Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 88


__ADS_3

Setelah berkonsultasi dengan sang kakak, Naya dan Zian meninggalkan rumah sakit itu, menuju sebuah restoran untuk makan siang. Sebelumnya, Zian telah meminta Anita memesankan makanan sehat utuk mereka di restoran itu.


Wajah Zian sudah merengut sejak tadi. Bukan apa-apa, dirinya menjadi tumbal omelan sang kakak. Bahkan laki-laki itu merasa sangat kesal pada sang istri yang enggan mengaku bahwa dirinya masih perawan. Bahkan Fahri sempat mengancam akan membawa Naya tinggal di rumahnya sampai benar-benar pulih. Sampai mereka meninggalkan restoran itu, Zian masih menunjukkan wajah merajuknya.


Mobil itu terus melaju menuju suatu tempat, Naya pun kembali bertanya setelah menyadari mereka sedang tidak dalam perjalanan pulang.


"Kita mau kemana? Ini kan bukan jalan pulang ke rumah," tanya Naya sesaat kemudian.


"Jangan banyak tanya, ikut saja!" jawab Zian singkat.


Tidak lama, mereka telah sampai di sebuah butik ternama di kota itu. Begitu masuk, Naya langsung dilayani bagai seorang tamu istimewa. Beberapa pegawai wanita mengajaknya memasuki sebuah ruangan sedangkan Zian menunggu di ruang tamu.


Apa ini? Aku pikir di rumah saja aku dilayani seperti ini. Di sini juga begitu ternyata...


"Nona, ini beberapa gaun terbaik di butik ini yang sudah di pesan Tuan Azkara. Silakan masuk ke ruang fitting dulu," ucap salah seorang pegawai butik itu.


"Baiklah, terima kasih..." Naya mengambil satu gaun berwarna putih tulang kesukaannya dan segera masuk ke dalam ruang fitting.


Tidak lama, gadis itu keluar dari ruang fitting dengan memakai gaun indah itu. Naya duduk di depan sebuah cermin besar, lalu seorang wanita yang berprofesi sebagai Make Up Artist menghampirinya. Mulailah Naya dipoles oleh tangan ahli itu.


Di luar sana, Zian masih setia menunggu di ruang tamu dengan sabar sembari memainkan ponselnya, laki-laki itu sudah berganti pakaian dengan setelan jas formal. Ketampanannya yang sempurna menyihir banyak wanita yang sedang berkunjung di butik itu. Tidak ada yang tahu bahwa laki-laki itu adalah Zildjian Maliq Azkara, sang bos Kia Group. Selama ini, Zian menutup rapat akses media yang ingin mencari tahu tentang dirinya.


Beberapa jam menunggu Naya dirias, tidak membuatnya merasa bosan. Laki-laki itu telah menunggu saat-saat seperti ini sejak beberapa tahun.


Tap Tap Tap


Terdengar suara langkah kaki, Zian mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang berjalan dengan anggun ke arahnya. Naya begitu cantik dengan balutan gaun indah itu, membuat Zian menatapnya tanpa berkedip. Wajahnya bahkan merona merah saking bahagianya.


Kenapa aku baru menyadari betapa cantiknya Nayaku. Kak Fahri benar, dia seorang peri.


"Jelek, ya?" tanya Naya ketika melihat Zian memandanginya tanpa berkedip.


Zian tersadar dari lamunannya, lalu berdehem pelan, "Lumayan cantik, aku suka..." ucapnya kemudian. "kau sudah siap?"


Naya mendekat pada Zian, membuat jantung lelaki itu seperti akan berhenti. Naya pun berbisik pelan, "Memang kita mau kemana? Kenapa kau memesan gaun ini?"


"Aku ada kejutan untukmu malam ini!" ucap Zian seraya mengusap rambut panjang itu. Pertanyaan pun bermunculan di benaknya, tentang kejutan apa yang akan diberikan sang suami padanya.


****


Di mobil, Naya tak henti-hentinya bertanya kejutan apa yang akan diberikan Zian padanya. Namun, Zian tidak menjawab. Laki-laki itu hanya memberi senyuman.


"Ini kan jalan menuju bengkelmu... Apa kita akan kesana?" tanya Naya semakin penasaran.


Zian pun mulai pusing dengan pertanyaan gadisnya itu. "Tenanglah, sejak tadi kau terus bertanya. Kau akan tahu nanti."


Ah, tapi kalau hanya untuk ke bengkel itu, kenapa harus memesan gaun indah ini. Kenapa aku merasa Zianku semakin lama semakin misterius.


Saat tiba di depan rumah Mia, Naya menoleh ke bangunan di depannya, bengkel kecil milik Zian sudah tidak ada di sana. Berganti dengan sebuah bangunan besar dengan logo Kia di depannya.


