
"Kita mau apa ke rumah sakit?" Naya sudah beberapa kali menanyakan itu pada Zian. Namun, Zian belum memberitahu Naya mengenai kecurigaan Evan tentang kehamilannya.
"Memeriksakan kesehatanmu!" jawab Zian singkat.
Naya mengerutkan alisnya, "Aku kan baik-baik saja."
Zian terkekeh pelan, dengan matanya yang terus tertuju pada keramaian jalanan ibu kota pagi itu.
"Aku ingin tahu ada apa denganmu. Kau selalu meminta sesuatu yang aneh padaku belakangan ini. Dan semalam kau mengusirku, lalu setelah itu kau menangis di bawah selimut. Aku rasa ada benda asing yang tumbuh di perutmu!"
"Dan benda asing itu adalah hatimu!" Naya mengerucutkan bibirnya karena merasa tersinggung dengan ucapan sang suami.
"Lihat, kan? Kau begitu lagi. Kau sangat senang mengerucutkan bibirmu. Kau sangat mirip dengan...." Zian menggantung ucapannya setelah menyadari raut wajah Naya yang mulai tidak bersahabat. "Baiklah, aku diam."
Hening! Tidak ada pembicaraan antara sepasang suami istri itu hingga mereka tiba di rumah sakit.
Sebelumnya, Zian sudah membuat janji khusus dengan salah satu dokter ahli kandungan terbaik yang bekerja di rumah sakit yang baru beroperasi selama beberapa bulan itu. Seorang dokter yang merupakan saudara sepupunya.
"Apa kabar, Naya... Lama tidak bertemu!" sapa sang dokter seraya menerbitkan senyum ramahnya.
"Baik, Kak Sandra!" sahut Naya.
Dokter itu mempersilahkan mereka duduk, sebelum mulai memeriksa Naya. Mulai dari tekanan darah dan lain-lain.
"Apa kau sering merasa mual?" tanya Dokter Sandra sesaat setelah memeriksa Naya.
"Hanya pagi saja. Selebihnya tidak," jawab Naya diikuti anggukan oleh dokter itu.
"Kapan terakhir kali kau menstruasi?"
Naya berpikir sejenak, mengingat-ingat kapan terakhir kalinya mengalami itu. Lalu kemudian melirik Zian, seolah meminta bantuan mengingat.
"Kapan, ya...?" tanya Naya pada Zian.
"Kenapa kau tanya aku? Memang aku iseng mengingat kapan terakhir kali kau mengalaminya?" jawab Zian.
"Aku tidak tahu, Kak! Aku lupa. Memangnya kenapa?" Naya mulai bingung kenapa dokter itu menanyakan hal itu.
Dokter itu menyunggingkan senyum, lalu meminta Naya berbaring di tempat tidur. Seorang perawat memakaikan selimut sampai batas pinggang. Dokter itu pun menyibakkan pakaian yang dipakai Naya sampai batas dada.
__ADS_1
Naya merasakan dingin meresap di kulit perutnya saat sang dokter mengoleskan gel dingin di sana dan menggeser alat di atas perut yang masih rata itu.
Dokter itu terus tersenyum sambil memperhatikan gambar di monitor, sementara Naya belum menyadari ada apa dengan dirinya.
Zian ikut memperhatikan monitor dengan sangat antusias. Sudah tidak sabar melihat anaknya yang sedang tumbuh di dalam rahim sang istri.
"Kau lihat itu? Dia sudah tumbuh dari embrio menjadi janin. Artinya, usia kehamilanmu sudah memasuki dua bulan."
Naya yang terkejut mendengar ucapan Dokter Sandra, hanya dapat membulatkan matanya, "Apa? Aku... Aku hamil?"
"Iya, Selamat, ya..." ucap dokter itu.
Naya terlihat sangat bahagia, dengan mata berkaca-kaca menatap layar yang menggantung di depannya. Sementara Zian hanya mengerutkan alisnya menatap layar monitor itu, walaupun raut kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya. Dia terlihat begitu serius memperhatikan gambar itu.
"Sandra, apa alatmu ini rusak?" tanya Zian dengan serius, namun matanya terus tertuju pada gambar yang menampilkan janin bayi.
"Rusak? Mana mungkin... Semua alat medis di rumah sakit ini baru. Kita kan baru beroperasi beberapa bulan ini."
"Tapi kenapa alat ini tidak berfungsi dengan baik?" Zian menunjuk monitor dengan dagunya.
Dokter itu mulai tidak mengerti dengan pertanyaan yang diberikan Zian padanya. Pasalnya, semua alat medis yang ada di ruangannya berfungsi dengan baik.
Zian kemudian melirik Dokter Sandra dengan ekor matanya, "Kau mau menipuku, ya? Jelas-jelas alatmu ini rusak!"
