
Egi merebahkan tubuh Annisa dengan pelan penuh ke hati hatian ke atas kasur. Kemudian membuka kerudung Annisa dan menyelimuti dengan lembut. Egi mendekatkan wajahnya ke wajah Annisa untuk melabuhkan kecupan di kedua pipi dan kening.
Mengusap pelan pipi Annisa. "Annisa, maafkan aku jika hanya ini yang bisa ku lakukan. Tapi aku berjanji akan pulang dengan kesuksesan untuk mu dan anak kita kelak," terjeda sejenak menunduk menghela napas panjang. "Yang ku pikirkan, apakah aku sanggup hidup beberapa tahun ke depan tanpa dampingan mu sayang, bahkan jauh sebentar saja rasanya hati ku tidak tenang dan selalu gelisah. Bagaimana nanti? Andai saja usia ku sudah menginjak pria dewasa matang dan mempunyai karir seperti kakak, mungkin tidak akan menyiksa seperti ini."
Egi menatap wajah Annisa yang masih lelap dan mengusap kembali pipi Annisa. "Aku memang pengecut tidak berani berbicara langsung pada mu," gumam nya, kemudian bangkit dari duduk nya berjalan ke arah ruangan belajar.
Beberapa waktu kemudian.
Annisa terbangun dari tidur nya karena merasakan kering di tenggorokan, segera Ia menyambar air di atas meja nakas dan menenggak nya habis.
Annisa tersadar dengan lingkungan kamar nya. Melihat sekitar kamar. "Dia membawa ku ke rumah Ayah mertua, dan dimana dia?" Bingung Annisa sambil bergerak mengibaskan selimut, menurunkan kaki dan duduk di sisi ranjang, lalu melihat jarum jam yang ada di meja nakas.
"Sudah jam 10 malam, kemana dia pergi? Apa dia tidur di kamar lain?" Oceh Annisa hendak beranjak dari duduk nya.
Ceklek.
Pintu ruangan belajar terbuka, memunculkan Egi yang baru keluar dari dalam dengan raut wajah di tekuk, dan pandangan kosong. Ia berjalan gontai menuju ranjang, tanpa menyadari Annisa tengah mengawasi gerak gerik nya.
Annisa yang hendak beranjak, kembali duduk ke posisi nya, alis Annisa berkerut heran melihat raut wajah Egi yang tak biasa.
Ada apa dengan nya?
"Egi," panggil Annisa.
Egi terlonjak dan menghentikan langkah kaki menatap Annisa.
Annisa semakin di buat bingung, menelisik wajah Egi yang tengah menatap terbengong ke arah nya. "Hey, ada apa? Kenapa diam di situ?"
Menghela napas pelan, Egi melanjutkan langkah kaki nya menghampiri Annisa. "Malam masih panjang, kenapa kau terbangun?"
"Tenggorokan ku kering jadi terbangun," Annisa menarik lengan Egi yang berdiri di hadapan untuk terduduk di samping nya.
__ADS_1
Kemudian Annisa mengusap pelan sisi wajah dan rambut Egi. "Ada apa dengan raut wajah mu? Kenapa terlihat kusut? Apa kau sakit?"
Egi menggelengkan kepala pelan, menarik tangan Annisa yang ada di pipi nya untuk di kecup. "Bukan badan ku yang sakit," ucap nya, lalu mengarahkan tangan Annisa ke dada. "Tapi di dalam sini yang sedang merasakan sakit, sehingga membuatku frustasi tidak bisa berbuat apa apa."
Annisa tertegun menatap sorot mata Egi yang sendu, kemudian dengan gerakan perlahan Ia mendekat untuk merangkul bahu, dan kepala Egi untuk di peluknya. "Apa kau punya masalah Egi? Kenapa sejak kepulangan kau bertemu Ayah saat di rumah sakit, wajah mu terlihat jelas jika ada sesuatu yang kau sembunyikan dan pendam sendiri."
Egi melingkarkan tangan memeluk Annisa erat, dan menghirup aroma tubuh Annisa sambil memejamkan mata. "Tidak ada apa apa sayang, hanya masalah kantor saja." Gumam Egi.
Maafkan aku Annisa, tidak bisa cerita sekarang. Saat ini aku hanya ingin menikmati momen setiap menit, detik yang berharga bersamamu tanpa harus ada kemarahan di antara kita berdua. Biarkan kali ini aku yang egois...
