
Pagi hari telah tiba, suara adzan subuh berkumandang sangat indah dari masjid terdekat perumahan itu.
Perlahan annisa mengerjapkan mata nya dan mengucek dengan punggung tangan, ia menetralkan napas dan kesadaran jiwa nya untuk kembali ke alam nyata. Dengan gerakan pelan, annisa bangkit dari tiduran nya dan merentangkan kedua tangan, untuk melemaskan otot otot tangan yang kaku karena semalaman tertidur.
Annisa masih memejamkan mata saat terbangkit dari tiduran nya. "Hoaamm..." menguap dan segera menutup dengan satu telapak tangan.
Setelah cukup meregangkan otot otot dan kesadaran nya telah kembali, annisa membuka mata lebar lebar, seketika alis nya berkerut bingung dan melihat sekitar.
"Eh, kenapa aku bisa tidur di kasur. Bukannya semalam aku tidur di karpet." Heran annisa mendapati diri nya di kasur, lalu tersadar kembali jika kepala nya tidak memakai kerudung.
"Terus sejak kapan kerudung ku lepas yah, perasaan sewaktu malam, ketika mau tidur aku masih pakai kerudung," bingung annisa.
Menghela napas panjang, "ah, mungkin saja aku lupa sewaktu semalam membuka nya. Lebih baik aku segera membersihkan diri, dan membangunkan s egi untuk shalat subuh bareng." Gumam annisa.
Lalu, annisa menurunkan kedua kaki nya dari ranjang. Karena ranjang nya yang begitu tinggi, sehingga annisa tidak melihat ke bawah saat menginjakkan kaki.
"Aarrrgh..." pekik egi yang ada di bawah ranjang, terbangun akibat ada sebuah kaki menginjak tangan nya.
Annisa melirik ke bawah kaki yang terasa menginjak sesuatu yang bukan karpet. "Egi.." celetuk annisa membulat kan mata.
Egi membuka mata nya dan langsung melirik tajam ke annisa, "kau menginjak tangan ku. Tidak kah kau lihat aku ada di sini brandal," teriak egi kesal kemudian melirik tangan nya yang masih di injak annisa.
Segera annisa memindahkan kaki nya dan merunduk memeriksa tangan egi. "Maaf aku nggak sengaja, dan aku nggak tahu juga jika kau tidur di sini. Biasanya kan kau tidur di ruang belajar, kenapa sekarang tidur di sini?" Seloroh annisa sembari mengusap usap tangan egi yang merah akibat ulah nya.
Ada senyuman tersembunyi dari bibir egi, saat di perhatikan oleh annisa.
Bangkit dari tiduran dan duduk, "semalam aku tidur di ranjang, hanya saja kau datang dan berteriak keras meminta ku menggeser tidur." Bohong egi.
Annisa mengalihkan pandangan nya dari tangan egi dan mendongak menatap egi, "berteriak, meminta menggeser? Maksud mu, aku tidak mengerti?"
__ADS_1
Menarik tangan dari pegangan tangan annisa, "kau tidak akan mengingat nya, semalam kau ngelindur ingin pindah tidur dari karpet ke atas ranjang, dan dengan galak nya kau mengusir ku agar pindah ke bawah," tutur egi menambah kebohongan nya.
Annisa terlongo menatap ke arah lain dan egi secara bergantian. Ia mencoba mengingat ingat kejadian semalam, apakah benar atau tidak yang di katakan egi.
Benarkah aku seperti itu, tapi kan selama ini aku tidak pernah mengalami tidur sambil berjalan, bahkan sampai ngelindur begitu, mengusir egi segala lagi.
"Percuma kau mengingat nya, tidak akan kau ingat. Karena dalam keadaan tidak sadar begitu, bagaimana kau akan mengingat nya. Sudahlah, aku mau mandi duluan, kau bereskan tempat tidur." Tutur egi dan beranjak dari duduk nya, menuju pintu kamar mandi, meninggalkan annisa yang masih terbengong memikirkan kejadian semalam.
Setelah menutup pintu kamar mandi, egi menyenderkan punggung nya sejenak ke pintu.
"Jelas kau tidak akan mengingat nya, Annisa. Karena aku sendiri yang memindahkan mu ke ranjang," gumam nya kemudian tersenyum.
Sementara annisa di luar kamar, mulai merapihkan tempat tidur bekas egi di karpet, dan bekas diri nya di ranjang.
