
Keesokan harinya...
Seorang pria jangkung bersama dua orang temannya sedang mengendap-endap sambil mengintip dari balik tembok sebuah rumah mewah. Mereka berjejeran berdiri di sana bagaikan kawanan pencuri.
"Kau sudah gila, ya..." bisik Anita di telinga Zian.
"Apa? Aku tidak memberimu hak untuk protes! Cepat kerjakan apa yang aku perintahkan."
Anita mendengus kesal, merasa bosnya itu benar-benar gila. "Bagaimana aku melakukannya, bodoh!" bentak Anita dalam bisikannya.
"Kau ini seorang Marissa. Anita memang tidak bisa melakukannya, tapi bagi Marissa, ini sesuatu yang mudah." Zian mendorong tubuh Anita, sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Cepat sana!" ucapnya dengan membulatkan mata.
Sambil menunjukkan wajah kesalnya, Anita mendekati gerbang rumah itu, sementara Zian dan Dimas mengamati dari jauh, lalu naik ke mobil.
"Bos, aku merasa kita seperti sedang melakukan kejahatan besar," ucap Dimas dengan matanya yang tertuju pada rumah di depan sana.
"Diam kau! Hanya ini satu-satunya cara yang ku punya. Bedebah itu bekerja sama dengan keong laknat untuk menyembunyikan istriku."
Dimas mengulum bibirnya, menahan tawa yang terasa begitu sulit ditahannya. Bahkan Zian membuat Anita begitu kesal dengan kebodohannya.
Aku benar-benar tidak percaya kalau dia adalah Tuan Maliq yang terkenal mengerikan itu, si mafianya mafia. Haha, kenapa aku merasa dia seperti anak kecil.
Di dalam sana, para penghuni rumah sedang makan malam. Naya masih terlihat tidak bersemangat. Elma memperhatikan adik iparnya itu yang sedang tidak berselera. "Naya, kenapa makanannya hanya diaduk terus?"
"Tidak apa-apa..." jawabnya sambil menundukkan kepala.
"Kau ingin aku buatkan makanan yang lain untukmu?" tawar Elma.
Naya menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak usah, Kakak. Terima kasih! Aku sedang tidak berselera makan."
Dan, bel pun berbunyi, menandakan adanya tamu yang datang. Seorang wanita paruh baya dengan langkah cepat menuju pintu dan membukanya. Anita berdiri di depan pintu dengan menunjukkan senyum.
"Selamat malam, Bibi!" ucap Anita.
"Oh, Nona Anita. Silakan masuk. Mereka sedang makan malam."
Atas perintah Zian, Anita menanggalkan semua perasaan malunya, lalu segera menyusul ke meja makan. Entah hal gila apa yang diperintahkan Zian pada asistennya itu. Anita mengucapkan ribuan umpatan pada bos gilanya itu dalam hati. Walau berat, dia tetap menjalankan perintah itu.
__ADS_1
****
Zian dan Dimas masih menunggu di mobil, sesekali melirik ke gerbang itu, berharap Anita segera muncul dari sana.
"Bos, kau yakin monster betina itu mampu melakukan tugas itu dengan baik?" tanya Dimas.
"Tentu saja. Kau belum mengenal Anita. Kalau aku sudah memberinya tugas, walaupun berat, dia akan tetap menjalaninya. Itulah kenapa aku sangat mengandalkannya," jawab Zian dengan percaya dirinya.
"Aku pikir dia hanya mampu mengancam orang dengan senjatanya, ternyata melakukan pekerjaan seperti ini juga bisa, ya?" kata Dimas heran. Baginya Anita adalah monster yang bersembunyi di dalam tubuh seorang wanita cantik dan anggun.
Beberapa jam kemudian, sosok Anita muncul dari balik gerbang kokoh itu dengan wajah merengut. Terlihat jelas, wanita itu benar-benar kesal dengan titah sang raja dalam hidupnya. Ya, Zian adalah raja dalam hidup Anita, dan dia seorang budak setianya.
Anita naik ke mobil dan membanting pintunya dengan keras, membuat Zian dan Dimas terlonjak kaget.
"Ba-bagaimana? Kau berhasil?" tanya Dimas takut-takut.
Anita hanya menatap kesal pada Zian yang duduk di kursi belakang, lalu kembali turun dari mobil. Wanita itu berjalan ke arah pintu mobil di sebelahnya.
"Turun!" perintah Anita pada Dimas yang duduk di kursi kemudi. "Aku bilang kau turun!" teriak Anita lagi.
Zian buru-buru mengikat sabuk pengaman di tubuhnya begitu merasa ada gelagat mencurigakan, laki-laki itu benar-benar pandai menebak apa yang akan dilakukan Anita untuk membalasnya.
