Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 102


__ADS_3

"Ini dimana?" bisik Naya dengan nada takutnya.


"Tempat dimana hanya ada kita!" Zian berbisik dengan tangannya yang mengunci tubuh sang istri, kemudian membuka sedikit tirai di samping pembaringannya, barulah Naya tersadar sedang berada dimana ketika melihat bentuk kaca jendela itu.


Gadis itupun menganga tak percaya. Lalu kembali meneliti setiap bagian ruangan itu.


"Kita di pesawat jet?" gumamnya.


Kedua bola mata indah itu menatap manik suaminya yang menatapnya dengan penuh cinta. "Kita mau kemana dengan pesawat jet?"


Zian membelai rambut wanitanya itu dengan sayang, lalu berbisik, "Bulan madu, ke tempat yang paling ingin kau kunjungi?"


"Barcelona?" tanya Naya dengan mata berbinar, seketika gadis itu telah lupa dengan semua kekesalannya pada sang suami.


Zian memberi kecupan singkat di kening, lalu mengangguk pelan dengan senyum menawannya.


"Benarkah? Kau akan membawaku ke sana?" Mata itu telah berkaca-kaca saking bahagianya.


"Bukan ke Barcelona saja, kita akan berkeliling dunia, ke tempat-tempat yang kau inginkan."


Karena terlalu senang, Naya langsung memeluk Zian dengan eratnya, melupakan perasaan sedihnya karena janji sederhana yang Zian ingkari di akhir pekan.


"Apa kita hanya pergi berdua saja?"


"Kalau perginya ramai-ramai, itu namanya bukan bulan madu, bodoh!" ucap Zian gemas. "Ah, sekarang, kau tidak bisa kabur kemana-mana. Kau tidak bisa minta tolong pada kakak bedebahmu itu lagi. Karena sekarang, kau hanya punya aku saja."


"Kau curang!"


Zian mencubit pipi Naya dengan gemas, "Kau tahu, aku harus melakukan banyak hal untuk bisa menculikmu dari penjara itu. Harusnya kau berterima kasih padaku."


"Penjara? Kaulah yang memenjarakanku. Ya, aku terpenjara dalam cinta seorang mafia." Naya memukul pelan dada Zian, "Kau merantaiku, melarang ini-itu, itu namanya penjara."


"Biar saja! kau akan selamanya aku penjarakan." Zian menambahkan.


"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Naya heran, "rumah itu kan dijaga 24jam oleh petugas keamanan."


"Ada saja!" jawab Zian singkat.


"Oh iya, semalam Anita datang ke rumah Kak Fahri. Dia membawa makanan yang banyak. Tapi dia pingsan setelahnya."


Akhirnya, tawa Zian pecah di kamar itu. Dia tertawa terbahak-bahak mengingat begitu kesalnya Anita semalam.


"Hahaha, Anita hanya pura-pura pingsan untuk mengelabui Kak Fahri dan Evan. Begitu kalian membawanya ke ruang kesehatan, dia mematikan semua CCTV di rumah itu, aku menaruh obat tidur pada makanan yang dibawa Anita. Lalu tengah malam aku masuk ke kamarmu dan membawamu keluar dari rumah itu. Begitulah kira-kira."


Naya pun merasa suaminya itu benar-benar sudah gila. Hanya untuk membawanya dari rumah itu, dia sampai melakukan kegilaan itu dan membawanya kabur keluar negeri hanya agar Fahri dan Evan tidak bisa menjauhkannya dari sang istri.


"Pantas saja aku merasa dia sangat aneh semalam."


"Aneh kenapa?"


"Dia memaksaku memakan makanan yang dia bawa..." jawab Naya sambil garuk-garuk kepala, "Eh tuan mafia! Sekarang berikan pakaianku. Kau ini jahat sekali, sudah menculikku, membuatku tidak pakai baju lagi..."

__ADS_1


"Tidak akan ada yang memakai baju sebelum aku mendapatkan jatahku! Kau mengerti?" Zian tersenyum penuh arti lalu tanpa aba-aba menerkam Naya dengan buasnya.


Laki-laki mesum itu benar-benar mewujudkan kata gempa bumi besar di tempat tidur yang diucapkannya tadi.


Kau benar-benar mafia licik! Kau menculikku, melepas semua pakaianku supaya aku tidak bisa kemana-mana. Sekarang, kau mengambil jatahmu seenaknya. Dan apa ini? Kenapa setiap kali kau melakukannya, kau seperti singa yang kelaparan?


****


Pesawat jet itu terus mengudara, Barcelona yang merupakan kota impian Naya semakin dekat.


Zian baru saja mendapatkan apa yang diinginkannya sejak tadi. Sedangkan Naya kembali tertidur setelah kelelahan menghadapi hasrat sang suami. Zian menarik selimut menutupi tubuh polos itu kemudian memberi kecupan di kening, lalu beranjak masuk ke kamar mandi.


Gemercik air dari kamar mandi menyatu dengan bunyi siulannya yang terdengar begitu riang gembira.


Ketukan pintu terdengar sesaat setelah laki-laki itu berganti pakaian. Dia segera membuka pintu kamar itu. Seorang wanita membawakan makanan yang telah dipesan Zian sebelumnya.


"Terima kasih," ucapnya pada pramugari itu, lalu kembali menutup pintu. Zian kemudian mendekat pada Naya dan duduk di bibir tempat tidur.


"Sayang..." bisik Zian sambil membelai rambut panjang wanitanya itu.


"Mmm..." Naya menggeliat pelan.


