Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 21


__ADS_3

Setelah makan malam dan shalat isya dari masjid yang sama. Semua anggota keluarga Putra bergegas langsung ke penginapan. Dan saat ini mereka telah berada di sebuah lantai khusus yang di sediakan hanya untuk keluarga Putra sang pemilik hotel.


"Wanita bodoh, cardlock mu." Jhon menyodorkan sebuah kartu saat mereka semua sudah turun dari lift.


Rika menerima kartu itu dengan sedikit ragu. "Jojo, kamar mu di sebelah man...,"


Jhon berjalan melewati Rika begitu saja, tidak menggubris pertanyaan darinya.


"Menyebalkan sekali," gerutu gadis manis itu. Rika kembali melirik cardlock di tangannya. "Kamar nomor 505, berarti sebelah mana yah?" Bingung Rika mengedarkan pandangan ke sekitar pintu kamar yang berjejer di lantai itu yang terdapat sekitar sepuluh kamar.


"Rik, mau aku bantu carikan kamarnya?" Annisa menawarkan diri dan merangkul kembali tangan temannya yang sempat di lepas saat di lift.


Rika menoleh dan tersenyum. "Tidak perlu Nis. Aku bisa sendiri, lagian kamu juga pasti sudah capek seharian ini butuh istirahat."


"Yakin nih?"


"Hemm, sudah sana ke kamar mu dan istirahatlah umii Annisa ku," Rika melepaskan rangkulan tangan Annisa.


Annisa menghela napas pelan. "Baiklah, hati-hati yah Rik. Aku dan suamiku duluan."


Rika mengangguk mengiyakan, sembari menatap kepergian sepasang suami istri yang sudah berjalan mengarah ke kamar mereka.


Jhon masih berdiri di ambang pintu sebuah kamar yang berada di tengah-tengah. Ia menempelkan cardlock ke tempat sensor kartu yang terletak di bawah daun pintu agar pintu kamar nya terbuka. Begitu pun dengan keluarga Putra yang sudah di siapkan kamarnya masing-masing di jajaran yang bersebrangan dengan kamar yang Jhon masuki. Mereka semua telah memasuki kamarnya masing-masing.


Rika dengan kaki tertatih berjingkat dan membawa ransel berat di punggungnya, gadis manis itu berusaha untuk berjalan melewati beberapa pintu kamar yang bukan kamarnya. Dia berjalan ke arah kamar sebelah kiri pintu kamar yang dimana Jhon berada.


"Sepertinya itu kamar ku," gumam Rika melihat papan nomer yang menempel di pintu.


"Mak!"


"Apa?" Rika menyahuti sambil terus berjalan tertatih tanpa menoleh karena sudah tahu siapa yang memanggilnya.


Ray yang kamar nya berada di samping kiri kamar Rika. Dia berjalan menghampiri, mendekat ke arah gadis manis itu. Lalu mencengkram tas yang di gendong Rika.


Rika menoleh geram. "Woy, gue bukan anak kucing! Lepasin tas gue!" Memberontak dengan menggerak gerakkan tubuh juga tangannya.


"Nggak! Biar gue bawain tas lo."


"Gue bisa sendiri, jadi lo lepasin tas gue! Lagian tinggal beberapa langkah lagi menuju kamar gue." Rika melanjutkan melangkah menuju pintu kamarnya.


Ray masih menenteng tas gendong yang melekat di punggung gadis manis tersebut. "Kamar lo bersebelahan dengan gue."


Rika melirik, dan langkah kaki nya terhenti tepat di depan pintu kamar nomer 505. "Gak nanya! Udah sana gue mau masuk kamar."


"Iya iya, Mak. Gue balik ke kamar. Kalau lo butuh apa-apa panggil gue aja." Ray mengusap puncuk kepala Rika dengan gemas, lalu melangkah pergi menuju kamarnya yang berada di samping kiri.


"Ray!" Panggil Rika menghentikan langkah kaki Pria yang sudah melangkah beberapa langkah.

