
Mobil sport berwarna putih itu melaju di antara kendaraan lain yang berlalu lalang di jalanan kota, dan tiba di sebuah persimpangan jalan, mobil putih itu berhenti tepat di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai.
Di dalam mobil.
Annisa hendak melepaskan seat belt yang di pakai, namun gerakan nya terhenti karena egi memegang tangan annisa.
Menoleh dan alis nya berkerut heran, "ada apa egi, bukannya sudah waktu nya aku turun, kan biasa nya kamu menurunkan aku di sini?" tanya Annisa.
Egi menghela napas pelan kemudian meraih tangan annisa dan mengaitkan jemari nya dengan jemari annisa.
"Aku berhenti di sini bukan berarti menyuruh mu turun Annisa, tapi karena aku tengah menunggu Ray untuk berangkat bersama, dia biasanya akan menunggu di sekitar jalan sini. Jadi mulai saat ini, aku akan mengantar mu sampai kampus," tutur egi sembari mengusap punggung tangan annisa.
Benarkah yang di hadapan ku adalah egi?
Bahkan dia memanggil ku dengan sebutan nama ku, bukan brandal lagi.
Annisa tertegun dengan sikap egi yang berubah drastis, yang biasanya selalu bersikap kasar dan berkata tajam, kini berubah dengan egi yang lembut dan penuh kasih sayang. Terselip tanda tanya besar dalam hati annisa dengan perubahan sikap yang di tunjukkan egi pada nya.
"Ekhem.." dehem annisa menetralkan kecanggungan dalam diri nya.
Menatap hangat ke annisa, "ada apa? Apakah tenggorokan mu sakit?" tanya egi perhatian.
Annisa menggeleng cepat, "ah, tidak.. tidak ada, maksud ku tidak apa apa.." gagap annisa karena merasa gugup.
Egi tersenyum kemudian membawa tangan annisa yang sejak tadi di genggaman nya, ke bibir lalu mengecup lembut punggung tangan annisa.
Mata annisa melebar dan jantung nya kembali berdetak sangat cepat, oleh perasaan hangat sekaligus perasaan aneh menjalar kembali dari kulit nya yang di cium egi menjalar masuk menerobos ke dalam hati nya.
Egi.. kenapa dia berubah? Apakah aku harus senang atau merasa khawatir?
Egi melirik menatap teduh ke annisa, "kita tunggu Ray sebentar, mungkin dia tengah berjalan kemari, tidak apakah kau menunggu nya Annisa?" tanya egi dengan suara lembut tak ada intonasi tajam lagi yang biasa egi ucapkan ke annisa.
Annisa tersadar dari perasaan juga pikiran nya yang sedari tadi di penuhi tanya,
tersenyum canggung, "tidak apa egi."
"Annisa bisakah aku meminta sesuatu pada mu?" ucap egi masih menatap hangat.
"Me..meminta sesuatu?" Ulang annisa kaget, seakan tidak percaya dengan apa yang egi tanyakan.
Mengangguk kecil, "iya.." ucap egi, dan jeda sejenak lalu kembali melanjutkan ucapan nya, "aku ingin saat di depan Ray nanti kau memanggil ku dengan panggilan 'sayang', bukan egi atau pun bocah," tutur egi, sukses membuat annisa heran dan kaget dengan permintaan aneh nya egi.
Alis annisa menaut, "sa..sa..sayang?" celetuk annisa kaget, dan sejenak menatap egi."Ke..kenapa harus memanggil mu seperti itu?" sambung annisa heran.
Mengusap pelan punggung tangan annisa, "turuti saja perintah ku annisa, bukannya aku suami mu, jadi cukup turuti dan jalankan apa yang aku mau Annisa," ucap egi.
Kembali lagi annisa terlongo menatap ke wajah egi, karena bingung sekaligus kaget tercampur menjadi satu di otak kepala nya, sehingga membuat annisa berpikir melayang dan menatap kosong.
Dia..mengakui bahwa dia adalah suami ku, itu artinya.. dia menerima ku sebagai istri nya. Benarkah ini, apa aku tengah bermimpi atau ini hanya sebuah ilusi. Oh, Tuhan jika ini mimpi, jangan bangunkan aku dulu, dan jika ini kenyataan, tunjukkan bahwa ini adalah kenyataan.
"Haish...aww.." ringis annisa karena tangan nya yang bekas di cekal egi, tengah di usap pelan oleh egi.
Annisa terbangun dari lamunan dan keterkejutan nya, lalu menatap egi yang tengah meniup pergelangan tangan nya.
Benar ini bukan mimpi, mama papa.. apa itu artinya annisa benar benar telah di akui istri oleh dia.
Egi menatap annisa, "luka nya meninggalkan jejak kebiruan, ini pasti sakit untuk mu," ucap egi ada nada bersalah dari intonasi suara nya.
