Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Talkshow


__ADS_3

"Aku, Leophard Bay Pyordova. Aku mengadakan acara talkshow ini untuk untuk menceritakan sebuah kisah yang aku alami di masa kecilku. Sepuluh tahun lalu, aku mengalami sebuah kejadian yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Ketika seorang pria menculikku dan membawaku pada seorang bos mafia. Aku juga tidak tau mereka siapa karena saat itu usiaku masih dua belas tahun.


Aku disekap selama berhari-hari. Aku pikir aku akan mati saat itu. Aku begitu ketakutan. Sampai akhirnya, tibalah hari dimana mereka akan menjualku pada seseorang.


Saat itulah, hadir seorang pria yang bagiku seperti malaikat. Dia menyelamatkanku dari penculikan itu. Bahkan, saat itu dia hampir saja terbunuh hanya demi menyelamatkan seorang anak kecil yang dia sendiri tidak kenal. Jika bukan kebaikannya, mungkin sekarang aku sudah mati.


Orang yang aku bicarakan ini adalah Tuan Zildjian Maliq Azkara, atau mungkin kalian pernah dengar nama Tuan Maliq. Ya, dia adalah bos Kia Group. Seperti yang kalian semua ketahui, Tuan Maliq saat ini sudah ditahan selama dua tahun ini karena sebuah kasus yang belum terungkap kebenarannya.


Tuan Maliq dituduh sebagai seorang bos mafia perdagangan organ tubuh manusia ilegal dan juga seorang bos mafia obat-obatan terlarang. Dan, berdasarkan kejadian yang menimpaku di masa lalu, aku memiliki keyakinan bahwa Tuan Maliq tidak bersalah. Ada konspirasi dibalik semua ini.


Aku akan jadi orang pertama yang akan bersaksi bahwa Tuan Maliq tidak bersalah. Jika di antara kalian ada yang merasa pernah diselamatkan Tuan Maliq, maka aku mengajak kalian untuk bersaksi membela Tuan Maliq.


Dua hari lagi, sidang akhir untuk kasus Tuan Maliq akan digelar. Seperti yang kita ketahui bersama, berdasarkan peraturan hukum di negara kita, maka kemungkinan besar Tuan Maliq akan dijatuhi vonis mati.


Kalian tentu tahu Yayasan Kia yang sudah menolong banyak orang. Apakah kita akan membiarkan orang sebaik Tuan Maliq dijatuhi hukuman mati? Padahal dia sendiri tidak bersalah? Aku mengajak kalian untuk meminta keadilan bagi Tuan Maliq."


Kalimat panjang itu diucapkan Leo dalam sebuah talkshow yang ditayangkan hampir di seluruh stasiun tv. Setidaknya keluarga Pyordova memiliki empat stasiun tv ternama di negara itu. Dan semuanya menayangkan acara talkshow yang mendadak viral itu.


Berita dengan cepat tersebar ke seluruh pelosok negeri, bahkan sampai keluar negeri. Kehebohan pun kembali terjadi di kalangan masyarakat. Baik di dunia nyata atau di dunia maya. Tuan Maliq, untuk kesekian kalinya menjadi trending dimana-mana.


Di hari yang sama setelah acara talkshow itu digelar, para korban kejahatan yang pernah diselamatkan Zian, mulai bermunculan dan ramai-ramai mendatangi stasiun tv milik keluarga Prordova.


Sementara itu di suatu tempat, Kenzo dan Alex sedang menonton berita yang ditayangkan di tv. Mereka terlihat gelisah.


"Bocah tengik itu akan menjadi ancaman bagi kita," ucap Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari tv. Alex juga terlihat geram melihat berita itu.


"Kalau begitu perintahkan anak buahmu menangkap Kanaya dan anaknya hari ini juga. Hanya dia yang tahu dimana Maliq menyembunyikan anak dan istrinya," ucap Alex sambil melirik Dimas yang sedang berdiri di sudut ruangan itu.


Kenzo melirik Dimas dan kemudian mengangguk, "Dimas, bawa Kanaya pada Alex hari ini juga. Itu bisa kita gunakan untuk membungkam Maliq." titah Kenzo pada anak buah kesayangannya itu.


"Itu mudah, aku akan membawanya kemari, bos! Tapi kau bisa menjamin Alex tidak akan melukai Naya dan anaknya seujung kuku pun? Setidaknya sampai persidangam selesai. Karena kalau mereka terluka, kita semua akan dapat masalah. Kita bisa dituntut balik. Dan aku tidak mau berurusan dengan polisi. Naya juga tidak mengetahui kalau suaminya sekarang dipenjara. " ucap Dimas menekan.


