Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 112


__ADS_3

Setelah mendengar kisah kelam masa lalu suaminya, terjadi perubahan dalam diri Naya. Menjadi lebih perhatian dan penurut. Apapun yang dikatakan Zian akan dipatuhinya tanpa membantah sedikitpun. Naya berubah menjadi anak manis dan penurut.


Bahkan, keinginan Zian untuk kembali tinggal di rumah mereka yang sebenarnya disetujui olehnya tanpa banyak bicara. Walaupun sebenarnya dirinya lebih senang tinggal di rumah mereka yang sederhana dari pada tinggal di rumah mewah yang bagai istana itu.


Dan, pagi itu kembali terjadi kepanikan luar biasa di rumah itu.


Hueeekkk!


Terdengar suara Naya yang sedang muntah-muntah di kamar mandi sesaat setelah sarapan pagi.


Setiap kali menemukan sang istri dalam keadaan seperti itu, Zian akan panik bagaikan seseorang yang sedang kebakaran jenggot.


"Sayang, kau muntah lagi?" Zian ikut masuk ke kamar mandi dengan panik, lalu memijat tengkuk sang istri.


Naya membasuh wajahnya dengan air setelah memuntahkan semua makanan yang baru saja di makannya.


"Tidak apa-apa. Ini kan biasa. Dokter juga bilang ini normal," ucap Naya santai. Namun, malah membuat Zian semakin panik. Laki-laki itu langsung menarik sang istri dan memeluknya.


"Apa maksudmu tidak apa-apa. Kau muntah sampai wajahmu pucat begitu. Obat macam apa yang diberikan Sandra padamu? Kenapa mualmu tidak hilang juga?"


Naya melepaskan pelukannya, merasa mual lagi setelah mencium aroma parfum yang melekat di tubuh sang suami. "Kau pakai parfum apa? Kenapa baunya menyengat begitu. Aku sampai mual lagi menghirup baunya."


"Apa? Ini kan parfum yang biasa aku pakai. Kau kan yang memilih parfum ini untukku."


"Tapi baunya tidak enak!" ucapnya lalu keluar dari kamar mandi.


Zian mencoba mengendus bau tubuhnya sendiri. "Ada-ada saja. Ini wangi seperti biasanya. Kenapa wanita hamil itu sangat aneh."


Zian keluar dari kamar mandi mengikuti Naya yang sudah keluar lebih dulu. Lalu ikut duduk di sofa dimana Naya sedang duduk bersandar. Zian membelai puncak kepalanya, menatap dalam-dalam wajah yang terlihat pucat itu.


"Bagaimana kalau kita ke dokter lagi, kau terus mengalami ini di pagi hari. Aku kan jadi tidak tenang meninggalkanmu di rumah."


"Aku tidak apa-apa. Sungguh! Itu normal di awal kehamilan. Gejala seperti ini akan menghilang sendiri." Naya berusaha meyakinkan Zian jika dirinya baik-baik saja. Namun, Zian tetaplah Zian, yang berdiri di atas pikirannya sendiri. Dia tetap mengira Naya hanya berusaha menghilangkan kekhawatirannya.


"Baiklah, Sayang. Aku berangkat ke kantor dulu, ya... Kalau kau butuh sesuatu hubungi aku!"


Naya mengangguk pelan, dengan menerbitkan senyum indah yang selalu membuat Zian seakan meleleh saat menatapnya. Laki-laki itu memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah sang istri sebelum akhirnya berangkat ke kantor.

__ADS_1


****


GEDUNG KANTOR KIA GROUP...


"Lepaskan aku! Kalian sudah gila, yaa... Aku bisa jalan sendiri!" Teriak Evan yang kesal pada tiga orang pengawal Kia Group yang menjemputnya secara paksa di kampus.


"Maaf, Tuan Muda... Kami hanya menjalankan perintah dari bos."


"Ya, bos gila kalian itu!" gumam Evan.


Mereka akhirnya tiba di lantai teratas Kia Group. Di dalam sebuah ruangan, tampaklah Zian yang sedang menantikan kedatangan adik tersayangnya. Evan yang sedang kesal langsung marah-marah di ruangan sang kakak.


"Kau sudah gila ya, Kak? Kenapa kau menyeretku kemari?" Evan bicara dengan suara yang sangat menantang dan telah berkacak pinggang di hadapan Zian.


"Ehmm..." terdengar deheman yang tidak asing di telinga Evan. Dia mengarahkan pandangannya ke sudut sana. Tampak kakak sulungnya sedang duduk santai di sofa membuat Evan terlonjak. "Bicaralah yang sopan pada kakakmu!" ujar Fahri saat mendengar Evan mengeraskan suaranya di depan Zian.


