
Adzan subuh telah berkumandang. Egi terbangun dari tidur nya dan saat mata nya terbuka, pandangan nya langsung di suguh kan dengan wajah Annisa yang tertidur pulas bersender di dada nya.
Tersenyum senang dan mengusap puncuk rambut Annisa dengan pelan, lalu dengan gerakan kehati hatian Egi memindahkan kepala annisa ke bantal.
Egi masih memandangi wajah lelap nya. "Annisa," panggil Egi sembari mencolek colek pipi annisa dengan telunjuk nya.
"Emm...," gumam Annisa menggeliatkan tubuh nya ke kanan menghadap Egi, lalu perlahan mengerjapkan mata untuk kembali ke alam sadar.
"Bangunlah, sudah subuh," sapa Egi menyambut kesadaran Annisa dengan suara lembut dan senyuman di bibir nya.
Mata Annisa mengerjap beberapa kali untuk menetralkan penglihatan nya. "Kau tumben sudah bangun, biasanya selalu aku yang membangunkan mu," sahut annisa dengan suara serak dan pelan.
"Ada yang ingin aku diskusi kan dengan mu, mengenai hak ku sebagai suami," tutur Egi tegas menatap Annisa dengan kepala di sangga oleh sebelah tangan dan menyamping kan tubuh menghadap ke arah annisa.
Alis annisa menaut penasaran. "Tentang hak suami? Apa yang akan kau diskusikan dengan ku Egi?" tanya Annisa yang sudah sepenuh nya sadar dan membalas tatapan mata Egi.
Egi mengusap bibir annisa yang masih bengkak akibat ulah nya semalam, dan merunduk mendekati wajah annisa. "Aku ingin setiap hari kau memberi ku 3 kali kiss di bibir, selain di bibir itu bukan termasuk ke dalam nya," tutur Egi pelan dekat sisi wajah Annisa.
Mata annisa sedikit melebar, dan menatap Egi diam.
"Ti..tiga kali? Seperti minum obat saja 3 kali sehari," ucap Annisa sambil bangkit dari tiduran nya dan mendudukkan diri.
Egi masih betah berbaring menyamping menatap annisa. Menyingkirkan poni yang menutupi kening Annisa ke sisi. "Memang itu obat penawar rasa rindu ku, karena akan pisah ranjang dengan mu. Jadi kau tidak boleh menolak kehendak ku," tersenyum lalu mengusap pipi Annisa.
Menggeleng cepat. "Siapa juga yang akan menolak, hanya kiss saja tak masalah dengan ku. Tapi kenapa kau tiba tiba mengungkit hak suami ke arah situ?" Sanggah Annisa.
"Aku suami mu yang menginginkan hak nya terpenuhi. Jadi kau harus memuaskan kewajiban hak ku dengan cara yang ku minta," ucap Egi sambil ikut bangkit dan duduk berhadap hadap an dengan gerakan pelan mendekatkan wajah nya ke wajah annisa. "Lagian dengan begitu kau juga akan mendapatkan pahala dengan melayani keinginan ku, dan sudah sewajibnya kau menyenangkan ku, annisa," tutur Egi setengah berbisik di telinga Annisa.
Seketika telinga Annisa memerah dan pipi nya memanas, menatap intens ke Egi dengan jantung berdegup. "Aku...aku.. tahu, mengenai itu," terbata Annisa kemudian menglihkan tatapan ke arah lain.
Tersenyum tipis dan menangkup kedua sisi wajah Annisa agar tatapan mata Annisa fokus ke arah nya. "Jika kau sudah tahu, jalankan dan buatlah aku senang dengan kerja keras mu, wahai annisa istri ku," ucap Egi dan mendaratkan bibir nya di kening Annisa cukup lama.
Benar kata nya, aku sudah menjadi istri, dan seorang istri harus patuh dan taat akan keinginan suami nya, tapi soal hubungan suami istri jujur aku sangat takut, dan tidak siap... baru memikirkannya saja, membuatku dada ku langsung sesak dan cemas.
Menunduk kan pandangan menatap wajah annisa dengan dekat. "Aku akan mandi, siapkan baju jas kantor. Karena hari ini aku akan memulai belajar menjalankan perusahaan," titah Egi Kemudian beranjak turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.
