Pejuang Move On

Pejuang Move On
Ungkapan Perasaan


__ADS_3

Keheningan membentang cukup lama di antara kedua nya. Setelah Egi menceritakan semua tentang masa lalu nya, yang mengejar cinta terhadap Romisa dan tidak sempat menyatakan, dan berakhir tragis karena romisa di persunting oleh kakak nya sendiri sehingga cukup lama membekas di hati egi untuk menerima kenyataan itu. Selain itu, egi juga menjelaskan niatan awal menerima menikahi Annisa karena ingin memanfaatkan untuk tetap berada di rumah, dan agar berada di sisi romisa. Egi menceritakan dan menjelaskan semua nya tanpa ada yang di tutup tutupi lagi dari annisa tentang masa lalu nya.


Annisa yang mendengarkan dengan cermat penjelasan yang di lontarkan Egi, diam menunduk menyatukan setiap kejelasan yang ada di otak nya, untuk menyimpulkan kebenaran.


Jadi dia tidak pernah menyatakan cinta nya pada mbak misa. Hanya memendam dalam hati, dan bahkan harus tersiksa karena tinggal serumah.


Dan aku... sebagai wanita yang niatan nya ingin di manfaatkan agar diri nya tidak di kirim keluar negeri, ia sampai rela menikahi ku hanya karena ini... jika sudah begini, apa pernyataan cinta nya masih harus aku percayai, jika dia benar benar mencintai ku? Hati ku masih ragu.


Egi menoleh ke Annisa yang masih menunduk, lalu mengusap pelan puncuk kepala annisa. "Tidak apa jika kau masih belum percaya soal perasaan ku saat ini...," ucapnya terjeda sejenak, kemudian tersenyum. "Tapi setelah mendengar hal ini, bisakah kau jangan tinggalkan aku, Annisa," lanjut Egi dengan suara rendah sedikit menekan untuk memohon.


Annisa mendongakkan kepala, menatap intens ke wajah Egi. "Setiap orang pasti memiliki masa lalu egi..." menghela napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain, untuk menghindari bersitatap langsung dengan sorot mata Egi. "Dan aku sebagai istri mu harus menerima dan memahami, bagaimana bisa hanya masalah masa lalu mu yang tidak bisa di ubah dan telah terjadi, membuat ku harus pergi meninggalkan mu. Jadi... aku akan tetap berada di sisi mu, selama kata perceraian belum terlontarkan dari bibir mu," tutur Annisa dengan nada tegas namun lemah.


Tertegun atas ucapan annisa. "Apa kau tidak marah pada ku, yang sempat memanfaatkan mu saat itu?" tanya Egi menatap serius ke Annisa.


Menggeleng pelan dan tersenyum kecil. "Tidak," jawabnya cepat. Lalu menghela napas pelan, dan menatap wajah Egi. "Karena itu sudah berlalu, lagian bagaimana pun juga aku tetap istri mu. Dan bukannya saat ini kau tidak sedang memanfaatkan aku, atau malah sebalik nya?" tanya Annisa memicingkan mata menatap curiga ke egi.


Mencubit pelan pipi cabi Annisa. "Sudah ku katakan perasaan ku saat ini pada mu tadi, masih berkata memanfaatkan lagi," jawab Egi kemudian tersenyum tipis.


Annisa mendekatkan wajah nya menatap lekat wajah egi. "Apa yang kau katakan tadi? Aku tidak dengar," tanyanya menggoda egi, berpura pura tidak mendengar pernyataan cinta yang di ucapkan Egi terhadap nya.


Egi menelan ludah nya kasar, dan berdehem untuk menetralkan kecanggungan dalam diri nya. "Aku tidak akan mengatakan ulang kalimat yang ku ucapkan," tegas nya memalingkan wajah.


Tertawa pelan karena berhasil membuat egi canggung. Kemudian annisa mencolek dengan telunjuknya, pipi egi. "Lucu sekali sih, lihat wajah mu seperti ini egi," ucap annisa masih menahan tawa nya.


Menatap Annisa tak terbaca, lalu dengan gerakan cepat Egi merengkuh memeluk tubuh Annisa.


"Hey!" Pekik Annisa kaget hendak memberontak, namun egi menekan dan memerangkap tubuh annisa agar tidak bisa bergerak dalam pelukan nya.


Keheningan sejenak menguasai ruangan itu, hanya suara deru napas dari kedua nya menandakan ada manusia dan kehidupan di dalam kamar itu.


"Terimakasih telah menjadi istri ku, annisa," gumamnya.


