
Malam hari....
Zian menarik selimut menutupi tubuh polos sang istri setelah mengerjakan sesuatu yang bagi lelaki mesum itu sangat menyenangkan. Sedangkan Naya, masih betah dalam posisinya, menjadikan lengan sang suami sebagai bantal.
"Sayang..." bisik Naya pelan.
"Ehm..." Zian hanya menjawab bisikan itu dengan deheman.
"Boleh aku minta sesuatu?" tanya-nya dengan suaranya yang manja.
"Apa?" Zian menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. Anita baru saja mengirimkan pesan dan membuat wajahnya berubah serius.
"Boleh tidak?!" Naya mulai mengeraskan suaranya karena tatapan sang suami terus tertuju pada ponsel di tangannya. Zian menghela napas, kemudian meletakkan ponsel itu di meja.
"Kau mau minta apa?" tanya Zian seraya mencubit gemas pipi gempil istrinya itu.
"Kau akan memberikan apapun yang aku minta, kan?" Sekali lagi gadis itu bertanya untuk memastikan.
Zian mendaratkan kecupan di kening, "Apapun untukmu. Katakan saja."
Wajah Naya langsung berbinar mendengar ucapan sang suami. "Benar?"
Zian mengerutkan alisnya, heran karena Naya terlihat ragu untuk meminta. "Iya... Selama yang kau minta sanggup aku penuhi."
Naya kembali merayu Zian dengan mengusap-usap dada bidang itu dengan tangannya. Lalu memberi kecupan singkat di bibir. Zian pun mulai curiga dengan kelakuan Naya yang menurutnya sangat tidak biasa itu.
"Aku mau pulang ke rumah lama kita. Aku mau tinggal di sana lagi." Naya berbisik dengan suara manjanya. Berusaha merayu Zian semampunya.
Sejenak Zian terdiam mendengar permintaan itu. Baginya membawa Naya pulang ke rumah itu adalah sesuatu yang tidak mungkin dia penuhi. Rumah itu adalah saksi bisu dimana laki-laki itu sangat kejam memperlakukan istrinya. Zian kemudian menatap wajah Naya lekat-lekat lalu membelainya dengan kelembutan.
"Sayang... Mintalah apapun padaku. Akan aku berikan apapun itu. Tapi jangan memintaku membawamu ke rumah itu lagi." ucapnya seraya membelai wajah Naya dengan matanya yang kembali berkaca-kaca, mengingat kembali perbuatannya pada sang istri.
__ADS_1
Sampai detik ini, Zian belum dapat memaafkan dirinya atas apa yang dia perbuat pada Naya di masa lalu. Setiap kali mengingat bagaimana menderitanya Naya menjalani hidupnya di rumah itu, cairan bening akan memenuhi kelopak mata laki-laki itu.
"Tapi aku mau tinggal di rumah itu. Aku tidak suka rumah ini." Naya mengerucutkan bibirnya, sudah hampir menangis lagi. Zian segera memeluknya dan berusaha membujuk.
"Lepaskan!!!" Naya menepis tangan Zian yang sudah melingkar di tubuhya.
"Naya... Aku benar-benar tidak bisa membawamu kembali ke rumah itu. Aku mohon jangan meminta itu dariku."
Naya sudah mulai menangis lagi. Zian pun kembali heran dengan tingkahnya yang aneh. Naya tidak pernah meminta sesuatu padanya sampai menangis seperti itu.
Ya ampun... Kenapa tingkahnya semakin aneh. Apa ini pengaruh orang-orang yang tadi menghinanya sehingga dia menjadi seperti ini?
Zian menarik Naya ke dalam pelukannya. Meskipun gadis itu berusaha memberontak, namun Zian tetap memaksa memeluknya.
"Apa salahnya kalau aku mau tinggal di sana. Aku ingin bersama Zianku yang lama. Aku ingin memasak makanan untukmu seperti dulu. Hiks... hiks... Sekarang di rumah ini kau merantaiku. Kau bahkan melarangku menyentuh dapur."
"Baiklah, setelah semua urusan ini selesai, kita akan pergi ke rumah itu." Akhirnya Zian mengalah, karena istrinya yang mendadak cengeng itu terus menangis.
