Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Tidurlah Nayaku...!


__ADS_3

Mobil yang di tumpangi Zian terus melaju membelah jalanan malam itu dengan kecepatan tinggi. Ada beberapa mobil serupa di belakangnya, yang di tumpangi pria berseragam hitam berlogo huruf Z. Anita mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menuju lokasi dimana Naya berada.


Dimas yang satu mobil dengan Anita dan Zian berdecak heran melihat banyaknya pengawal yang ikut dalam rombongan itu. Dia kemudian melirik wajah Zian yang penuh dengan kekhawatiran walaupun dia berusaha tetap bersikap tenang. Namun, raut kecemasan itu tetap terlihat.


Selang hampir satu jam menempuh perjalanan, mereka memasuki sebuah area hutan yang lebat dengan pepohonan tinggi di kanan dan kiri.


"Anita, kenapa aku tidak tahu kalau Alex punya villa di daerah ini?" tanya Zian saat melihat tempat yang asing itu.


"Aku juga belum pernah kemari," jawab Anita. "Berhati-hatilah, mungkin mereka disana dalam jumlah banyak. Dimas, di bawah jok yang kau duduki ada beberapa senjata, ambillah salah satunya untuk berjaga. Setiap mobil berlogo huruf Z ada senjata masing-masing di dalamnya. Jika dalam keadaan genting, ambillah senjata dari sana."


"Ba-baik..."


Ya Tuhan... Apakah mereka semua ini mafia? Kenapa aku baru sadar? batin Dimas.


Tidak lama, mereka memasuki sebuah gerbang besar. Zian menatap bangunan besar itu dengan perasaan tidak menentu. Pikirannya hanya menemukan Naya dalam keadaan hidup.


Tuhan, jagalah Nayaku yang sedang berjuang melawan sakitnya di dalam sana. batin Zian.


Sekelompok pria yang berjaga di depan villa itu langsung menghalau seraya menodongkan senjata pada beberapa mobil yang memasuki area itu. Dengan cepat, para pria berseragam hitam turun dari mobil. Zian, pun segera turun dari mobil itu.


Saat Anita hendak turun, Dimas menahannya. "Kenapa kau tidak di mobil saja, kau kan wanita, kalau kau terluka bagaimana?" ucap Dimas seraya memegangi lengan Anita.


"Lepaskan aku! Aku bahkan sanggup membunuh 100 pemuda sepertimu!" ucap Anita lalu melepas genggaman tangan Dimas.


Dasar mafia... Dia lebih mengerikan dari bos. batin Dimas.


Terjadilah adegan perkelahian antara para pengawal Marvin dan pengawal Anita yang jumlahnya hampir sama. Terdengar beberapa kali suara tembakan mengagetkan Naya yang sedang terbaring tak berdaya.


"Zianku... Aku takut," gumam Naya seraya terisak.


Naya yang begitu trauma dengan suara itu menutup rapat telinganya. Dia sangat ketakutan setiap kali mendengar suara tembakan yang membuatnya teringat saat dirinya mengalami penembakan lima tahun lalu.


"NAYAAA!!!" teriak Zian memanggil nama sang istri. Sayup-sayup Naya dapat mendengar suara yang memanggil namanya. Suara seperti teriakan Zian.


"Zianku, apa itu itu suaranya, apa dia ada disini?" Naya berusaha bangun dari posisi berbaringnya, lalu turun dari tempat tidur. Dia menyeret langkahnya yang gontai lalu menyandarkan tubuhnya di jendela, dia mengarahkan pandangannya ke bawah sana.


Beberapa kali gadis itu mencoba menajamkan penglihatannya yang buram. Hingga dia melihat seorang pria yang dia yakini adalah Zian, sedang berkelahi dengan beberapa pria. Matanya yang sayu kembali berbinar, untuk pertama kalinya, senyum kebahagiaan terlihat di sudut bibirnya yang pucat itu.


Naya mengusap air matanya yang menetes di wajah tirusnya, "Itu Zianku... Dia datang untukku, kan?" gumamnya. Naya kemudian mengarahkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu, mencari tasnya. "Di-dimana tasku?"