Mobil mewah yang ditumpangi Zian dan Naya memasuki halaman gedung itu. Seorang pria yang bertugas sebagai kepala keamanan langsung mendekat dan membukakan pintu mobil, ketika melihat mobil dengan plat bertuliskan Kia berhenti di lobby.


Gedung tinggi menjulang itu telah dipadati banyak orang, membuat Naya berdecak heran.


"Ini acara apa?" tanya Naya sambil matanya melirik kesana-kemari.


"Acara ini untuk menyambutmu, sekaligus peresmian gedung Yayasan Kia dan rumah sakit yang baru." Zian menggandeng Naya memasuki gedung itu.

__ADS_1


Saat memasuki gedung itu, semua mata tertuju pada sosok Zian yang pertama kalinya menghadiri sebuah acara dengan menggandeng seorang gadis cantik. Ada yang berdecak kagum, dan ada pula yang saling berbisik. Naya yang merasa canggung karena semua mata tertuju padanya, hanya dapat menyembunyikan wajahnya di belakang lengan Zian.


Kenapa semua orang menatap padaku. batinnya.


Senyum mengembang di bibir gadis itu manakala dia melihat Elma dan Fahri berada di salah satu meja bersama si kecil Kay. Di sudut lainnya ada Anita dan Dimas yang duduk bersama Mia, Evan dan Rafli.


Dan, untuk pertama kalinya, Zian mengizinkan media meliput acara yang diadakan oleh perusahaannya. Selama ini, laki-laki itu tidak pernah memberi ruang pada media untuk meliput di acara yang diadakan Kia Group.


Beberapa petugas keamanan menghalau beberapa pencari berita yang mencoba mendekat pada Zian dan Naya. Zian kemudian membawa Naya duduk di sebuah meja dimana Dimas dan Anita berada.


Malam itu, Rafli bertugas sebagai MC dan akan memandu acara hingga selesai. Acara itu pun di mulai dengan penampilan beberapa artis ibu kota.


"Kau suka acaranya?" Zian berbisik di telinga Naya.


"Suka, acaranya meriah."


Zian menggenggam jemari Naya, wajahnya memancarkan cinta yang begitu besar pada gadis yang duduk di sebelahnya itu. Zian bukannya menikmati acara itu, namun menikmati wajah cantik Naya yang ditatapnya tanpa bosan.


Penampilan pembuka dari beberapa artis itu selesai, Rafli naik kembali ke panggung. Terdengar suaranya memanggil nama Naya untuk naik ke panggung, dan panggilan itu membuat Zian terlonjak kaget.


"Kenapa si keong itu memanggil namamu?" Bertanya dengan wajahnya yang terlihat gusar, padahal dirinyalah yang menginginkan Naya bermain piano di acara itu dan sudah menyampaikannya pada Rafli dari jauh-jauh hari.


"Mungkin dia ingin aku bermain piano seperti waktu itu." Naya sudah berdiri dari duduknya, lalu berjalan dengan anggunnya menuju panggung.


Naya sudah duduk di hadapan piano itu, lalu sekilas melirik Zian di bawah sana yang terus menatapnya, senyum tipis dia hadiahkan untuk suami tercintanya itu. Gadis itu meletakkann jari-jari lentiknya di atas keyboard piano itu. Mulailah dia memainkan jarinya di sana.


Alunan piano yang indah menyatu dengan suara merdu gadis itu. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu berdecak kagum mendengar betapa lembut dan merdunya suara gadis muda yang ada di atas panggung. Naya telah menyihir seisi ruangan itu.


Zian membeku, teringat kembali pertama kalinya dia melihat Naya bermain piano beberapa tahun lalu. Betapa gadis kecil itu mampu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.


Cemburu, itulah yang dirasakan Zian manakala dirinya menyadari beberapa orang pria memandangi istrinya tanpa berkedip. Ada rasa sesal dalam hatinya yang telah menginginkan Naya bermain piano di sana.


Rasanya aku ingin mencongkel mata mereka yang berani memandangi Nayaku seperti itu. Naya hanya milikku! Tidak ada yang boleh menikmati kecantikannya selain aku.


Napasnya menjadi lebih cepat dari biasanya, hidungnya kembang kempis menahan cemburu yang telah naik ke ubun-ubun. Rasanya ingin membawa sang istri pulang ke rumah dan mengurungnya di kamar, agar hanya dirinya yang yang bisa memandangi kecantikan gadisnya itu.


Beberapa orang kemudian menghampiri Zian dan mengajak mengobrol, walaupun sedang kesal, Zian tetap meladeni beberapa tamu yang merupakan relasi bisnisnya itu.


Zian kemudian mengalihkan pandangannya ke pangung. Naya sudah tidak berada di sana., laki-laki itu pun mengedarkan pandangannya kesana kemari hendak mencari sang istri. Namun, kecemburuan kembali menguasai hatinya, Seorang pria yang kira-kira seumuran Evan sedang mendekati sang istri. Mereka terlihat mengobrol di sudut sana.


