
Sementara di Rumah Sakit.
Waktu telah menunjukkan pukul. 10 siang. Rika masih terlihat di dalam ruangannya, duduk di kursi balik meja dan tertidur dengan kepala di atas meja di antara dua lengan yang sebelah menjulur ke depan tertekuk dan sebelah menjadi bantalan kepala. Ia terlihat pulas sampai keluar cairan bening dari sudut bibirnya yang setengah menganga.
Kreet.
Pintu ruangannya di buka secara perlahan oleh seorang wanita berseragam medis, wanita itu hanya membukakan pintu agar terbuka lebar sembari mempersilahkan seekor burung masuk ke dalam ruangan.
Kepak... kepak.
Suara kepakan sayap burung tak urung membangunkan gadis manis yang tertidur pulas itu.
Burung seukuran kepalan tangan dewasa tersebut bertengger tepat di hadapan wajah gadis manis yang memejamkan mata.
"Kwaak...kwaak, Neng Ika jelek, bangun. Bangun... kwaak." Celotehnya dengan kepala bergerak gerak maju mundur.
Namun tak mendapat respon atau gerakan apa pun dari Rika yang masih pulas tidur.
"Neng Ika jelek." Burung itu berpindah terbang ke atas lengan Rika yang menjulur sehingga sangat dekat sekali dengan wajah lelapnya.
Pak...pak.
Burung tersebut mengepakkan sayap hingga mengenai wajah Rika.
"Bangun jelek... kwaak, kwaak bangun, bangun." Celotehnya sambil terus memukuli wajah Rika beberapa kali dengan kepakan sayapnya.
"Emmh, apaan sih Mah." Igau Rika menggerakkan kepala dan menggeliatkan tubuh berganti posisi melanjutkan tidur menghadap ke berlawanan arah dari Rerry.
Rerry kembali terbang kali ini ia bertengger di jemari tangannya.
Tuk...tuk.
Burung itu mematuk jemari tangan Rika sehingga membuat gadis manis itu terlonjak dan langsung membukakan mata.
"Mama, sakit... sakit. Iya, iya aku bangun. Jangan tusuk kulit ku dengan jarum." Oceh Rika mengibaskan tangan dan segera mengangkat kepalanya mengucek kedua matanya.
"Kwaak, kwaak bangun jelek. Sudah pagi jelek."
Celoteh Rerry yang berada di atas meja.
Rika menguap beberapa kali, membuka kedua mata nya dengan lebar melihat siapa yang bersuara itu. Seketika kedua mata nya melotot. "Rerry, kau kah itu? Cintaku...," ujarnya berhambur menangkup burung tersebut oleh kedua tangan dan menciuminya secara bertubi.
"Bau, bau mulut. Iler mu bau jelek."
"Ck," berdecak sebal menatap burung dalam tangkupan tangannya, dan mengusap cairan di sudut bibir. "Kamu kok bisa ada di sini? Bukannya masih ada di si Jojo?" Rika mengelus lembut kepala burung itu.
"Lepaskan Rerry, Neng Ika harus ikut Rerry."
"Hey jawab dulu pertanyaan ku, kamu kok jadi ketus gitu sih."
Tuk...Tuk.
Burung itu mematuk-matukkan paruh runcingnya pada tangan yang melingkar di tubuhnya, sontak Rika mengaduh melepaskan burung tersebut. Ia melotot sebal dengan bibir meremet kesal. "Jadi galak yah, pasti si Jojo yang ngajarinya."
"Kwaak kwaak ikuti Rerry keluar." Sambil mengibaskan sayap terbang di tempat di hadapan Rika.
Alis Rika mengkerut menatap tanya. "Ikut kemana?"
Rerry membelokkan tubuh terbang dengan pelan ke arah pintu yang sudah terbuka lebar. "Ikut keluar dengan Rerry."
Hah... Rika menghembuskan napas panjang, ia beranjak dari duduknya keluar dari area meja mengikuti burung yang terbang itu. "Sejak kapan pintu ruangan ku terbuka lebar kayak gini?" Herannya memeriksa daun pintu.
"Neng Ika ikuti Rerry." Celoteh burung itu.
"Iya, iya bawell amat deh."
