Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
Siapa Zian...


__ADS_3

"Kau tahu, kebodohan apa yang sedang dilakukan Zian tadi malam?" tanya Elma yang sedang berdiri di depan cermin, merias wajah cantiknya dengan make up.


"Apa yang dia lakukan?" tanya Fahri penasaran.


Elma memberikan jam tangan milik Zian pada suaminya itu. Fahri pun meraih jam tangan itu dan memicingkan matanya. "Jam tangan ini milik Zian, kan? Kenapa ada padamu?"


Elma mengangguk pelan, lalu menyisir rambut panjangnya yang berwarna cokelat itu. "Pertanyaan bagus... Naya yang memberikannya padaku. Dia menemukan jam tangan itu di tempat tidurnya... Tebaklah, kenapa jam tangan itu bisa ada di tempat tidur Naya."


Fahri mengernyit mendengar ucapan Elma, dia seakan tidak percaya dengan kelakuan adiknya itu.


"Maksudmu semalam Zian menyelinap masuk ke kamar Naya?" tanya Fahri tak percaya, lalu dijawab anggukan oleh sang istri. "Ya ampun kenapa dia jadi bodoh begitu..."


"Naya menanyakan jam itu. Jadi aku bilang saja itu milikmu, aku bilang semalam kau masuk ke kamarnya untuk memastikan apa dia baik-baik saja..."


Setelah selesai menyisir rambutnya, dokter cantik itu mengambil sepatu dan bersiap-siap keluar kamar. Fahri pun mengekor di belakangnya.


"Apa Naya percaya dengan kebohonganmu?" tanya Fahri yang mencoba mensejajarkan langkahnya dengan sang istri.


"Sepertinya begitu... Mintalah pada Zian agar menghentikan kegilaannya. Aku tidak mau Naya sampai tahu kalau Zian menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Bagaimana kalau Naya pergi dari rumah karena takut pada Zian..."


Elma berjalan keluar rumah bersamaan dengan Naya yang baru saja turun dari lantai atas.


"Kakak, apa boleh aku keluar hari ini?" tanya Naya.


Elma menoleh sesaat pada sumber suara itu. Dia menatap penampilan Naya dari ujung kaki hingga kepala. "Kau mau keluar kemana?"


"Aku mau ke makam ayah, lalu ke rumah Mia... Boleh kan?" Naya mengeluarkan senyum semanis madunya saat berusaha meminta izin.


"Boleh, tapi..."


"Ibu, ayo cepat! Aku bisa terlambat sekolah." Suara menggemaskan Kay terdengar dari dalam mobil. Naya melambaikan tangan pada gadis kecil menggemaskan itu.


"Iya, sayang... tunggu sebentar."


"Rumah siapa tadi? Mia?" Fahri mencoba mengingat nama yang tidak asing di telinganya itu. "Oh, Aku ingat, Mia temanmu itu, kan?" tanya Fahri kemudian dijawab anggukan oleh Naya.

__ADS_1


"Boleh, kan..." tanya Naya sekali lagi.


"Baiklah, tapi kau harus diantar sopir dan jangan pulang malam," ucap Fahri yang kemudian memanggil salah seorang sopirnya. "Jangan makan sembarangan, jangan beraktivitas yang membuatmu lelah, dan ingat selalu obatmu!"


"Baik, Kakak..."


Seorang sopir datang menghampiri mereka, Fahri kemudian meminta sopirnya itu untuk mengantarkan Naya pergi kemanapun yang diinginkan peri kecilnya itu.


"Baiklah, nona cantik, sampai jumpa..." kata Fahri seraya mengusap kepala gadis itu.


Elma dan Fahri kemudian naik ke mobil, lalu melambaikan tangan pada Naya sebelum akhirnya mobil meninggalkan halaman rumah itu.


Naya kemudian pergi ke rumah Mia dengan diantar oleh sopir itu. Setelah dua puluh menit menempuh perjalanan, sampailah Naya di rumah Mia.


Mia begitu bahagia melihat Naya yang sekarang sudah membaik. Wajahnya tidak begitu pucat lagi dan tubuhnya tidak m sekurus saat terakhir dia melihatnya.


"Aku sangat senang kau sudah membaik sekarang," ucap Mia seraya memeluk sahabatnya itu.


Naya lalu menghapus setitik air mata yang mengalir di pipi sahabatnya itu. "Kenapa kau menangis? Harusnya kan kau bahagia, aku sudah lebih baik sekarang..."