"Ah, tidak... tidak egi. Aku.. baik baik saja," ucap annisa mencoba menetralkan diri nya agar tenang akibat keterkejutan dan jantung nya yang sedari tadi berperang terus.
__ADS_1
Tok..tok..tok.
Kaca jendela mobil samping annisa, di ketuk seseorang dari luar.
Egi menoleh ke jendela mobil, begitu pun annisa.
"Ray sudah datang, kau ucapkan apa yang ku minta tadi annisa," ucap egi kemudian tersenyum membuat annisa semakin gugup.
"Apa dia tidak melihat ku ada di dalam, kenapa dia mengetuk kaca jendela pintu ini?" tanya annisa.
"Orang di luar sana, tidak akan bisa melihat apa yang kita lakukan di dalam mobil, Annisa," ucap egi.
Lalu egi membuka kunci pintu mobil belakang, dan Ray yang di luar mobil, karena pintu depan tidak bisa di buka, akhirnya ia menarik handle pintu mobil belakang lalu segera duduk di kursi penumpang.
Brakk.. menutup pintu mobil dengan keras.
"Gue kira lo masih sakit, soryy bro kemaren nggak jenguk, soalnya kan kerjaan lo semua gue handle semua, tp meskipun gue sibuk, rencana nya sih gue jenguk lo hari ini. Tp berhubung lo nya udah sehat, jadi nggak jadi dah," celoteh Ray sembari sibuk melepaskan earphone di telinga dan melepaskan tas ransel gendong lalu melempar ke kursi samping, ia duduk.
Egi tidak membalas ucapan ray, ia mulai memutar stir kemudi untuk membelokkan mobil nya melaju di jalanan, dan berjalan bersama kendaraan lain nya.
Ray masih menunduk menatap layar ponsel, dan sibuk mengutak atik nya. "Gi tumbenan lo, nyuruh gue duduk di belakang. Mau jadi supir yah lo," seloroh Ray yang belum menyadari annisa ada di kursi depan.
"Tak sudi gue jadi supir lo, gue nyuruh lo duduk di belakang karena kursi depan sudah di isi," jawab egi acuh, dan tetap fokus ke depan.
Annisa melirik kaca depan untuk melihat ke kursi belakang yang menampilkan Ray fokus ke ponsel.
Apa dia tidak menyadari ada aku di sini?
Tetap asyik memainkan ponsel, "di isi apaan gi. Jin atau dedemit?" ucap Ray ngasal, karena selama ini egi tidak pernah mengizinkan siapa pun menaiki mobil nya kecuali diri nya dan misa.
"Cewek gue," sahut egi.
Ray meletakkan ponsel ke kursi samping, "Kok gue baru ngeuh, ternyata di depan ada orang yang duduk, berarti bener nih ada cewek lo, boleh kenalan nih, siapa kali belok ke gue," ucap nya.
Lalu Ray mencondongkan tubuh ke depan, dan melongok kan kepala di tengah di antara dua kursi depan.
Mata Ray membulat terkejut dan mengerjap beberapa kali, bibir nya terbuka dan seakan tidak percaya dengan apa yang di lihat nya, Ray mengucek mata nya dengan jemari, "bidadari tak bersayap," celetuk Ray.
Annisa menoleh dan tersenyum.
Plakk..
Egi menimpuk keras kepala Ray yang kebetulan tengah melongok ke depan.
Mengusap kepala nya yang terasa perih dan panas, "lo kenapa gi, main timpuk aja. Dan kenapa bidadari gue ada di mobil lo, gi?" gerutu Ray.
"Karena lo berani memanggil dia dengan sebutan bidadari," ketus egi lalu melirik sekilas ke annisa memberikan isyarat kedipan sebelah mata.
Dan Annisa yang mengerti isyarat egi, annisa mengusap pundak egi kemudian tersenyum, "sayang.. jangan begitu sama teman kamu, nggak baik loh. Kasihan kan dia jadi nya kesakitan gitu," ucap annisa lembut.
Mata Ray membulat kembali, dan seketika gerakan tangan yang tengah mengusap kepala nya terhenti.
"Sa..sa..sayang?" Bingung Ray melirik Annisa.
Egi tersenyum puas lalu berucap untuk menambah keterkejutan Ray, "iya annisa ku sayang. Habis nya dia memanggil mu dengan sebutan bidadari, jadi wajar saja aku menghukum nya sayang, karena tidak boleh ada yang memanggil mu mesra selain aku," ucap egi menanggapi permainan annisa.
"Annisa... sayang... egi.. lo..lo..ba..bagaimana bisa," masih di liputi rasa keterkejutan dan bingung Ray melirik menatap egi.
