
"Maaf, aku baru sempat kemari menjengukmu. Dimas mengundurkan diri dari Kia Group, jadi aku belum pernah kemana-mana sejak tiga bulan ini. Apa kau sudah tahu tentang itu?" tanya Anita sesaat setelah Zian menghabiskan makanan yang dibawa Anita untuknya.
"Aku tahu. Dia kemari dan berpamitan padaku sebelum pergi," jawab zian.
"Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba pergi begitu saja." Anita teringat Dimas yang secara tiba-tiba memutuskan hengkang dari Kia Group. Bahkan, dia tidak menyebutkan alasannya berhenti bekerja.
"Tidak apa-apa. Lebih baik, kau jangan kemana-mana sampai keadaan benar-benar aman. Aku hanya bisa menjaga kalian dari sini."
"Kau tenang saja," sahut anita seraya tersenyum. Gadis itu kemudian mengeluarkan sebuah foto yang diambilnya dari rumah.
"Aku membawa foto terbaru Deniz. Sekarang, dia sudah bisa bicara dengan jelas. Walaupun kadang masih belepotan," ucap Anita dengan terkekeh kecil mengingat betapa lucunya anak Zian itu.
Zian meraih foto itu dari tangan Anita. Matanya kembali dipenuhi cairan bening, menatap foto anaknya yang terlihat begitu ceria.
"Senyumnya menyala seperti Naya."
"Bibi bilang, dia sangat mirip denganmu saat kau kecil. Bahkan, dia juga suka makan roti tawar dengan madu di atasnya."
Zian tersenyum bahagia mendengar ucapan Anita. Rasanya ingin sekali Zian memeluk anaknya itu. Namun, keadaan memaksanya untuk tidak egois. Laki-laki itu akan melakukan apa pun untuk bisa melindungi anak dan istrinya. Zian selalu punya cara yang unik untuk melindungi orang-orang di sekitarnya, termasuk caranya menyembunyikan Naya dan Deniz ke sebuah villa yang jauh dari kota.
"Denizku, dia sangat menggemaskan. Aku ingin sekali mencubit pipi gempilnya," ucap Zian tanpa melepaskan pandangannya dari foto itu.
Kerinduan yang dirasakan Zian selama dua tahun tidak bisa bertemu anak dan istrinya telah menggunung. Jika bukan demi keselamatan mereka, Zian bisa saja menghadapi Alex dan Kenzo tanpa rasa takut.
"Maliq... Tadi saat sarapan dia menanyakan sesuatu pada ibunya."
"Apa yang dia tanyakan?" Zian terlihat antusias saat membicarakan anaknya.
"Dia bertanya, kapan ayah pulang?"
Sekilas, Zian melirik Anita, lalu kembali menatap foto anaknya itu. "Aku pasti pulang Anita. Entah dalam keadaan hidup atau mati. Aku pasti akan pulang. Aku hanya ingin memeluk Denizku saja sebelumnya. Aku telah kehilangan dua tahun masa-masa pertumbuhannya."
Anita mengusap bahu sahabatnya itu, sambil menahan agar air matanya tidak terjatuh. "Kau harus bisa membuktikan kau tidak bersalah dan membayar hutangmu pada Naya dan Deniz. Bukan malah mengakui sesuatu yang kau tidak pernah lakukan."
__ADS_1
"Kau tenang saja. Sementara aku hanya bisa mengikuti keinginan mereka. Kau bisa mengerti, kan?" tanya Zian membuat Anita mengangguk pelan.
"Kau sudah bicara dengan pengacaramu?" tanya Anita.
"Ya, mereka hampir setiap hari kemari. Kak Fahri menyewa dua pengacara terbaik untuk membantuku dalam kasus ini."
"Semoga mereka bisa membantumu mengungkap kebenarannya," kata Anita.
"Ya..."
"Baiklah kalau begitu! Aku harus pergi. Aku mau ke toko mainan dulu. Kemarin Deniz merengek padaku mau mobil-mobilan tank tempur."
"Berhati-hatilah," ucap Zian kemudian.
