
"Sayang... Ayo kita masuk!"
Kenapa kau masih memanggilku sayang? Padahal kau mau menyerahkanku pada bos gila itu.
Dengan sangat terpaksa, Naya melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. Beberapa orang pelayan menyambutnya dengan hormat. Naya pun merasa risih dibuatnya.
Dia menatap setiap bagian rumah itu yang menurutnya mirip seperti sebuah istana.
Rumah ini bahkan seperti istana. Lebih besar dan lebih mewah dari rumah Kakak Fahri.
Seorang pelayan kemudian menuntun mereka memasuki sebuah ruangan yang sudah disiapkan. Jantung Naya pun dibuat semakin berdetak kencang. Dia terus memegangi lengan suaminya dengan kencang, seakan tidak ingin dilepaskan.
Matanya seketika terbelalak melihat siapa yang ada di rumah itu. Ada Fahri, Elma, Evan dan Rafli, serta si kecil Kay yang sedang tersenyum kearahnya. Dimas dan Anita juga ada disana.
"Selamat datang!" ucap Mereka bersamaan dengan kompaknya. Naya yang keheranan hanya bersembunyi di balik lengan Zian. Dia belum melepaskan cengkaraman tangannya dari lengan sang suami. Begitu melihat Zian, Kay langsung berlari menuju paman kesayangannya itu, lalu memeluknya.
"Om Zian darimana? Kenapa Om Zian lama tidak pulang?" tanya bocah polos itu.
"Maaf, Om-nya sibuk. Sekarang sudah pulang, kan..." jawab zian. Naya pun kembali keheranan melihat interaksi Zian dan Kay.
Kay mengenal Zianku? Kenapa mereka terlihat sangat dekat?
"Kenapa mereka ada di rumah ini?" Naya berbisik di telinga Zian yang sedang menggendong Kay.
"Mereka mau menyambutmu..." jawab Zian seraya tersenyum. "Aku kan sudah bilang, mulai hari ini kau akan tinggal di rumah ini."
Naya semakin dipenuhi pertanyaan dalam benaknya. Fahri dan Elma kemudian mendekat pada Zian dan Naya. Elma memeluk Naya dan mengusap kepalanya dengan sayang.
"Selamat datang, adik manisku... Maaf aku tidak menjemputmu di rumah sakit. Aku sibuk mempersiapkan penyambutanmu."
"Kakak... Apa ini? Aku tidak mengerti... Kenapa kalian ada di rumah bos gila itu?" Ucapan Naya yang polos itu membuat Fahri tersendak udara. Dia kemudian melirik Zian, lalu memberi kode. Zian hanya menjawab dengan mengedikkan bahunya.
"Bos gila?" Elma menatap Naya bingung, lalu sekilas melirik Zian. Sedangkan Naya langsung menutup bibirnya dengan jarinya.
Hanya Evan yang tahu betul mengapa Naya menyebut bos Kia group dengan sebutan bos gila. Kekehan kecil pun keluar dari mulut Evan. Dia melirik Zian dengan tatapan meledek.
"Bos gila, hahaha...." Evan bicara dengan suara pelan dan langsung mendapat pelototan mata dari Zian.
Naya melirik ke sana kemari mencari objek yang sebenarnya tidak ingin dia lihat. Bos gila yang membuatnya hampir gila itu entah dimana rimbanya. Dia benar-benar takut untuk bertemu dengan orang menakutkan itu. Naya pun kembali mendekati Elma dan berbisik, "Kakak, dimana pemilik rumah ini?"
"Pemilik rumah ini?" tanya Elma bingung. "Ini rumahmu, Naya. Mulai hari ini kau adalah pemilik rumah ini..." jawab Elma, seketika wajah Naya sudah berubah pucat, ketakutannya semakin menjadi-jadi. Gadis polos itu benar-benar tidak bisa diajak main teka-teki.
"Aku mau pulang," gumamnya pelan dengan mata berkaca-kaca.