"Rusak apanya?" Dokter Sandra sudah mulai gusar.
"Coba lihat itu!" Zian menunjuk ke layar monitor yang menunjukkan gambar janin dalam perut Naya.
Dokter sandra dan Naya sama-sama mengarahkan pandangannya pada layar dengan serius.
"Kenapa gambarnya tidak seperti bayi. Itu lebih mirip seekor cicak. Dan tadi kau bilang alatnya berfungsi dengan baik? Kau benar-benar mau menipuku ya?"
GUBRAK!
Dokter sandra menganga tak percaya mendengar ucapan sang bos besar itu barusan. Wanita itu belum sanggup menjawab ucapan Zian. Sementara wajah Naya sudah memerah karena malu mendengar kebodohan suaminya.
Entah harus menjelaskan darimana. Dokter itu seakan tidak punya daya untuk berbicara.
__ADS_1
Naya menarik-narik kemeja Zian agar menoleh padanya. Zian pun mendekatkan telinganya dengan bibir Naya.
"Gambarnya memang seperti itu kalau janin masih dua bulan," bisiknya.
Naya mencoba menjelaskan pada suaminya bahwa janin dua bulan memang bentuknya seperti itu. Namun, Zian tetaplah Zian. Dia berdiri di atas pikirannya sendiri.
"Heh, memang aku tidak bisa bedakan gambar cicak dengan gambar bayi? Coba kau lihat gambar itu. Bahkan mana kepala dan mana kaki saja tidak bisa dibedakan." Zian marah-marah tidak jelas di dalam ruangan itu, kemudian kembali menatap gambar layar itu dan bergumam-gumam sendiri, seperti sedang mengucapkan mantra.
Dua perawat wanita yang berdiri di belakang tidak sanggup menahan tawanya. Sejak tadi mereka hanya mengulum bibirnya karena takut sang bos pemilik rumah sakit marah jika ditertawakan.
Dokter Sandra menghela napas kasar, sekilas melirik Naya yang tersenyum getir ke arahnya. Bahkan wajah Naya sudah memerah saking malunya.
"Zian... Dengar baik-baik. Janin yang tumbuh di rahim wanita itu tidak langsung menjadi bayi. Mereka butuh proses dari satu sel sperm* menjadi embrio kemudian berkembang menjadi janin." Dokter itu berusaha sekuat tenaga bersabar menjelaskan pada Zian proses perkembangan janin.
"Bilang dari tadi! Aku kan jadi salah paham!" Zian kembali menatap layar itu dengan serius. "Baiklah, beritahu aku jenis kelamin anakku! Dia laki-laki atau perempuan?" tanya Zian sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.
Dan, hal paling memalukan yang pernah terjadi sepanjang sejarah hidup Naya adalah, pergi berkonsultasi ke dokter kandungan bersama suaminya itu.
Beruntung rumah sakit itu adalah miliknya, seandainya bukan, maka dirinya pasti akan menjadi bahan tertawaan di ruangan itu.
Ya Tuhan, beri aku kesabaran lebih menghadapi makhluk yang satu ini. batin sang dokter.
Naya dan sang dokter kembali saling melirik. Kali ini Zian benar-benar sudah keterlaluan. Dokter Sandra memindahkan alat yang sejak tadi dia geser-geser di atas perut Naya. Lalu menghela napas.
"Di usia dua bulan, jenis kelamin bayi belum terlihat. Mereka baru tumbuh menjadi janin, sehingga jenis kelaminnya belum terbentuk." Sebagai dokter yang baik, Sandra tetap berusaha menjelaskan pada sang bos dengan sabar.
"Benarkah? Kau tidak sedang berbohong, kan?" Zian menatap curiga pada saudara sepupunya itu.
Ya ampun, aku lebih baik melayani seratus orang pasien dari pada melayani satu orang bodoh seperti Zian.
Naya tidak sanggup lagi menahan malunya, "Kalau sudah diperiksa, aku mau pulang saja!" ucap Naya seraya bangkit dari posisi berbaringnya. Namun, Zian menahannya, lalu kembali membaringkannya.
"Aku belum menyuruhmu bangun!" seru Zian dengan menatap tajam pada Naya, lalu kembali melirik Dokter Sandra.
"Coba kau periksa sekali lagi. Pastikan anakku baik-baik saja di dalam sana!"
"Memang apa yang mau terjadi pada anakmu? Tadi kan aku sudah bilang dia tumbuh dengan baik di dalam rahim ibunya." Sandra mencoba untuk protes namun segera di pelototi oleh Zian.
Akhirnya, dokter itu kembali mengulang pemeriksaannya sambil menahan kesal. Dia mengoles gel di perut Naya dan kembali menggeser alat itu hingga Zian merasa puas memandangi janin itu dari layar monitor.
__ADS_1
Asal bos senang sajalah. batin Dokter Sandra.
****