"Setiap akhir pekan kita akan menginap di rumah itu."
"Kenapa akhir pekan saja?"
"Ayolah, Naya! Bagiku sangat berat membawamu ke rumah itu lagi. Jadi jangan membantahku!"
"Baiklah..."
Zian kembali meraih ponselnya yang berada di atas meja dan membuka beberapa pesan yang dikirm Anita. Senyum pun terbit di sudut bibirnya.
"Lihat! Anita berhasil mendapatkan foto aslinya." Zian mempelihatkan pada Naya foto mereka yang baru tersebar. Di foto itu wajah Zian terlihat sangat jelas.
"Bagaimana Anita mendapatkan foto ini?" tanya Naya heran.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Dia juga menemukan pelakunya. Orang yang menjebak kita saat itu."
Wajah Naya langsung berubah mendengar ucapan Zian. "Anita menemukan pelakunya? Siapa?" tanya Naya penasaran.
"Aku juga tidak tahu... Anita bilang namanya Gaby," jawab Zian. "Apa kau mengenal seseorang yang bernama Gaby?"
Naya mencoba mengingat-ingat nama yang baginya tidak asing itu. Lalu kemudian teringat pada satu seniornya di kampus dulu.
"Aku ingat. Gaby itu seniorku di kampus. Tapi kenapa dia melakukannya pada kita?"
"Anita bilang, dia melakukannya untuk menjatuhkanmu. Agar Marvin membatalkan niatnya menikahimu." Zian tertawa kecil setelah mengucapkan itu, kemudian menghujani wajah Naya dengan kecupan-kecupannya.
"Sepertinya aku harus berterima kasih padanya. Kalau bukan karena ulahnya, mungkin kau tidak punya senjata untuk memaksaku menikahimu."
Ya, saat itu aku sangat membenci takdir yang membuatku terpaksa menikahi gadis menyebalkan sepertimu. Aku baru sadar kalau Tuhan selalu punya rencana yang indah untuk manusia.
"Kau ingat? Dulu kau meminta Dimas merusak mobilmu dan membawanya ke bengkelku," ucap Zian gemas sambil menunjuk-nunjuk kening istrinya itu. "bagaimana otakmu yang nakal ini bisa punya ide segila itu? Apa kau tahu, kau membuat Dimas sangat kesal, ha-ha-ha..." Zian meledek Naya dengan mengingatkan hal paling memalukan yang dilakukan oleh gadis itu.
Naya pun tersenyum sipu mengingat bagaimana kelakuannya saat itu. Dirinya begitu jatuh cinta pada Zian, sampai nekat melakukan hal-hal aneh untuk bisa dekat dengan pangerannya itu. Bahkan bisa dibilang Naya sangat tidak tahu malu dan terus mendekati Zian.
"Jangan mengingatkan itu. Aku malu... "
"Kenapa kau baru merasa malu sekarang? Ha-ha-ha..." Zian terus tertawa mengingat kelakuan istri kecilnya itu. Bahkan Naya membuat Mia kesal karena selalu datang subuh-subuh hanya untuk mengintip Zian dari balik jendela dengan menggunakan teropong jarak jauh.
"Kau jahat!! Bahkan waktu itu kau juga menyebutku malapetaka."
Zian terus tertawa lantang, membuat Naya kesal setengah mati. Lalu kemudian laki-laki itu tersadar ketika melihat raut wajah sang istri yang merengut dengan mata berkaca-kaca. Zian lupa kalau istrinya itu sedang berperan menjadi gadis paling manja dan cengeng di dunia.
"Baiklah, maafkan aku, Nayaku sayang! Malapetaka-ku yang paling indah! Sekarang tidurlah, sudah larut malam," ucap Zian seraya memeluk tubuh polos sang istri dengan gemasnya, lalu mengecup bibir manis itu dan memberi gigitan lembut sebelum melepasnya. Kemudian mengambil piyama milik Naya yang teronggok di lantai. "Pakai bajumu, nanti masuk angin!"
Bersambung.
__ADS_1