"Pulang kemana, rumahmu di sini..." ucapan Elma malah semakin menakuti Naya. "Ayo duduklah, aku sudah memasak makanan yang enak untukmu..."
Elma membawa Naya duduk di kursi bersebelahan dengan Zian. Naya terus menundukkan kepalanya, gadis itu begitu takut jika nanti benar-benar bertemu dengan sang pemilik rumah. Seseorang yang dia pikir akan merebut dirinya dari Zian.
Apa aku kabur saja dari sini. Aku ingin pergi dari rumah ini.
Naya mengarahkan pandangannya kesana kemari. Sesaat kemudian matanya menangkap objek yang membuat jantungnya semakin tidak karuan. Naya baru menyadari foto-foto yang menggantung di dinding ruangan itu.
__ADS_1
Kenapa ada foto Zianku dengan Kak Fahri di sana. Seperti sebuah foto keluarga. Dan anak laki-laki itu sangat mirip dengan Evan. Tunggu! Apa jangan-jangan... Dulu Kak Fahri pernah bilang, dia punya dua adik laki-laki, jika yang bungsu adalah Evan, apa Zianku adalah adik tengahnya?
Naya menatap orang-orang yang berada di ruangan itu dengan bingung. Lalu kemudian teringat sesuatu.
Apa jangan-jangan Zianku sebenarnya adalah bos gila itu? Ya, aku baru ingat, nama gadis yang dicintai Zianku itu adalah Kia.
Rasanya Naya mau pingsan menyadari semua itu. Dia melirik Zian yang sedang duduk dengan santainya sambil menyantap makanan yang telah disiapkan Elma untuk mereka.
Elma mengambilkan menu makanan untuk Naya dan meletakkan di piringnya. "Ayo, makan!"
Naya tidak menyahut, pikirannya melayang jauh di sana.
Berarti benar, Zianku sebenarnya adalah bos gila itu. Kenapa aku tidak pernah menyadarinya? Dan Kia... Dia adalah gadis yang dicintai Zianku. Dia membuat sebuah perusahaan raksasa yang diberi nama Kia group, sebagai bukti cintanya pada Kia. Lihat! Piring makannya saja ada logo Kia... Aku benar-benar menyedihkan. Suatu hari nanti kalau dia menemukan Kia, dia pasti akan membuangku ke jalan.
Naya menatap makanan itu dengan perasaan sedih. Sungguh, jika di suruh memilih, Naya akan memilih Zian benar-benar hanyalah seorang montir biasa. Bukan seorang penguasa seperti bos Kia Group. Naya lebih suka Zian yang berpenampilan biasa dengan skincare oli di wajahnya, bukan seorang pria dengan jas hitam.
Suasana makan siang itu pun menjadi hangat, namun sangat berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Naya. Dia merasa tercekik di antara orang-orang itu.
"Naya, aku mau tanya..." Evan menyela di tengah makan siangnya, Naya mengalihkan pandangannya sesaat menatap Evan. "Apa yang kau lihat dari Kak Zian... Bukankah dia terlalu tua untukmu?"
Pertanyaan Evan yang bermuatan sindiran itu membuat Zian naik pitam, " Apa maksudmu?" tanyanya dengan raut wajah emosi.
"Coba lihat kenyataan, Naya masih sangat muda dan cantik... Sedangkan Kak Zian... Ckckck... Sekarang berapa usiamu, Kak?" tanya Evan membuat Rafli tersendak makanan. Dia ingin tertawa, namun wajah Zian yang tidak bersahabat membuat nyalinya menciut.
"Naya, jangan pedulikan keong kembar itu." ucap Zian lalu memelototkan matanya menatap Evan dan Rafli. Mulutnya komat kamit seperti sedang membaca mantra kutukan.
Fahri mengulum bibirnya menahan tawa, "Naya... Kau belum tahu, kan... Zian adalah adik tengahku, dan Evan adik bungsu kami." Fahri kemudian menjelaskan banyak hal pada Naya. Semua yang Naya belum ketahui tentang keluarga itu.