Hingga dia melihat tasnya yang berada di bawah meja. Naya lalu menyeret langkahnya menuju meja itu dan membungkuk mengambil tasnya. Dia duduk di kursi dan berhadapan dengan sebuah cermin. Gadis itu mengambil peralatan make up-nya dari dalam tas itu.


Aku tidak mau Zianku melihat wajahku yang pucat ini. Aku ingin terlihat cantik di depannya, walaupun mungkin ini akan jadi pertemuanku yang terakhir dengannya.


Dengan tangan bergetar, dia berusaha memoles wajahnya dengan make up itu, sementara air matanya terus berjatuhan.


***


Marvin yang mendengar keributan dari arah depan itu segera mengambil senjata dan keluar dari kamar, dia segera menuju ke halaman depan. Namun, saat melewati sebuah lorong panjang, ada Zian yang berdiri di depan sana, menatapnya dengan tatapan membunuh. Zian mengepalkan tangannya, lalu melangkahkan kakinya mendekat pada Marvin.


Marvin yang begitu terkejut melihat kedatangan Zian langsung menodongkan senjatanya pada Zian.

__ADS_1


"Berhenti di situ atau aku akan menembakmu!" ucap Marvin. Namun, Zian tidak gentar sedikitpun. Dia terus melangkah maju, tidak peduli jika Marvin akan benar-benar menembaknya.


"Dimana istriku?" tanyanya dengan wajah datar seraya terus melangkah tanpa rasa takut. "KAU TIDAK DENGAR AKU BERTANYA, DIMANA KAU SEMBUNYIKAN ISTRIKU?" Zian berteriak ketika Marvin diam saja dengan senjata di tangannya.


"Kenapa kau begitu mengkhawatirkannya, Maliq... Bukankah kau tidak mencintainya? Kau sedang menunggu gadis dari masa lalumu. Kau sedang menunggu Kia mu, kan? Jadi serahkan saja Naya padaku!" Zian semakin geram mendengar ucapan Marvin, sejenak Zian menghentikan langkahnya, kemudian membuang senjatanya ke lantai, "Hadapi aku dengan tangan kosong! Kau menginginkan Nayaku? Langkahi dulu mayatku!"


Marvin terkekeh mendengar ucapan Zian yang seolah menantangnya, dia kemudian menjatuhkan senjatanya ke lantai. Terjadilah perkelahian antara Zian dan sahabat lamanya itu, yang mungkin akan menjadi musuh setelah hari itu.


Karena sedang dikuasai emosi, Zian terus menghajar Marvin tanpa ampun. Hingga Marvin jatuh ke lantai. Zian lalu menarik kerah kemeja Marvin dengan kasar.


"Kau tahu, Nayaku adalah Kia. Dia yang aku tembak lima tahun lalu. Kau ingat, bagaimana dia kesakitan dan kita meninggalkannya di jalan begitu saja? Dan sekarang kau ingin mengambilnya dariku? Walaupun aku harus membunuhmu, akan ku lakukan untuk melindunginya!" ucap Zian membuat Marvin tercengang. Dia belum percaya pada ucapan Zian barusan. Zian pun kembali menghujaninya dengan tinju berkali-kali.


Anita dan Dimas kemudian datang dan memegangi lengan Zian, "Bos, kau carilah Naya. Dia biar kami yang urus," ucap Dimas. Zian lalu mengambil senjatanya yang berada di lantai lalu bergegas mencari Naya ke setiap kamar yang ada di sana. Zian terus berteriak memanggil nama istrinya itu.


Sementara di dalam kamar, Naya masih memoles wajahnya. Penglihatannya pun menjadi semakin tidak jelas, sehingga make up yang ada di wajahnya menjadi berantakan kemana-mana. Namun, dia tetap terus menghiasi wajahnya dengan make up itu.


Pintu ruangan itupun terbuka. Zian menatap Naya yang sedang memoles wajahnya. Air matanya berjatuhan melihat Naya yang memoles wajahnya dengan tangan bergetar. Dia meneliti tubuh Naya dari ujung kaki ke ujung rambut. Naya kini terlihat sangat kurus dengan wajah semakin tirus.


Naya kemudian tersadar akan kehadiran seseorang di ambang pintu. Dia mengalihkan pandangannya dan kemudian terdiam. Air mata Zian semakin mengalir deras melihat wajah Naya dengan make up yang berantakan itu.


