
Annisa, Rika dan Fatih telah sampai di pusat perbelanjaan terbesar di kota itu, dengan dua bodyguard terus mengekori ketiga nya.
Begitu memasuki pintu kaca geser otomatis, Annisa sudah menjadi pusat perhatian dari sekitarnya, karena ada hal yang mencolok dari dirinya yaitu dua bodyguard yang berjas rapih dan berwajah tampan tanpa ekspresi.
Rika mendekat ke samping Annisa yang tengah menggandeng tangan Fatih. "Nis, semua orang melihat ke arah kita, pasti gara gara dua bodyguard mu." Bisik Rika melirik sekitar yang tampak menonton berbisik bisik.
Annisa terlihat acuh tak acuh, menatap Rika sejenak. "Aku tahu, tapi mau gimana lagi. Aku tidak bisa berbuat apa apa, mereka suruhan si Egi yang keras kepala," sahut Annisa.
Fatih mengayunkan tangan Annisa. "Ateu cantik, Ateu cantik," ucap Fatih memisahkan Rika dan Annisa.
Annisa menghentikan langkah kaki nya menunduk menatap Fatih. "Iya dek Fatih."
Fatih mengulurkan kedua tangan ke depan dengan pandangan mendongak ke atas. "Kaki Atih pegel, gendong Atih," pinta nya manja.
Annisa tersenyum, mengusap rambut fatih, dan hendak membungkuk namun kalah cepat oleh pak Tio.
"Nona Annisa," cegah pak Tio, menghentikan pergerakkan Annisa.
"Kenapa?" Heran Annisa menatap pak Tio.
"Biar saya saja yang menggendong tuan muda Fatih," seru pak Tio merunduk menekuk sebelah lutut berjongkok, hendak menggendong Fatih.
Fatih menghindar dari jangkauan pak Tio, bocah kecil itu memeluk kaki Annisa. "Atih ingin di gendong nya sama Ateu cantik bukan sama pak Titi," rengek Fatih memberenggut sebal.
Annisa menghela napas pelan, menunduk berjongkok, melepaskan tas selempang nya. "Pak Tio tolong pegang tas saya saja," Annisa memberikan tas itu ke pak Tio.
Menerima tas Annisa. "Tapi nona, jika tuan Egi tahu pasti akan...," ucapan pak Tio terhenti karena Annisa melirik tajam ke arahnya.
Kemudian Annisa memangku tubuh mungil Fatih untuk di gendong di depan. "Jangan melaporkannya saja, kan beres," ucap Annisa sambil melangkah kan kembali kaki nya, saat sudah menempatkan Fatih dalam panggulan tangannya.
Segera Fatih merangkulkan tangan nya di leher Annisa saat dalam gendongan. Menjulurkan lidah meledek pada Pak Tio. "Pak titi fotoin Atih untuk di kirim ke Om Egi," ledek Fatih senang.
Anak ini, semoga saja pak Tio tidak melakukan yang di minta nya. Bisa marah lagi si Egi.
Annisa menepuk pelan punggung Fatih untuk menghentikan meledek bodyguard di belakangnya.
Rika menutup bibir nya menahan tawa melihat wajah Fatih yang sedang meledek pak Tio. "Nis, anak mbak mu sangat imut sih. Udah ganteng, pintar lagi, kenapa baru di pertemukan sih dengan ku padahal kan kita sering bertemu?"
Annisa memijak tangga eskalator untuk menuju lantai atas. "Dia anaknya nempel terus pada mama nya jadi susah di ajak main," sahut Annisa.
Rika manggut manggut, dan melangkah kan kaki saat kedua nya telah sampai lantai yang di tuju.
Kemudian Rika memegang lengan Annisa yang tengah memeluk Fatih. "Nis, ke toko sebelah sana yuk. Sepertinya pakaian yang di pajang itu sangat cantik," Ajak Rika menunjuk ke sebuah toko baju khusus wanita.
__ADS_1
"Hemm...," gumam Annisa mengikuti langkah kaki Rika.
Sesampainya di depan toko.
Annisa, berbalik menatap kedua bodyguard nya. "Apa kalian akan ikut masuk ke dalam toko pakaian wanita?"
"Tentu Nona, untuk waspada keselamatan nona," sahut pak Tio.
Annisa menghela napas jengah. Hendak bersuara namun keduluan Fatih.
"Pak Titi, biar Atih yang jagaian Ateu cantik. Pak titi di luar saja," isntruksi Fatih.
"Tapi tuan muda...," ucapan pak Tio terhenti, karena dengan kesal Annisa langsung berbalik masuk ke dalam toko dan menarik lengan Rika.
"Kalian diam di luar, itu perintah saya," tegas Annisa sebelum benar benar masuk ke dalam toko, membuat ke dua bodyguard menurutinya.
"Jadi diri mu Nis, serasa jadi tahanan. Tapi wajar juga sih suami mu seperti ini, biar kamu aman, secara kan suami mu anak konglomerat dan pasti banyak musuh nya," Rika berucap, sambil berjalan ke arah pakaian yang di pajang di patung manekin.
"Entahlah Rik, terkadang aku merasa begitu, tapi aku menganggap nya sebagai perhatian si Egi pada ku karena saat ini, jarak antara aku dengan nya sangat jauh, jadi aku biarkan saja kemauannya untuk menjaga kepercayaan nya pada ku," jawab Annisa ikut membuntuti Annisa.
Rika tersenyum menepuk pundak Annisa. "Sabar, yang lagi LDR an," ucap nya, lalu Ia menunjuk pakaian yang sempat di taksir tadi pada pegawai toko, agar diri nya bisa mencoba nya.
Mata Annisa berbinar, melihat pakaian yang di pilih Rika. "Gaun pesta yang mewah dan elegan, cantik," puji Annisa meraba gaun yang di pegang Rika.