Huft... Annisa menghela napas dalam dalam, menghirup udara banyak banyak. "Bicara dengan cara seperti itu membuat ku kehabisan napas menahan gejolak jantung dan hati ku. Benar benar membuatku kewalahan dan harus terbiasa dengan sikap nya ini. Hah... salegi bocah nakal ku," gumam Annisa beranjak dari duduk nya dan bergegas membereskan tempat tidur. Setelah nya, ikut memasuki pintu kamar mandi untuk menyiapkan pakaian Egi.
----------
Selesai shalat subuh berjamaah, seperti biasanya Annisa memasak menu untuk sarapan pagi. Setelah mengantarkan secangkir kopi dan segelas air putih ke kamar nya untuk Egi minum. Kini Annisa tengah menata menu sarapan yang telah di masak nya di atas meja makan.
Egi memasuki ruang makan, dan menghampiri Annisa yang tengah sibuk menata masakan.
Berdiri di samping annisa, kemudian mengusap puncuk kepala annisa dengan gemas. "Duduklah," titah Egi, menarik kursi untuk annisa duduki.
Menoleh dan tersenyum. "Tumben kau sudah ada di sini, biasanya syila paling pertama menghampiri ku," ucap Annisa dan duduk di kursi yang di tarik oleh Egi.
Ikut duduk di samping kursi Annisa. "Sudah berapa kali kau mengeluarkan kata tumben, selambat itukah aku di mata mu annisa," jawab Egi.
"Eh, tidak. Kau cukup lambat saja," tanggap annisa, melirik penampilan Egi yang berbeda sekali saat memakai jas kantoran. "Kau terlihat sangat tampan dengan jas ini," ucap Annisa mengalihkan topik pembicaraan.
Mencubit sebelah pipi annisa. "Kau baru sadar jika suami mu sangat tampan," ucap Egi percaya diri.
Haish... dia mulai narsis.
Kepala annisa mengangguk beberapa kali. "Hemm... paling tampan sehingga aku takut jadi nomer dua," sahut annisa sembari mengambilkan menu sarapan dan menyimpan nya ke piring Egi.
Egi memegang tangan Annisa yang ada di atas piring nya. "Di hidup ku, tidak ada pernikahan kedua. Jadi kau jangan cemas akan pesaing istri kedua," tutur Egi tegas.
__ADS_1
Tertawa pelan dan mengambil menu yang sama untuk di letakkan ke atas piring nya. "Iya kau bisa berkata begitu karena aku masih hidup, jika saja aku mati duluan kau jadi duda tampan. Kau pasti akan menik...," ucapan annisa terhenti.
"Annisa!" Bentak Egi dengan suara meninggi memotong ucapan Annisa dan menatap dingin.
Terperanjat dan menatap diam ke egi.
Kenapa dia membentak dan menatap ku seperti itu, horor sekali sih. Padahal kan aku hanya becanda saja.
"Pagi kakak ipar kedua," sapa Syila yang baru datang memecah suasana mencekam antara Annisa dan Egi.
"Pa..pagi Syila," jawab Annisa dan tersenyum ramah ke arah syila.
Egi menghela napas pelan lalu mengalihkan tatapan ke arah lain.
Syila duduk di kursi samping annisa dan melirik Egi yang memasang wajah dingin. "Ada apa dengan kak Egi? Apa dia sakit?" tanya Syila heran.
"Ah, nggak syila. Kakak mu sangat sehat, kamu mau sarapan apa biar kakak ambil kan?" jawab Annisa dengan nada santai.
Syila menunjuk menu sarapan yang di inginkan nya, lalu annisa mengambilkan dan menaruh ke piring syila. Bersamaan dengan itu, ayah putra ikut bergabung untuk sarapan namun tidak dengan Romisa dan Arga yang semenjak Romisa melahirkan, kedua nya memilih sarapan untuk di antar ke kamar nya.
Selesai sarapan. Annisa langsung menuju parkiran mobil karena dinas nya sekarang kebagian shift pagi, jadi jam 8 pagi dia sudah harus ada di rumah sakit. Kedua nya berjalan beriringan dengan Egi berjalan di depan annisa, sedari percakapan nya di meja makan yang berakhir bentak kan. Tidak ada lagi sepatah kata yang di lontarkan oleh egi ke annisa, begitu pun dengan annisa nya.