Istriku yang malang. Dia pasti berdandan agar terlihat cantik di depanku.


"Naya..." panggil Zian dengan suara lirihnya. Wajah Naya seketika menjadi berbinar mendengar suara Zian memanggilnya.


Sekuat tenaga dia berusaha berdiri dari duduknya, lalu hampir jatuh karena oleng.


"Zi-Zianku..." ucap Naya dengan suaranya yang nyaris seperti tak bertenaga. Dia mengumpulkan kekuatannya untuk tetap berdiri, lalu dengan langkah gontai, dia menyeret kakinya perlahan menuju Zian yang berdiri di ambang pintu.


Saat sudah berhadapan dengan Zian, dia mengangkat tangannya, ingin menyentuh wajah yang tidak dapat dilihatnya dengan jelas itu. Namun, tangannya menggantung karena meleset. Zian lalu meraih tangan kecil itu dan meletakkannya di pipinya, seiring dengan air matanya yang mengalir deras.


Nayapun tersenyum bahagia dalam tangisannya, "Zianku, ini benar dirimu..." ucap Naya.


Sesaat kemudian, Naya tidak sanggup lagi menahan kakinya yang terasa semakin lemah. Tubuhnya terjatuh begitu saja, namun Zian segera menangkap tubuhnya dan membawa Naya duduk di pangkuannya.


Naya yang masih setengah sadar terus menggumamkan nama Zian dengan matanya yang terpejam.


"Ini aku, Sayang... Aku datang untukmu... Untuk membawamu pulang ke rumah kita," bisik Zian seraya memeluk tubuh lemah itu.


Naya kembali membuka matanya perlahan, tatapannya sayu. Dia mengangkat tangannya dan membelai wajah Zian dengan tangan bergetar.


"A-ku sa-ngat ba-hagia, kau mau da-tang ke-mari untuk men-jemputku," ucap Naya dengan suaranya yang hanya terdengar seperti bisikan, sehingga Zian harus mendekatkan telinganya dengan bibir Naya, agar mampu mendengar suaranya dengan jelas.


"Iya, aku datang untukmu, Nayaku..."


"Bolehkah aku tanya sesuatu?" ucap Naya terputus-putus, Zian pun mengangguk dengan cepat.


"Tanyalah, aku akan menjawabnya."


"Apa aku terlihat cantik? Aku ingin selalu terlihat cantik saat bersamamu,"


"Kau adalah wanita tercantik di dunia, sampai aku selalu melarangmu tersenyum. Karena kau sangat cantik saat tersenyum. Aku merasa akan meleleh saat melihat senyummu," jawab Zian.

__ADS_1


Naya pun kembali tersenyum tipis. "Apa boleh aku meminta sesuatu darimu?"


"Mintalah, walaupun kau meminta seluruh isi dunia, aku akan berikan untukmu." Zian membelai wajah Naya yang pucat itu.


"Ma-maukah kau mencium keningku untuk terakhir kalinya? Maukah kau melakukannya untukku?"


Zian tidak dapat lagi menahan rasa sakit di hatinya yang bagai ditusuk ribuan pisau mendengar permintaan Naya. Selama ini tidak pernah sekalipun dia bersikap lembut pada Naya, sehingga Naya begitu haus akan perhatian dan kasih sayangnya.


Zian pun mengecup kening istrinya itu, dalam dan lama. Bersamaan dengan air matanya yang semakin mengalir dengan derasnya, seolah ciuman itu mampu mengalirkan seluruh perasaan cintanya pada Sang Istri yang selama ini diabaikannya.


Naya memejamkan matanya meresapi kecupan Zian di keningnya. Begitu hangat dan lembut. Setitik air matanya jatuh melalui ekor matanya.


Berselang beberapa saat, Zian melepaskan ciumannya, lalu kembali membelai puncak kepala Naya dengan sayang, turun ke wajah. Naya pun tersenyum bahagia mendapat belaian itu.


"Te-ri-ma Ka-sih..." bisik Naya.


"Ayo, kita pulang ke rumah kita. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan selalu memelukmu dalam tidurmu, kita tidak akan terpisahkan lagi," ucap Zian seraya terisak.


