Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Seorang penyelamat


__ADS_3

Sidang akhir yang akan menjadi penentu hidup Zian selanjutnya tinggal menghitung hari. Jika Fahri, Evan dan Elma dilanda kekhawatiran, lain halnya dengan Zian yang masih bisa terlihat santai tanpa beban sedikitpun. Bahkan, dua pengacara handal yang disewa Fahri untuk membela saudaranya itu dibuat geleng-geleng kepala oleh tingkah lelaki yang mendapat julukan 'mafianya mafia' itu.


Pasalnya, Zian selalu saja mengakui setiap tuduhan yang diarahkan padanya. Bahkan walaupun tidak ditemukan bukti keterlibatannya, namun, Zian tetap saja mengaku bersalah.


Berita mengenai kasus yang menjeratnya semankin viral di seluruh pelosok negeri dan menjadi trending topik dimana-mana.


Pagi itu, Evan sedang duduk di sebuah cafe yang terletak di dalam kampus. Tatapannya terus tertuju pada layar tv yang sedang memuat berita tentang kakaknya itu. Tangannya terkepal geram, namun raut wajahnya menunjukkan kesedihan.


Aku harus apa untuk bisa membantumu, Kak! Bagaimana nasib Naya dan Deniz kalau kau dijatuhi hukuman mati. batin Evan.


Tidak lama kemudian, sosok lelaki masuk ke dalam cafe bersama seorang gadis. Evan masih melamun ketika suara seorang pria membuyarkan lamunannya.


"Evan?" panggil pria itu membuat Evan tersentak kaget.


"Leo..." Evan begitu dikejutkan dengan sahabatnya yang tiba-tiba menepuk bahunya.


"Lama tidak bertemu! Sepertinya kau sangat sibuk belakangan ini," ucap Leo.


"Iya, aku memang agak sibuk. Duduklah!" Evan mempersilakan temannya itu duduk bersamanya.


"Kenalkan, ini Shena!" Leo memperkenalkan sosok gadis yang merupakan kekasih sahabatnya itu. Mereka pun saling menyapa pagi itu.


Leophard Bay Pyordova seorang mahasiswa berusia 22 tahun adalah sahabat lama Evan, Juniornya semasa SMA. Dia adalah pewaris tunggal kerajaan Pyordova, sebuah perusahaan raksasa yang bergerak di berbagai bidang. Bahkan, setidaknya empat stasiun tv ternama adalah miliknya. Namun, kesibukan keduanya akhir-akhir ini membuat mereka jarang bertemu.


Leo menatap heran pada Evan yang sejak tadi tatapannya hanya tertuju pada berita di tv. Sejenak, laki-laki itu ikut membeku, ketika melihat berita di tv.


"Tuan Maliq?" Leo bergumam menyebut nama yang begitu familiar di telinganya. "Tuan Maliq...!" Sekali lagi, Leo menyebut nama itu.


Evan mengalihkan pandangannya pada Leo yang begitu terpaku dengan berita itu.


"Ada apa?" tanya Evan. Shena, kekasih Leo terlihat bingung dengan ekpresi wajah Leo.


"Apa kau mengenal orang yang ada di berita itu?" Shena bertanya pada Leo tanpa memperhatikan raut wajah Leo yang tiba-tiba berubah sedih dengan matanya yang berkaca-kaca. Bahkan, Leo belum dapat menjawab pertanyaan dari Shena.


"Dia adalah kakakku yang malang. Dia dituduh melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Aku yakin dia tidak bersalah. Seseorang sedang mengancamnya, sehingga dia terpaksa mengaku bersalah," ucap Evan.


Leo semakin terbelalak mendengar ucapan Evan. "Tuan Maliq adalah kakakmu?" tanyanya seakan tak percaya. Evan menjawab dengan anggukan kepala. Lalu menatap Leo heran.


"Ngomong-gomong, kenapa wajahmu begitu terkejut?"

__ADS_1


"Evan, kau serius, Tuan Maliq itu adalah kakakmu?" Leo kembali bertanya hendak memastikan tidak salah dengar. Seperrinya dia benar-benar tidak percaya jika Tuan Maliq ternyata adalah kakak sahabatnya.


"Memangnya kenapa?"


Leo masih berkutat dengan pikiran-pikirannya sendiri. Tuan Maliq adalah seseorang yang tidak akan pernah bisa dia lupakan.


"Dia pernah menyelamatkan aku dalam sebuah penculikan. Bahkan saat menolongku, dia hampir saja terbunuh, jika tidak diselamatkan seorang gadis," ucap Leo membuat Evan dan Shena terkejut.


"Ma-maksudmu... Kakakku..." Suara Evan terdengar terputus-putus, saking terkejutnya.


"Kejadiannya sepuluh tahun lalu. Saat itu, usiaku dua belas tahun, saat seorang pria menculikku. Mereka ingin memperjual belikan aku entah untuk tujuan apa. Tapi, saat akan transaksi, seorang pria menyelamatkanku dan membawaku pergi dari sana. Aku ingat betul, mereka memanggilnya Tuan Maliq. Dia menggunakan jaket dengan lambang huruf Z di belakang punggungnya. Ya, dia Tuan Maliq yang saat itu menyelamatkanku. Aku masih bisa mengingat wajahnya sedikit. Dia tidak banyak berubah sejak sepuluh tahun ini," ungkap Leo panjang lebar, tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.