"Iya mata ku dengan mata mu memang selalu sama dalam penilaian baju cantik. Aku coba dulu yah, kamu tunggu di sofa Nis," Rika berbalik melangkah ke ruang ganti.
"Ateu cantik suka gaun tadi?" tanya Fatih yang duduk di pangkuan Annisa.
Annisa tersenyum mengusap pipi merah Fatih. "Hemm..., sangat cantik gaunnya."
Fatih bergerak turun dari pangkuan Annisa. "Kalau gitu ikut Atih, biar Atih belikan gaunnya," menarik sebelah tangan Annisa.
Annisa tertawa pelan, menarik kembali tangan Fatih. "Ateu sudah punya di rumah, jadi buat apa beli lagi." Ucap Annisa memaksakan tersenyum.
Menatap wajah Annisa tanpa berkedip. "Ateu cantik, bohong," Fatih melipat tangan di depan.
"Dari mana kamu tahu jika Ateu bohong?" Bingung Annisa mencubit gemas ujung hidung Fatih.
"Atih tahu, kemarin Atih lihat lemari Ateu cantik tidak ada gaun seperti tadi."
"Dek fatih nakal yah, melihat lemari Ateu tanpa seizin Ateu," kembali mencubit ujung hidung mancung Fatih.
"Nis, gimana bagus tidak?" tanya Rika yang baru keluar dari ruang ganti mengenakan gaun.
__ADS_1
Annisa tersenyum terpesona dengan gaun yang cantik melekat di tubuh Rika yang sedikit berisi, lalu Ia mengangguk semangat. "Sangat cantik, pas di tubuh mu." Puji Annisa.
Fatih mencibir kan bibir, menatap sebal ke Rika. "Tidak cantik, badan ibu terlalu gemuk untuk gaun itu, coba Ateu yang pakai pasti terlihat cantik."
Mendengar ejekkan dan panggilan ibu dari fatih, Rika menunduk menatap kesal ke Fatih. "Ibu," geram Rika mengepalkan tangan. "Dasar anak kecil, tidak tahu badan ku body goals gini di bilang gendut," cerocos Rika menatap geram.
"Iya ibu, karena badan teman Ateu cantik mirip ibu guru Atih di sekolah, badannya gemuk, seperti ini pipi nya," Fatih menggembulkan pipi dengan sengaja.
"Anak kecil kurang ajar, berani mengejek ku," Rika membungkuk berkacak pinggang menatap geram ke Fatih.
Annisa segera mengulurkan tangan untuk memisahkan tatapan kedua nya yang sudah sengit. "Hey, sudah, malu di lihatin pegawai toko," ujar Annisa melerai pertengkaran kedua nya.
Rika menghirup udara dalam dalam untuk menetralkan emosi nya, lalu menatap Annisa. "Berapa sih umurnya Nis? Bikin aku geram saja, kenapa anak sekecil ini mulut nya pedas amat deh?"
Fatih membuang muka ke arah lain, masih melipat kedua tangan di depan dada. "Atih nggak pernah makan cabai, kenapa di katain pedas, huh," sahut Fatih sebal.
Annisa tersenyum canggung menepuk sebelah bahu Rika. "Dia memang begitu Rik, maklum keturunan Arga putra," Bisik Annisa di dekat telinga Rika.
Mata Rika melotot tak percaya, mulutnya terbuka tertutupi sebelah tangan, Ia melihat Fatih dan Annisa secara bergantian. "Jadi...jadi mbak mu itu nikah sama kakak nya suami mu?" Kaget Rika.
Annisa mengangguk, mengiyakan dan tersenyum.
Rika kembali melirik Fatih yang masih memasang wajah memberenggut sebal ke arahnya. "Tapi bukannya, nama istri Arga putra itu Romisa yah, sedangkan mbak mu nama nya misa," Heran Rika.
"Romisa dan misa masih nama dan orang yang sama Rika." Jawab Annisa.
Rika kembali melirik ke Fatih, kemudian membungkukkan badan mendekatkan wajah nya ke wajah Fatih. "Pantas wajah nya mirip Arga putra, meskipun aku hanya melihat wajahnya di foto, tp terlihat jelas ini Arga putra versi cilik nya," tutur Rika menatap lekat wajah Fatih.
Fatih langsung berhambur bersembunyi di balik kaki Annisa. "Ateu cantik, ibu ini genit mau dekatin Atih," celetuk Fatih.
Rika menegakkan punggung nya, masih menatap sebal ke Fatih. "Aku di bilang genit Nis, nyebelin amat sih ponakan mu, pantas suami mu sering berdebat dengannya. Mulutnya pintar menjawab," ucap Rika merengek sebal.
Annisa tersenyum geli, menepuk pundak Rika. "Sudah sana ganti baju mu."
"Karena sudah di bilang genit, sini ibu kasih kamu kiss," ucap Rika mendekat ke Fatih menunduk untuk mencium pipi gembil nya.
Fatih menyembunyikan wajahnya di antara kaki Annisa. "Ateu, tolong Atih. Atih nggak mau di dekatin Ibu ini, dia jelek, genit," oceh Fatih semakin mengkeratkan pegangan memeluk kaki Annisa.
"Rika...," peringatan Annisa yang di balas tawa keras dari Rika, yang akhirnya Rika berbalik memasuki ruang ganti.
Fatih menarik rok Annisa. "Ateu cantik, Atih lapar," memasang wajah melas mendongak menatap Annisa.
Annisa tersenyum, mengusak puncuk rambut Fatih. "Habis dari sini kita ke lantai atas yah, kita makan di sana," ucap Annisa yang di balas anggukkan semangat oleh Fatih.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...