"Bangun dulu, kau belum sarapan," ucapnya, lalu menegecup kening sang istri beberapa kali hingga akhirnya terbangun.


Naya bangun dari posisi berbaringnya, duduk menyandar di tempat tidur, lalu menggulung selimut sampai batas leher. Bibirnya mengerucut begitu lucu.


"Kemana kau sembunyikan pakaianku? Aku kan tidak membawa selembarpun pakaian ganti."


Zian terkekeh pelan, "Ada, aku sudah siapkan semuanya. Mandilah dulu. Lalu sarapan."


***


"Mau aku suapi?" tanya Zian.


"Tidak, aku bisa makan sendiri."


"Ayolah, aku suapi saja. Bukankah enak makan dari tangan suami?"


Naya terpaksa membuka mulutnya ketika Zian menyuapkan sepotong sandwich ke mulutnya.


"Enak, kan?"


"Sama saja," jawab Naya sambil mengunyah dengan mulut penuh roti, karena Zian memaksa memasukkan semua potongan roti itu ke dalam mulut kecil sang istri.


Apanya yang enak. Caramu menyuapiku seperti ini. Benar-benar tidak romantis.


"Berapa jam lagi kita sampai?" tanya Naya kemudian.


Zian melirik jam tangannya, "Mungkin dua jam lagi."


****

__ADS_1


Pesawat itu pun mendarat di bandara internasional Barcelona. Naya sudah tidak sabar ingin menginjakkan kaki di kota yang telah lama diimpikannya itu. Sebelum turun dari pesawat, Zian memakaikan jaket ke tubuh sang istri, lalu mengajaknya segera turun.


Naya menganga tak percaya menatap pesawat jet pribadi itu . Bahkan di pesawat super mewah itu ada logo Kia-nya. Artinya pesawat itu adalah milik pribadi. Dia kembali menebak-nebak jumlah kekayaan sang suami.


Kenapa aku merasa dia sangat mencintaiku? Bahkan di pesawat itu ada inisial namaku.


Naya senyum-senyum sendiri, setelah merasa Zian begitu mencintainya. Dia melingkarkan tangannya di lengan sang suami sambil berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari pesawat.


Seorang pria berdiri tegak di samping mobil, tersenyum sambil membungkukkan kepalanya.


"Bienvenido a Barcelona, Senor! " kata pria itu.


"Gracias," jawab Zian sambil menepuk lengan pria itu. Lalu setelahnya mengajak Naya naik ke mobil. Pria itupun segera duduk di kursi kemudi dan melajukan mobil menuju suatu tempat.


"Kau bisa bahasa Spanyol?" tanya Naya penasaran.


"Memang kenapa?" Zian menatap Naya sejenak, "Kau ini aneh, kau ingin mengunjungi Barcelona, tapi kau bahkan tidak mengerti bahasa Spanyol. Kau mau kesasar?" kata Zian sambil menarik hidung mungil Naya dengan gemas.


Naya mengerucutkan bibirnya seperti biasa, merasa Zian sedang menghinanya.


"Aku tidak belajar bahasa Spanyol karena dulu aku merasa pergi berkeliling dunia sesuatu yang tidak mungkin. Ayah merantai kakiku. Teman-temanku liburan ke singapura saja, aku tidak boleh ikut."


Zian tersenyum, lalu membelai wajah cantik itu. "Kau ingin mengunjungi negara mana lagi? Aku akan membawamu kemana pun itu."


"Iceland..." jawab Naya dengan penuh semangat.


"Lalu kemana lagi?"


"Kemana yaa?" Naya kembali memikirkan negara-negara yang ingin dikunjunginya dengan wajah berbinar. Dia kemudian menyebutkan semua negara yang menjadi kota impiannya pada suaminya itu dengan suara manjanya.


Zian terus tersenyum menatap wajah polos itu, terus bertanya ke negara mana Naya ingin pergi. Padahal Zian sudah tahu setelah membaca buku catatan sang istri, dan sudah mempersiapkan dari jauh-jauh hari sebelum keberangkatannya.


Tidak terasa, mereka telah tiba di sebuah rumah yang lumayan besar dengan nuansa etnik. Naya begitu senang melihat rumah yang sangat indah itu. Sopir kemudian turun dan membukakan pintu mobil, lalu membawa koper mereka ke dalam rumah.


"Ini rumah siapa?"


"Rumahmu!" jawab Zian singkat.


"Rumahku?"


"Iya, ini rumahmu. Karena istriku sangat menyukai Barcelona, jadi aku membangun sebuah rumah di kota ini. Jadi kalau kita ke barcelona lagi, tidak perlu menyewa hotel. Apa kau suka?"


"Aku sangat suka."


Beberapa orang pelayan kemudian menyambut kedatangan mereka di rumah itu. Tak henti-hentinya Naya menatap setiap bagian rumah itu dengan kekaguman.


Saat tiba di kamar, tanpa aba-aba Naya mendekat pada sang suami dan memeluknya dengan erat, lalu menjinjitkan kakinya dan melingkarkan tangan di leher agar wajahnya dapat berhadapan dengan wajah sang suami yang tubuhnya tinggi menjulang itu. Naya kemudian menatap Zian dengan tatapan penuh cinta.


"Aku sangat mencintaimu," bisik Naya kemudian memberi ciuman mesra di bibir sang suami. Zian melingkarkan tangannya di pinggang Naya, lalu memejamkan matanya, meresapi hangatnya ciuman manis itu.


**

__ADS_1


BERSAMBUNG.


jangan Hareudang!!!!! sorry di tutup lagi... takut melanggar. 😂😂 harap maklum pemirsah


__ADS_2