"Pagi nona Annisa," sapa Jhon yang sudah berdiri di samping mobil Egi.
"Pagi kakak Jhon," jawab Annisa berdiri berhadapan dengan jhon.
"Kau sudah ambilkan keperluan annisa?" tanya Egi menghadang tubuh Annisa dari pandangan Jhon.
Jhon yang senang memprovokasi Egi. Ia mengabaikan pertanyaan egi dan melangkah melewati Egi untuk menghadap ke annisa. Lalu ia menyodorkan sebuah tas ransel. "Nona Annisa ini tas ransel nya," ucap Jhon memasang senyuman manis ke annisa.
Menerima tas ransel dari Jhon. "Terimakasih kak Jhon, jadi saya tidak perlu ke rumah lagi."
Annisa menuruti perintah egi, memasuki mobil setelah menatap sejenak ke Jhon.
Kenapa dia jadi bersikap kasar seperti ini? Apa aku melakukan kesalahan?
Brak. Menutup pintu mobil dengan keras.
Kemudian Egi melirik tajam ke Jhon yang masih berdiri menatap ke arah mobil. "Antarkan Annisa," ucap Egi tanpa menunggu jawaban dari jhon. Ia berjalan memutari mobil dan membuka pintu penumpang belakang kemudian duduk di kursi sebelah annisa.
Jhon tersenyum miring, dan ikut menyusul memasuki mobil dan duduk di kursi kemudi. Lalu Jhon mulai menyalakan mesin mobil, melajukan untuk keluar dari area rumah putra. Dan kini mobil itu melaju dengan kecepatan sedang di jalanan kota.
Keheningan membentang dan hawa mencekam di dalam mobil selama beberapa saat, tidak ada percakapan dan tidak ada senyuman lagi di antara ketiga nya. Egi dengan wajah dingin menatap ke jendela kaca mobil tanpa melirik sedikit pun ke annisa, begitu pun dengan annisa sesekali melirik Egi dan hanyut dalam pikiran nya dengan membuang muka ke arah jendela yang berlawanan arah dari Egi.
Ada apa dengan situasi ini? Dari tadi si Egi diam saja, bahkan membentak ku sudah dua kali. Sebenarnya kesalahan ku dimana? Sepertinya aku harus memulai pembicaraan, agar dia tidak mendiamkan aku seperti ini.
Annisa melirik ke arah Egi dan dengan segala keberanian mulai membuka bibir nya. "Egi," panggil Annisa pelan namun jelas.
Egi tidak menjawab panggilan annisa, dan memilih mengabaikan.
"Egi," panggil Annisa lagi dengan tetap melirik menatap Egi yang masih memasang wajah dingin.
Namun egi masih mengabaikan dan diam tak mau menjawab panggilan Annisa.
Sementara Jhon yang fokus mengemudi, melihat kaca depan mengamati kejadian di kursi belakang. Dan hanya mengulas senyuman kecil lalu kembali fokus ke jalanan.
Annisa Menghela napas panjang, lalu menundukkan pandangan. "Kau kenapa Egi? Setelah sarapan tadi diam saja dan memasang wajah seperti itu terhadap ku. Apa aku melakukan kesalahan, tolong katakanlah kesalahan ku dimana? Jangan diam saja seperti ini," tutur Annisa dengan suara rendah menuntut meminta kejelasan.
Dan lagi lagi Egi mengabaikan pertanyaan Annisa, dan terdiam membungkam bibir nya. Seakan bisu untuk menjawab.
__ADS_1
Kenapa dia begini? Hah... beginilah nasib mempunyai suami yang masih bocah dan labil. Tapi meskipun begitu, aku harus sabar dan harus terus memaklumi nya, karena dia sumber pahala terbesar ku.
Annisa menolehkan kembali pandangan nya ke arah Egi lalu menggeser duduk nya agar merapat. "Egi, bisakah kau jangan mendiamkan aku seperti ini, ada apa sebenarnya dengan mu?" tanya Annisa lembut.
Egi masih diam menganggap Annisa tidak ada, dan tetap membuang muka ke arah kaca jendela mobil.