Aku lebih suka Zianku yang dulu. Aku lebih suka rumahnya yang sederhana itu. Rumah ini isinya semua tentang Kia. Wanita yang menjadi Kia itu pasti akan sangat bahagia, ada seseorang yang begitu mencintainya seperti Zianku. Kenapa hatiku sakit memikirkannya?
"Ada apa demganmu? Sejak tadi kau diam... Apa kau sakit?" tanya Zian seraya menempelkan punggung tangannya di kening sang istri, ingin memastikan sendiri suhu tubuhnya. "Tidak apa-apa..." gumamnya.
Setibanya di kamar itu, Naya mengedarkan pandangannya. Kamar luas dan mewah itu tidak membuatnya bergeming. Wajah suramnya mewakili perasaan sakit hatinya.
Zian kemudian mendudukkan Naya di pinggiran tempat tidur itu, lalu berjongkok di depannya. "Jadi kau masih berpikir aku mau menjualmu pada bos gilamu itu?"
Naya menggelengkan kepalanya pelan, "Jadi kau adalah bos gila itu ya..."
"Maafkan aku... Aku menyembunyikan identitasku yang sebenarnya darimu."
Bukan itu yang membuatku sedih, aku tidak pernah peduli tentang statusmu. Tapi bagaimana dengan seseorang bernama Kia. Kalau aku tinggal di sini, hatiku akan kembali sakit. Aku akan hidup dalam bayang-bayang orang lain...
"Boleh aku minta sesuatu?" Naya memberanikan diri bertanya.
"Katakan!"
"Aku mau tinggal di rumah lamamu saja. Aku tidak mau tinggal di sini." Cairan bening kembali menggenangi kelopak matanya. Zian kemudian menghapus setitik air mata yang telah jatuh membasahi pipi istrinya itu.
"Kenapa? Kau tidak suka rumah ini?" Naya mengumpulkan keberaniannya untuk mengeluarkan isi hatinya. Hingga dia benar-benar merasa tenaganya cukup untuk memaki Zian.
"Enak sekali kau bertanya... Kau ingin menunjukkan padaku betapa kau sangat mencintai Kia-mu itu, kan? Lihat rumah ini! Semuanya isinya tentang Kia. Bahkan piring makanmu saja ada nama Kia di sana. Dan kau ingin aku tinggal di rumah yang isinya hanya tentang kau dan cintamu itu. Lalu bagaimana denganku? Aku sangat menyedihkan... Kenapa kau membuatku bahagia dengan datang menyelamatkanku seperti seorang pahlawan, saat aku disekap Marvin, tapi sekarang lihat apa yang kau lakukan. Kau membawaku ke sebuah rumah besar yang isinya penuh dengan kenanganmu. Lalu setelah kau menemukan Kia-mu itu, kau akan membuangku dan membawa Kia ke rumah ini? Iya kan? Begitu kan?"
__ADS_1
Zian menahan tawanya menatap Naya, "Sudah?"
"Ap-Apa?"
"Aku tanya, apa kau sudah selesai bicara? Sudah keluar semua?" tanya Zian yang masih dengan posisi berjongkoknya. "Kau benar-benar pintar, Sayang...!! Sekarang kau benar-benar tahu betapa aku sangat mencintai Kia-ku..."
Iya, kan? Dia bahkan terang-terangan mengakui cintanya pada Kia di depanku. Betapa malangnya aku...
"Kau tahu Naya... Kia adalah gadis yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia adalah cinta pertamaku. Pertama kali aku melihatnya, aku merasa menemukan bagian dari diriku yang hilang. Tapi saat itu juga aku kehilangannya. Aku mencarinya selama lima tahun. Sampai akhirnya aku menemukannya,"
Apa? Dia sudah menemukan Kia? Lalu bagaimana denganku? Aku benar-benar tidak penting baginya. Dia menyampaikan padaku betapa dia mencintai Kia tanpa beban, bahkan wajahnya sangat bahagia mengatakannya. Kau sangat menyedihkan Naya.
