Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
OBROLAN MALAM


__ADS_3

Sungguh interior kamar ini membuat orang yang berada di dalamnya menjadi takut."


Maureen kembali mengatakan hal tersebut sambil memandang sekeliling berkali - kali.


"Tuhan, sampai saat ini aku tidak mengetahui karekteristik dari tuan muda Austin, dan saat ini aku akan satu tempat tidur dengannya."


Maureen kembali mengatakan hal tersebut sambil membelai tempat tidur yang pada nantinya akan di tiduri juga oleh tuan muda misterius bernama Austin.


Hari ini pada akhirnya Maureen menghabiskan waktunya untuk beristirahat di dalam kamar dengan nuansa warna hitam yang menakutkan itu.


Dengan perlahan pada akhirnya Maureen mulai mencoba untuk beradaptasi dengan dekorasi kamar yang saat sungguh terlihat sangat aneh bagi Maureen.


Dan malam hari pun tiba, Maureen yang telah diberikan obat dokter Jean untuk memperbanyak kualitas tidurnya kini telah terlelap dengan sempurna.


Dengan perlahan tiba - tiba saja masuk satu orang laki - laki yang hendak beristirahat karena hari ini dengan pekerjaannya yang cukup padat.


"Ternyata wanita itu sudah tidur."


Hal tersebut yang Austin katakan ketika pertama kali masuk ke dalam kamar dan melihat satu orang wanita sudah tidur terlelap di atas tempat tidurnya.


Sungguh hal yang aneh bagi Austin, karena sepanjang hidupnya Austin belum pernah satu tempat tidur dengan seorang wanita di dalam kamar pribadinya.


Bila Austin ingin bercinta, Austin akan selalu menggunakan kamar yang lainnya, atau Austin yang akan mendatangi kamar penjara cinta untuk menghampiri wanita tersebut.


Kamar penjara cinta yang memang sengaja di bangun oleh Austin untuk dirinya melakukan hal - hal tersebut tanpa menganggu ranah pribadinya.


Dengan cepat Austin meletakkan jubah hitamnya, melepaskan topeng dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Di bahwa guyuran air dingin lah Austin dapat mengistirahatkan pikirannya, dan juga berhenti memikirkan musuh - musuhnya yang siap untuk menyerang kapanpun tanpa pernah dia tau.


Selesai mandi Austin keluar dari dalam kamar mandi dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk saja.


Dengan langkah tenang Austin kembali memakai topengnya tersebut, kini dia juga harus memakai topeng di mata kirinya karena di dalam kamar sudah ada orang lain yang sampai saat ini masih belum di perbolehkan untuk mengetahui wajah asli dari sang tuan muda misterius tersebut.


Dengan langkah tenang pula Austin yang masih bertelanjang dada masuk ke dalam selimut dan mulai merebahkan badannya yang seharian ini telah banyak melakukan aktivitas


Jadi seperti ini rasanya ketika tidur di samping seorang wanita?

__ADS_1


Austin mengatakan hal tersebut di dalam hati sambil memandang wajah Maureen yang tenang saat tertidur..


Namun tiba - tiba saja Maureen mendekat ke arah Austin dan memeluk dada bidang Austin.


Austin sontak kaget dengan apa yang telah di lakukan oleh Maureen..


Hei wanita bodoh kenapa kau memelukku seenaknya sendiri ha.


Austin berkata di dalam hati sambil menyingkirkan tangan Maureen dari dalam bidangnya tersebut.


Namun tangan Maureen yang seolah - olah tidak mau untuk menyingkir dari pemilik dada bidang tersebut kini kembali memeluk Austin dengan sangat erat .


Kurang ajar, sepertinya aku perlu membangun kan mu!


Namun langkah Austin tiba - tiba saja terhenti saat melihat wajah tenang Maureen, wajah yang sangat menikmati memeluk dada bidang milik Austin.


Seketika itu juga mendadak Austin memiliki rasa belas kasihan.


