Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Ungkapan perasaan


__ADS_3

Suara dentuman jam terdengar memecah kesunyian sebuah ruangan. Arah jarum jam menunjukkan pukul lima subuh. Dua orang manusia yang sedang berbagi tempat tidur sempit begitu terlelap dengan posisi saling berpelukan.


Seakan tidak ingin takdir memisahkannya lagi dengan Ziannya, Naya tertidur dengan memeluk tubuh suaminya itu dengan erat.


Perlahan, Zian membuka matanya. Dia menyipitkan matanya, lalu menatap langit-langit ruangan itu. Zian kemudian merasakan ada sebuah tangan kecil yang melingkar di atas perutnya, lalu menatap wajah polos yang sedang tertidur pulas itu.


Senyum kebahagiaan terbit di wajahnya, Zian kemudian mendaratkan bibirnya di kening gadis itu dalam dan lama. Lalu melingkarkan tangannya di tubuh kecil itu.


Zian masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Namun, keberadaan Naya di sisinya membuatnya mengabaikan seluruh rasa sakitnya dan memilih menikmati wajah cantik itu dengan terus menatapnya.


Sesaat kemudian, Naya bergerak, lalu perlahan membuka matanya. Zian pun kembali menutup matanya, berpura-pura tidur. Hatinya seperti penuh dengan bunga-bunga indah saking bahagianya.


Naya membelai wajah Zian dengan lembut. Lalu mengecupi keningnya berkali-kali.


"Kenapa Zianku belum bangun?" gumam Naya, namun gumamannya mampu didengar dengan jelas oleh sang suami. Gadis itu kembali berbaring dan melingkarkan tangannya di tubuh Zian. "Zianku... Bangunlah... Aku mencintaimu..." gumamnya lagi seraya menempelkan keningnya dengan kening sang suami. Zian menahan bibirnya agar tidak tersenyum. Dia ingin lihat sejauh mana Naya berusaha membangunkannya.


Naya pun mengusap punggung Zian, membayangkan betapa kejamnya para penjahat itu memukuli suaminya itu. Setitik air matanya kembali beguguran mengingat kejadian yang hampir saja merenggut nyawa mereka. Beruntung Anita dan Dimas datang di waktu yang tepat, sehingga Naya dan Zian dapat terselamatkan.


Tanpa sengaja, Naya mencengkram punggung Zian karena kesal membayangkan penjahat-penjahat itu memukuli suaminya. Cengkraman itu pun membuat Zian berteriak kesakitan.


"Auhh sakit..." Zian meringis merasakan punggungnya berdenyut dicengkram oleh Naya.


Naya pun tersentak kaget lalu langsung bangkit dan duduk di atas pembaringan sempit itu. Meneliti wajah Zian yang sedang meringis kesakitan, dengan matanya yang masih terpejam.


Jangan-jangan dia sudah bangun sejak tadi dan berpura-pura tidur. Aaa apa dia mendengar apa yang aku katakan?


Zian membuka matanya perlahan, lalu menatap wajah Naya, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Kenapa kau diam?" tanya Zian kemudian.


Wajah Naya langsung merona merah karena Zian tidak mengalihkan pandangannya dari wajahnya. Namun, sesaat kemudian, cairan bening kembali memenuhi kelopak mata gadis itu. Zian langsung merentangkan tangannya begitu menyadari perubahan wajah istrinya itu.

__ADS_1


"Kemarilah..."


Naya pun menjatuhkan tubuhnya di pelukan Zian. Melepaskan semua perasaan takutnya. Zian menghujani wajah polos itu dengan kecupan-kecupan lembut, matanya pun ikut berkaca-kaca, akhirnya sekarang dia bisa memeluk Naya sepuasnya tanpa harus menyelinap masuk ke dalam kamarnya.


"Maafkan aku..." bisiknya di telinga Naya, lalu mengeratkan pelukannya. "Aku minta maaf, Selama ini aku menyakitimu dengan sangat dalam. Aku bahkan merasa tidak pantas untukmu. Aku tahu perlakuanku padamu sudah di luar batas."


Naya membenamkan wajahnya di dada bidang itu, isakan pun kembali terdengar memecah kesunyian. Zian lalu menangkup wajah Naya, mensejajarkan kepalanya dengan Naya, sehingga wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat.


"Maukah kau memberiku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku dan memulai semuanya dari awal?" tanya Zian, Naya menjawab dengan mengangguk, dia menahan bibirnya agar tangisnya tidak pecah.


Zian kembali mengecupi keningnya berkali-kali, melepaskan semua kerinduannya selama berbulan-bulan. Air mata haru yang mengalir di pipi masing-masing seakan mampu mewakili perasaan masing-masing.


Sapuan lembut mendarat di wajah masing-masing, mereka saling menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya.