Pemandangan apa ini... Berani sekali bocah itu mendekati Nayaku.


Alunan musik kembali terdengar, seorang pria yang merupakan karyawan di cafe milik Evan tampil sebagai pembuka selanjutnya. Menyanyikan sebuah lagu yang entah kenapa begitu menyayat di hati Zian.


Aku terbakar cemburu,


cemburu buta


Tak bisa kupadamkan amarah di hatiku


Sakit, menahan sakit hati


menyimpan perih


Tak bisa ku terima apa yang kualami


Ibaratnya jantung hati

__ADS_1


tersayat pedang tajam


betapa sakitnya, kurasakan itu


Dan kini aku tahu ku sangat


Begitu dalamanya aku sungguh mencintaimu


Mungkin selama ini ku salah


Tak pernah pedulikanmu setulusnya hatiku


Betapa bodohnya diriku


tak bisa mencintai dan menjaga hatimu dengan sepenuh jiwa


bahwasanya selama ini aku


tak menyadari dirimu adalah milik teristimewaku


Potongan lagu milik band Padi yang berjudul Terbakar Cemburu itu seolah mewakili perasaan Zian saat ini. Dia mengepalkan tangan di bawah meja, lalu berdiri dari duduknya, meninggalkan beberapa orang yang masih ingin mengobrol dengannya, berjalan menuju meja dimana Rafli sedang duduk bersama Evan, Anita dan Dimas.


Rafli yang tak berdosa itu harus kembali jadi tumbal kecemburuannya. Zian menarik kerah kemeja yang dipakai Rafli, membuat laki-laki itu gelagapan.


"Potong lidah laki-laki yang bernyanyi di atas panggung itu! Berani sekali dia menyanyikan lagu itu dan menyinggungku!" Zian berbicara dengan suara pelan, namun terdengar sangat serius. Rafli membulatkan matanya mendengar perintah Zian yang rasanya tidak masuk akal dan kejam itu.


"Ta- tapi, Kak..." kata Rafli terputus-putus. Zian kemudian melepaskan cengkeramananya dari leher kemeja Rafli.


Dimas dan Anita saling melirik mendengar ucapan sang bos yang benar-benar sedang cemburu itu. "Lihat dia, kenapa dia begitu lucu saat sedang cemburu?" Dimas berbisik di telinga Anita.


"Diamlah, Dimas!" seru Anita. "jika dia mendengarmu, kau bisa ditumis di wajan panas."


Zian kemudian mendekati Naya yang sedang mengobrol dengan seorang pria di sudut sana. Seakan ingin menunjukkan bahwa Naya adalah miliknya, Zian melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.


"Sayang, apa yang kau lakukan di sini?" Pertanyaan itu terdengar santai, namun penuh penekanan. Zian menatap tajam laki-laki itu, membuat nyali siapapun yang mendapat tatapan itu menciut.


"Maaf, sepertinya aku harus segera kembali ke mejaku," ucap pria itu lalu segera kembali ke mejanya dengan wajah pucat karena takut.


"Dia kenapa?" tanya Naya bingung.


"Sepertinya obrolanmu dengannya seru! Apa yang kalian bicarakan?"


Naya yang tidak menyadari raut wajah cemburu Zian itu pun menjawab dengan santai dan polos, "Dia hanya mengajak kenalan... Dia bilang suaraku sangat merdu, dan..."


"Diam! Aku tidak mau tahu!" ucapan Zian itu membuat Naya mengerutkan alisnya heran.


Itu namanya merayu, bodoh! Kenapa ada gadis sebodoh dirimu di dunia ini. Aku benar-benar ingin menyembunyikanmu di kerak bumi terdalam agar hanya aku yang bisa menikmati betapa cantiknya dirimu! batin Zian.


Acara pun berlanjut, malam itu Zian memperkenalkan Naya di depan semua orang dan mengumumkan pernikahannya. Zian juga menjawab pertanyaan beberapa orang selama ini yang begitu penasaran dengan nama Kia.


Dan, malam itu, seorang Kanaya Indhira Adiwinata telah berhasil membuat banyak wanita merasa iri. Zian menunjukkan betapa besar dia mencintai gadis itu dengan mendirikan sebuah perusahaan raksasa yang dia beri nama dari inisial gadis itu, semua bidang bisnis yang digeluti, produk apapun yang berasal dari perusahaan itu, semuanya menggunakan nama Kia.


Bahkan rumah sakit yang baru di resmikan malam itu, juga menggunakan nama Kia. Naya pun disambut dengan tepukan tangan meriah sesaat setelah dirinya melakukan pemotongan pita berwarna merah.


Kenapa aku merasa malu orang-orang melihatku seperti ini. Zianku, kau benar-benar membuatku seperti sedang terbang ke angkasa, batin Naya.


*****

__ADS_1


__ADS_2