Air mata yang mengalir di pipi gadis itu semakin deras. Sakit hatinya sekarang lebih daripada saat Zian mengabaikannya.
"Aku mau pergi saja!" Karena tidak tahan lagi, Naya memilih bangkit dari posisi duduknya, namun Zian kembali menahannya.
"Kau mau kemana?" tanya Zian seraya memegangi tangan Naya.
"Aku mau pergi! Bukankah kau sudah menemukan Kia-mu? Lalu untuk apa aku di sini?" ucapan Naya yang polos itu membuat Zian terkekeh geli. Zian berdiri dari duduknya, lalu membuka laci meja yang berada di samping tempat tidur itu. Dia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil dan kemudian memberikan kotak itu pada Naya.
"Apa ini?" Naya mengambil kotak itu dari tangan Zian.
"Buka saja. Kau akan tahu setelah membukanya..."
Ragu-ragu, Naya membuka kotak kecil itu. Dan, kejutanpun terjadi manakala matanya menagkap sebuah benda miliknya yang sudah lama hilang. Bahkan Naya telah melupakan benda itu. Sebuah kalung bertuliskan inisial namanya, kalung yang merupakan peninggalan mendiang ibunya. Naya tidak dapat lagi menahan air matanya.
Zianku... Jadi Kia itu adalah aku... Kia adalah inisial namaku. Zianku adalah kakak yang saat itu berlari ke arahku dan menyelamatkanku, kan?
"Apa? Kenapa kau malah menangis? Sekarang kau tahu kan... Betapa besarnya aku mencintaimu."
Naya membeku, seakan belum percaya dengan semua kejutan itu. Zian duduk di sampingnya dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku... Aku kehilangan jejakmu saat itu. Aku mencarimu selama berminggu-minggu, tapi aku tidak menemukanmu, sampai akhirnya kejadian itu, hari dimana aku menembakmu. Dan saat melihat wajahmu, aku baru menyadari bahwa kau adalah gadis yang aku cari-cari. Maaf, aku meninggalkanmu saat itu. Aku akan menyesali hari itu seumur hidupku.
"Dan kebodohanku karena pertama kali kau datang padaku sebagai Naya, aku tidak mengenalimu lagi. Aku hanya mengingat Kia, gadis kecilku yang polos."
"Kenapa kau tidak mengenaliku? Naya yang berusia 15 tahun masih sama dengan Naya yang berusia 19 tahun."
"Kau sangat berubah. Kia-ku hanya seorang gadis kecil yang begitu polos, sementara takdir membawamu padaku setelah empat tahun sebagai Naya, seorang gadis yang sangat cantik tapi menyebalkan."
Naya terkekeh sambil menjatuhkan air matanya mendengar ucapan Zian. Saat pertama kali bertemu setelah empat tahun, Naya berubah menjadi seorang gadis yang sangat cantik, membuat Zian tidak dapat mengenali wajah polos Kia.
Naya pun membenamkan wajahnya di dada Zian.
"Sejak kejadian itu, aku memutuskan meninggalkan dunia hitamku. Lalu mendirikan Kia Group. Nama Kia itu aku ambil dari kalungmu yang entah kenapa bisa ada di tanganku malam itu. Maafkan aku! Aku butuh waktu yang sangat lama untuk menemukanmu..."
Zian menangkup wajah Naya, lalu mendekatkan wajahnya, semakin lama semakin dekat, hingga bibirnya berhasil menempel sempurna dengan bibir tipis Naya. Setelah beberapa saat kemudian, Zian melepaskan ciuman itu. Wajah keduanya telah merona malu. Ciuman itupun menjadi yang pertama bagi keduanya.
Dua manusia bodoh yang sama-sama kaku itu hanya mampu menahan malu dan berusaha menutupi rona merah wajahnya.
****
__ADS_1
Bersambung
Terima kasih yang sudah meninggalkan like dan komen....