Kenzo melirik Alex sekilas, dengan tatapannya yang tajam. "Dimas akan membawa Kanaya dan anaknya padamu! Tapi seperti ucapan Dimas, jangan lukai dia ataupun anaknya."


"Baiklah, yang penting bagiku Maliq dinyatakan bersalah. Baru kita semua aman," kata Alex menyetujui.


"Baiklah, aku akan lakukan. Setelah Tuan Maliq dinyatakan bersalah, maka Kanaya sepenuhnya milikmu. Terserah kau mau membunuhnya atau tidak!" ucap Dimas, sebelum akhirnya meninggalkan dua orang itu.


****


Dan seperti perintah sang bos, hari itu Dimas benar-benar mendatangi villa yang letaknya di tengah hutan itu. Dimas bisa saja masuk dengan bebas ke villa itu tanpa dihalangi oleh para pengawal Kia Group yang berjaga 24jam di tempat itu.


Naya sedang bermain bersama Deniz di taman saat Dimas datang. Bocah laki-laki menggemaskan itu begitu senang ketika melihat Dimas datang. Dengan tawa khasnya dia berlari menghambur memeluk Dimas yang sudah hampir emoat bulan tidak bertemu dengannya.


"Apa kabar jagoan kecilku? Aku sangat merindukanmu!" ucap Dimas lalu mengecup wajah anak itu.


"Om Dimas darimana?" tanya Deniz dengan suara cadelnya. Dimas tidak menjawab pertanyaan Deniz, namun memeluknya dengan sayang seperti dulu saat masih bekerja di Kia Group.

__ADS_1


"Dimas?" Naya datang menghampiri Dimas dan Deniz yang sepertinya sedang melepaskan rindunya.


"Naya, aku... Aku kemari untuk menjemputmu dan Deniz!" ucap Dimas.


"Menjemputku?"


"Kau ingin bertemu dengan suamimu, kan?" tanya Dimas.


Seketika raut wajah Naya berubah mendengar ucapan Dimas. Cairan bening menggenangi kelopak matanya. "Zianku... Apa dia akan kembali?" Suara Naya terdengar bergetar. Setelah dua tahun berpisah, akhirnya akan bertemu kembali.


"Maka dari itu, ikutlah denganku!"


"Baiklah, tapi aku akan minta izin Bibi dulu," Naya mengusap air matanya yang terjatuh, lalu hendak masuk ke dalam sana untuk memberitahu Bibi Carlota. Namun, Dimas menahannya.


"Jangan beritahu siapapun! Suamimu tidak ingin orang lain tahu tentang pertemuan kalian!"


"Tapi kenapa?" tanya Naya heran.


"Dia bilang, kau akan tahu saat kalian bertemu, jadi jangan bertanya."


Walaupun merasa bingung dengan ucapan dimas, namun rasa bahagianya akan bertemu sosok suaminya membuatnya merasa sangat bahagia. Naya menggendong Deniz dan membawanya naik ke sebuah mobil yang sudah terparkir di depan sana. Tidak ada seorang pun pengawal yang menghalangi Dimas membawa Naya dan Deniz keluar dari tempat itu.


Hingga mereka tiba di sebuah bangunan besar. Naya masih heran menatap bangunan itu. "Apa dia ada di dalam sana?" tanya Naya.


"Kau akan tahu nanti. Ini tempat yang paling aman bagimu, setidaknya untuk sekarang ini!" ucap Dimas.


"Kita mau bertemu ayah, Nak! Deniz mau kan, bertemu ayah?" Wajah bocah itupun langsung sumringah ketika mendengar ibunya menyebut kata ayah.


"Mau... Aku mau ayah, Bu...!" ucapnya dengan penuh semangat. Naya hanya tersenyum seraya mengusap kepala anaknya itu.


Dimas kemudian membawa mereka memasuki bangunan itu. Namun, semakin lama, Naya semakin merasa bingung. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Zian di rumah besar itu. Sementara Deniz terus menanyakan kemana ayahnya pada Dimas dan Naya.


Naya memperhatikan beberapa pria yang berjaga di sana, matanya pun menangkap sesuatu yang aneh. Dia melihat beberapa pria yang berjaga di tempat itu memiliki jari yang cacat. Naya pun teringat pada ucapan Zian saat itu.


Jika suatu hari kau bertemu dengan seseorang yang tidak memiliki ibu jari dan telunjuk di kedua tangannya, bisa jadi mereka adalah penjahat yang pernah berurusan denganku.


