
Maureen masuk ke dalam dengan di tuntun oleh satu pengawal dan sungguh detak jantung Austin berdetak sangat cepat saat melihat Maureen dengan anggun dan juga cantik memasuki pelataran gereja..
Austin tak henti - hentinya menatap ke arah Maureen saat ini Maureen sudah berada di sampingnya.
Hari ini terucap janji suci pernikahan dari ke dua belah pihak.
Maureen terdiam saat mendengarkan Austin dengan lantang mengatakan akan setia sampai akhir di dalam suka dan duka.
Air mata Maureen mengalir dengan deras saat dirinya mendapatkan ciuman kasih sayang dari Austin setelah janji suci pernikahan itu terucap.
Menangis karena Maureen dapat mendengarkan suaranya, Maureen dapat merasakan ciumannya namun satu hal yang tak dapat Maureen dapatkan adalah sampai saat ini Maureen sama sekali tidak dapat melihat wajahnya.
Hatinya menjadi hancur saat Maureen harus melalui prosesi pernikahan dengan menutup ke dua matanya.
Sungguh ironis pernikahan yang sakral, pernikahan yang penuh dengan cinta kasih harus di lalui Maureen dengan hal yang seperti ini.
"Nona Maureen upacara pemberkatan telah selesai, ayo nona saatnya anda kembali ke mansion Utara."
Deg
Perkataan dokter Jean membuat hati Maureen tersentak.
"Dokter jadi aku akan kembali tinggal seorang diri di dalam mansion itu?"
Dokter Jean kembali terdiam ketika mendapatkan pertanyaan Maureen yang sungguh sangat menyedihkan.
"Ya, nona Maureen akan kembali tinggal di dalam mansion Utara dengan para pengawal pribadi yang sudah di tentukan oleh tuan muda kami."
"Jadi aku tidak akan tinggal di mansion utama bersama dengan tuan muda dokter?"
Dengan cepat dokter Jean langsung menggelengkan kepalanya saat mendengarkan pertanyaan dari Maureen.
"Ya nona, mari."
Sekali lagi karena Maureen yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan hanya bisa pasrah ketika pada akhirnya di tuntun kembali ke dalam mansion Utara dan harus tinggal di sana seorang diri meskipun telah berstatus sebagai istri sah dari Austin.
Sementara itu di mansion utama saat ini ada satu gadis sedang berlari sambil menangis menuju ruang kerja Austin.
"Tuan Austin."
Seketika itu juga gadis tersebut langsung membuka ruang kerja Austin tanpa peduli lagi jika Austin bisa marah dan bisa langsung menembak kepala gadis tersebut.
"Tuan maafkan aku jika aku harus menghadap kepada tuan Austin dengan tiba - tiba."
__ADS_1
Huaran mengatakan hal tersebut sambil ke dua matanya di tutup kain hitam.
"Masuklah Huaran, apa yang ingin kau bicarakan kepada ku?"
Setelah mendapatkan persetujuan dari Austin, Huaran pun segera masuk ke dalam dan langsung menghampiri Austin.
"Tuan Austin aku ingin menanyakan atas dasar apa tuan Austin tiba - tiba menikah dengan nona Maureen?"
Hati Huaran sangat perih ketika mendengarkan pertanyaan sendiri ini.
"Untuk apa kau perlu tau mengapa aku harus mengambil satu keputusan ini Huaran?"
"Dan untuk apa juga kau menanyakan hal ini kepada ku?"
Austin dengan tenang menjawab semua pertanyaan Huaran.
Sedangkan Huaran yang hendak menjelaskan sesuatu kini berusaha untuk menarik nafasnya dalam - dalam.
"Tuan aku akan mengatakan satu hal kepada mu, aku tidak akan peduli lagi jika kata - kata ini pada akhirnya bisa membuat ku mati atau menderita, tapi aku akan mengatakan hal ini kepada mu tuan Austin."
"Katakan saja Huaran."
"Aku mencintaimu tuan Austin, sungguh aku sangat mencintaimu."
