Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 13


__ADS_3

Pagi telah tiba.


Di Rumah Putra.


Annisa menggeliatkan tubuhnya yang terperangkap dalam pelukan Egi. Perlahan mata nya mengerjap dan menguceknya untuk terbuka. "Sudah subuh rupanya," gumam Annisa mencoba melepaskan diri dari pelukan tangan Egi yang melingkar di tubuhnya.


"Hah...," Menghembuskan napas panjang saat sudah terbangun, dan terbebas. Annisa sejenak menatap wajah damai Egi yang masih tertidur, tangannya terulur untuk menyentuhkan jemari ke pipi mulus Egi. Ada senyuman terukir dari bibir tipis Annisa saat memperhatikan dan menatap wajah tampan itu. Lalu, dengan penuh ke hati hatian Ia menundukkan kepala untuk mengecup pelipis Egi.


"Emm," gumam Egi merasa sedikit terusik dengan apa yang di lakukan Annisa.


Annisa kembali menegakkan tubuhnya, mengusap rambut yang sedikit menutupi kening Egi. Ketika jemari nya bergerak menyentuh lembut pipi Egi, tiba tiba ekspresi wajah Annisa berubah. Karena merasakan mual secara mendadak yang menyeruak naik ke kerongkongannya.


"Ugh, mmph," Dengan refleks Annisa menutup bibirnya dan segera bergerak menyingkap selimut untuk turun dari ranjang.


Annisa setengah berlari terbirit ke arah pintu kamar mandi, saat gejolak mual di dalam perutnya menguap naik terasa di ujung tenggorokkan. "Mmmgh," Telapak tangannya masih menutup bibir yang menggembung tertutup rapat.


Sesampainya di dalam kamar mandi, sontak Annisa menyerbu wastafle dan menundukkan kepala. "Hooek, hoeek," Mencoba memuntahkan isi perutnya yang terasa gejolak mual. Ia menyalakan keran air untuk membasuh bibirnya.


"Aneh, perutku mual sekali rasa nya ingin muntah tapi hanya cairan saja yang keluar. Ada apa dengan perutku? Padahal semalam aku tidak makan yang aneh aneh, apa aku masuk angin?" Celoteh Annisa mengusap wajahnya dengan sebelah telapak tangan. Alis nya terkerut merenung dengan bola mata memperhatikan garis wajahnya yang memucat.


Menyentuh pipinya. "Apa jangan jangan aku...,"


"Hoek, hoek," Annisa kembali menundukkan kepala berusaha memuntahkan apa yang membuat perutnya mual.


Benar juga, sudah sebulan lebih aku belum datang bulan. Aku harus meng-chek nya sekarang.


Setelah puas memuntahkan isi perutnya, Annisa beralih menuju kotak perlengkapan wanita yang berada di pojok dekat cermin wastafle. Ia mengobrak abrik dalam lemari mini itu untuk mencari benda yang di cari nya.


"Hah, syukurlah untung aku selalu menyediakan peralatan ini," senang Annisa setelah menemukan benda yang di cari nya. Kemudian dia berjalan ke arah dalam tempat mandi.


Selang beberapa saat kemudian.


Annisa menggosok rambut basah nya dengan handuk kecil, ia telah membersihkan diri dan berpakaian gamis santai untuk di rumah. Selain terlihat segar karena sehabis mandi, sebuah senyuman bahagia terus mengembang di bibir Annisa yang sudah melangkah kan kaki keluar kamar mandi.


"Pagi sayang," sapa Egi yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Eh," kaget Annisa diam terpaku. "Pagi juga. Sudah bangun ternyata." Ia meneruskan kembali mengusak rambut basahnya.


Egi mendekat merangkul pinggang Annisa dengan sebelah tangan, mata nya menelisik wajah yang sedikit pucat dengan bibir mulai kering sedikit ke putih putihan. "Annisa, kau sakit?" Cemas Egi menangkup sisi wajah Annisa.


Seperkian detika Annisa terdiam menatap.


Sebaiknya nanti saja aku beritahukan dia, setelah aku memastikan berapa usia kandungan ku.


"Ekhem... Egi, kenapa kau sentuh aku? Jadinya kan harus wudu lagi, mending cepat mandi keburu habis waktu subuh nya." Omel Annisa menurunkan tangan Egi di pipi nya.


"Wajah mu pucat sayang, Apa ada yang sakit?" Egi kembali mengusap wajah Annisa tidak memperdulikan berontakannya.


"Aku baik baik saja, jangan khawatir," ucap Annisa melepaskan rangkulan tangan yang bertengger di pinggang, kemudian sedikit mendorong tubuh Egi untuk masuk ke dalam kamar mandi.


"Tapi kau benar tidak apa apa sayang?" Cemas Egi menurut melangkah ke dalam kamar mandi namun kepala masih menoleh ke arah Annisa.


