Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 5


__ADS_3

Jhon dan Rika keluar dari kafe, setelah menyelesaikan kegaduhan yang di buat Rika untuk membayar semua kerugian atas apa yang di pecahkan dan barang lainnya yang rusak. Sedari tadi Rika hanya menundukkan pandangan, diam membisu, mengikuti langkah kaki Jhon yang menyuruhnya untuk berdiri di depan kafe. Sementara Jhon setelah membayar tagihan, ia bergegas ke area parkir mobil.


Tin...tin.


Klakson mobil membuat Rika terperanjat dan mengangkat kepala nya menatap mobil berwarna hitam di hadapannya.


Kaca jendela mobil itu perlahan terbuka, tampak Jhon dengan wajah dingin tanpa menoleh ke arah Rika, Ia memerintah dengan tegas. "Masuk!"


Eh, apa dia mau mengantarku? Dengan kejadian tadi saja aku merasa bersalah dan malu, tapi dia...


"Hey, nona. Masuk!" Perintah Jhon membuyarkan lamunan Rika yang masih berdiri terbengong mematung di samping mobil.


"I-iya," gagap Rika, dengan cepat mendekati mobil menarik handle pintu untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang.


Jhon menghembuskan napas kasar, mata tajam nya melirik kaca depan. "Pindah ke depan, saya bukan supir," titah Jhon.


Rika yang semula menundukkan pandangan menengadah. "Ap-apa pak?" tanya Rika yang tidak jelas mendengar perintah Jhon karena masih linglung akibat rasa malu nya.


"Kau selain bodoh, ternyata budek juga. Pindah ke depan!" Sentak Jhon yang sudah kesal.


"Ba-baik," seru Rika keluar dari mobil dan berpindah duduk ke kursi depan, memakai seat belt dengan gerakan cepat.


Setelah Rika berpindah duduk, Jhon mulai melajukan mobil nya meninggalkan kafe.


Cukup lama keheningan membentang suasana dalam mobil itu, Rika yang selalu menundukkan pandangan tak berani mengangkat wajah nya yang sudah merah dan jantung nya tak terkontrol berdegup kencang. Sedang Jhon fokus menyetir dengan wajah dingin dan pandangan serius ke depan.


Dia mengatakan aku bodoh, bahkan budek. Hah... memang aku benar benar ceroboh sekali tadi. Tapi itu kan salah dia sendiri mengatakan sesuatu yang membuat ku terkejut setengah mati. Tapi...


Rika melirik ke samping, ke arah Jhon yang tengah fokus mengemudi.


Apa ucapannya benar yah? Jika dia ingin menjadikan aku wanita nya. Kalau di artikan ucapannya itu, berarti dia mengajak ku untuk...


Rika menggelengkan kepala dengan cepat dan menepuk pipi nya beberapa kali.


Ah, tidak tidak. Aku pasti salah. Mana mungkin dia mau menjadikan aku wanita nya.


Jhon yang merasakan tingkah Rika yang aneh, alis nya terangkat sebelah. "Apa yang kau pikirkan nona bodoh?" Suara Jhon menghentikan pergerakan tangan Rika yang tengah menepuk kedua pipi nya.


"Eh," seketika Rika terdiam, menoleh ke Jhon. "Ti-tidak ada pak," sahut Rika pelan.


"Alamat rumah, dimana?" Jhon bertanya di sela fokus nya menyetir.


"Di- di komplek. A perumahan. Lotus no. 43," jawab cepat Rika.


Tidak ada percakapan lagi selama beberapa menit itu, hanya deru napas dan suara mesin mobil yang mewakili keheningan dalam mobil.

__ADS_1


Rika kembali melirik Jhon dengan gerakan lamat lamat.


Orang ini memang sangat tampan, tapi sayang kenapa dia sedingin ini sih. Aku jadi ingin menanyakan soal ucapannya tadi di kafe, apa dia benar benar mengatakannya atau hanya bualan saja...


