Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
LEOPHARD BAY PYORDOVA


__ADS_3

Anita tidak menjawab sapaan Kenzo. Tubuhnya terus gemetaran dalam keadaan terikat di kursi. Sementara Dimas mengawasi di sudut ruangan itu, sesekali dia memberi kode pada beberapa pengawal yang berjaga di sana.


"Kenapa kau diam saja? Apa kau sudah melupakanku? Lebih dari sepuluh tahun kita tidak bertemu," ucap Kenzo.


"Lepaskan aku!" Anita berbicara dengan nada gemetaran dan mata berkaca-kaca.


"Melepasmu?" Kenzo terkekeh sinis, lalu menarik dengan keras rambut Anita, sehingga gadis itu meringis kesakitan.


Kenzo sama sekali tidak berubah, dia masih kejam seperti dahulu, dan bahkan lebih. Dimas pun terlihat begitu terkejut melihat kelakuan Kenzo yang baginya sangat kasar pada seorang wanita. Terlebih, Anita adalah mantan istrinya.


"Setelah semua yang kau lakukan, kau mau aku melepasmu, begitu?" Laki-laki melepas cengker*aman tangannya dari rambut Anita, lalu berdiri dari duduknya. Sementara Anita masih menahan rasa sakit akibat rambutnya ditarik dengan keras.


"Sekarang tidak ada lagi Tuan Maliq yang bisa melindungimu. Kau adalah milikku sekarang! Karena orang yang selama ini melindungimu akan dijatuhi hukuman mati." ucapnya sambil tersenyum puas.


"Kau dan Alex yang sudah menjebaknya!" Entah keberanian berasal darimana, tanpa sadar Anita berteriak pada lelaki yang terkenal sangat kejam itu.


"Ya, kau benar. Kami memang sengaja menjebaknya ke dalam kasus obat-obatan terlarang itu. Dan sekarang tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkannya. Bukankah dia juga mengakui sesuatu yang tidak pernah dilakukannya dengan sukarela. Padahal, aku dan Alex hanya mengancam akan membunuh kau dan istrinya. Alex, memang sangat pintar dalam hal menjebak musuh," kata Kenzo dengan senyum kemenangannya.


Anita menatap tajam pada Dimas di sudut sana yang sepertinya sedang tersenyum penuh kepuasan, bagaikan sedang memenangkan sesuatu. Dan hal itu membuat darah Anita semakin mendidih. Gadis itu mengepalkan tangannya, dengan ribuan umpatan dalam hati yang ditujukan pada laki-laki yang selama beberapa tahun satu tim dengannya di Kia Group.


"Aku pasti akan membalas kalian," Suara Anita mulai terdengar lirih dengan mata berkaca-kaca. Kali ini Anita benar-benar merasa tidak ada lagi jalan keluar untuk menyelamatkan Zian dari kasus itu.


"Benarkah? Aku akan menunggu pembalasanmu. Tapi sebelum itu, kita akan sama-sama melihat bagaimana Maliq menjalani hari terakhirnya sebelum mati!" Dengan tawa menggelegar, Lenzo beranjak keluar dari ruangan itu. Sementara Dimas masih setia berdiri di sudut ruangan itu.


"Pastikan dia tidak melarikan diri!" ucap Kenzo seraya menunjuk Anita dengan ekor matanya.


"Baik, Bos!"


"Oh, ya! Bukankah Alex memintamu membawa Kanaya dan anaknya padanya? Kita akan membutuhkannya untuk membungkam Maliq," ucap Kenzo.


"Itu mudah, Bos! Aku akan menyerahkannya pada Alex besok,"

__ADS_1


Mendengar pembicaraan itu, Anita terus memberontak, berusaha melepas tali yang menjeratnya. Sesekali dia berteriak pada Dimas dengan kesalnya.


"Kalau kau berani menyentuh Naya ataupun Deniz, aku bersumpah akan membunuhmu, Dimas!" teriak Anita. Dimas terkekeh mendengar suara teriakan Anita yang penuh emosi itu.


"Dasar Monster Betina! Kau saja tidak bisa melepas tali yang mengikat tubuhmu. Lalu bagaimana kau bisa membunuhku?"


Anita pun membeku, dengan pikiran melayang kemana-mana. Antara Zian, Naya dan deniz.


Dimas kemudian menyusul Kenzo menuju sebuah ruangan, setelah meminta para pengawal yang baru saja direkrutnya untuk menjaga Anita.