Kata - kata yang sudah Huaran pendam sejak lama pada hari ini terlontar dengan sempurna kepada satu laki - laki yang sejak dulu di cintai nya itu.
"Aku yang hanya gadis biasa, gadis biasa yang sering mendapatkan nama mu di pemberitaan membuat aku betul - betul ingin bertemu dengan mu."
"Namun sampai di dalam mansion ini engkau hanya menjadikan ku seorang pelayan, tuan apakah aku tidak menarik untuk anda jadikan teman tidur? katakan kepada ku jika memang harus ada yang aku perbaiki tuan Austin."
Dengan berlinang air mata Huaran mengatakan semua hal tersebut dengan berani, dan Austin yang sejak tadi mendengarkan semua hal yang telah di katakan oleh Huaran hanya memandangnya dengan tatapan sangat tajam.
"Maafkan aku tuan muda Austin, jika perkataan ku ini terkesan lancang, maafkan aku tuan muda Austin jika karena perkataan ku ini anda menjadi murka."
"Namun aku sudah mempersiapkan diri ketika setelah aku mengatakan semua hal ini anda akan membunuh ku."
Air mata yang terus mengalir pada akhirnya membuat Huaran tidak dapat berkata - kata apapun lagi.
"Apa yang kau katakan, itu semua aku sudah mengetahuinya."
Dengan santai Austin mengatakan hal tersebut sambil menyalakan rokok kesayangannya.
"Jadi tuan muda Austin sudah mengetahui jika aku menaruh hati terhadap anda.?"
__ADS_1
Dengan cepat Austin langsung menganggukkan kepalanya saat mendengarkan perkataan Huaran.
"Ya aku mengetahui sudah sejak lama."
Deg
Huaran kini hanya bisa berlutut di depan meja Austin sambil menangis.
"Tuan muda Austin maafkan aku jika aku lancang dengan semuanya ini."
Dengan tenang Austin masih menghisap rokoknya dalam - dalam.
"Kau tidak perlu minta maaf kepada ku, aku tidak mempermasalahkan perasaan mu ini, yang pasti kau tidak boleh menganggu ku dengan hati mu yang tidak jelas ini."
Huaran tersentak ketika Austin mengatakan bahwa bagi Austin hati Huaran tidak jelas.
"Tuan, apakah tuan Austin akan menghukum ku?"
Austin yang mendapatkan pertanyaan tersebut dari Huaran kini hanya tersenyum dengan sinis.
"Aku tidak akan menjatuhkan hukuman pada kasus sepele seperti ini, sekarang pergilah karena sebentar lagi akan ada orang yang harus aku temui."
Deg
Untuk kesekian kalinya hati Maureen tersentak ketika mendengarkan jawaban Austin yang seakan menilai hal ini sungguh tidak berharga sama sekali.
"Keluarlah sekarang juga!"
Austin menegaskan hal tersebut sambil melambaikan tangannya terhadap Huaran.
Dan tidak ada yang bisa Huaran lakukan lagi selain Huaran harus keluar dari dalam ruangan Austin sesegera mungkin.
Huaran langsung berdiri dan berlari meninggalkan ruangan Austin dengan cepat.
Huaran berlari pergi dari dalam ruangan Austin dengan air mata yang masih mengalir dengan luar biasa.
Sementara itu di dalam ruangan Austin hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Huaran yang berlari meninggalkan ruang kerjanya.
"Sungguh permasalahan yang membuat aku harus membuang waktu saja."
Dengan santai Austin mengatakan hal tersebut masih dengan menghisap rokok kesayangannya.
Dan tiba - tiba saja pintu ruang kerja Austin di ketuk oleh seseorang.
__ADS_1
"Masuklah tuah Steven aku sudah lama menunggu kedatangan mu hari ini."
Hai, hai pembaca setia penjara cinta sang mafia, terus dukung author nya yah, dengan memberikan like dan vote sebanyak - banyaknya, agar authornya tetap semangat. Terima kasih