Rika menghembuskan napas panjang, beralih menatap lurus ke depan. "Mungkin hanya salah dengar saja, mana mungkin dia ingin menjadikan aku wanita nya." Oceh pelan Rika yang tidak nyadar jika diri nya masih bersama Jhon di dalam mobil.


Jhon yang mendengar ocehan Rika. Ia melirik sekilas ke samping, jemari telunjuk nya Ia tempelkan ke bibir tipis nya. "Soal itu, memang saya serius mengatakannya," suara dingin nan jelas dari bibir Jhon menimpali ocehan Rika.


"Mana mungkin," sahut Rika yang belum sadar. Kemudian seperkian detik Rika tersadar dengan apa yang di katakan Jhon, Ia menoleh ke arah Jhon dengan mata melebar. "Bapak serius? Ingin menjadikan saya wanita bapak?" Antusias Rika memegang lengan atas jhon, karena sudah tidak terkontrol keterkejutannya.


Ckiit.


Jhon mengerem mendadak membuat Rika hampir terjungkal ke depan, namun pegangan Rika di lengan atas Jhon masih bertengger kuat.


Jhon menghembuskan napas pelan. Ia menatap Rika dengan kesal. "Nona bodoh, sesenang itu kau menjadi wanita bohongan," omel Jhon mengedikkan sebelah bahu dan menarik kuat lengannya agar terlepas pegangan tangan Rika.


Rika tersadar dengan posisi duduk dan tangannya. "Ma-maaf pak," ucap Rika membenarkan posisi duduk dengan rapih dan menaruh tangannya di pangkuan.


Dia bilang wanita bohongan. Maksudnya apa?


Jhon mendengus kesal, Ia kembali melajukan mobil nya bergabung dengan kendaraan lain. "Saya serius mengatakan jika saya akan menjadikan mu sebagai wanita ku. Namun dalam kata lain, hanya sebagai wanita samaran saja untuk membantu saya dari perjodohan yang sudah ibu saya rencanakan." Tutur Jhon membuat Rika seketika menunduk lemas.


Wajah Rika berubah menjadi murung, bibirnya terkatup rapat, sebelum akhirnya berucap. "Wanita samaran, itu artinya hanya hubungan palsu?" tanya Rika dengan pandangan menunduk.


Rika memegang dada nya yang terasa berdenyut nyeri.


Dia mengatakan seperti itu seolah uang adalah segala nya. Entah kenapa hati ku merasa sakit, padahal aku berharap dia mengatakan seperti yang ku pikirkan.


Menghela napas panjang, Rika memberanikan diri mengangkat wajah nya menoleh ke Jhon. "Saya tidak butuh uang mu pak, tapi jika memang saya bisa membantu bapak, saya akan berusaha membantu," ucap Rika.


Jhon tersenyum miring, melirik sekilas ke Rika. "Itu artinya kau setuju menjadi wanita samaran ku?"


Rika mengangguk pelan, dan kembali menundukkan pandangan, menggenggam tangannya yang berada di pangkuan. "Tadi bapak bilang akan memenuhi keinginan saya, apa pun itu jika saya berhasil menggagalkan rencana perjodohan itu, apa itu benar? Saya bisa meminta apa pun?" tanya Rika dengan nada suara rendah.


"Benar apa pun, asal jangan di luar akal sehat. Yang menyuruh saya membangun gunung atau 1000 candi seperti cerita dongeng. Yang masuk akal saja, dan hanya satu permintaan," ucap Jhon menegaskan.


Rika tersenyum, menoleh ke Jhon. "Akan saya sampaikan permintaan saya nanti jika telah selesai membantu bapak."


"Hemm, baiklah, jadi kita sepakat sekarang, dan saya harap kerja mu bagus," ucap Jhon, sambil melambatkan laju mobil nya, karena telah memasuki perumahaan tempat tinggal Rika.


Rika tidak menjawab ucapan Jhon, ia menatap keluar jendela.


