
Sudah memasuki hari ke-6 Annisa berada di rumah sakit, selama itu Annisa di temani Egi yang selalu ada di samping nya, juga sesekali Asyila mengunjungi Annisa, dan Rika sebagai teman Annisa selalu meluangkan waktu sehabis dinas akan menyempatkan datang menjenguk Annisa.
Sore ini, Annisa tengah duduk santai di atas kasur dalam pelukan Egi dengan pandangan menatap layar televisi.
"Egi aku ingin makan mie instant, melihat iklan nya aku jadi ngiler." Oceh Annisa dengan pandangan berbinar menatap layar televisi.
Pletak.
Egi menyentil pelan bibir Annisa.
Annisa mendelik sebal dengan bibir memberenggut. "Kenapa kau menyentil ku?"
"Karena kau nakal," sahut Egi, mengusap bibir Annisa.
Annisa melepaskan rangkulan lengan Egi di bahu nya, dan bangkit menoleh menghadap ke Egi. "Aku hanya menginginkan mie instant, apa nya yang di bilang nakal," sewot Annisa.
Menangkup wajah Annisa dengan kedua tangan. "Makanan tak sehat bahkan hanya akan menjadi sampah di perut mu, aku tidak mengizinkan meskipun kau hanya menyebutkan nama nya."
Annisa memasang wajah melas. "Tapi aku...," ucapan Annisa terhenti.
Egi dengan cepat mengecup bibir Annisa secara bertubi.
Annisa memberontak dan menutup bibir nya dengan telapak tangan saat Egi hendak mencium nya lagi. Menautkan alis kesal. "Egi," pekik Annisa.
Egi mendaratkan ciuman di kening Annisa. "Jangan sebutkan makanan itu lagi," tegas nya.
Annisa masih menatap sebal ke Egi, lalu menurunkan tangan nya. "Jangan sebutkan nama nya saja kan, tapi memakan nya boleh," sahut Annisa.
"Annisa," tegas Egi.
"Apa?" tanya Annisa di selingi senyuman.
"Kau ja...," ucapan Egi terhenti seiring pintu kamar terbuka.
Ceklek.
Seketika Annisa dan Egi menoleh ke arah pintu.
"Ayah," kaget Annisa melihat Ayah putra memasuki kamar nya.
Segera Annisa menepuk lengan Egi agar turun dari ranjang, dan membenarkan posisi duduk nya untuk tidak terlalu dekat dengan Egi yang ada di hadapan nya.
"Aku masih pengen memeluk mu sayang," ucap Egi seakan sengaja malah santai di atas kasur menarik, merangkul pinggang Annisa.
"Egi," geram Annisa mencekal lengan Egi yang ada di pinggang nya.
Egi malah semakin sengaja menggoda Annisa. Dengan menaruh kepala di bahu dan merapatkan pelukan di pinggang Annisa.
__ADS_1
Annisa memberontak dari pelukan Egi, dengan pandangan mata menatap malu dan tersenyum canggung ke Ayah putra yang tengah berjalan ke arah nya. "Egi jangan begini, ada ayah mu di sini, aku malu, tolong egii," Annisa dengan gigi mengkerat kesal berbisik di telinga Egi.
Namun yang di beri bisikkan seakan tuli, bahkan semakin asyik menggoda Annisa. Mendusel dusel kepala nya di leher Annisa.
"Wah, ayah ganggu seperti nya," tegur Ayah putra yang sudah berdiri tidak jauh dari ranjang Annisa.
"Ayah," tersenyum manis kepaksa, "Apa kabar ayah?" tanya Annisa yang wajah nya sudah merah padam oleh rasa malu.
Ayah putra berdiri tepat di samping tubuh Egi. "Seharusnya pertanyaan itu yang ayah tanyakan pada mu Nak Annisa, gimana keadaan mu Nak?" tanya lembut Ayah putra.
Annisa melirik risih ke Egi yang masih menaruh kepala nya di bahu. "Se...seperti yang ayah li..lihat," jawab Annisa canggung.
Ayah putra tersenyum, dan meletakkan telunjuk di bibir nya sebagai isyarat agar annisa diam, lalu dengan gerakan ke hati hatian, mengulurkan sebelah tangan ke arah kepala Egi.
Grep.
Ayah putra menjewer telinga Egi dengan keras.
Seketika pelukan tangan egi di pinggang annisa terlepas menegakkan kepala nya. "Aduh ayah sakit, lepaskan ayah...," ceracau Egi mengaduh mengernyit kesakitan sambil memiringkan kepala dan memegang telinga nya yang masih di jewer Ayah putra.
Annisa terkekeh geli melihat raut wajah Egi. "Itu salah mu Egi." Ledek Annisa.
"Sakit yah, turun dari kasur! Enak sekali kau bermanja bahkan menguasai ranjang, sedang istri mu yang sakit merasa tidak leluasa untuk istirahat." Omel Ayah putra terus menjewer dan mengarahkan agar egi turun dari ranjang.
Perlahan Egi bergerak untuk turun dari ranjang sambil terus mengaduh kesakitan. "I..iya ayah, tapi tapi lepaskan dulu tangan mu dari telinga ku."
"Turun dulu yang benar!" Sentak ayah putra menambah tekanan menjewer di telinga Egi.
Ayah putra tetap menjewer telinga Egi. "Siapa yang menyuruh mu duduk di situ, sana pergi ke sofa!" Sentak nya lagi.
"Iya, tapi lepaskan tangan mu ayah. Bagaimana aku bisa kesana sedang ayah menjewer ku," oceh Egi memegang telinga nya yang sudah merah, dan berdiri kembali di samping ranjang.
Ayah putra melepaskan cengkraman tangan di telinga Egi, lalu dengan santai duduk di kursi bekas egi yang ada di samping ranjang.
