Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 40


__ADS_3

Rika masih berdiam diri di kamar Jhon, setelah mendengar penjelasan mengenai kejadian semalam dari Ibu Lily. Ia terlihat duduk merenung merasa bersalah karena telah berkata kasar terhadap Jhon.


"Kalau gitu, kamar ini... kamarnya Jojo." Gumam Rika mengedarkan pandangannya ke keseluruhan sudut ruangan yang memiliki desain interior elegan dan mewah dengan dinding bercat warna putih di padu kan warna abu gelap.


Gadis manis itu, bangkit dari duduknya melangkah pelan ke arah rak-rak yang tersusun menempel di dinding dekat bufet khusus buku berjejer. Mata nya begitu awas melihat isi dari setiap figura foto yang berukuran kecil tersusun di setiap rak-rak kecil.


"Dia terlihat sangat tampan dengan senyuman hangat, bersama keluarga nya." Oceh Rika, terulas senyuman senang melihat gambaran di foto. "Eh," terpaku diam dengan tatapan lekat dan perlahan senyuman di bibirnya seketika memudar.


Dia meraih figura foto yang berukuran kecil di bagian rak terbawah. Dalam foto itu tergambar Jhon tengah merangkul pundak seorang wanita yang memakai pakaian medis kebidanan serta di setiap sisi mereka terdapat dua pria sepantar anak SMP yang terlihat familiar di mata Rika.


"Inikah Sanny? Dan mungkinkah ini si Ray juga tuan Egi? Ternyata benar apa kata si Ray, mereka terlihat begitu akrab seperti keluarga." Rika menghela napas pelan, mengusap foto itu dengan jemari nya. Lalu mengembalikan ke tempat semula.


"Sangat cantik dan anggun, pantas dia susah move on, jika di bandingkan dengan diri ku, jelas sangat jauh...,"


Mengingat sekedar mirip kesukaan ku dengan Sanny, membuat dada ku terasa, sesak perih dan sakit. Secara tidak sadar matanya mulai berkaca-kaca.


Hah... menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar. "Sudahlah, lebih baik aku segera minta maaf pada si Jojo soal tadi pagi. Dan segera pergi dari sini, pasti Mama sudah sangat khawatir terhadap ku." Rika berbalik dan melangkah untuk keluar kamar.


Gadis manis itu melangkahkan kaki ke sekitar ruangan yang berada di lantai dua untuk mencari Jhon, namun tak menemukannya hingga langkah kakinya membawa ke sebuah tangga yang menghubungkan ke lantai tiga.


Dia menapaki setiap tangga dengan langkah pelan untuk naik menuju lantai tiga, saat diri nya telah sampai di lantai tersebut, samar-samar terdengar suara alunan melodi dari salah satu ruangan di lantai itu. Mendengar alunan indah di indra pendengarannya membuat dia tertarik dan dengan refleks melangkahkan kaki mencari asal suara dengan mengikuti alunan melodi.


Semakin di ikuti alunan melodi itu, semakin membawanya ke arah sebuah pintu tunggal bercat cokelat tua yang berada di ujung depan. Dan tepat di depan pintu itu, ia menghentikan langkah kaki nya berdiri mematung mendengarkan alunan piano yang sangat jelas terdengar dari dalam ruangan yang pintunya terbuka secelah tiga jari.


Siapa yang memainkan piano sepagi ini?


Rika mengintipkan sebelah bola mata nya pada celah pintu yang terbuka. Terlihat di dalam ruangan, seorang pria tampan berkemeja putih dengan lengan tergulung sebatas siku, tengah terduduk di depan piano dengan posisi menyamping dari jarak pintu. Pria itu memejamkan mata menggerakkan jemari nya di atas tuts piano, menghayati setiap nada yang di ciptakannya.


Jojo, dia bisa bermain piano. Bahkan jemari nya terlihat ahli dan lihai. Apa aku harus sekarang ke dalam atau diam saja melihatnya?


Rika memegang handle pintu bersiap untuk mendorong, namun tampak keraguan dan perasaan bimbang sehingga tak urung ia dorong. Karena keraguannya yang tak berani mengganggu, ia memutuskan untuk kembali lagi. Dan pada saat ia melepaskan handle pintu...


