Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bertemu


__ADS_3

Sebulan telah berlalu.


Egi selalu menghindari dan berusaha menjauhi annisa dengan tidak mau lagi di layani keperluan nya. Tapi karena keras kepala annisa yang tidak mau mentelantarkan tanggung jawab sebagai istri, Ia tetap menjalankan meskipun sering kali di selingi perdebatan diri nya dengan egi.


Pagi ini adalah hari libur. Karena hari libur annisa tidak di tugaskan menjaga romisa, jadi Ia punya waktu untuk mengerjakan semua tugas perkuliahan nya dan saat ini Ia tengah sibuk dengan laptop terduduk di atas karpet sofa tv.


Egi baru keluar dari ruang belajar dengan menenteng sebuah laptop di sebelah tangan nya.


Duduk di dekat annisa meletakkan laptop nya di dekat laptop annisa. "Minggir, pindah tempat," tegas egi.


Menyenggol lengan egi. "Aku yang duluan di sini. Jadi kau yang pindah sana," ucap annisa tak mau kalah.


Ikut menyenggol lengan annisa dan menggeser laptop nya. "Pindah brandal, ini tempat ku." Tegas egi.


Mendelik menatap egi. "Aku nggak mau pindah bocah. Apa susah nya sih cari tempat lain. Kenapa memilih di sini," ucap annisa dengan nada sewot.


"Karena ini tempat ku dan kamar ku. Sana kau pindah!!" Suara Egi sedikit meninggi.


Mengkeratkan gigi geram dan menatap tajam. "Huh. Kau ini pengen nya menang sendiri. Sampai kapan kau terus berkata jika ini hanya kamar mu. Aku istri mu jadi kamar mu juga kamar ku," ucap annisa dengan suara cukup meninggi.


Pletakk.


Egi menyentil keras kening annisa.


"Aww..hais," mengusap kening nya yang terasa panas.


"Berani sekali kau meninggi kan suara mu di depan wajah ku. Dan ingat sampai kapan pun aku tidak akan mengakui mu sebagai istri ku. Sana kau pergi dari sofa ini." Ucap Egi dengan tegas.


Mendengus dan menatap sinis ke egi.


Dasar bocah sinting umpat annisa.


Membalas tatapan annisa dengan tatapan tajam dan mengangkat tangan nya ke depan wajah annisa.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu? Mau aku sentil lagi kening mu!" Ancam egi.


Annisa segera menutup kening nya dengan kedua telapak tangan. "Nggak mau. Ini juga masih sakit egi, kau kejam sekali sih pada istri mu. Huh," ucap nya lemah.


Mengambil laptop nya lalu beranjak hendak pindah ke sofa dekat ranjang. "Aku akan pindah saja, kau yang menang bocah." Ucap Annisa sebelum diri nya melangkah pergi.


Egi tersenyum miring melihat annisa pindah dan mulai fokus pada laptop nya.


Annisa duduk di atas karpet sofa dekat ranjang dengan laptop di letakkan di atas meja. Ia mulai mengerjakan kembali tugas perkuliahan yang sempat terganggu oleh egi.

__ADS_1


Membuka buku paket yang ada di samping laptop. "Yah, buku nya nggak lengkap lagi. S Egi punya nggak yah buku tentang materi ini. Di ruang belajar nya kan banyak jenis buku, pasti punya lah." Celoteh annisa pada diri sendiri.


Sambil memegang sebuah buku paket di tangan nya, annisa bangkit dengan malas untuk menghampiri egi lagi yang ada di sofa tv.


Annisa mendekati meja yang di gunakan egi dan duduk menyila di atas karpet.


Menyiku kedua tangan ke meja dengan memangku dagu di hadapan egi yang fokus pada laptop nya.


"Egii. Punya jenis buku seperti ini nggak?" Tanya annisa dengan nada sedikit manja sambil menyodorkan buku paket ke samping laptop egi.


Melirik sejenak ke buku paket."Lihat saja di ruang belajar." Ucap Egi tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.


"Benarkah!! Terimakasih egi. Udah ngizinin untuk mengobrak abrik ruang belajar mu." Girang annisa dan bangkit dari duduk nya untuk menuju ruang belajar.