__ADS_1


Ray menoleh tanpa melangkah mendekat, ia tersenyum menggoda. "Napa, Mak? Kangen, nggak mau pisah sama gue?"


"Cih, kepedean lo." Sewot Rika, lalu ia menunjuk ke arah sepatu yang di pakai nya. "Sepatu lo, gue pinjem dulu sampai rumah. Nanti setelah gue cuci tak baliki ke lo."


Ray melirik sekilas ke arah sepatu itu dan kembali menatap. "Yakin lo mau cuci? Tuh sepatu belum pernah di cuci dari pertama gue beli loh."


"Hah!" Kaget Rika dengan mata melotot tak percaya. Bibirnya mencibir ngeri. "Seriusan? Kok lo jorok amat dah, pantes bau busuk kaki lo sampe kecium gini."


Ray tertawa puas, ia berbalik melanjutkan berjalan menuju pintu kamarnya. "Emak, Mak. Lo percaya aja sama gue. Sepatu itu buat lo aja, cocok juga buat kaki cantik lo. Gue masih punya pasangan dari sepatu itu." Ucapnya, sambil membuka pintu kamar.


"Ck, pasangan? Jangan-jangan nih sepatu pemberian dari mantan lo?" Memicingkan mata curiga.


Ray tertawa kembali. "Nggak lah," ucap Ray mengedipakan sebelah mata, lalu masuk ke dalam kamar.


"Dih, si banci! Genit nya kumat." Bergidik Rika beralih menatap pintu di hadapannya.


Jhon yang masih berdiri di ambang pintu memperhatikan kedua nya. Ia melirik ke bawah ke arah sepatu yang di pakai Rika. Dia tersenyum kecut lalu masuk ke dalam kamarnya.


Rika menempelkan cardlock ke kotak sensor bawah daun pintu agar terbuka kunci nya.


Klik.


Pintu kamar nya telah terbuka, dan Rika memasuki kamarnya yang sangat gelap. Gadis manis itu, memasukkan cardlock ke dalam kotak sensor yang dekat dengan sakelar lampu, dan begitu sebuah kartu tipis itu masuk ke dalam kotak, secara otomatis semua lampu yang berada dalam ruangan itu menyala terang.


Kamar yang mewah. Rika memidai isi kamar hotel tersebut yang akan menjadi tempatnya beristirahat dalam semalam.


"Sungguh melelahkan hari ini," gumam Rika sambil melemparkan diri ke atas sofa panjang yang menempel di ujung ranjang.


Baru beberapa menit Dia memejamkan mata, menenangkan pikirannya. Tiba-tiba...


Kriing...kriing.


Ponsel yang berada di dalam mantel panjangnya berbunyi nyaring.


Dengan malas ia merogoh ponselnya lalu menempelkan ke telinga tanpa melihat siapa si penelpon.


"Assalamualaikum," sapa Rika dengan nada rendah nan malas.


"Walaikumsalam, Neng...," sebuah teriakan yang terdengar nyaring hampir merusak speaker ponsel membuat Rika langsung menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Duh, Mama. Ada apa? Kenapa teriak-teriak seperti itu. Untung telinga Ika nggak sampe budek." Gerutu Rika setelah menempelkan kembali ponselnya. Dia beranjak dari duduknya melangkah ke arah pintu kaca balkon yang dapat di geser.


"Kamu dimana Neng?" Masih dengan intonasi tinggi.


Rika yang sudah berada di balkon, ia tersenyum menatap lurus pada pemandangan langit malam. Dan menyender ke pagar balkon dengan sebelah tangan menumpu ke atas pagar. "Ika di hotel, Ma."


"Hotel!" Kaget Mama Asih, membuat Rika kembali menjauhkan ponsel.

__ADS_1


"Ck, Mama jangan kaget gitu lah. Ika di hotel juga di kamar masing-masing nggak ada pria atau siapa pun." Rika menunduk melihat ke pemandangan bawah yang terlihat indah gemerlapan lampu-lampu rumah juga jalanan.