Tangan annisa terus bergerak, namun pikiran masih melayang memikirkan, apa yang egi katakan pada nya tadi.
---------
Annisa telah selesai membersihkan diri nya dan hendak mengganti pakaian, Ia berdiri di tengah tengah ruang walk in closet.
Lagi lagi alis annisa berkerut heran, melihat perlengkapan wanita yang kembali lengkap dari balik kaca transparan, terlihat aksesoris wanita dan beberapa tas selempang tertata rapih di tempat nya. Ia menggeser lemari pakaian untuk memastikan, pakaian nya juga sudah kembali atau belum.
"Eh, semua pakaian ku kembali lagi. Sejak kapan perlengkapan ku ada di tempat nya kembali? Apa sewaktu semalam, tapi setau ku semalam tidak ada siapa siapa yang masuk ke kamar setelah mbak misa keluar, apa saat aku tertidur yah. Ah, bodo.. yang penting ada pakaian yang bisa aku pakai," ucap annisa kemudian tangan nya menggapai beberapa lembar pakaian yang akan di kenakan nya.
Setelah rapih berpakaian, annisa keluar pintu kamar mandi. Terlihat egi telah memakai sarung, dan mukena untuk annisa telah di siapkan egi di atas kasur, begitu pun dengan dua sajadah telah terbentang di atas karpet sisi ranjang.
Menghampiri egi dan tersenyum, "uuh ganteng nya bocah nakal ku, yuk mulai shalat subuh nya, takut keburu muncul tuh si kuning," ucap annisa sembari memakai mukena.
Masih duduk di atas kasur memperhatikan annisa, "si kuning, Apa itu?" Tanya egi bingung.
__ADS_1
"Caelaah.. matahari lah, apalagi. Oh, iya egi. Perlengkapan ku kok sudah tersedia kembali di lemari, sejak kapan di kembalikan nya, perasaan semalam tidak ada siapa siapa lagi selain mbak misa dan kak arga yang mampir ke kamar ini."
"Kau nya saja kebo, para pelayan datang ke kamar saja tidak sadar dan terdengar," ledek egi kemudian berjalan ke sajadah yang terbentang.
Ikut berdiri di sajadah belakang egi, "bukannya kau yang kebo, kan kau yang susah di bangunin."
"Cih!! Pintar mengelak kau brandal, sudahlah, kau mau ikut jadi makmum tidak?"
"Iyalah. Sudah siap dan cantik gini, nggak lihat sudah berdiri di belakang mu," jawab annisa.
Mendengus dan tersenyum kecil, lalu egi mulai mengangkat kedua tangan nya sembari melafalkan takbir.
Kedua nya shalat subuh berjamaah, dengan egi menjadi imam dan annisa sebagai makmum nya.
Selesai melaksanakan shalat subuh, annisa seperti biasa melipat kembali perlengkapan shalat untuk di kembalikan ke lemari, sementara egi duduk di sofa dekat ranjang, mengamati annisa.
"Jangan kau buatkan kopi, aku akan bertemu ayah," ucap egi beranjak dari duduk nya.
Annisa mencekal sebelah lengan egi yang melewati nya, sehingga langkah kaki egi terhenti, "kau tidak di hukum ayah kan, karena masalah memanggil nama ku seperti itu? Kenapa kau tiba tiba akan bertemu ayah di pagi buta seperti ini?" Tanya annisa.
Menoleh menatap annisa, "tidak, hanya saja ada yang perlu aku bicarakan dengan nya, kau tidak perlu khawatir," ucap egi.
Annisa melepaskan cekalan di lengan egi, "gimana tidak khawatir, kau kan suami ku, jika saja kau sakit lagi karena di hukum ayah, siapa yang paling sedih dan repot, pasti aku kan." Tutur annisa sembari berbalik melangkah ke arah lemari untuk menyimpan perlengkapan shalat.
Tersenyum dan berbalik menuju pintu keluar kamar, "ayah tidak akan menghukum ku brandal. Sudahlah kau siapkan bekal dan jangan lupa sekotak strawberry juga." Ucap egi sebelum diri nya benar benar hilang di balik pintu kamar.
Melihat ke arah pintu kamar, dan menghembuskan napas panjang. "Semoga saja, ayah mertua tidak benar benar menghukum tuh bocah, masa hanya karena masalah nama panggilan saja ia harus di hukum, itu kan hak. Yaa meskipun aku sedikit terganggu sih dengan sebutan brandal nya itu," ucap annisa.
BERSAMBUNG...
__ADS_1