Kreet.


Justru pintu itu terbuka setengahnya akibat dorongan yang tidak di sengaja, sehingga menciptakan suara.


Jemari yang tengah menari indah itu tiba-tiba terhenti. Jhon membuka mata nya, dan dengan lirikan dalam ke sudut mata. Ia memerintah dengan suara tegas nan tajam. "Sampai kapan kau akan berdiri di sana, bodoh."


"Hah!" Rika yang sudah berbalik bersiap untuk pergi, ia terlonjak kaget dan seketika terdiam mematung. Kapan dia menyadari ku ada di sini?


"Masuklah." Tersenyum kecil, Jhon kembali menggerakkan jemarinya di atas tuts piano memainkan lagu yang berbeda hingga mengalun indah sampai meresap masuk ke dalam hati gadis manis yang terpaku diam berdiri di ambang pintu terbuka.


Melodi ini... apa dia sengaja. Rika menundukkan pandangan, menggigit bibir bawahnya.


Jhon kembali melirik pada gadis manis itu yang masih berdiam diri. "Bodoh, kemarilah." Perintahnya tanpa menghentikan gerakan jemari di atas keyboard piano.


Rika menghela napas panjang, mengangkat wajahnya menatap lurus ke arah Jhon. "Endless Love." Celetuk Rika jelas terdengar.


"Kau tahu lagu ini?" Sembari terus menari kan jemarinya di atas tuts berwarna hitam putih.


Rika melangkah pelan, menghampiri Jhon. "Cinta sejati. Lagu ini menyiratkan cinta sejati atau cinta abadi sepanjang masa tanpa kenal waktu, dan usia." Dia berdiri tepat di samping badan piano.


Dan mungkin seperti perasaan mu terhadap Sanny. Pikir Rika menatap Jhon.


"Ada hal apa yang membawa mu kemari? Bukannya kau tidak menginginkan ku muncul di hadapan mu?" tanya Jhon, membuat Rika tersadar dari lamunannya.


"Aku... hah soal itu." Gelagap Rika, membuang muka ke arah lain. "Aku ingin minta maaf soal tadi pagi karena telah mengatai mu yang tidak-tidak, aku harap Jo... maksud ku, Pak Jhonathan memaafkan atas kekasaran dan ketidak sopanan ku."

__ADS_1


Mendengar panggilan terhadapnya yang di ucapkan Rika menyiratkan pembatas dinding di antaranya. Seketika permainan jemari nya terhenti, Jhon menghela napas pelan memejamkan mata sejenak.


Pengaruh dari si bocah tengik cukup besar juga, sehingga dia berubah menganggap ku asing.


Jhon menggeser duduknya, memberi ruang kosong di kursi kecil berbentuk persegi panjang. "Duduklah, dan mainkan lagu tadi dua kali berturut. Baru aku akan memaafkan mu."


"Tapi... tapi aku tidak terlalu hafal nada nya."


Puk... puk.


Pria itu menepuk bagian sampingnya yang kosong agar Rika mau mendudukinya tanpa bantahan.


"Baiklah." Rika menurut duduk sehingga kedua nya duduk saling berdempet hanya berjarak beberapa inchi saja.


"Mainkan." Perintah Jhon menunjuk ke arah keyboard piano.


Rika melirik sejenak pada pria tampan di sampingnya yang memberi tatapan perintah. Lalu dengan gerakan ragu sedikit kaku ia mengangkat kedua tangan untuk meletakkan 10 jemarinya ke atas tuts dan mulai menekan setiap tuts untuk menciptakan alunan nada yang enak di dengar, semakin menggerakkan jemari nya menari di atas keyboard piano, semakin membuat gadis manis itu terhanyut meresapi setiap nada. Dan pada saat di pertengahan nada. Jhon ikut mengimbangi permainan jemari Rika untuk berkolaborasi.


Beberapa saat kemudian, kedua nya tampak asyik memainkan piano dengan lagu yang sama. Gadis manis itu, tersenyum senang terhanyut dalam permainan piano tanpa sadar dirinya tengah di tatap lekat oleh pria di sampingnya, hingga tiba-tiba...


Grep.