__ADS_1
Ketika kakinya menginjak keluar ruangan. Ia melangkah pelan di sebuah lorong yang sunyi tak ada seseorang pun di sana.
Rika celingak celinguk melihat ke sekitar, alisnya menyatu dengan sebuah tanda tanya besar di pikirannya. "Kenapa suasana nya sepi?" Kemudian ia melihat arloji yang melekat di pergelangan tangan.
"Padahal baru jam 10 siang lebih, tapi kok sepi amat. Ini bukan mimpi kan Rerry? Bangun-bangun bertemu dengan mu, bahkan suasana rumah sakit ini aneh. Kayak horor."
"Kwaak, bukan mimpi di luar rame." Burung yang terbang di hadapannya masih mengepakkan sayap menuntun memandu langkah kaki gadis manis tersebut.
"Hah, maksudnya?" Heran Rika masih melihat-lihat sekitar yang tak menemui seseorang pun. "Terus kamu mau bawa aku kemana sih, Rerry?"
"Ikuti saja, Neng jelek bawell, Majikan Rerry tampan."
"Ck," Rika menatap sebal pada burung yang terbang di hadapannya, ia melipat kedua tangan di depan. "Bagus yah membela majikan mu yang baru kenal sebulan lebih sedang aku sudah 3 tahun, kau bilang jelek. Dasar burung tak tahu balas budi, awas saja kalau kau kembali ke sangkar rumah. Ku goreng jadi teman makan malam."
Rerry tak bersuara lagi, ia terus mengepakkan sayapnya belok kanan saat berada di pertigaan lorong yang terlihat sepi itu.
Tertangkap oleh indra pendengaran Rika suara riuh ramai dari kejauhan, semakin ia melangkahkan kaki semakin jelas terdengar suara ramai yang sepertinya sesak oleh orang-orang dari suatu tempat. "Benar kata mu, kayaknya di sebelah sana ramai deh." Tunjuk Rika lurus.
"Sudah mau sampai, tunggu sebentar Neng Ika jelek. Jangan kemana-manaaa." Instruksi Rerry terbang dengan cepat meninggalkan Rika yang berdiri mematung dengan tanda tanya besar menatap kepergiannya.
"Mau apa lagi tuh burung songong kayak si Jojo." Menghembuskan napas kasar mengalihkan pandangan ke arah lain. "Heran aku, baru satu bulan di tinggalkan dengannya burung ku jadi ketularan sifat si Jojo."
Kepak...kepak.
Suara sayap burung terbang mendekat ke arahnya.
Rika menoleh menatap terlongo pada burung itu, yang jadi fokusnya adalah setangkai bunga mawar putih yang di cengkram kuat oleh cakar kakinya.
"Untuk Neng Ika." Terbang di hadapannya.
Rika dengan kaku menerima bunga itu, masih menatap bingung. "Dari siapa?"
"Kwaak... kwaak. Ikuti Rerry." Berbelok kembali terbang pelan untuk menuntun Rika.
"Di tanya selalu tak di jawab dengan benar, dasar burung songong." Dengan langkah pelan Rika melanjutkan langkah kakinya mengikuti burung itu.
Suara hiruk pikuk yang sempat terdengar menyentuh indra pendengarnya seketika senyap menjadi hening dan tenang. Rika masih terlena terus menundukkan kepala menikmati aroma harum bunga mawar yang tak sadar diri, jika dirinya tengah di tatap oleh banyak pasang mata.
Whuus... entah angin yang berhawa dingin dari mana, menyentuh kulitnya membuat bulu kuduknya seketika berdiri merinding ngeri. "Eh," Tersadar Rika sontak menghentikan langkah kakinya. Ia berdiri mematung terdiam sejenak masih menundukkan kepala.
"R-Rerry." Terbata Rika karena tidak mendengar suara kepakan sayap burung lagi. Kenapa tiba-tiba bulu kuduk ku merinding gini? Apa tadi itu dan dimana si Rerry?
Dengan perasaan cemas, takut bercampur menjadi satu, tangannya gemetar sehingga pegangan di tangkai bunga itu tergenggam kuat. Perlahan Rika mengangkat wajahnya dengan gerakan pelan memejamkan mata dengan sangat rapat, takut-takut ada sesuatu mengerikan di depan matanya taatkala mengangkat wajah.