Seperti biasa, saat Naya datang, mereka memilih pergi ke kamar Mia dan mengobrol disana. Mia banyak menceritakan hal-hal seru yang dialaminya di kampus tempat dulu mereka kuliah sebelum Naya dikeluarkan dari kampus itu. Suara tawa ceria mereka memenuhi langit-langit kamar itu. Sejenak, Naya melupakan sekelumit masalah dalam hidupnya.


Mia duduk di samping Naya, lalu ikut melihat bekas bengkel milik Zian yang sudah tutup. "Itu bekas bengkel... Pemiliknya sudah pindah, Kenapa? Apa kau mengingat sesuatu tentang tempat itu?"


"Sepertinya aku pernah ke sana... Tapi kapan, ya..." ucap Naya mencoba mengingat- ingat. Mia yang sudah tahu kondisi Naya melalui Dimas, hanya menerbitkan senyumnya mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Mungkin karena kau sering kemari. Jadi kau merasa temoat itu tidak asing."


"Tidak, Mia... Bukan itu. Aku benar-benar merasa sering ke tempat itu." Naya terus mencoba mengingat hingga kepalanya kembali terasa pusing. Mia langsung mencoba menenangkan sahabatnya itu.


"Jangan terlalu keras berpikir, tempat itu tidak asing bagimu, karena kau sering kemari."


"Benarkah... hanya itu..."


"Tentu saja. Memang mau apa kau di sana. tempatmu kan disini..."

__ADS_1


Tiba-tiba seorang wanita paruh baya masuk ke kamar itu, kemudian menghampiri dua gadis yang sedang duduk menghadap jendela itu.


"Naya... Ini kau...?" tanya wanita yang merupakan ibu Mia itu. Naya langsung mengalihkan pandangannya pada pemilik suara itu, lalu berdiri dan memeluk wanita yang telah dia anggap ibunya itu.


"Ibu... Apa kabar?" Naya memberi salam pada wanita itu dengan mencium punggung tangannya.


"Baik... Ibu pikir kau sudah melupakan kami..." Wanita itu membelai puncak kepala Naya dengan sayang. "Bagaimana keadaanmu sekarang, Mia bilang kau sedang sakit dan habis operasi..."


"Iya, Bu... Tapi sekarang aku sudah merasa lebih baik..." jawab Naya seraya tersenyum.


"Syukurlah, lalu bagaimana kabar suamimu? Sejak bengkelnya tutup, ibu tidak pernah melihatnya lagi?" tanya wanita itu membuat wajah Naya langsung berubah.


DUAAARRRR


Bagai petir menyambar, Naya begitu terkejut mendengar ucapan wanita itu. Mia yang sedang duduk manis itu terlonjak kaget.


"A-apa? Su-suami?" ucap Naya terbata-bata.


Sementara Mia menelan ludah dengan susah payah, melihat wajah Naya yang sudah berubah pucat itu.


"Iya, suamimu, Zian... Bagaimana kabarnya?"


Dan, lagi-lagi ucapan wanita itu membuat Naya membeku. Dia gemetaran, lalu menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, Naya melirik Mia yang juga sudah mematung di sana. Sedangkan ibu Mia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Naya.


Zian? Siapa dia... Kenapa ibu bilang Zian suamiku? Ada apa ini... Apa aku sudah menikah?


Mia yang sadar situasi segera menghentikan sang ibu yang baru saja akan bicara lagi. "Ibu... Aku akan menjelaskan nanti. Aku harus bicara dulu dengan Naya..." ucap Mia seraya memberi kode pada ibunya itu.


Wanita itupun segera keluar dari kamar itu meninggalkan Mia dan naya berdua. Naya pun melirik Mia dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Matanya sudah di penuhi cairan bening.


"Mi-Mia... Apa maksud ibumu? Apa aku sudah menikah?" tanya Naya dengan suara bergetar, air matanya jatuh bercucuran membasahi wajahnya.


Bagaimana ini. Haruskah aku menjawabnya. batin Mia.


Naya terus mendesak Mia untuk menceritakan hal-hal yang dia lupakan. Namun, setelah beberapa kali bertanya, Mia tak juga menjawab.

__ADS_1


Aku harus bagaimana sekarang... Naya terus mendesakku. batin Mia.


***


__ADS_2