Fahri kemudian berdiri dari duduknya, menghampiri Evan yang masih berdiri berhadapan dengan Zian. Evan sudah menduga-duga apa yang akan dilakukan kedua kakaknya itu.


Dan benar, sesuai dugaan Evan, Zian dan Fahri menarik telinganya dengan keras.


"Aduh... Aduh... telingaku! Apa-apaan kalian ini, kenapa kalian menyambutku dengan siksaan? Aku tahu kalian sangat kaya, tapi kalau telingaku putus...." Evan menggantung ucapannya karena langsung dipotong Zian dan Fahri.


Evan mengerucutkan bibirnya sambil mengusap-usap telinganya yang baru saja didzolimi oleh dua kakaknya itu.


"Kau dari mana? Beberapa hari tidak pulang?" tanya Fahri.


"Kakak, jangan khawatirkan aku! Aku bebas alkohol dan obat-obatan terlarang!" Evan menjawab seperti biasanya.


Tanpa rasa berdosa, Zian kembali duduk di singgasananya. Sedangkan Fahri kembali duduk di sofa. Evan pun mengekor di belakang Fahri.


"Kak, coba lihat apa yang Kak Zian lakukan padaku! Dia memerintahkan tiga algojo itu menyeretku tanpa belas kasih," ucap Evan dengan wajah merengut.


"Kau kan tahu bagaimana kakakmu itu! Duduklah di sini!" Fahri menepuk sofa di sebelahnya. Evan pun segera mengambil posisi duduk di sebelah kakak sulungnya itu.


"Apa Kakak juga diculik dari rumah sakit oleh manusia jadi-jadian ini?" bisik Evan di telinga Fahri.


"Aku tidak diculik, aku hanya dijemput paksa!" Fahri balas berbisik.

__ADS_1


"Itu sama saja, Kak. Apa yang dia inginkan dari kita?"


"Mana aku tahu,"


Terjadilah drama bisik-bisik tetangga antara Evan dan Fahri. Zian yang masih duduk di singgasana-nya menatap curiga pada dua saudaranya itu.


"Kalian ini saling berbisik seperti wanita saja." Zian datang dan duduk di antara kedua saudaranya itu, membuat drama bisik-bisik itu terhenti.


"Kau pasti menginginkan sesuatu dari kami kan, Kak? Makanya kau menyeret kami kemari!" tanya Evan.


"Kau sangat pintar! Itulah kenapa aku sangat sayang padamu." Zian mencubit pipi Evan dengan gemas, membuat Evan meringis kesakitan. Sepertinya bukan cubitan gemas, tapi cubitan kesal.


"Ada yang ingin aku tanyakan pada kalian!" ucap Zian dengan santainya.


Fahri dan Evan terlonjak mendengar ucapan saudaranya itu. Jika Zian sudah berkata ingin mengajukan pertanyaan, sudah pasti pertanyaan itu akan membuat mereka malu sendiri menjawabnya.


Dengan kompak, Evan dan Fahri langsung menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Zian, kemudian saling memberi kode dari jarak yang aman.


"Memang pertanyaan apa yang menghinggapi otakmu sehingga kau menculik kami sepagi ini?" tanya Fahri.


"Apa? Menculik? Aku tidak menculik kalian! Aku hanya meminta orang-orangku menjemput kalian. Kalau kalian sedang sibuk, kenapa tidak beritahu mereka. Kalian malah ikut mereka dengan sukarela."


GUBRAK!


Jika kau bukan kakakku, aku pasti sudah mencekikmu! batin evan.


"Hey, Kak. Sukarela apanya?" Evan terlihat mulai kesal, "Mereka menyeretku tanpa belas kasih dan kau bilang itu bukan penculikan?"


"Mereka tidak menyeretku, tapi membawa seorang dokter untuk menggantikan tugasku hari ini! Aku tidak tahu itu termasuk pemaksaan atau bukan," ucap Fahri.


"Hehe, kalian belum sarapan, ya... Kalian sangat mudah marah! Katanya lapar bisa merubah orang!" Zian berusaha mengeluarkan jurus rayuan mautnya.


Fahri menghela napas, "Apa hubungannya, bodoh!" gumam Fahri.


*****


BERSAMBUNG

__ADS_1


Zian Memang nggak ada ahlak. Nah, dia mau nanya apa coba sama Fahri dan Evan sampai nyulik segala.


__ADS_2