Tinggallah Anita duduk terikat di kursi kayu. Setitik air matanya terjatuh mengingat laki-laki yang selama sepuluh tahun lebih telah melindunginya dengan nyawanya sendiri. Kini, laki-laki yang baginya adalah malaikat dalam hidupnya itu sedang terancam hukuman mati, sedangkan dia tidak dapat berbuat apapun untuk sekedar membelanya.


Maafkan aku, Maliq! Seharusnya aku berada di sidang akhirmu untuk menjadi saksi dan membelamu. Tapi aku malah disekap disini. batin Anita.


Hingga larut malam, Anita terus menangisi Zian yang sidang putusannya akan digelar tiga hari lagi.


***


"Maaf, kau siapa?" tanya Zian.


Leo hanya menunjukkan senyumnya menatap pria yang di masa lalu pernah menolongnya itu. Leo merasa Zian tidak banyak berubah sejak pertemuannya dengan Zian saat itu.


"Leopard Bay Pyordova," ucap Leo sambil mengulurkan tangannya. Sejenak, Zian memikirkan nama belakang laki-laki itu yang baginya sangat familiar. Lalu setelahnya menyambut uluran tangan itu.


"Pyordova..."


"Iya Tuan, saya adalah putra Byon Pyordova."


Zian kemudian teringat pada sebuah perusahaan raksasa yang pernah bekerja sama dengannya. Sekaligus, Pyordova adalah salah satu donatur tetap di Yayasan Kia.


"Benarkah? Senang bertemu denganmu. Bagaimana kabar ayah dan ibumu? Aku lama tidak bertemu mereka."

__ADS_1


"Mereka lebih banyak di jerman. Karena itulah, kami benar-benar tidak tahu tentang apa yang terjadi pada anda."


"Tidak apa-apa! Aku baik-baik saja."


"Apa anda masih mengingat saya? Kita pernah bertemu sebelumnya." tanya Leo membuat Zian keheranan, pasalanya Zian merasa belum pernah bertemu dengan pemuda itu.


"Maaf, aku tidak begitu mengingatmu, aku hanya bertemu ayah dan ibumu saat aku mengundang mereka ke setiap acara di perusahaanku," jawab Zian.


Leo kemudian menceritakan tentang dirinya pada Zian termasuk tentang penculikan yang terjadi padanya sepuluh tahun lalu, saat usianya 12tahun. Zian tersenyum senang saat mengetahui pria di hadapannya adalah bocah yang pernah diselamatkannya.


"Jadi kau adalah anak itu, ya... Dan kau putra Tuan Byon Pyordova? Ini benar-benar kejutan. Senang bertemu kembali denganmu. Kau sudah besar sekarang," ucap Zian sambil menepuk bahu pemuda itu.


"Maafkan saya, Tuan! Saya baru tahu kasus yang menimpa anda. Saya bersahabat dengan adik anda, Evan. Dan saya juga baru tahu tentang anda. Mungkin saya bisa melakukan sesuatu untuk membantu anda?"


"Panggil aku seperti dulu! Dulu kau memanggilku kakak saat kita pertama kali bertemu," ucap Zian.


Leo tersenyum mendengar ucapan Zian. Baginya, Tuan Maliq itu sama sekali tidak berubah. Jika bagi sebagian orang dia sangat menyeramkan, namun Leo kecil merasa Tuan Maliq sangat ramah.


"Baiklah, Kakak! Jadi apa yang bisa aku bantu untukmu?"


"Terima kasih sebelumnya, tapi aku benar-benar tidak ingin melibatkan siapapun dalam masalah ini. Kau akan dalam bahaya kalau kau mencoba terlibat," ucap Zian pada Leo. Pemuda itu merasa heran melihat raut wajah Zian yang terlihat begitu tenang padahal vonis hukuman mati sudah di depan mata.


Setelah pembicaraan serius itu, Leo beranjak meninggalkan rumah tahanan itu menuju area parkir dimana kekasihnya, Shena menunggu di dalam mobil.


Walaupun Tuan Maliq menolak bantuannya, dengan alasan keamanan Leo, namun Leo telah berjanji pada dirinya sendiri, seperti halnya Tuan Maliq yang hampir terbunuh saat menyelamatkannya dari penculikan, seperti itu pula dia akan berusaha menolong orang yang disebutnya adalah pahlawannya semasa kecilnya itu.


Setelah keluar dari rumah tahanan itu, Leo mengeluarkan ponsel dari saku celananya, kemudian menghubungi seseorang.


"Siapkan acara talkshow untukku besok, dan buat acara itu disiarkan di semua stasiun tv milik kita!" perintahnya pada seseorang di seberang sana. "Aku tidak mau ada bantahan!" bentaknya kemudian.


*BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2