"Aku bilang tidak apa apa ya tidak apa apa. Sudah sana cepat mandi," sahut Annisa masih mendorong tubuh Egi.


Egi menghela napas pelan. "Sayang, tadi ponsel mu berdering terus, coba check siapa tahu ada yang penting," ucap Egi menatap sejenak ke Annisa sebelum akhirnya menurut masuk ke dalam kamar mandi.


Annisa berbalik melangkah menuju meja nakas tempat ponsel nya tergeletak. Ia mengambil dan memeriksa layar ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya. "Rika. Ada apa dia menelpon ku pagi pagi sekali?" Bingung Annisa mendial nomer itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum," salam Rika di sebrang telpon.


"Walaikumsalam, Rik. Maaf tadi lagi di toilet, Ada apa?" tanya Annisa sambil melanjutkan mengusak rambutnya.


"Nis, Sekarang kan hari libur, kita ketemuan main atau kemana gitu." Ajak Rika terdengar lesu.


Annisa melempar handuk kecil ke keranjang kotor. Lalu berjalan ke arah lemari peralatan shalat.


"Boleh, tar aku kabari lagi setelah bicara dengan suamiku," ucapnya menyanggupi, sembari tangan bergerak mengambil peralatan shalat dari dalam lemari.


"Baiklah, tak tunggu kabar mu. Nis. Ya sudah Assalamualaikum." Salam Rika, mematikan panggilan setelah mendengar jawaban salam dari Annisa.


Annisa melempar ponsel ke atas kasur, kemudian berjalan ke arah karpet tempat melaksanakan shalat berjamaah. "Lebih baik aku kabari berita tentang kehamilan ku nanti saja deh, kalau di beritahukan sekarang pasti si Egi nggak akan ngizinin buat keluar rumah menemui si Rika." Gumam Annisa, mendamparkan sejadah.


Beberapa waktu kemudian


Egi dan Annisa telah selesai shalat subuh berjamaah.


"Sayang, hari ini aku minta di buatkan jus apel saja," ucap Egi memeluk Annisa dari belakang yang sedang memasukkan alat shalat ke lemari.


"Tumben, bukannya kamu tidak suka apel," ucap Annisa mengusap lengan Egi yang melingkar di perutnya.


Egi menunduk sehingga pipi nya menempel di sisi wajah Annisa. "Entahlah, rasanya aku pengen mencoba nya saja...," terjeda sejenak, Egi mencium pipi Annisa. "Antarkan ke ruang olahraga dan minta antarkan pelayan. Aku tak mau merepotkan mu, sayang." Lanjutnya.


Annisa menghembuskan napas pelan, menoleh dan mengusap pipi Egi. "Baiklah, biar nanti sekalian aku buatkan untuk yang lainnya."


"Biarkan saja mereka di buatkan oleh koki," Egi melonggarkan pelukannya di perut Annisa dan memutar tubuh Annisa agar saling berhadap hadapan. "Kau cukup membuatkan untuk suami mu saja." Mengecup kening Annisa cukup lama.


"Baiklah, baiklah. Aku harus segera ke dapur," Annisa melepaskan rangkulan tangan Egi yang ada di pinggangnya, Lalu berjalan ke arah pintu keluar.


---------------------------------


Keluarga besar putra, telah duduk di kursi masing masing mengelilingi meja makan kecuali oleh kehadiran Asyila karena Ia terkurung di asrama kampus. Mereka bersiap untuk sarapan pagi, tampak senyuman kebahagiaan terus mengembang dari bibir mereka.


"Egi mau apa?" tanya Annisa membalik piring yang ada di hadapan Egi.


"Salad buah saja," tunjuk Egi pada semangkuk salad.


"Salad?" Alis Annisa terangkat sebelah. "Aku udah masakin pancake kesukaan mu loh, kenapa minta nya yang bukan aku masakin?" Oceh Annisa namun tangan nya bergerak mengambilkan satu mangkuk salad.


"Pancake buatan mu juga letakkan di piring ku, sayang," Egi mencubit pipi Annisa yang sudah cemberut sebal.


"Hemm," Annisa mengambilkan satu porsi pancake ke piring Egi juga piring nya.


"Ateu cantik, Atih ingin salad juga," celetuk Fatih yang duduknya di samping kiri Annisa.


"Hey bocah kecil, kau ikut ikutan Om saja," Sewot Egi.


"Biarin," sahut Fatih cepat.


"Fatih sayang, biar mama yang ambilkan sarapan mu. Fatih, mau salad buah apa salad sayur?" tanya Romisa yang sudah mengambilkan omelet untuk Arga.


Fatih memberenggut, ia melirik Annisa sejenak, lalu telunjuk mungil nya menunjuk salad sayur yang langsung di ambilkan Romisa.