"Aku ingin mengatakan sesuatu..." Napas Naya sudah mulai berat, dan tak beraturan.


"Jangan!" lirih Zian, seolah dia telah tahu apa yang ingin diucapkan oleh Naya. "Jangan katakan!"


"Ja-ja-jangan maafkan aku... Aku sudah membuatmu menderita. Aku memaksamu menikahiku, walaupun kau menolak. Aku begitu serakah ingin memilikimu. Aku lupa kalau kau tidak pernah menginginkanku." ucap Naya dengan napas tersengal, suaranya semakin melemah.


Zian kembali memeluk tubuh Naya, tangisannya menggambarkan betapa penyesalannya sangat dalam. Setiap kata yang keluar dari bibir Naya, seperti pisau tajam yang menyayat hatinya.


"Tidak, Naya... Akulah yang salah. Aku tidak menyadari betapa berharganya dirimu. Aku menginginkanmu, sangat! Ayo kita ke rumah sakit dan berobat. Kau akan sembuh, kita akan mulai segalanya dari awal."


"Aku... Sudah tidak kuat lagi... Aku sangat lelah... Izinkan aku tidur di pelukanmu. Aku ingin bersandar di pelukanmu, maukah kau melakukannya untukku? Tolong, peluk aku sekali lagi,"


"Aku akan memelukmu, tidak akan aku lepaskan," ucap Zian seraya memeluk tubuh Naya dengan erat.


Naya pun tersenyum bahagia, menahan rasa sakit yang menggerogotinya. "Aku mencintaimu, Zianku..." lirihnya.


Zian semakin mengeratkan pelukannya, dengan berderai air mata. Dia mengecup puncak kepala Naya berkali-kali.


Naya telah menemukan kebahagiaannya dalam pelukan Zian. Rasa dahaganya akan kasih sayang Zian akhirnya terpenuhi. Dia menikmati pelukan itu dengan perasaan bahagia.


Pelan-pelan, Naya mulai menutup matanya perlahan, dengan bibirnya yang tersenyum tipis. Naya telah merebahkan seluruh ketangguhannya menahan rasa sakitnya dalam pelukan yang begitu hangat baginya.


Zian kembali berbisik di telinga Naya, "Kau akan sembuh, Sayang... Kita akan mulai dari awal, kita akan bahagia. Kita akan punya banyak anak yang lucu. Kau akan jadi istri dan ibu paling bahagia di dunia. Aku berjanji, aku akan selalu membuatmu bahagia." Untaian kata Zian yang indah itu tak lagi didengar oleh Naya yang sudah menutup matanya.


Zian kemudian merasakan Naya tak lagi bergerak, dia melepaskan pelukannya dan menatap wajah pucat Naya. Dia menepuk pipi istrinya itu dengan lembut.


"Naya..." panggil Zian seraga kembali menangis, "Jangan Naya! Jangan hukum aku seberat ini. Aku mohon jangan jatuhkan hukuman ini padaku. Izinkan aku menebus semua kesalahanku dengan selamanya berada di sisimu. Jangan tinggalkan aku, Naya..." Zian kembali memeluk Naya yang masih berada di pangkuannya dengan tangisannya yang pecah memenuhi setiap sudut ruangan itu.


"NAYA...!" Teriakan Zian memanggil nama sang istri terdengar begitu pilu. "Aku mencintaimu, Naya. Aku sangat mencintaimu. Beri aku hukuman lain, tapi jangan tinggalkan aku," lirihnya. "Jangan pergi, Naya!"


Zian terus menangisi Naya yang berada dalam pelukannya. Rasa sakit, sesal bercampur menjadi satu. Naya telah tertidur dengan wajahnya yang polos, bagaikan tanpa beban.


Tidurlah Nayaku... Aku akan selalu memelukmu di dalam hatiku. Maafkanlah semua kesalahanku. Aku akan sabar menunggu waktu yang indah untuk kita bisa bersama lagi. Akulah pengemis yang sebenarnya, yang sedang memohon kepada takdir untuk memberiku hidup. Nayaku, kau adalah hidup dan matiku. Denganmu aku hidup, dan tanpa mu aku merasa telah mati. Tidurlah Sayang....

__ADS_1


*******


__ADS_2