Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Pendonor hati


__ADS_3

Hampir dua bulan Naya mengalami koma. Selama itu Zian tidak pernah meninggalkannya. Dia hanya pergi saat ada rapat penting di kantor. Sisanya dia habiskan untuk menemani Naya dan mengajaknya bicara. Walaupun sama sekali tidak ada respon darinya.


Zian bahkan mengubah ruangan itu menjadi seperti sebuah kamar pribadi. Dia mengganti brankar dengan tempat tidur ukuran king size, agar dia bisa tidur di samping Naya setiap malam dan memeluknya.


Pagi itu, Zian menemui Dokter Fahri di ruangannya untuk membicarakan perkembangan kesehatan Naya yang semakin menunjukkan penurunan.


Setelah membaca rekam medis Naya, Dokter Fahri terlihat begitu sedih.


"Satu-satunya cara yang bisa dilakukan hanya pencangkokan hati. Tapi kau tahu, kan... itu tidak mudah. Kita harus mendapatkan pendonor. Selain itu harus dilakukan banyak tes untuk mengetahui pendonor cocok atau tidak," ungkap Sang Dokter.


"Itu tidak masalah, kau usahakan saja. Aku akan meminta Anita mengurus pencarian pendoror," ucap Zian tanpa rasa ragu.


Mencari seorang pendonor hati bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Sebagai bekas mafia perdagangan organ tubuh manusia ilegal, Zian banyak mengenal orang yang bisa membantunya. Namun, pekerjaan itu telah dia tinggalkan lima tahun lalu, setelah terjadinya penembakan pada Naya. Fahri tidak mengetahui jika adiknya pernah terlibat dalam pekerjaan berbahaya itu.


Setelah bicara dengan kakaknya itu, Zian kembali ke ruangan dimana Naya berada.


Zian mengambil handuk kecil dan wadah. Lalu mengisinya dengan air hangat. Zian lalu duduk di samping Naya kemudian membuka pakaiannya dengan sangat hati-hati. Zian dengan telaten mengelap tubuh Naya dengan handuk kecil itu. Dia merawat Naya dengan penuh kasih sayang.


Setelah selesai mengelap dengan handuk basah, Zian mengambil handuk kering dan mulai mengeringkan tubuh Naya. Kemudian mengoleskan lotion di seluruh tubuhnya.


Zian lalu mengambil pakaian bersih dan memakaikannya. Dia merawat Naya dengan penuh kesabaran, seolah ingin membalas Naya yang selama satu tahun bersabar menghadapi kekasarannya.


Setelah selesai, Zian meletakkan wadah itu ke atas meja dan kembali duduk di samping Naya. Zian menatap wajah Naya lekat-lekat seraya membelainya.


"Apa kau bisa mendengarku?" ucap Zian lalu mendekatkan bibirnya di telinga Naya lalu berbisik pelan, "Aku mencintaimu."


***


Anita selalu dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik. Iklan pencarian pendonor hati beredar dengan cepat ke seluruh pelosok negeri. Telah ada beberapa orang yang datang ke rumah sakit untuk mengajukan diri sebagai pendonor hati. Betapa tidak, walaupun di dalam iklan tidak disebutkan imbalan apa yang akan diterima oleh orang yang bersedia menjadi pendonor hati itu mengingat adanya undang-undang tentang transplantasi organ tubuh, namun banyak orang yang tetap mendaftarkan diri sebagai pendonor. Mereka tahu jika Bos Kia Group itu adalah seseorang yang sangat dermawan. Tentu saja dia akan memberikan imbalan besar bagi sang pendonor.

__ADS_1


Sudah beberapa minggu berlalu sejak iklan itu terbit, belum ada satupun calon pendonor yang cocok dengan Naya. Zian tidak menyerah, dia terus mencoba mencari pendonor yang cocok untuk Naya.


Siang berganti malam, Zian berbaring di samping Naya yang tubuhnya dipenuhi peralatan medis itu. Dia menatap wajah Naya yang pucat dengan perasaan sedih.


"Nayaku... Bertahanlah... Tunggulah sebentar lagi. Aku pasti menemukan pendonor yang cocok untukmu, kau mau sabar menunggu, kan?" bisik Zian seraya memeluk tubuh Naya.


Zian menggenggam tangan Naya dan meletakkannya di dadanya. Dia mengecup kening gadis itu berkali-kali.


"Aku akan melakukan apapun untukmu. Untuk menebus semua kesalahanku. Kau harus bertahan untukku," ucap Zian. Dia terus berbicara dengan Naya, mengucapkan rencana-rencana indah yang sedang dia bangun untuk mereka. Hingga akhirnya rasa kantuk datang dan membawanya ke alam mimpi.