Degh...degh... jantungnya sudah berpacu dengan cepat. Semoga bukan hantu, semoga bukan hantu. Sering kali aku dengar desas desus mengerikan soal rumah sakit.
Hingga sepenuhnya wajah Rika terangkat tegak.
Terdengar kekehan pelan juga suara bisik-bisik pelan menyentuh indra pendengarannya. Membuat alis Rika terangkat sebelah dengan bola mata memutar di balik kelopak mata yang tertutup. "Sepertinya banyak orang."
Perlahan ia membuka matanya, mengintip kecil dari sela mata yang menyipit. seketika pandangannya menangkap seseorang yang sangat di kenalnya berdiri tidak jauh darinya. "Siapa itu?" Rika melebarkan kedua mata untuk melihat jelas menatap lurus.
"Jojo." Ujarnya, kaget dengan mata melotot.
Pria tampan itu memakai jas abu gelap memegang sebuket besar bunga mawar putih, Jhon berdiri hanya berjarak beberapa langkah, tersenyum menatap hangat. "Gadis bodoh, kemarilah."
Ini...ini apa? Rika masih terkejut, mengedarkan pandangan ke sekitar, yang ternyata dirinya telah berada di tengah-tengah lingkaran para dokter, para suster, juga para pasien menatap bahagia, di sertai senyuman greget dari bibir mereka dan ada yang menatap iri terpesona oleh ketampanan Jhon.
Ada apa ini sebenarnya? Aku dimana? Siapa aku?
Rika terlongo mematung di tempat dengan kedua tangan yang memegang mawar putih itu tergenggam kuat sampai tangkai bunga nya patah terbagi dua dan kelopaknya pudar sebagian.
Jhon terkekeh pelan menutup bibirnya, ia berinsiatip melangkah mendekati gadis manis yang terlihat linglung itu.
"Gadis bodoh. Sedang apa kau di sini? Aku menyuruhmu kemari malah diam mematung bagai pajangan." Tegur Jhon setelah dirinya berhadapan dengan Rika, hanya berjarak satu langkah kecil saja di antara kedua nya.
__ADS_1
Rika masih melirik lirik ke sekelilingnya yang tengah di tatap banyak orang. Ia tak menanggapi ucapan Jhon karena pikirannya seakan kosong oleh kebingungan, indra pendengarnya seakan tuli oleh suara sekitar.
Mereka semua dokter senior di sini. Kenapa mereka menatap ku seperti itu? Ini dimana? Aku hanya mimpi saja kan? Ini sangat menakutkan? Apa yang terjadi sebenarnya?
Jhon menahan senyumannya, menghela napas pelan. Lalu ia menarik sebelah tangan Rika yang tergenggam di depan dada itu. "Rika, gadis bodoh ku. Lihatlah aku." Memasukkan pegangan buket bunga mawar ke pelukan tangannya.
"Eh," Rika terhenyak, menoleh. Ia menengadahkan pandangan yang memang tinggi badannya hanya sebahu di Jhon. Bibirnya bergetar, tatapan Rika terlihat syok bercampur ketidak percayaan dan takut.
"Ka-kamu siapa? Aku.. aku siapa? Dan... dan ini dimana?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Rika yang masih linglung, sontak membuat Jhon tertawa geli menutupnya dengan punggung tangan. Juga sekitar yang mendengar serentak tertawa geli.
"Eh, ka-kalian bisa tertawa juga." Celetuk Rika sembari melihat sekeliling.
Ini pasti hanya mimpi..
Jhon mengusap puncuk kepala gadis manis itu dengan gemas, kemudian...
Pletak.
Dia menyentil kening Rika dengan keras.
"Aww." Pekik Rika memegang bagian yang terasa panas. Ia menatap sebal pada Jhon yang masih terkekeh geli. "Sakit tau."
Jhon mencubit kedua pipi gadis manis itu dengan gemas hingga berubah merah. "Bagaimana kau sudah ingat dirimu siapa? Dan aku siapa?"
"I-iya." Rika mengangguk pelan masih mengusap kening dan pipinya, lalu melirik sebuket mawar putih di pelukan tangannya. "Sejak kapan mawar ini ada di tangan ku? Dan buat siapa mawar ini?"