Egi melirik sekilas pada Ray yang memasang wajah kebingungan, menatap ke arah nya. Egi tersenyum puas dan meraih sebelah tangan annisa yang kebetulan masih ada di pundak nya,
__ADS_1
"napa Ray? Kok lo kaget, bukannya gue pernah bilang yah, jika dia adalah cewek gue," ucap egi dengan pandangan fokus ke jalan.
Annisa melirik ke egi. Jadi dia pernah mengakui ku sebagai wanita nya ke teman nya ini.
Kemudian egi membawa tangan annisa yang di genggam nya ke bibir, dan mendaratkan kecupan lembut di punggung tangan annisa.
Dia melakukan hal itu di depan teman nya, tidak malu kah dia. Hah... sabar.. sabar annisa. Sabar.
"Masih tidak percayak kah?" Ucap egi melirik kaca depan sekilas kemudian tersenyum kecil.
Mata Ray masih melotot melirik kedua orang di kursi depan secara bergantian, "Haah..tidak. lo..gi..tidak, mana bisa.. bidadari katakan ini semua bohong, ini bohong kan!! Dia anak murid mu kan?" tanya Ray meminta kejelasan dengan menatap annisa.
Annisa menoleh dan tersenyum, "dia benar. Kami adalah pasangan, bukan murid dan guru," ucap annisa membuat Ray merasakan sesak di dada nya seketika.
Menghembuskan napas panjang dan lemas menyender ke kursi dengan tatapan melongo ke depan.
Ini tidak mungkin, bidadari ku. Kenapa dia jatuh di tangan sahabat ku..
Mobil egi melambat dan akhinya berhenti tepat di depan gerbang kampus annisa.
Annisa hendak menarik tangan nya dari genggaman egi, namun egi menggenggam dan menekan erat agar tidak terlepas.
Melirik dan tersenyum ke arah egi, "sayang aku akan turun, bisakah kau lepaskan tangan ku," ucap annisa.
Egi membalas tatapan annisa, "aku masih tidak sanggup pisah dengan mu, meskipun itu hanya beberapa jam annisa ku sayang." Balas egi, semakin gencar menggoda Ray yang mendengar dan menyaksikan di kursi belakang.
Ray mengepalkan tangan, dan menghembuskan napas panjang.
Memejamkan mata sejenak, "Hey.. hey.. bisakah kalian jangan umbar kemesraan di depan ku, bidadari ku setega itu kau melakukan ini di hadapan ku dan kau bahkan bersama dia.. hah.. sungguh malang sekali nasib ku," cerocos Ray sebal.
Annisa terkekeh pelan, "ekhem.." dehem annisa menetralkan sikap nya, lalu mengambil paper bag bekal yang ada di samping duduk nya.
Menaruh di dashbord tengah, "sayang di makan yah bekal nya, ingat habiskan bekal nya," ucap annisa yang di balas anggukkan kepala oleh egi.
"Ya sudah aku keluar, takut telat masuk kelas," sambung annisa melepaskan seat belt dengan sebelah tangan yang bebas, karena tangan sebelah nya masih di genggam egi.
Egi memidai kembali tangan annisa yang terluka yang ada di genggaman nya, "jangan lupa obati luka mu annisa, sepulang nanti aku sudah melihat luka mu ini di obati," tutur egi.
"Hmm.." mengangguk mengiyakan lalu annisa membalikkan tangan egi, dan menyalami nya sebagai tanda pamit akan keluar mobil.
Setelah salaman, tangan annisa terlepas dan beralih mengusap pipi egi dengan ibu jemari nya. "Aku ngampus dulu, assalamualaikum sayang," salam annisa.
Tersenyum, "walaikumsalam," balas egi.
Ray yang sedari tadi menahan hati nya yang memanas dengan adegan apa yang di saksikan nya, sembari menutup kedua telinga dengan telapak tangan.
"Stop.. bisakah kalian berhenti berskiap mesra seperti itu, hah... bidadari kau benar benar tega, membuat hati ku perih menyaksikan ini semua,.. dan kau egi,..hah sudahlah," celoteh Ray dan kembali menyenderkan punggung nya ke kursi mobil, menghembuskan napas panjang lalu memejamkan mata.
Annisa lagi lagi terkekeh pelan melihat tingkah Ray yang menurut nya lucu.
"Ekhem.." dehem egi menatap dingin ke annisa.
"Annisa ku, bukannya kau akan turun," ucap egi dengan nada suara dingin.
Annisa menoleh kemudian tersenyum, "ah, iya. Ya sudah aku keluar, dah sayang." Ucap annisa lalu membuka pintu dan keluar dari mobil egi.
Di luar mobil annisa masih berdiri tersenyum dan melambai pada egi, sebelum mobil egi benar benar melaju kembali meninggalkan annisa.
BERSAMBUNG...
__ADS_1