Ucapan Zian itu masih terekam jelas diingatannya saat dirinya menemukan banyak senjata di ruang rahasia Zian. Naya menatap Dimas dengan perasaan curiga, kemudian mengeratkan pelukannya pada anaknya yang masih dalam gendongannya.


banyak di antara mereka yang tidak memiliki ibu jari dan telunjuk. Apakah itu artinya mereka semua adalah musuh Zianku? Dan Dimas, mengundurkan diri dari Kia Group untuk bergabung bersama mereka. batin Naya.


Dimas membawa Naya memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya ada banyak penjaga. "Tunggulah di sini! Oh ya... Aku sudah siapkan mainan untuk Deniz di ruangan ini. Jadi kau jangan khawatir. Deniz tidak akan bosan di sini."


Tidak lama kemudian, datanglah seorang pria memasuki ruangan itu. Naya pun begitu terkejut melihat siapa yang ada di sana. Dia langsung mengeratkan pelukannya pada anaknya. Sementara Dimas berdiri di sudut sana memperhatikan Alex.


"Ma-Marvin? Kau... Dimas ada apa ini?" tanya Naya dengan suara gemetar.


Gelak tawa laki-laki itu pecah di ruangan itu, melihat ketakutan di wajah Naya. Sementara Deniz menatap heran pada ibunya.

__ADS_1


"Lama tidak bertemu, Kanaya Indhira Adiwinata... Anakmu sudah besar, ya...!" ucap Alex.


Naya akan melangkahkan kakinya membawa Deniz keluar dari ruangan itu, namun langkahnya terhenti saat melihat banyaknya pengawal yang berjaga di sana.


Naya kemudian menatap sedih pada Dimas. Seseorang yang selama ini menjadi asisten kesayangan Zian ternyata hanyalah seorang pengkhianat.


"Dimana suamiku?" Naya bertanya dengan berteriak keras.


"Suamimu?" ucap Alex seraya terkekeh. "Aku akan memberitahumi dimana suamimu berada."


Alex menyalakan tv dan mengganti-ganti chanel, sampai akhirnya menemukan chanel tv yang memberitakan Zian yang sedang ditahan.


Seketika pertahanan yang dibangun Naya selama dua tahun runtuh begitu saja. Melihat berita di tv yang menayangkan kasus yang menjerat sang suami. Dia menurunkan Deniz dari gendongannya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan menangis sejadi-jadinya di dalam ruangan itu.


Jadi selama dua tahun ini suamiku ditahan dan aku tidak tahu. Aku ini istri macam apa? Kenapa aku bisa tidak tahu apa yang terjadi pada suamiku. Kenapa dia rahasiakan semua ini dariku.


Si kecil Deniz pun keheranan melihat sang ibu yang menangis disana.


"Ibu... Kenapa ibu menangis?" tanyanya seraya menghapus air mata ibunya.


Naya memeluk anaknya itu dalam tangisannya. Sementara Alex tertawa puas. Deniz hanya menatap ibunya dan Alex bergantian. Anak itu sama sekali tidak merasa takut walaupun Alex terlihat begitu menyeramkan. Dia bagai memiliki keberanian seperti ayahnya.


"Kau tenang saja, Kanaya... Aku tidak akan membunuhmu sebelum pengadilan memutuskan hukuman apa yang akan dijatuhkan pada suamimu itu," ucap Alex dengan seringai liciknya, lalu keluar dari ruangan itu.


Sementara Naya masih menangis sambil memeluk Deniz. Menumpahkan semua kesedihannya. Dimas hanya menatap datar pada Naya.


"Pastikan dia dan anaknya tidak keluar dari ruangan ini, jangan biarkan siapapun selain aku masuk ke sini! Dan yang pasti, jangan sampai mereka terluka sedikitpun!" perintah Dimas pada orang-orang itu, kemudian mengikuti langkah kaki Alex yang sudah keluar lebih dulu. Salah seorang pengawal menutup pintu ketika Dimas sudah keluar.


Naya kemudian menyeka air matanya, lalu menatap satu persatu beberapa pengawal yang tertinggal di dalam ruangan itu.


Bukankah mereka adalah... Ada apa ini sebenarnya? Batin Naya.


Naya masih merasa bingung dengan semua yang terjadi, otaknya bekerja keras menyimpulkan semua kejadian itu. Sementara si kecil Deniz dengan cerianya sudah bermain robot-robotan dengan salah satu pengawal yang menjaga mereka di ruangan itu.


Dimas, sengaja menyiapkan banyak mainan untuk Deniz agar bocah kecil itu tidak membuat kerusuhan di sana.



***


Bersambung


Karena aku baik, jadi aku kasih kalian petunjuk. udah bisa nebak kan????


Nah kan, nah kan.. berikutnya Siapkan jantung kalian.


Ramaikan dulu bab ini, baru kita lanjut ke bab selanjutnya. wkwkwkk

__ADS_1


__ADS_2