***


Pagi hari, Dokter Fahri datang ke kamar Naya dengan membawa beberapa berkas. Wajahnya suram, terlihat jelas raut kesedihan di matanya.


Zian mengalihkan pandangannya dari Naya, saat Dokter itu masuk ke ruangan itu. Dia melirik berkas yang dibawa oleh kakaknya itu, kemudian berpindah menatap wajahnya. Hanya dengan melihat wajah Sang Dokter yang tidak bersemangat itu, Zian sudah bisa menebak kabar apa yang dia bawa. Dia kemudian kembali menatap wajah pucat Naya. Mencari ketenangan di sana.


"Zian, ini adalah..." Dokter Fahri menggantung ucapannya karena langsung dipotong oleh Zian.


"Maafkan aku," kata Sang Dokter. Zian memejamkan matanya sesaat. Rasa kecewa, takut, sedih bercampur jadi satu membentuk butiran air mata.


"Aku juga akan melakukan tes. Mungkin saja hati ku cocok dengan Naya," ucap Zian tanpa mengalihkan pandangannya dari Naya. Dokter Fahri tersentak mendengar ucapan adiknya itu, matanya membulat, dengan wajahnya yang terlihat serius.


"Mari kita bicara di ruanganku saja," Dokter lalu Fahri keluar dari kamar itu, membawa kembali beberapa berkas yang tadinya akan dia tunjukkan pada Zian.


Zian kemudian menyusul Dokter Fajri ke ruangannya. Dia duduk di hadapan kakaknya itu.


"Kau yakin ingin menjadi pendonor untuk Naya?" tanyanya ingin memastikan kembali.


"Aku tidak perlu mengulang kata-kataku, kan... Aku yang menyebabkan Naya menjadi seperti sekarang. Jika aku memberikan separuh hatiku untuknya, bahkan walaupun seluruhnya, itu tidak akan cukup untuk membayar kesalahanku padanya."

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku akan menjelaskan dulu, apa resiko yang bisa kau terima dengan menjadi pendonor." Mendengar itu, Zian hanya menjawab dengan anggukan kepala. Keinginannya menjadi pendonor hati untuk Naya tidak dapat ditawar lagi. Bahkan jika dibutuhkan, dia akan memberikan selurub organnya untuk Sang Istri.


Dokter itupun mulai menjelaskan resiko yang mungkin akan terjadi pada Zian ataupun Naya sebagai efek samping dari pencangkokan itu. Namun, penjelasan Dokter Fahri itu tidak membuat Zian mengurungkan niatnya. Dia sepenuh hati ingin menjadi pendonor untuk Sang Istri apapun resikonya dan berharap hasil pemeriksaan nanti akan menunjukkan hasil yang positif.


"Aku tidak peduli apapun resiko yang mungkin akan aku terima, aku susah siap apapun itu..." kata Zian dengan penuh keyakinan.


"Baiklah, kalau begitu kau harus menjalani beberapa tes dulu untuk mengetahui apa kau bisa menjadi pendonor."


Dan, hari itu juga, Zian melakukan serangkaian pemeriksaan di rumah sakit itu. Ada banyak proses pemeriksaan yang harus dia jalani sebelum dinyatakan layak menjadi pendonor.


"Kapan hasilnya akan keluar?" tanya Zian sesaat setelah menjalani serangkaian pemeriksaan itu.


"Tenanglah! ikuti saja prosedurnya. Aku akan memberitahumu jika hasilnya sudah keluar," jawab Dokter Fahri. Zian menghela napas. Rasanya tidak sabar menunggu hasilnya keluar.


"Apa Naya bisa pulih setelah pencangkokan itu?" tanya Zian penuh harap.


"Tergantung kondisi fisiknya sebelum operasi. Kita tidak bisa memastikannya. Tapi kita tidak boleh kehilangan harapan. Aku akan berusaha semampuku untuk Naya..."


"Aku percaya padamu. Kau sudah merawat Naya dengan sangat baik," ujar Zian.


"Persiapkanlah dirimu. Jika hasilnya cocok, kita bisa segera melakukan operasi pencangkokan."


***


Setelah menjalani pemeriksaan dan berkonsultasi dengan Dokter Fahri, Zian kembali ke kamar Naya.


Zian menghampiri Naya dan duduk di sisinya, "Kau akan sembuh, Naya... Kau akan sehat kembali seperti dulu."


*****

__ADS_1


Ya ampun, nulis ini aza dari pagi sammpai malam... 😂


__ADS_2