Anita menyalakan mesin mobil, dan seketika aura dalam mobil itu berubah horor.
"Kenapa suasananya jadi mencekam begini?" ucap Zian seraya berpegangan pada gagang pintu mobil.
Tanpa aba-aba, Anita menginjak gas dalam, membuat Zian dan Dimas terlonjak kaget. Dimas yang belum memakai sabuk pengaman terbentur di kaca mobil itu.
Sedangkan Zian di belakang, berpegangan pada jok dan gagang pintu. Karena kesal dengan perintah Zian yang seolah merobek harga dirinya, Anita membalas dengan mengerjai sang bos.
"Apa yang kau lakukan? Kau ingin kita mati? Bos, kalau kita mati, rencanamu akan gagal." kata Dimas terputus-putus karena terus terbentur di kaca jendela mobil.
"DIAM KAU DIMAS" teriak Anita "aku tidak memintamu bicara."
Mobil itu terus melaju dengan kecepatan super tinggi, layaknya film-film mafia di luar negeri yang sedang main kejar-kejaran dengan polisi. Sedsngkan Zian, tetap diam di belakang berpegangan erat agar tidak ikut terlempar. Dia membiarkan Anita melampiaskan kekesalannya.
Akhirnya, mobil itu berhenti tepat di depan gerbang rumah Zian. Anita menginjak rem mendadak, membuat wajah Dimas menyatu dengan kaca mobil depan. Anita pun menghela napas lega, setelah melampiaskan kemarahannya pada sosok bosnya itu.
__ADS_1
"KAU WANITA GILA!!!" teriak Dimas. Anita yang kesal langsung mengeluarkan senjata dari saku blazernya. "Baiklah, baiklah, ampuni aku!" Dimas menahan tangan Anita yang memegangi saku blazernya.
Zian menghela napas lega seraya mengusap dadanya, setelah tadi jantungnya seperti akan melompat keluar. "Bagaimana? Kau berhasil?" tanya Zian tanpa rasa berdosa.
Anita tidak menjawab, namun kekesalan yang tergambar di wajahnya benar-benar dapat menjelaskan bahwa wanita itu berhasil mengerjakan tugasnya.
Zian tersenyum puas, lalu mengacungkan jempolnya, sesekali kekehan kecil keluar dari mulutnya. Kegilaaan Zian kali ini telah menembus batas kewajaran untuk ukuran manusia normal. Bagaimana mungkin Tuan Malik yang mengerikan itu punya ide gila semacam itu.
Laki-laki itu kemudian melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya.
"Beberapa jam lagi. Aku jadi tidak sabar," ucap Zian dengan senyum misteriusnya.
Anita menyahut dengan kesalnya, "Ya, kau yang gila tapi kami yang harus minum obat."
*****
Pagi harinya,
Kepanikan luar biasa terjadi di rumah keluarga Azkara. Fahri baru saja memarahi semua penjaga yang bertugas di rumahnya. Bagaimana mungkin rumahnya yang dijaga 24jam oleh para petugas keamanan bisa kebobolan penculik.
Pagi itu, Naya menghilang tanpa jejak dari rumah itu. Evan yang sedang memeriksa rekaman cctv tiba-tiba menggeram begitu menyadari semua cctv tidak berfungsi sejak semalam.
"Kakak, sepertinya ada sabotase disini. CCTV-nya tidak ada yang berfungsi satupun sejak semalam." Evan melaporkan temuannya dengan panik. Fahri mengerutkan alisnya mendengar laporan Evan.
"Apa mungkin Naya diculik seseorang? Tapi siapa? Bukankah satu-satunya orang yang punya kemungkinan melakukan itu hanya Marvin?"
Fahri kembali menatap semua petugas keamanan yang berjejeran di depannya. Raut wajahnya penuh kemarahan. "Apa yang kalian lakukan semalaman? Kenapa tidak ada satupun dari kalian yang menyadari kejadian semalam?"
Semua petugas itu hanya saling melirik, tidak ada yang berani bersuara. Semalam, mereka semua ketiduran di pos sampai pagi. Dan, untuk pertama kalinya melihat sang majikan yang terkenal sangat ramah dan baik hati itu dalam keadaan sangat marah. Sungguh hal itu membuat mereka bergidik ngeri.
"Cepat hubungi Zian!" perintah Fahri pada Evan.
Evan pun segera menghubungi Zian, namun setelah menghubungi nomor telepon beberapa kali, tidak juga tersambung.
"Kak Zian tidak bisa dihubungi," ujar Evan. "Ya ampun, aku tidak bisa bayangkan akan semarah apa dia jika tahu Naya hilang."
***
__ADS_1
Bersambung
Coba tebak apa yang terjadi 😂😂😂