Melirik ke atas ke arah Egi yang memeluk nya. "Kau mengatakan istri, itu artinya kau sudah mengakui suami ku?" tanya Annisa.


"Hemm...," gumam Egi mengiyakan.


Menghela napas pelan. "Apa benar orang yang memeluk ku adalah si egi anak bocah nakal ku?" tanyanya lagi.


"Benar," jawabnya singkat dan semakin erat memeluk Annisa, seakan takut kehilangan lagi.


"Kenapa kau mengakui ku sebagai istri mu. Apa itu artinya kau sudah menyerah dengan sikap sombong mu? Dan akhirnya menyerahkan hati mu pada ku?" cerocos Annisa masih mengajukan pertanyaan dan tidak membalas pelukan egi.


"Kau banyak bertanya, bukannya aku sudah mengatakan nya. Aku tidak mengucapkan ulang kalimat yang sama," tegas Egi.


Mendengar ucapan egi. Annisa diam dan membungkam bibirnya untuk tidak bertanya lagi.

__ADS_1


Baiklah, dia masih belum mengakui nya lagi tentang perasaan nya terhadap ku.


Egi yang tidak mendengar cerocosan annisa lagi. Ia tersenyum dan mengusap kepala annisa yang tengah di peluk nya. "Hanya satu kalimat yang akan terus aku ulangi mengucapkannya untuk mu," ucap egi terjeda sejenak, dan menghela napas pelan sebelum akhirnya berucap kembali. "Jangan pernah tinggalkan aku Annisa."


Senyuman terbesit di bibir Annisa saat mendengar ucapan egi yang terakhir. Kemudian membalas pelukan Egi, "hemm...," sahut Annisa.


Lama mereka berdua berpelukan menumpahkan perasaan nya masing masing dengan menyalurkan nya lewat pelukan erat.


"Egi, bisakah kau lepaskan pelukan nya. Aku ingin ke toilet," ucap Annisa merusak suasana.


Melepaskan dengan enggan kemudian tersenyum sambil mengusap pipi cabi Annisa. "Mau ku antar?" tawar nya.


Sontak Annisa sedikit canggung dengan tawaran egi. "Ti-tidak perlu, aku bisa sendiri," tolak Annisa membuang muka.


Terkekeh pelan dan beranjak dari duduk nya. "Baiklah, jika perlu sesuatu berteriak saja. Aku akan menunggu di depan pintu," ucap Egi yang sudah berdiri di samping ranjang.


Mengangguk pelan untuk mengalihkan kecanggungan nya. Kemudian perlahan annisa menurunkan kedua kaki nya dari ranjang dan meraih botol infus dari tiang. Lalu kaki nya hendak melangkah. "Aww... haish," ringis Annisa merasakan nyeri dan kesemutan di tulang betis nya.


Segera egi merangkul dan memegang bahu Annisa. "Ada apa? Apa yang sakit?" tanyanya cemas.


Menoleh speechless, "eh...," lalu mengalihkan pandangan ke arah kaki. "Hanya luka kecil saja, sudahlah aku sudah tidak tahan mau ke toilet," jawab Annisa acuh dan hendak melangkah kembali.


Egi tetap merangkul kan tangan nya ke bahu Annisa. "Biar aku papah sampai pintu," ucap egi.


Egi memapah Annisa menuju kamar mandi dan begitu melewati pintu kamar mandi. Annisa hendak melangkah sendiri namun bahu nya di tahan oleh Egi. Menoleh dan menatap bingung. "Kenapa?"


"Kau yakin bisa sendiri?" tanyanya.


Mengangguk yakin, kemudian melepaskan rangkulan tangan egi di pundak nya. Dan melangkah masuk ke kedalaman kamar mandi.


Selang beberapa lama.


Annisa telah selesai dengan urusannya di dalam kamar mandi. Ia memutar kenop pintu.


Ceklek.


"Eh?" Terperanjat karena begitu membuka pintu, annisa di kagetkan langsung dengan egi yang bediri di samping pintu kamar mandi, menyenderkan punggung ke dinding dengan sebelah kaki di angkat dan di tekuk ke dinding, juga tangan bersidekap di depan.


"Se-sedang apa kamu di sini Egi?" Heran Annisa.


Tanpa menjawab pertanyaan Annisa egi melangkah mendekat, lalu mengambil botol infusan yang ada di pegangan annisa. Dan tanpa di duga, menggendong Annisa ala bridal style.


"Hey! Turunkan aku Egi, kau apa apaan main gendong seperti ini... turunkan aku!" Berontak Annisa menggerakkan dan melentingkan tubuhnya dalam gendongan.