"Kau benar-benar jadi lupa ingatan, gadis bodoh." Menghembuskan napas pelan, Jhon melirik sekitar agar semua orang diam dan tak bersuara sedikit pun.
Dan benar saja orang-orang sekitar yang melihat tatapan isyarat dari Jhon, serentak terdiam dan suasana kembali hening, tenang.
"Eh, kok... se-sepi." Celetuk Rika beralih melihat sekitar yang terlihat menatap serius pada nya. Kenapa lagi mereka?
Jhon merogoh sesuatu dari balik jas, ia mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna silver berbentuk bulat. Kemudian ia berlutut dengan lutut di tekuk sebelah, Jhon membuka benda bulat itu yang menampilkan sebuah cincin bermata satu berlian putih mengkilap terselip di dalamnya.
"Gadis bodoh, Rika Hasanah Adrika." Ucap Jhon jelas dan tegas.
Mendengar kalimat itu, seketika Rika menoleh dengan kaku ke arah suara. "J-jojo se-sedang apa kamu?" Kaget Rika lemah, ia menundukkan pandangan dengan mata melebar juga mulut ternganga tertutup buket bunga besar yang di pegangnya, ia tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Kau memang gadis bodoh, ceroboh, namun dengan keunikan mu itu kau di kelilingi kesempurnaan oleh kelebihan yang membuat hati ku bergetar tertarik dan akhirnya terbuka lebar untuk mengejar dan mendapatkan mu, hingga harus menempatkan mu berada di sisi ku seumur hidup. Jadi...," Jhon menghembuskan napas beberapa kali serasa gugup untuk melanjutkan ucapannya, ia menatap hangat penuh harap pada gadis manis di hadapannya.
"Will You Marry Me, Gadis bodoh ku Rika Adrika."
Seketika suasana berubah hening dan menjadi tegang, semua orang disana menunggu jawaban dari mulut gadis manis itu yang masih menatap tak percaya, ternganga tak bisa berkata apa-apa.
Apa... apa aku tidak salah dengar? Jojo berkata me-menikah?
Kedua mata Rika mulai berkaca-kaca memerah menangis haru oleh perasaan membuncah bahagia yang sudah tak terkontrol dalam jiwanya , ia memegang erat pada pegangan buket bunga yang di peluknya hingga hampir meremukkan mawar-mawar di dalam buket.
Jhon yang mengerti situasi, ia bangkit dari posisinya. Berdiri tegap di hadapan Rika. Lalu Jhon mengusap air mata yang sudah beranak pinak di sudut mata gadis manis itu, dan menangkup kedua sisi wajah Rika untuk di dongakkan ke arahnya. "Apa kau tidak bisa menerima lamaran ku, sampai menangis seperti ini?"
Rika menggelang pelan. Aku mau... aku mau Jojo... aku menerima mu. "Hiks... hiks." Namun kata itu tak kunjung di keluar dari mulut Rika yang sudah terisak oleh tangis haru bahagia bercampur tak percaya dengan situasi sekarang.
Jhon tersenyum, masih mengusap kedua pipi Rika yang sudah basah oleh air mata. "Kau tak bisa menolak, karena aku orangnya pemaksa dan tidak menerima penolakan." Lalu dengan lembut Jhon meraih menarik tangan sebelah kiri Rika.
Jhon mengambil cincin dari tempatnya, dan menyematkan cincin itu ke jemari manis Rika yang sangat pas dan cocok tersemat cantik di jari lentik putihnya.
"Kau sekarang jadi milik ku, gadis bodoh." Jhon membawa jemari Rika untuk menempelkan punggung tangannya yang terdapat cincin itu ke sebelah pipinya lalu memejamkan mata.
Rika masih terisak haru tak bisa berkata apa-apa dan menatap wajah tampan Jhon. Katakan ini bukan mimpi Jojo... kau sudah melamarku kan?
Plok...plok. Cuiit...Cuiit.
Seketika sorak dan suara tepuk tangan menggema meriah di ruangan itu mengelilingi sepasang kekasih yang di mabuk cinta oleh kebahagiaan. Namun ada satu orang dari kerumunan mereka yang terlihat marah, dengan sorot mata tajam dan tangan terkepal kuat menggertakkan gigi geram. Kak Jhon...
Farhan berbalik meninggalkan kerumunan dengan perasaan amarah bercampur emosi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...