Jhon memegang jemari Rika, seketika suasana ruangan yang tadi nya ramai oleh nada musik kini terdengar berdengung hening. Rika terpaku diam saat tangannya di genggam oleh Jhon dan ia menatap bingung...


"P-pak Jhona...than."


Jhon membawa jemari gadis manis itu, ke dekat wajahnya untuk di tangkup kan ke sebelah pipi sehingga terasa hangat dan lembut saat kulit kedua nya bersentuhan, dengan pandangan menatap intens tak terbaca. Ia tersenyum kecil. "Panggil aku seperti biasanya, aku tak suka panggilan yang terdengar asing."


Melihat senyuman yang penuh arti dari bibir Jhon dan di tatap seperti itu, seketika bulu kuduk Rika berdiri merinding. Lidah nya kelu untuk berucap, sehingga seperkian detik keheningan menguasai sekitar.


"Jo..." ucap Rika tercekat di tenggorokan, dan seketika pembicaraan mengenai Sanny kembali berkelebat di telinga juga berputar di pikirannya.


"Maaf aku tidak bisa." Ujar Rika lemah, memalingkan wajah ke arah lain. Ia memejamkan mata sekilas dan menghembuskan napas pelan. Lalu menarik tangannya dari genggaman Jhon dan bangkit dari duduknya.


Jhon tertegun menatap tak percaya dengan sikap penolakan dari Rika. Ia menghembuskan napas pelan, menundukkan pandangan berusaha menguasai dirinya yang menahan amarah juga gejolak perih di hati nya agar tidak menyerang gadis manis di hadapannya itu.


Gadis manis itu sedikit menundukkan kepala sebagai penghormatan. "Terimakasih atas penerimaan maaf dari bapak. Aku sudah memainkan lagu yang Pak Jhonathan minta dua kali berturut, sekarang aku undur diri." Rika berbalik melangkah pergi ke arah pintu.


"Bodoh!" Teriak Jhon menggema di sudut ruangan kosong tersebut. Sontak membuat langkah kaki Rika terhenti.


Pria itu beranjak dari duduknya, ia memasukkan kedua tangan yang semula terkepal ke dalam saku celana, lalu melangkah pelan ke arah gadis manis yang berdiri mematung membelakanginya. "Teruskan siksa pikiran dan hati mu dengan sikap seperti ini."


Jhon mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Rika hingga bibirnya dekat dengan telinga dan napasnya berhembus ke kerudung namun masih menembus menerpa ke kulit. "Aku suka gadis bodoh seperti mu." Bisiknya rendah nan jelas, lalu ia menyeringai kecil dan melangkah pergi ke arah pintu keluar.


Degh... seketika detak jantung Rika berpacu cepat, mata nya terbelalak terpaku diam tak berkedip.


Suka...


"Turunlah untuk sarapan. Satu jam lagi, Nona Annisa akan sampai menjemput mu." Instruksi Jhon sebelum hilang di balik pintu.


"I-iya." Sahut Rika terbata, gadis manis itu dengan termenung bengong berjalan menyusul Jhon untuk keluar ruangan.


Suka... tangannya terkepal di depan dada, dan terbesit senyuman melengkung manis. Rika menatap punggung tegap Jhon yang ada di depannya sehingga memunculkan rona merah di kedua pipinya.


Dia berkata suka... tapi, Sanny... Rika menghembuskan napas kasar, menghentikan langkah kakinya menatap termenung menunduk. Aku hanya mainannya...


Sedang Jhon yang tidak mendengar lagi suara langkah kaki di belakangnya, ia ikut berhenti dan menengok sedikit ke belakang. "Gadis bodoh." Panggilnya cukup keras.

__ADS_1


"Iya aku." Sahut Rika cepat tersentak kaget dan reflek.


"Ck." Decak Jhon tersenyum kecil, kembali berjalan ke arah tangga.


------------------------------------


Seusai sarapan, Rika yang merasa tidak enak merepotkan. Ia membantu membersihkan meja makan juga mencuci piring kotor di bantu oleh Jhon.


Rika mengenakan pakaian milik Jhon terlihat longgar kebesaran hingga menutupi seluruh tangan juga celana yang seakan melorot kalau saja tidak terdapat tali di celana nya. Dia menatap dengan berdiri di dekat Jhon dan menyender ke meja dapur.