Tersenyum dan menatap annisa dengan tatapan hangat. "Diamlah, kau bisa jatuh dalam gendongan jika berontak seperti itu," ucap Egi santai.

__ADS_1


Huh... membuang muka sebal. "Kau tidak akan macam macam kan, ingat aku sedang sakit. Dan lagi soal itu, aku belum...," ucapan peringatan Annisa terhenti.


"Aku tahu, dan aku tidak akan menagihnya. Sebelum kau menyerahkan sendiri dengan suka rela pada ku," sela Egi memotong ucapan Annisa.


Bernapas lega. "Baguslah."


Egi menurunkan Annisa setelah sampai ranjang dan mendudukkan nya di sisi ranjang, juga mengaitkan kembali botol infusan ke tiang. Kemudian Egi mengambil sesuatu dari atas meja nakas. "Selonjorkan kaki mu," titah Egi memerintah.


Menatap bingung. "Buat apa? Aku nggak mau tidur, mata ku masih pengen terbuka," sanggah annisa menolak.


Egi hendak mengangkat kedua kaki annisa untuk di arahkannya ke atas kasur. "Menurut saja," ucapnya karena mendapati annisa menekan kuat kaki nya agar tidak bergeming.


Annisa melemaskan kaki nya, dan akhirnya menurut pasrah ketika egi menghalau tubuhnya agar setengah terbaring di atas kasur.


Menatap curiga. "Sebenarnya kau mau apa egi? Aku kan sudah bilang tidak mau tidur," oceh Annisa.


Tanpa menjawab ucapan Annisa. Egi menyingkap rok rempel hitam yang di pakai annisa juga menyingkap celana trening yang ada di balik rok rempel annisa.


Tersentak kaget dan hendak menarik kaki nya. "Hey! Kau mau apa?" Suara Annisa sedikit meninggi.


Menekan cukup kuat kaki annisa agar tidak bisa di tarik dan memberi tatapan pada annisa agar terdiam. "Aku hanya memeriksa kaki mu, karena melihat mu meringis tadi. Jadi ku pikir pasti kaki mu bermasalah, sudah kau diam saja," tegas Egi, kemudian melanjutkan menggulung celana trening yang di pakai annisa hingga terangkat sampai lutut.


Mata egi sedikit melebar begitu melihat memar kebiruan di kulit putih mulus betis Annisa. Mengusap pelan bagian yang memar itu dengan ke hati hatian.


"Aww... hey bisakah kau pelan pelan, sakit tau," ceracau Annisa meringis sakit.


Tatapan mata egi tidak teralihkan fokus melihat memar itu. "Apa yang di lakukan laki laki gila itu, sehingga kau terluka seperti ini?" tanya Egi dengan nada tajam nan dingin.


Tertegun dengan nada suara yang di keluarkan egi. "Aku... aku... tidak sengaja menabrak meja nakas saat hendak turun dari ranjang karena dia... dia...," gagap Annisa.


Menengadahkan pandangan menatap annisa tak terbaca. "Dia kenapa annisa! Katakan apa yang di perbuat laki laki gila itu hingga kau terluka seperti ini?" Bentak Egi menggeram karena mulai tersulut emosi.


Speechless kemudian menelan ludahnya gugup, dan berdehem pelan untuk menetralkan kegugupan nya. "Dia hendak mendekati ku pada saat keadaan ku lemah, wajar saja aku ingin menghindar dan mempertahankan diri untuk berlari menjauh. Tapi karena saat itu keadaan ku masih di ambang sadar dan sakit kepala, jadinya ... jatuh kepentok nakas," ucap Annisa jujur.


Egi kembali menunduk menatap memar itu. "Tahanlah aku akan mengoleskan salep ini," ucap Egi, dan mulai mengoleskan salep luka ke sekitar memar yang ada di betis annisa.


"Hemm...," sahut Annisa mengiyakan. Dan menahan rasa perih saat egi tengah mengoleskan krim ke kulit nya.


Egi menggertakkan gigi geram melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Dan menggenggam kuat botol salep yang di pegang nya, karena melihat annisa tampak kesakitan.


Sialan! Sepertinya pelajaran tadi kurang cukup untuknya. Laki laki gila, telah membuat annisa ku terluka dan mengalami ini semua. Jika saja, bukan karena Annisa sudah ku hancurkan hidup dia.


BERSAMBUNG...


Adain pelakor nggak yaah 🤔

__ADS_1


__ADS_2