Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 97


__ADS_3

Pagi harinya...


Di meja makan, Naya tampak tak berselera dengan makanan yang telah terhidang di depannya. Sejak tadi makanan itu hanya diaduk-aduk dengan garpu. Bahkan belum sesendokpun makanan itu melewati kerongkongannya.


Zian memperhatikan Naya yang kembali merengut pagi itu. Zian mengusap rambut sang istri dengan lembut, "Ada apa? Kau tidak suka menunya?"


Naya pun menjawab dengan gelengan kepala, dengan wajah yang bagai awan mendung. "Suka..."


"Lalu kenapa kau tidak makan?" tanya Zian lagi.


"Aku sedang tidak mau makan," jawab Naya singkat, lalu tanpa permisi berdiri dari duduknya dan kembali ke kamar. Zian semakin keheranan melihat tingkah Naya yang sejak kemarin seperti anak kecil. Sejak foto itu tersebar, Naya benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya.


Ya ampun, kenapa lagi dia. Bukankah aku sudah bilang akan menggelar konferensi pers untuk menjelaskan semuanya. Lalu kenapa dia masih seperti ini.


Zian kemudian mengikuti Naya menuju kamar. Dan,saat tiba di kamar, kepanikan kembali terjadi. Naya muntah-muntah di kamar mandi membuat Zian panik bukan kepalang.


"Sayang, kau muntah-muntah lagi?" tanyanya dengan raut wajah khawatir. Apalagi saat melihat wajah sang istri yang langsung memucat.


"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa mual saja." Naya langsung keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa, sementara Zian mengekor di belakangnya.


"Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja? Aku akan menghubungi Kak Fahri."


"Tidak mau! Kalau ada yang melihatku di rumah sakit, mereka akan menghinaku lagi. Mereka akan bilang aku wanita murahan," ucap Naya dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Zian langsung meraih tubuhnya dan memeluknya.


"Tidak akan ada yang berani mengatakan itu selama ada aku bersamamu."


"Tapi mereka akan tetap berkata begitu dalam hati. Pokoknya aku tidak mau keluar rumah sampai gosip itu berhenti beredar."


"Baiklah... Aku berjanji akan membereskan masalah itu hari ini juga," ucap Zian, kemudian mendaratkan kecupan di kening. "sudah, jangan menangis. Kau tahu kan, aku paling tidak bisa melihatmu menangis." Akhirnya, Naya menyeka air mata yang meluncur dengan bebasnya.


Aku juga tidak tahu kenapa aku jadi cengeng begini. Aku merasa ingin menggigitmu karena kesal dengan mereka! Naya membatin.


"Baiklah, sekarang sarapan, ya. Mau aku suapi?" tawar Zian dan langsung ditanggapi Naya dengan mata berbinar.


"Benar, disuapi?" tanya Naya dengan penuh semangat. Zian mengerutkan alisnya melihat tingkah Naya yang baginya aneh.


"Kau tinggal pilih mau disuap dengan sendok atau dengan sekop..." canda Zian, membuat Naya kembali merengut.


"Kau tega menyuapiku dengan sekop?"


"Kalau kau tidak menghabiskan sarapanmu, aku benar-benar akan menyuapimu dengan sekop." Zian pun mengambil ponselnya dan menghubungi pelayan untuk minta dibawakan sarapan ke kamar.


****


Zian melirik jam tangannya sesaat setelah selesai menyuapi Naya. Arah jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Artinya, Zian sudah hampir terlambat pergi ke tempatnya janjian dengan Anita untuk melakukan konferensi pers.


"Sayang, aku harus segera pergi. Aku ada urusan penting," ucap Zian.

__ADS_1


"Urusan apa?" tanya Naya.


"Kau akan tahu nanti. Jam sebelas nonton tv saja, ya... Aku pergi!" ucapnya, kemudian memberi kecupan singkat di bibir. Lalu segera beranjak keluar dari kamar. Naya pun berdiam diri di kamar sambil menonton acara tv yang masih memberitakan tentang dirinya.


****


Zian sudah tiba di sebuah hotel mewah yang terletak di pusat kota. Laki-laki itu berjalan dengan santainya memasuki hotel itu, walaupun kilatan kamera dari para pencari berita terus menerpanya.


Beberapa petugas kemanan dari Kia Group yang sudah dipersiapkan Anita menghalau para wartawan yang terus mengajukan pertanyaan pada lelaki jangkung itu.


Hingga akhirnya, Zian tiba di ballroom. Di dalam sana sudah ada Anita dan Dimas, serta seorang gadis yang kira-kira seusia Dimas, sedang menundukkan kepalanya dengan raut wajah takutnya.


"Siapa dia?" tanya Zian pada Anita.


"Pelakunya," jawab Anita singkat.


Zian menatap tajam pada Gaby. Seorang gadis yang telah menjebaknya dengan naya beberapa tahun lalu. Sebagian hatinya murka pada gadis itu, namun tidak bisa dipungkiri, gadis itulah yang paling berjasa mempertemukannya dengan Naya.