"Nah gitu bocah kecil, jangan merepotkan istri ku terus. Kan ada mama mu di sini," Sinis Egi sambil menyuapkan satu sendok salad ke mulutnya.


"Ateu cantik istri Atih juga. Dan Atih bukan anak kecil," sewot Fatih mengaduk salad dalam mangkuk.

__ADS_1


Ck, Egi berdecak hendak membuka bibirnya untuk beradu argumen dengan Fatih namun terpotong oleh Ayah Putra.


"Di hari libur ini, Ayah ingin berkunjung pada bidadari Ayah." Ujar Ayah putra, mengaduk smoothie bowl yang ada di hadapannya.


Mendengar ucapan Ayah putra. Sontak Arga dan Egi menoleh ke arahnya.


Selama satu menit keheningan membentang di meja makan itu, tak ada yang mampu bersuara menanggapi ucapan dan ekspresi wajah Ayah putra yang terlihat murung.


"Aku akan mengatur jadwal untuk libur 2 hari. Kita berangkat ke sana. Bagaimana dengan mu Egi?" tanya Arga menatap ke Egi.


"Aku," terjeda sejenak, Egi melirik Annisa. "Kalau aku bagaimana menurut istri ku saja. Bagaimana sayang, kau ingin menemui ibu mertua mu tidak?" tanya Egi pada Annisa.


"Eh," terhenyak Annisa yang hendak menyuapkan pancake ke mulutnya terhenti, sehingga meletakkan kembali garfu isi potongan pancake itu ke piring. "Aku... aku ikut saja," tanggapnya.


"Misa juga ikut saja, dan kalau bisa... Misa juga ingin berkunjung ke makam Ayah, bunda, Misa. Apa boleh?" Romisa menanyakan pada Ayah putra.


Ayah Putra mengangkat wajahnya yang sudah terlihat ceria, tak semurung tadi. "Tentu boleh."


Annisa yang sedang memotong pancake. Ia melirik Ayah putra dengan ragu. "Apa Annisa juga bisa berkunjung ke makam, Mama, Papa, Annisa?"


Ayah putra beralih menoleh ke Annisa dan tersenyum. "Boleh menantu kedua. Kita sekeluarga akan berkunjung ke makam keluarga kita."


Annisa tersenyum senang. "Makasih Ayah," girang Annisa yang di balas anggukkan kepala oleh Ayah Putra.


"Baiklah, setelah sarapan kita bersiap, dan langsung berangkat ke sana. Tapi mungkin kita harus menginap di hotel, karena perjalanan ke sana saja memakan waktu 4 sampai 5 jam. Ya sekalian liburan keluarga juga." Tutur Arga setelah meminum jus apel.


"Boleh," ucap setuju Ayah putra dan Romisa.


Untung Aku libur dua hari, jadi tidak mengganggu tugas ku jadi bidan. Ah, iya Rika...


Annisa memegang lengan Egi. "Egi, kebetulan Rika juga lagi libur. Jika aku mengajaknya boleh tidak?" Bisik Annisa dekat telinga Egi.


Egi tersenyum, mengusap bibir Annisa yang basah oleh cairan jus. "Boleh sayang, biar si Jhon ada temannya dan tidak mengganggu kita."


Annisa tersenyum ceria. "Jadi kamu akan mengajak kak Jhon juga?" girangnya.


"Iya, aku malas nyetir jika perjalanannya jauh," jawab Egi mengusap puncuk kepala Annisa.


Annisa mengangguk. "Boleh juga, biar mereka lebih dekat," gumam Annisa, mengambil kembali garfu yang sempat di letakkannya tadi untuk menyuapkan potongan pancake ke mulut.


Fatih yang sedari tadi hanya menggerakkan kepala ke sana kemari, memperhatikan pembicaraan keluarga. Ia menatap kedua orang tuanya yang ada di sebrang meja.


"Mama, Papa, lagi ngomongin Apa? Kok Atih nggak di ajakin ngobrol, kan Atih juga ingin ikutan ngobrol," rajuk Fatih di sela kunyahan nya.


Romisa tersenyum geli. "Fatih akan bertemu nenek, kakek dari Mama. Itu yang sedang kami obrolkan."


Seketika Fatih meletakkan garfu dan sendok ke piring, Ia memajukan badan ke depan saking girangnya. "Benar Pa?" tanya Fatih pada Arga yang ada di sebrang meja di hadapannya.


Arga mengangguk kemudian menatap sebal. "Kembali duduk yang benar. Dan habiskan makanan mu, jika tidak habis. Papa akan tinggal kamu di rumah sendirian," ancam Arga.


"Huh, iya Atih habiskan Papa," Fatih kembali ke posisi duduknya dan segera melahap makananya.


"Soal Asyila, nanti biar Aku yang kabari agar ikut." Ucap Arga pada Ayah putra yang di balas anggukkan kepala.


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...

__ADS_1


__ADS_2