"Huh dasar wanita brandal. Segitu senang nya dia. Eh, tadi dia bilang apa? Dia mau mengobrak abrik tempat ku."


Menghentikan ketikan di keyboard dan menatap ke pintu ruang belajar yang sudah tertutup. "Brandal awas saja kau kalau ruang belajar ku berantakan." Teriak egi.


Pintu ruang belajar terbuka yang mengembulkan kepala annisa. "Tenang saja bocah. Palingan hanya sedikit berantakan saja." Ucap Annisa sambil mengedipkan sebelah mata nya lalu menutup kembali pintu nya.


"Cih!! Dia mulai pintar merayu ternyata." Tersenyum miring.


Tok..tok..tok.


Egi beranjak dari duduk nya menghampiri pintu kamar.


Membuka pintu. "Ada apa?" Tanya egi menatap dingin ke pelayan tersebut.


"Di depan ada teman tuan yang ingin bertemu." Ucap pelayan itu sambil menunduk.


"Siapa?"


"Teman tuan bernama Rayhan."


Mengangguk kecil. "Suruh dia masuk dan antar ke kesini." Titah egi.


"Baik tuan egi." Menunduk hormat dan berlalu.


Egi menutup pintu kamar lalu berjalan hendak ke sofa lagi namun langkah kaki nya terhenti karena teringat sesuatu.


"Kenapa bisa lupa jika di kamar ini ada s brandal. Jika s Ray tahu bisa gawat, aku harus bilang apa. sebaiknya aku menyuruh s brandal tetap di ruang belajar" Gumam egi pelan.


Egi hendak melangkah kan kaki nya untuk ke ruang belajar namun terhenti kembali karena sudah terlambat.

__ADS_1


Ceklek. Pintu kamar terbuka memunculkan Rayhan masuk ke dalam kamar.


Egi mematung kaku di tempat nya dan berbalik menatap Ray.


Sial telat lagi


"Hey bro. Lagi apa lo berdiri mematung di dekat pintu? Lagi nungguin gue yah. Dih seneng nya yang mau nyambut gue." Seloroh Rayhan mendekati egi.


Egi masih terdiam membisu lalu berbalik melangkah menuju sofa. "Ada apa lo kesini?"


Mendahului langkah kaki egi dan langsung melemparkan tubuh ke sofa panjang. "Kangen lo."


"Cih!! Gue masih normal. Lo kalau ke rumah gue pasti ada mau nya. Jadi lo mau apa?" Tanya egi lagi yang sudah mendudukkan diri di atas karpet menghadapi laptop nya.


"Santai bro, kesan nya kayak ngusir gue deh. Ada apa? Nggak biasanya, padahal udah lama nggak ke rumah lo. Nggak ada kata kangen gitu dari hati lo gi." Celoteh Ray sambil memainkan ponsel.


"Banyak bacot lo Ray, sudahlah kau boleh main di kamar gue asal jangan ke ..." ucapan nya terhenti.


Ceklek.


Pandangan mata egi langsung ke pintu ruangan belajar dan menatap annisa yang baru keluar dari dalam nya dengan pandangan menunduk annisa membuka buka buku di pegangan tangan nya.


Sial nih cewek brandal pakai acara keluar lagi. Mau jawab apa aku jika s Ray bertanya.


"Asal jangan kemana gi?" Tanya Ray heran karena egi terdiam.


Namun egi sudah kaku membisu menatap Annisa.


Tidak mendengar jawaban dari egi. Ray melirik egi yang tampak terdiam menatap ke arah lain. Lalu Ray mengikuti arah pandang egi, seketika mata nya melebar terkejut.


Bangkit dari rebahan nya dan menunjuk annisa yang menunduk sibuk membaca buku sambil berjalan lambat.


"Bidadari tak bersayap." Celetuk Ray.


Egi memutar kepala nya menoleh ke Ray karena mendengar ray menyebut annisa apa.


Apa? Bidadari tak bersayap. Jadi.. wanita yang selama ini ingin di dekati Ray itu adalah s brandal.


Annisa menghentikan langkah kaki nya lalu mengalihkan pandangan dari buku ke orang yang memanggil nya tadi.


"Kamu!!" Kaget annisa dengan menutup mulut nya yang sedikit terbuka.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2