Austin membiarkan tangan Maureen memeluknya dan ajaibnya rasa kantuk kini juga mulai menjalar sampai kepada Austin.


Setelah mengatakan hal tersebut ke dua mata Austin terlelap dan tubuhnya menerima pelukan dari Maureen..


Sungguh di luar dugaan, Austin yang terbiasa dengan penyakit insomnia, Austin yang setiap malam selalu menghabiskan malam - malamnya dengan minuman keras dan juga berbatang - batang rokok, malam hari ini terlelap sempurna di samping satu wanita malam yang sangat membuatnya jijik.


Sementara itu di dalam taman mansion.


"Alexander, jangan berada di dalam taman sendirian, berbahaya, kau lihat mansion Utara menjadi porak poranda akibat sabotase yang telah di lakukan oleh salah satu pengawal Black Devil."


Malam hari ini Dokter Jean yang hendak pulang ke dalam mansion nya melihat tuan besar Alexander duduk termenung di bangku taman mawar merah tersebut.


Dengan langkah cepat dokter Jean segera menghampiri kakak kandung kesayangan tersebut.


"Ya Jean aku tau, namun sekali saja aku ingin mengenang masa itu."


Dengan tatapan menerawang tuan besar Alexander mengatakan hal tersebut sambil menatap ke arah langit.


"Kau mengatakan bahwa kau sudah merelakan kepergian istri mu Freya, namun kenapa kau masih juga seperti ini Alexander?"

__ADS_1


Dokter Jean mengatakan hal tersebut sambil duduk di samping tuan besar Alexander.


"Ya mungkin kata - kata ku bisa berbohong, namun tidak dengan hati ku Jean, kau bisa membayangkan bagaimana rasanya ketika melihat orang yang kita cintai harus meregang nyawa di hadapan kita?"


Tuan besar Alexander mengatakan hal tersebut sambil menatap tajam ke arah dokter Jean.


"Ya aku mengerti apa yang kau rasakan, kau juga jangan melupakan apa yang pernah aku alami dulu, kisah ku lebih tragis dari kisah mu Alexander."


Dengan tersenyum sinis dokter Jean mengatakan hal tersebut kepada tuan besar


Alexander.


"Ya aku tau, kekasih mu Edmund mati di bunuh oleh kelompok mafia Harold bukan?"


Dengan cepat dokter Jean langsung menganggukkan kepalanya.


"Dan aku tidak ingin Austin mengetahui hal ini, karena itu adalah Harold yang terdahulu."


"Jean apakah kau tidak pernah memikirkan untuk membalas dendam kepada orang - orang yang mencelakakan kekasih mu itu?"


"Dulu pada akhirnya sebelum aku pensiun dari dunia mafia, aku melakukan jalan itu dan membunuh semua orang yang telah melakukan pembunuhan terhadap istri ku tanpa ampun, tangan ku sungguh saat itu dipenuhi oleh darah manusia yang mati di tangan ku ini."


Tuan Alexander mengatakan hal tersebut sambil menatap ke dua tangannya.


"Alexander, mungkin saat itu dengan kekuasaan yang aku miliki, aku pun bisa melalukan hal yang sama dengan mu, tapi."


Seketika itu juga dokter Jean berhenti untuk berbicara.


"Tapi apa Jean?"


"Jika aku melakukan hal yang sama seperti apa yang mereka lakukan terhadap Edmund, lalu apa bedanya aku dengan mereka Alexander?"


Dokter Jean mengatakan hal tersebut sambil memandang tajam ke arah tuan besar Alexander.


"Dendam itu sampai kapanpun tidak akan pernah terselesaikan dengan baik dan akan terus berlanjut sampai generasi ku nanti, dan aku tidak akan pernah bisa menjadi seseorang yang setenang ini."


Hai, hai pembaca setia penjara cinta sang mafia, terus dukung author nya yah, dengan memberikan like dan vote sebanyak - banyaknya, agar authornya tetap semangat. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2