Terdengar hembusan napas lega dari sebrang telpon. "Kalau gitu foto diri Neng dan kirim saat ini juga ke Mama."


"Hah... Mama, kebiasaan deh." Sahut Rika malas, merebahkan kepala nya ke lengan. "Nggak video call aja, ika lagi malas foto."


"Oh iya, kenapa Mama nggak kepikiran." Seru Mama Asih girang, lalu seperkian detik di layar ponsel Rika berkedip menandakan Ibu nya meminta video call.


Rika menggeser kursor untuk mengganti panggilan biasa menjadi video call.


"Neng kok gelap?"


"Eh, maaf ika lupa ganti kamera." Rika melihat layar ponsel yang ternyata belum di ganti ke kamera depan. "Gimana dah kelihatan?"


"Nah, sekarang dah kelihatan. Tapi kok...," Ibu Asih menatap dengan alis tertaut dan dengan pandangan menajam mendekat ke layar ponsel. "Neng, anak Mama, kamu terluka!" Ujarnya berteriak.


"Astaghfirullah," Rika terperanjat mengusap dada nya kaget. "Mama, jangan berlebihan gitu deh tanya nya. Hampir saja jantung ika mau copot."


Mama Asih tak menggubris peringatan Rika. Ia bersuara keras lagi dengan nada penuh kecemasan. "Tangan mu kenapa Neng? Kenapa sampe di perban gitu?"


"Eh," Rika melihat telapak tangannya. Pakai acara lupa nyembunyiin tangan lagi, kan Mama jadi rempong.


Dia tersenyum palsu. "Mama, sepertinya Ika mau langsung istirahat. Belum mandi lagi, jadi udahan dulu yah Mama ku yang bawell. Assalamualaikum," Rika melambaikan tangan dan tersenyum lalu mematikan panggilan video tersebut sesaat Mama Asih sudah nyerocos panjang dengan nada bawel nya.


Hah... Rika menghela napas panjang, ia mengganti mode silent untuk notifikasi ponselnya karena sudah tahu jika Mama Asih akan terus menelponnya sampai ia mau menjelaskan penyebab luka di tangannya.


Setelahnya dia memasukkan ponsel itu ke dalam saku mantel panjang. Gerakan tangannya terhenti melihat mantel siapa yang di pakai nya.


"Seperti nya hari ini aku memakai banyak barang orang lain."


Rika kembali menyenderkan tubuh ke pagar balkon dan menatap lurus ke pemandangan langit malam dengan wajah sedikit menengadah. Ia merentangkan kedua tangan sambil memejamkan mata menikmati semilir angin yang menerpa kulit pipi juga tangannya.


Sangat menenangkan, jadi kepengen hidup mandiri.


Cukup lama gadis manis itu memejamkan mata menikmati angin malam, ia tidak sadar jika tingkahnya telah di amati sedari tadi dan bahkan percakapan dengan ibu nya di dengar oleh seorang pria dari balkon sebelah kanan. Karena memang posisi balkon kamar hotel itu saling berdempetan hanya terpinding oleh tembok tinggi juga pagar besi jarang di tengah tembok tersebut.


Pria itu tersenyum, dengan tangan di masukkan ke dalam saku celana. Gadis bodoh...


Rika menghembuskan kembali napas panjang. Ia membuka mata nya, melirik ke telapak tangan yang di perban. "Sebaiknya aku mandi, setelahnya cari obat pereda nyeri deh ke bawah, atau minta petugas hotel aja kali yah."


Dia berbalik melangkah tertatih menuju pintu kaca untuk kembali masuk ke kamar nya. "Duh ini kaki, sakit amat dah." Ocehnya sebelum hilang dari pintu kaca balkon.


Jhon kembali tersenyum, berbalik memandangi pemandangan langit malam. Ia melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan gadis manis tadi, memejamkan mata menikmati semilir angin malam namun tanpa merentangkan tangan.


"Sanny. Apakah itu kau? Bersatu dengannya, sehingga membuatku seperti ini."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2