"Ekhem... Pak Jhonathan, bisakah aku meminta pakaian ku kembali. Tidak mungkin kan, aku pulang ke rumah memakai pakaian pria seperti ini. Bisa di kata apa oleh orang tua ku."


Jhon melirik sekilas dan kembali membilas piring kotor. "Pakaian mu, sudah ku buang."


"Apa?" Kaget Rika dengan mata melotot. "Di- di buang?"


"Hemm." Mengangguk kecil dan bergumam mengiyakan.


"Hah tidak, baju ku baru beli kemarin." Geram Rika mengetuk kepalanya beberapa kali. Lalu ia memegang lengan atas Jhon. "Dimana kau membuangnya? Tunjukkan pada ku."


Gerakan tangan Jhon yang sedang mencuci piring terakhir terhenti, ia menoleh dan menatap tak terbaca. "Sebelum di buang, aku sempat membakarnya."


"Kau gila!" Rika mendorong lengan Jhon dengan kasar namun tubuh tegapnya tak tergoyahkan sedikit pun. Dia berganti memukul beberapa kali pada pundak Jhon dengan perasaan kesal. "Kenapa kau main buang saja? Harusnya kau tanya dulu pada ku, itu baju ku. Jadi kau tak berhak seperti ini."


Jhon mematikan keran air, ia melepaskan sarung tangan dan mengusap tangannya dengan lap kering. Lalu menangkap tangan gadis manis yang tengah memukulnya itu.


"Aku memang telah membuang baju mu yang jelek itu, jadi sebagai gantinya ku berikan baju ku yang kau pakai sekarang," ucapnya, tersenyum kemudian membawa tangan Rika ke hidung dan mengendus aroma nya.


Glek... Seketika Rika terpaku, menelan ludahnya secara kasar. Di-dia sedang apa? Lalu dengan gerakan cepat ia menarik tangannya.


"Aku... aku akan meminjam pada Annisa, jadi... jadi Pak Jhonathan tak perlu menggantinya." Gelagap Rika mengalihkan pandangan ke arah lain menghindari tatapan mata Jhon yang begitu tajam.


Jhon terkekeh geli mengusap pelan kulit halus pipi gadis manis itu, sehingga membuat Rika refleks mengedikkan bahu dan memundurkan kepala nya. "Sepertinya gadis bodoh ku telah berubah. Tapi sayang... aku tak akan membiarkan pakaian ini lepas dari badan mu," ucap Jhon penuh ancaman bernada tajam nan dingin.


Lagi-lagi Rika terpaku diam, menatap tak berkedip pada pria di hadapannya. Dia bukan Jojo yang ku kenal berlidah tajam, dia bukan Jojo...


"Si-siapa kau?" Celetuk Rika membuat Jhon semakin tertawa puas.


Jhon melepaskan apron dari tubuhnya. Ia menatap cukup tajam ke arah gadis yang masih terlihat bengong tak percaya. "Apa maksud mu, gadis bodoh? Aku Jojo, pria mu."


"Hah!" Menggeleng cepat. "Tidak, bukan...," Rika berbalik menggeser tubuhnya untuk menjauh.


Pletak.


Jhon menyentil kening Rika sehingga membuatnya mengerjapkan mata cepat. "Kau sudah sadar." Kemudian ia mendengus dan melangkah pergi ke arah pintu geser, meninggalkan Rika yang masih termenung menundukkan pandangan.


"Jelas sudah sadar dari tadi juga, dasar aneh." Gadis manis itu, mengusap keningnya yang sedikit panas dan perih.


Aneh? Dia bersikap berbeda tidak seperti biasanya. Apa dia mengingat Sanny lagi ketika melihat ku, sehingga bersikap seperti ini.


"Gadis bodoh." Panggil Jhon membuat Rika tersadar dari lamunanya. "Cepatlah ke ruang utama. Nona Annisa telah datang." Seru Jhon sambil lalu keluar area dapur dan ruang makan.


"I-iya." Sahut Rika ikut menyusul melangkah keluar dapur.


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...

__ADS_1


__ADS_2