Hanya dengan cara ini, aku bisa lebih mengenal mu dengan sangat dekat. Jhonathan Ivander kusuma.


"Kau tidak turun," instruksi Jhon membangunkan Rika dari lamunan nya.

__ADS_1


Rika melihat keluar jendela yang ternyata mobil Jhon telah terparkir di depan pagar rumahnya. "Eh, i-iya," Rika melepaskan seat belt, menenteng tas selempangnya, dan membuka pintu mobil.


"Terimakasih atas tumpangannya pak, hati hati di jalan. Assalamualaikum," pamit Rika sebelum keluar dari mobil.


Brak.


Pintu mobil di tutup oleh Rika dan masih berdiri di samping mobil menatap Jhon dari kaca jendela yang masih terbuka.


"Walaikumsalam," jawab Jhon, melirik sekilas ke Rika, ia menaikkan kaca mobil dan kembali menginjak pedal gas untuk meninggalkan area itu. Namun tiba tiba...


"Aah, bapak, bapak berhenti!" Teriak Rika sambil berlari mengikuti mobil Jhon yang melaju masih dengan kecepatan rendah.


"Wanita bodoh itu, kenapa dia berteriak seperti itu." Heran Jhon namun tidak menggubris teriakan Rika, ia terus melajukan mobil nya memutari jalanan perumahan yang terlihat sepi.


Dugh...dugh...brak.


Rika memukul keras kaca mobil, sambil berlari mengimbangi laju mobil. "Bapak, bapak tolong berhenti," teriak Rika.


Jhon menghembusakan napas kasar, Ia akhirnya menginjak rem untuk menghentikan laju mobil nya. "Apa lagi yang dia inginkan?" gumam Jhon kesal.


Sedang Rika di luar mobil sudah membungkuk memegang dada dan lutut nya, mengatur napas yang sudah terengah akibat berlari cepat.


Dugh...dugh..


Rika kembali memukul kaca jendela mobil dengan sisa tenaga nya yang sudah lemas. "Pak buka pintu mobil nya." Teriak nya.


Jhon menurunkan kaca mobil, menatap geram ke Rika. "Kenapa kau berlari seperti itu? Kau pikir kaki mu roda sampai berlari mengimbangi mobil, dasar bodoh." Omel Jhon.


Rika melongokkan kepala nya ke dalam mobil, dan menunjuk ke arah pintu mobil. "Tali tas ku tersangkut di pintu," ucap lemah Rika, masih dengan napas terengah.


Jhon melirik ke arah pintu, yang ternyata benar ada seutas tali tas yang terjepit. Ia beralih menatap Rika dan mendengus kesal. Lalu, keluar mobil menghampiri Rika yang masih berdiri menempel ke pintu mobil.


"Kenapa ada wanita yang sangat ceroboh dan bodoh seperti mu di dunia ini," omel Jhon merampas tas selempang yang tengah di pegang Rika, dan membuka pintu mobil untuk menarik tali tas.


Bruk.


Jhon melempar tas selempang itu ke Rika yang mematung berdiri dengan wajah di tekuk. "Bertindak bodoh hanya karena barang tak berguna seperti itu," ucap Jhon, kembali berbalik memutari mobil untuk masuk dan duduk di kursi kemudi.


Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi dan tanpa melirik Rika, Jhon langsung menginjak pedal gas dengan kecepatan cukup tinggi untuk meninggalkan Rika yang masih berdiri menatap mobil nya.


Rika memeluk erat tas selempangnya, menatap sebal ke arah mobil yang sudah melaju jauh. "Enak saja bilang aku bodoh terus terusan, dan bilang tas ku tidak berharga. Dasar Jhonathan ivander. Lihat saja akan aku buktikan, seperti apa wanita bodoh yang sebenarnya itu," gerutu Rika, berbalik dan berjalan pelan menuju rumahnya.


BERSAMBUNG...


Jangan lupa klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...

__ADS_1


__ADS_2