Menghela napas panjang. Annisa menoleh ke arah jendela yang berlawanan. "Baiklah jika kau tidak mau menunjukkan kesalahan ku di mana, biarkan saja kita marahan seperti ini, sampai aku menemukan dimana titik salah ku sendiri agar bisa mengaku pada mu," ucap Annisa.
Egi melirik sekilas ke Annisa lalu kembali lagi mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
Hanya segitu saja dia membujuk ku, sungguh menyebalkan.
Mobil yang di tumpangi Annisa telah berhenti tepat di depan gerbang rumah sakit.
"Nona Annisa, sepertinya kebersamaan kita akan berakhir. Karena nona sudah akan dinas," intruksi Jhon setelah menghentikan mobil.
Egi mendelik tajam ke Jhon mendengar kata kita yang di lontarkan jhon.
"Eh, iya kakak Jhon..." jawab Annisa lalu menarik sebelah tangan Egi untuk bersalaman dan mencium punggung tangan nya. "Aku dinas dulu Egi," pamit Annisa hendak membuka handle pintu mobil.
"Kau lupa dengan salam perpisahan sementara kita," ucap Egi menghentikan pergerakan Annisa.
Menoleh kembali ke Egi dan menatap bingung. "Bukankah aku sudah menyalami tangan mu, dan itu salam perpisahan sementara kita," sahut Annisa.
"Sepertinya kau lupa, kemari!" tegas Egi dan tanpa menunggu lama. Menarik tengkuk leher dan mencium kening annisa cukup lama membuat annisa diam terpaku di tempat nya.
"Egi di sini ada kakak Jhon, apa kau tidak merasa malu," bisik Annisa sebal.
"Tidak," jawab singkat Egi dan membenarkan posisi duduk nya kembali.
Menghela napas dalam. Tadi diam saja, sekarang ngajak berdebat. Tapi sebaiknya aku segera pergi, jika aku meladeni berdebat dengan nya pasti akan lama. Dan aku akan terlambat.
"Baiklah, aku keluar. Assalamualaikum," salam Annisa dan berbalik meraih handle pintu mobil hendak keluar.
"Nona annisa tidak kah salam pamitan dengan kakak Jhon," celetuk Jhon memulai memprovokasi Egi.
Lagi lagi gerakan tangan Annisa terhenti dan melirik ke Jhon kursi depan. "Saya mengucapkan salam untuk orang yang ada di dalam mobil ini, jadi itu salam pamitan saya," sahut Annisa.
Jhon menoleh ke belakang dan tersenyum. "Bukan itu, tapi seperti salaman tangan atau seperti ini...," ucap Jhon mengulurkan tangan hendak menyentuh puncuk kepala annisa.
Namun belum juga tangan nya menyentuh, egi dengan kasar nya menepis tangan Jhon, lalu membuka pintu mobil. "Kau akan terlambat, segeralah keluar annisa," titah Egi.
"Eh, i...iya," gelagap Annisa melirik kedua nya secara bergantian dan akhirnya keluar mobil. "Assalamualaikum," salam annisa. Sebelum menginjakkan kaki nya keluar.
"Walaikumsalam," serempak Jhon dan Egi.
Egi menatap sangat tajam ke Jhon yang ada di kursi depan yang tengah memasang senyuman ramah ke arah nya. "Kau berani nya akan menyentuh istri ku!" geram Egi kesal.
Membenarkan posisi duduk nya, dan mulai melajukan kembali mobil nya untuk bergabung ke jalanan. "Saya tidak menyentuh nya, hanya akan memberi nya salam perpisahan sebagai adik kakak," jawab Jhon santai.
"Jhon!" teriak Egi.
Jhon menutup sebelah telinga nya. "Iya tuan Egi, saya di sini. Jangan teriak teriak seperti itu, telinga saya tidak budek," sahut nya.
Menghembuskan napas kasar dan memijit pangkal hidung nya karena kesal yang menggunuk. "Sudahlah, kau paling suka melihatku marah Jhon," ucap Egi dengan nada suara rendah menahan emosi nya.
"Siapa suruh kalian bermesraan, sementara saya ada di sini," sahut Jhon lagi.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Setelah Membaca Budayakan Tekan Tombol LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaaa. Biar tambah semangat Author nya.