Egi mengusap telinga nya yang terasa perih dan panas, kemudian melirik Annisa yang tampak tersenyum geli ke arah nya. "Kau senang sayang, melihat suami mu di bully," ucap Egi mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi annisa.
Segera Ayah putra menepis kasar tangan Egi. "Sana kau duduk di kursi! Mau ayah jewer lagi telinga mu!" Ancam nya menatap tajam.
Menghembuskan napas kasar, melirik annisa sejenak. "Kali ini kau bebas dari ku Annisa," ucap Egi dan berbalik menuju sofa.
"Anak ini, masih saja berani mengancam menantu kedua ku." Melihat Annisa dan tersenyum. "Jika dia menindas mu, laporkan pada ayah, dengan senang hati ayah akan menghukum keras anak bodoh itu," ucap Ayah putra lembut.
Annisa mengangguk mengiyakan dan membalas tersenyum. "Siap ayah," sahut Annisa.
"Bahkan Ayah menghasut istri ku, jangan dengarkan omong kosong nya Annisa ku sayang."
Mendengus sebal, menatap Egi yang tengah rebahan santai di sofa. "Ck, dasar anak bodoh." Kembali menatap hangat ke Annisa. "Bagaimana luka di kepala mu Nak? Maaf ayah baru menjenguk mu," tutur Ayah Putra.
__ADS_1
"Sudah baikan Ayah, dan tidak apa jika ayah tidak menjenguk ku. Aku baik baik saja, justru ayah harus selalu jaga kesehatan mu," jawab Annisa dengan nada lembut.
Dan terlibatlah percakapan di antara kedua nya. Sementara Egi merebahkan tubuh nya di atas sofa panjang dengan mata terpejam mendengarkan percakapan kedua nya.
Selang beberapa waktu.
Ayah putra mengusap pelan puncuk kepala Annisa dan beranjak dari duduk nya. "Sepertinya Ayah harus pulang sekarang, melihat waktu nya akan memasuki magrib."
Annisa mengangguk kecil. "Hati hati di jalan ayah, dan salam untuk keluarga di rumah."
"Hemm, cepat sehat dan segera pulang ke rumah Nak," jawab nya yang di balas angguk kan kepala oleh Annisa.
Ayah putra berbalik dan berjalan mendekati sofa yang di mana Egi tertidur di atas sofa.
Plakk.
Ayah putra menepuk keras bahu Egi sehingga membuat Egi terperanjat membuka mata lebar. "Ayah," pekik Egi sebal.
Tertawa pelan. "Ikuti ayah, ada yang ingin ayah sampaikan," ucap Ayah putra dan berjalan ke arah pintu keluar.
Egi bangkit dari tiduran nya, melirik Annisa yang terduduk setengah terbaring di atas ranjang. Ia beranjak berjalan menghampiri Annisa. Menangkup sebelah wajah Annisa dan mengecup kening annisa cukup lama. "Aku keluar sebentar sayang," ucap Egi mengusap pipi Annisa.
Annisa mengangguk dan mencekal lengan egi saat Egi melepaskan tangkupan nya di wajah. "Bagaimana telinga mu Egi? Masih sakit kah?" tanya Annisa memeriksa telinga Egi yang terlihat kemerahan.
Menggelengkan kepala pelan. "Tidak, aku baik baik saja."
"Tapi ini terlihat merah Egi, biar aku obati," sanggah Annisa menarik lengan Egi agar terduduk di atas kasur samping tubuh nya.
Egi tidak bergerak dari posisi nya. "Aku harus segera ke tempat ayah, dia tidak suka menunggu sayang," tolak Egi.
Menghela napas pelan. "Baiklah, tapi setidaknya pakai krim itu untuk mendinginkan rasa panas nya." Tunjuk Annisa pada botol krim yang berada di atas meja nakas.
Egi tersenyum menangkup kembali wajah annisa, kemudian mengecup kening, dan kedua pipi Annisa. Ia mengambil botol itu dan memberikan nya ke Annisa.
Annisa segera mengoleskan krim tersebut ke telinga Egi yang tampak merah. "Sepertinya ayah sangat kuat mencubit telinga mu, sampai sampai seperti ini. Lagian aku sudah memperingati jangan bersikap seperti itu jika di depan orang, kau sangat ngeyel sekali di bilangin." Omel Annisa sembari meratakan olesan krim di sekitar telinga Egi. Kemudian meniup nya lembut.
Seketika bulu kuduk Egi berdiri merinding geli, menelan ludah nya dengan kasar melirik Annisa. "Sa...sayang, jangan menggoda ku," gugup Egi yang sudah memerah padam pipi nya.
Alis Annisa berkerut bingung menutup botol krim menatap heran ke Egi. "Kenapa wajah mu ikutan merah Egi? Apa kau demam?" tanya Annisa memeriksa kening Egi.
Sedang Egi terdiam kaku menatap Annisa penuh minat sehingga membuat merah di pipi nya semakin merah padam, di sertai degup jantung nya yang berdebar kencang.
Menarik tangan Annisa yang ada di kening, lalu mengecup lembut punggung tangan Annisa sambil memejamkan mata. "Jangan melakukan itu lagi pada ku, kau membuatku hampir khilaf," gumam Egi.
Annisa masih bingung di buat nya. "Melakukan apa Egi? Aku kan hanya mengobati telinga mu."
Membuka mata, lalu menangkup wajah Annisa. Memberikan kecupan kilas di bibir Annisa. "Aku akan segera kembali," ucap nya, segera berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar, meninggalkan annisa yang menatap termenung pada pintu yang sudah rapat.
__ADS_1
"Ada apa dengan nya? Melakukan itu? Maksudnya apa coba?" Heran Annisa.
BERSAMBUNG...