Saat Anita akan melangkahkan kakinya, Zian memanggilnya dan memintanya mendekat. Zian pun membisikkan sesuatu ke telinga Anita, "Ingatlah satu hal Marissa, tempat paling aman adalah tempat yang paling berbahaya."
Anita mengerutkan alisnya mendengar ucapan Zian. Walaupun dia belum bisa mencerna apa maksud Zian mengucapkan kalimat itu, namun gadis itu tetap merespon dengan anggukan kepala.
Setelah itu, Anita melangkahkan kakinya keluar dari rumah tahanan itu, menuju ke sebuah toko mainan anak. Hari itu Anita bepergian dengan penampilan yang berbeda agar tidak ada yang mengenalinya, sehingga dia merasa bebas pergi kemana pun dengan penyamaran yang nyaris sempurna.
Sementara Anita sedang asyik dengan kegiatannya memilih mainan, sepasang mata menatapnya tajam dari jarak aman. Anita tidak menyadari jika bahaya sedang mengintainya.
Hingga Anita selesai dengan urusannya, dia berjalan keluar dari toko mainan itu dan memasukkan ke mobil.
"Antar aku ke kantor pusat dulu. Aku harus mengurus beberapa hal penting," pintanya pada sang sopir.
"Baik, Nona!"
Setibanya di gedung pusat Kia Group, Anita langsung disibukkan dengan beberapa pekerjaan penting. Hingga tak terasa malam menjelang. Anita baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang lama tertunda.
Anita kemudian menyandarkan punggungnya di kursi, memikirkan ucapan Zian tadi saat dia mengunjunginya.
Tempat paling aman, adalah tempat yang paling berbahaya. Apa maksudnya? batin Anita.
Gadis itu melirik arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Cepat-cepat, Anita keluar dari ruangannya menuju basement tempat beberapa pengawal sudah menunggunya.
__ADS_1
Namun, saat tiba di basement, suasana sangat sepi. Tidak ada sejumlah pengawal Kia Group yang tadi terus menemaninya. Anita memutar bola matanya kesana kemari, namun tak melihat seorang pun.
Hingga seseorang mencwkalnya dari belakang dan membekap mulutnya. Seketika, semuanya menjadi gelap dan Anita tidak sadarkan diri lagi.
Laki-laki itu kemudian membawa Anita ke sebuah mobil yang terparkir di sana, lalu dengan segera keluar dari basement gedung pencakar langit itu.
****
Di villa, Naya mondar-mandir sambil sesekali melirik arah jarum jam. Tidak biasanya Anita pergi sampai malam belum kembali.
"Bagaimana aku menghubunginya? Kenapa Anita belum pulang juga?" gumamnya.
Tidak lama, Deniz datang dengan membawa buku gambar dan pewarna. "Ibu, ajari aku melukis seperti Ibu..." ucapnya.
"Baiklah, ayo sini!" Naya menggendong anaknya itu dan membawanya ke ruang keluarga. Disana, Naya mengajari Deniz mengenal nama-nama warna.
Sesekali Naya masih memikirkan Anita yang belum juga kembali. Sampai akhirnya, Deniz mulai merasa mengantuk setelah lelah mewarnai. Naya pun segera membawanya ke kamar dan menidurkannya.
***
Sementara itu, Anita masih belum sadarkan diri dari pengaruh obat bius. Gadis itu berbaring dalam keadaan terikat tali.
Perlahan dia mulai membuka matanya, dengan rasa kantuk yang masih tersisa. Matanya membulat sempurna ketika menyadari sedang dalam keadaan terikat. Sekuat tenaga, Anita berusaha melepaskan dirinya dari tali yang membelenggu tangan dan kakinya, hingga lecet di beberapa bagian.
Hingga terdengarlah suara tawa menggelegar dan mengagetkannya. Alex berdiri di ambang pintu dengan wajah yang begitu terlihat puas. Namun, bukanlah Alex yang membuat Anita begitu terpaku, melainkan seorang pria yang berada di samping Alex.
Tiba-tiba cairan bening memenuhi kelopak matanya melihat siapa yang ada di sana.
****
BERSAMBUNG
Main tebak-tebakan dulu yuukkkk! kalo rame dan banyak bener, aku double up hari inih...
__ADS_1