Annisa mengelus lembut rambut Egi yang ada di bahu nya, dan mengusap pelan punggung Egi. "Jika kau ada masalah, ceritalah pada ku. Meskipun aku tidak terlalu paham soal pekerjaan kantor, tapi setidaknya kau lega telah menceritakan pada ku. Aku istri mu akan selalu mendengarkan apa pun keluh kesah mu, Egi," tutur Annisa lembut.
Mengecup bahu Annisa yang terbuka, sembari menikmati wangi khas tubuh Annisa. "Kau sangat wangi sayang, membuat ku tenang dan ingin tidur."
Annisa menghela napas. "Benar juga sudah larut malam, kau tidurlah di samping ku." Melepaskan pelukan nya di tubuh Egi.
Egi mengangguk kecil, lalu naik ke atas kasur dan merebahkan tubuh nya. "Tidurkan aku."
Segera Annisa menyelimuti tubuh Egi, dan ikut terbaring di samping nya menghadap ke Egi. "Hemm... Big baby ku," mengusap lembut rambut Egi.
"Hemm...," sahut Annisa terus mengusap pelan rambut Egi.
Entah apa yang kau sembunyikan dari ku, meskipun kau hanya berkata masalah kantor. Tapi entah kenapa hati ku berkata, bahwa saat ini aku harus memanjakan mu, Egi.
Beberapa jam kemudian.
Pukul.12 malam, Egi bergerak pelan mencoba melepaskan lingkaran tangan Annisa yang memeluk nya. Ia bangkit dari tiduran nya, karena selama dari tadi dirinya sama sekali tidak tertidur hanya menikmati sentuhan dan perlakuan lembut Annisa. Egi menatap lekat wajah Annisa yang sudah pulas dalam tidur. Ia menunduk mengecup lama kening Annisa.
"Aku pergi dulu sayang, jaga diri mu dan semoga kau selalu setia menunggu kepulangan ku sayang," gumam Egi pelan, melabuhkan kembali kecupan di kedua pipi Annisa.
Kemudian dengan pelan penuh kehati hatian, Egi bergerak untuk turun dari ranjang, dan tidak lupa menyelimuti tubuh Annisa sampai bahu sebelum diri nya berjalan keluar kamar.
__ADS_1
Di luar kamar.
Egi telah di sambut langsung oleh Ayah putra dan beberapa bodyguard di belakang nya.
Ayah putra menepuk beberapa kali bahu Egi. "Yang sabar Nak, ini hanya sementara kau melakukan nya demi kebaikan Nak Annisa juga diri mu," ucap Ayah putra menenangkan.
Egi berhambur merangkul Ayah putra. "Jaga Annisa dan terus terapkan penjagaan ketat di sekitarnya, aku takut dia terluka lagi Ayah, dia kekuatan Egi bisa hidup, dia sumber ketenangan Egi. Dia...dia," tutur Egi terhenti menahan gejolak hati nya yang perih dan menahan air mata nya. "Dia segala nya bagi ku."
"Tentu Nak, Ayah akan menjaga nya dengan baik sampai kau kembali." Menepuk kembali bahu Egi yang ada dalam rangkulan nya.
Annisa, aku pergi untuk kembali...
Egi memijit pangkal hidung nya, menunduk kan pandangan, berjalan menuju pintu keluar rumah.
Begitu pun dengan Ayah putra, terus merangkul bahu Egi dan menggiringi langkah kaki nya.
Di luar teras rumah.
Jhon tampak sedang menyiapkan mobil di pelataran rumah.
Egi dan Ayah putra telah berdiri di depan teras rumah.
"Jhon, sudah siap semua nya?" tanya Ayah putra melirik Jhon yang tengah memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.
"Sudah tuan besar, pesawat pribadi telah di persiapkan, dan penerbangan sisa 30 menit lagi," ucap Jhon tegas.
Mengangguk pelan, Ayah putra kembali menatap Egi yang tampak masih memasang wajah muram, kusut. "Pergilah sebelum istri mu terbangun, kau tidak ingin melihat dia menangis kan?"
"Hemm," sahut nya, berjalan melangkah ke arah pintu mobil yang sudah di buka kan oleh Jhon.
Sejenak Egi terdiam melihat ke belakang lagi, untuk melihat rumah nya dan menghembuskan napas kasar. Lalu memasuki mobil, di ikuti Jhon memasuki pintu kemudi. Kini mobil yang membawa Egi telah melaju pelan di pelataran rumah meninggalkan rumah Putra.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...