"Aku mencintaimu, Nayaku..." bisiknya lagi, membuat Naya tersenyum bahagia. Karena tidak dapat menahan perasaan membuncah dalam hatinya itu, Naya hanya dapat memeluk Zian lagi dan lagi. Akhirnya, kalimat yang sudah ditunggu-tunggu Naya selama ini terucap dari bibir lelaki itu.


Naya tidak peduli lagi dengan kemarahannya pada sosok lelaki yang telah menembaknya beberapa tahun lalu, Zian telah menebusnya dengan memberikan separuh hatinya. Kini, mereka adalah dua tubuh dengan hati yang sama.


Selama beberapa saat mereka saling berpelukan erat. Zian kembali menangkup wajah Naya, mendekatkan wajahnya, semakin lama semakin dekat. Dengan irama jantung dari keduanya yang sudah tidak beraturan lagi, hingga beberapa mili lagi, kedua bibir itu akan menempel, namun suara seseorang mengagetkan mereka berdua.


"Kalian sudah bangun rupanya," Tanpa rasa berdosa Fahri masuk ke ruangan itu dengan membawa beberapa jarum suntik, membuat Zian kesal setengah mati. Gelagapan, Naya akan bangkit dari posisi berbaringnya, namun Zian menahan pinggangnya agar tetap berbaring.


"Kau bisa kan, mengetuk pintunya dulu..." Zian mulai akan protes dengan kelakuan kakaknya itu yang begitu tega menggagalkan ciuman pertamanya. Naya pun langsung mendaratkan cubitan di perut suaminya itu. "Auwhh... Apa yang kau lakukan, Naya..." tanya Zian gemas.


"Kenapa kau begitu kesal? Apa aku mengganggu kegiatan pentingmu?" tanya Fahri dengan santainya membuat wajah Naya langsung merona malu. Dia kemudian memasukkan suntikan melalui selang infus itu yang melekat di pergelangan tangan adiknya itu.


"Bukan hanya menganggu, tapi sangat merusak. Kalau urusanmu sudah selesai, cepat keluar dari sini!" Sekarang giliran pasiennya yang berubah lebih galak.


Naya membulatkan matanya mendengar ucapan Zian yang dia nilai kurang sopan pada kakak dokternya itu. Gadis polos itu belum mengetahui bahwa suaminya dan Dokter Fahri adalah saudara kandung.

__ADS_1


Dokter Fahri kemudian menepuk punggung adiknya itu dengan sengaja, lalu terkekeh pelan. Zianpun kembali berteriak merasakan sakit di punggungnya.


"Kau masih ingat, kan... aku pernah bilang apa padamu... Jangan melanggarnya! Aku tidak akan biarkan Naya tidur denganmu sampai kalian benar-benar pulih..." Tanpa rasa berdosa, dokter itu keluar dari ruangan itu dengan menyembunyikan senyum gelinya.


Fahri belum pernah sebelumnya melihat adiknya itu jatuh cinta. Sehingga melihatnya jatuh cinta di usianya yang sudah menginjak 31 tahun seperti sangat menggelikan baginya.


"Mengganggu saja... Iya kan, aku lupa caranya lagi..." gerutu Zian dengan kesal. Dia kembali menarik Naya ke dalam pelukannya. "Sayang, tadi sampai dimana? Coba ulangi, tadi apa yang kau lakukan padaku sebelum bedebah itu masuk kemari?" tanya Zian membuat wajah Naya kembali memerah.


Aku? Kan tadi kau duluan yang mau menciumku... Kenapa sekarang kau bilang aku yang mau menciummu.


"I-Itu... Aku... Itu-kan... " Naya mulai tidak bisa mengkondisikan ucapannya karena gugup terus ditatap oleh Zian.


"Aku bilang tadi sampai dimana? Coba ulangi!" pinta Zian lagi.


Karena kesal terus didesak, Naya akhirnya reflek memukul dada Zian dengan sedikit keras. Sehingga Zian kembali meringis kesakitan.


Hahaha aku baru tahu kalau menggoda gadis polos ini sangat menyenangkan. Maafkan aku, sayang... Aku terlambat menyadari betapa berharganya dirimu. Mulai hari ini, aku berjanji akan selalu berusaha membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia.


"Maaf, aku tidak sengaja," Naya menundukkan kepalanya malu, Zian pun tersenyum melihat kepolosan sang istri.


"Kemarilah... Ayo berbaring lagi..." ucap Zian seraya merentangkan tangannya.


*****


BERSAMBUNG.


ini malam minggu, jadi author kasih yang manis2... wkwkwkwk Pada lega kan??


"FLASHBACK" nya di episode selanjutnya yaaa....

__ADS_1


__ADS_2