Egi, kau keliru kan suamiku, dia bukan An an kan," cerocos Romisa tidak percaya.
Arga mengusap lembut kedua pipi Romisa dengan ibu jari nya.
"Hey..hey..Romisa. bukankah tadi kau sudah berjanji tidak akan bersikap kaget jika mendengar siapa orang yang akan ku sebutkan nama nya. Kenapa sekarang kau banyak bertanya romisa istriku, ingatlah ada bayi di dalam perut mu jadi jangan banyak berpikir yang tidak tidak," tutur Arga lembut.
"Tapi Suamiku, jelaskan lah bagaimana bisa An an jadi wanita nya Egi. Dan bagaimana bisa mereka akan menikah sekarang suamiku, aku butuh kejelasan karena An an itu sudah aku nggap sebagai adik kandung ku sendiri," cerocos Romisa masih bingung dengan apa yang terjadi.
Arga menarik Romisa kembali ke dalam dekapan nya.
"Ini sudah menjadi takdir mereka berdua istriku, jadi tidak ada yang perlu aku jelaskan dan tidak perlu ada yang ingin kau ketahui lagi, karena semua nya sudah jelas jika mereka adalah sepasang kekasih dan akan di nikahkan malam ini juga dengan di ikat oleh janji sakral seperti kita. Jadi kau hanya perlu mendoakan mereka berdua untuk berbahagia. jangan menaruh pikiran negatif di otak mu istriku, ingatlah kau sedang berbadan dua sekarang," tutur Arga jelas dan dengan nada pelan.
Romisa menghela napas dan mengangguk pelan.
"Baiklah Suamiku, tapi suamiku bolehkah aku menemui an an. Aku hanya ingin memastikan dari nya saja," pinta Romisa.
Arga melepaskan dekapan nya di tubuh Romisa dan memberi jarak di antara nya agar bisa melihat wajah Romisa.
Mengusap sebelah sisi wajah Romisa.
"Tentu saja boleh istriku, tp nanti jika sudah selesai shalat isya. Untuk sekarang kau lakukan kewajiban mu sebagai istri, jika suami pulang dari pekerjaan nya," ucap Arga dan tersenyum menggoda.
Romisa tersenyum merona.
"Maafkan aku suamiku, aku hampir lupa mengurusi mu. Baiklah suamiku, kau akan mandi terlebih dahulu atau di pijat badan dan kepala," tawar Romisa dengan nada lembut.
"Sepertinya aku menginginkan yang ke dua dulu istriku, sekaligus menagih janji mu yang waktu siang kau katakan dalam telpon," ucap Arga membuat Romisa semakin merona.
Mencubit pelan lengan atas Arga.
"Kau sudah pandai merayu yah suamiku, baiklah jika kau ingin di pijat dulu. Kau berbaringlah di ranjang," titah Romisa dan bangkit dari duduk nya.
Arga ikut bangkit dari duduk nya lalu menggiring Romisa dengan merangkul pinggang nya dengan sebelah tangan untuk menuju ranjang.
BERSAMBUNG...
__ADS_1