"Benarkah?" Evan terlihat sangat bahagia dengan matanya yang berkaca-kaca. Seakan dia menemukan setitik harapan untuk bisa menyelamatkan kakaknya.


"Kalau bukan karena kebaikan Tuan Maliq, aku pasti sudah mati di tangan orang-orang jahat itu. Aku pernah mencarinya untuk menyampaikan ucapan terima kasihku, tapi sampai sekarang, aku tidak menemukannya."


"Zildjian Maliq Azkara, pemilik Kia Group. Dia adalah Tuan Maliq, kakakku," ucap Evan memperjelas. Leo semakin terkejut mendengar ucapan Evan.


"Apa? Tuan Maliq adalah Zildjian Maliq Azkara? Pemilik Yayasan Kia, kan?" tanya Leo diikuti anggukan oleh Evan. "Ibuku adalah salah satu donatur tetap untuk Yayasan Kia."


Pepatah pernah berkata, dunia tidak selebar daun kelor. Mungkin istilah inilah yang tepat untuk kasus yang menimoa Zian.


"Dia sudah ditahan selama dua tahun. Beberapa hari lagi, sidang putusan akan digelar. Sementara, semua tuduhan sudah diarahkan padanya. Kakakku, terpaksa mengakui semua perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Kemungkinan besar, dia akan dijatuhi hukuman mati," Evan terlihat sangat sedih mengucapkan itu.


"Padahal stasiun tv yang memuat beritanya adalah milikmu!" ucap Evan.


Leo kembali menatap tv dengan wajah yang terlihat jelas geram. Dia kemudian melirik Evan dan Shena bergantian, "Evan, akan kulakukan apapun untuk membebaskan Tuan Maliq dari semua tuduhan itu. Tidak akan kubiarkan orang sebaik Tuan Maliq dijatuhi hukuman mati."


"Tapi, bagaimana caranya? Walaupun kau menjadi saksi untuk kakakku, tapi kalau hanya kau seorang, itu tidak akan cukup untuk bisa membebaskannya."


Leo kemudian tersenyum tipis, "Kau tenang saja, Evan! Aku akan memikirkan caranya."


Entah rencana apa yang sedang dipikirkan oleh Leo. Yang jelas, Leo dan keluarganya bukanlah orang sembarangan. Shena, bergidik ngeri melihat ekpresi Leo. Baginya, terkadang Leo adalah seseorang yang mengerikan dalam keadaan tertentu.


"Leo yang berusia 12 tahun mungkin tidak bisa berbuat apa-apa untuk Tuan Maliq. Tapi Leo yang berusia 22tahun bisa berbuat apapun untuknya," ucap Leo kemudian.


Sementara Evan, masih menebak-nebak dalam hati, rencana apa yang dimiliki Leo untuk bisa menyelamatkan Zian, setidaknya dari hukuman mati.


"Katakan padaku jika kau butuh sesuatu! Aku siap membantu dalam hal apapun. Aku juga bisa menyewa seorang pengacara terbaik untuk Tuan Maliq."

__ADS_1


"Kami sudah menyewa jasa dua pengacara terbaik untuk membantu kasus kakakku."


"Baiklah, Setidaknya, aku akan berusaha agar Tuan maliq tidak sampai dijatuhi hukuman mati," ucap Leo dengan keyakinannya.


**


Setelah membicarakan rencananya dengan Leo, Evan pergi ke rumah sakit tempat Fahri praktek. Evan menceritakan temuannya pada kakaknya itu. Seketika, raut wajah Fahri yang tadinya sedih, berubah berbinar setelah mendengar ucapan Evan.


Seakan menemukan oase di padang pasir, Fahri merasakan kelegaan yang luar biasa. Walaupun dalam hati masih ada rasa khawatir. Namun, dia yakin, kebaikan yang pernah dilakukan Zian di masa lalu akan menuai hasilnya. Kini, tugasnya hanya membantu Evan dan Leo menjalankan rencananya.


***


Sementara itui tempat lain, Naya benar-benar sudah sangat khawatir pada Anita. Sudah berhari-hari Anita menghilang. Bahkan, para pengawal yang mengantarnya juga tidak kembali.


"Bibi, apa boleh aku pergi mencari Anita? Aku sangat mengkhawatirkannya. Aku mohon izinkan aku pergi mencarinya. Aku kan baik-baik saja!"


Bibi Carlota pun berusaha menenangkan Naya, "Zian memintamu untuk tidak kemana-mana sampai kau dan Deniz aman. Percayalah, Anita pasti baik-baik saja. Kau jangan keluar dari villa ini setidaknya sampai Zian mengizinkan."


"Tapi kemana Anita, Bibi?"


"Tenanglah, jangan khawatir. Dia pasti punya alasan belum kembali."


***


BERSAMBUNG.


-


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2