Jika saja Gaby tidak menjebak mereka, mungkin saja Naya tidak akan punya senjata mematikan untuk memaksa Zian menikahinya.


Acara konferensi pers pun di mulai. Hampir seluruh stasiun tv nasional memberitakannya. Dan, seketika nama Kanaya Indhira kembali menjadi trending topik dimana-mana.


"Selamat semuanya..." ucap Zian di tengah ramainya ruangan itu. "Sebelumnya, saya mau mengucapkan terima kasih kepada teman-teman sekalian yang sudah sempat datang di konferensi pers ini.


Saya mau meluruskan tentang pemberitaan yang beredar di masyarakat mengenai istri saya, yang bernama Kanaya Indhira Adiwinata.


Terkait foto yang tersebar itu memang benar, bahwa itu adalah istri saya, Kanaya. Dan laki-laki yang bersamanya adalah saya sendiri. Bisa dilihat foto aslinya."


"Kami sudah menikah lebih dari dua tahun, namun karena sesuatu hal, maka kami tidak segera mengumumkannya. Jadi mohon agar tidak ada lagi berita yang tidak mengenakkan mengenai istri saya. Terima kasih." ucap Zian kemudian.


Setelah mengucapkan itu, Zian duduk di kursinya. Kini giliran Gaby yang bicara. Dengan suara gemetar menahan rasa malu, gadis itu mengakui perbuatannya yang menjebak Zian dan Naya di malam itu. Gaby pun meminta maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan jahatnya tersebut.


Sementara itu, Naya sedang menonton acara itu di tv bersama beberapa pelayan di ruang keluarga.


"Iya kan, aku dijebak! Ternyata si bodoh Gaby itu yang melakukannya," ucap Naya kesal.


"Nona, tuntut saja wanita itu. Dia kan sudah mencemarkan nama baik Nona dan Tuan," ucap seorang pelayan.


"Sudahlah! Tidak penting. Aku hanya kesal padanya, bukan mau menuntut. Lagipula apa yang bisa ku tuntut darinya."


Kalau mau menuntut, aku akan menuntut Zianku saja. Suamiku itu kan bos gila yang punya segalanya. Aku bisa minta apapun darinya. Hehehe... Aku akan minta apa ya darinya.


***


Acara itu pun berakhir, Zian segera keluar dari ballroom hotel itu bersama Anita dan Dimas, menuju sebuah mobil.


"Apa yang akan kita lakukan pada gadis bodoh itu?" tanya Anita.

__ADS_1


"Lepaskan saja dia!" jawab Zian santai.


"Apa? Melepasnya?" Anita langsung terkejut mendengar ucapan bos nya itu. "aku sudah repot-repot menangkapnya dan kau ingin aku melepasnya?"


Zian melirik Anita yang duduk di sampingnya sekilas, "Aku malah ingin berterima kasih padanya. Kalau bukan karena ulahnya, mungkin aku tidak akan menikah dengan Naya. Dan mungkin sampai sekarang aku belum menemukan Kia-ku. Aku hanya butuh kesaksiannya. Tidak lebih."


"Kau yakin?" tanya Anita.


"Lakukan saja apa yang aku minta! Lepaskan gadis itu. Biarkan dia pulang ke rumahnya," titah Zian.


"Baiklah,"


"Bos, kita kemana setelah ini?" tanya Dimas yang sedang menyetir.


"Memang aku mau kemana? Tentu saja ke kantor," jawab Zian. Dimas pun segera mengarahkan mobil itu menuju kantor pusat Kia Group.


"Bagaimana dengan Naya? Apa dia masih sedih dengan pemberitaan itu?" tanya Anita.


"Ya, dia jadi sering muntah karena terlalu banyak menangis."


"Lalu apa yang kau lakukan?" tanya Anita lagi.


Zian menghela napas kasar, "Sejak kemarin aku repot membujuknya. Kadang dia menangis, kadang langsung berubah senang. Kadang imut, kadang menyebalkan."


Aku benar-benar ingin memakannya. batin Zian.


"Aku mengerti. Pemberitaan itu pasti membuatnya tertekan."


"Entahlah, aku juga heran dengannya. Aku baru menyadari, satu-satunya wanita yang tidak merepotkan di dunia ini hanya Anita." ucap Zian kemudian.


Dimas pun tersendak udara mendengar ucapan sang bos, sampai terbatuk-batuk. "Benar, Bos! Dan hanya Anita, satu-satunya wanita yang paling mengerikan di dunia, yang selalu mengancam dengan senjata apinya."


Anita pun langsung kesal mendengar ucapan Dimas. "Kalau kau masih banyak bicara, peluruku akan menembus otakmu! Jadi diamlah!"


"Iya, aku diam," Dimas sambil mengangkat tangannya sebelah. "Dasar monster!" gumamnya.


"Hey... Kau menghinaku ya?" Anita kembali kesal, sedangkan Zian hanya menutupi seringainya dengan jari. Sesuatu menyenangkan melihat Dimas dan Anita berdebat.


Kalian berdua sama saja. Benar-benar mafia yang mengerikan. batin Dimas.


****


Bersambung.


Aku padamu, babang!


__ADS_1




__ADS_2