Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
PCSM 89


__ADS_3

"Kau benar-benar beruntung, Naya! Kau punya seorang suami yang sangat mencintaimu. Lihat, dia membuat semua perusahaannya dengan namamu. Wah, romantis sekali." Mia meletakkan tangannya di pipinya, ikut senang dengan kebahagiaan temannya itu.


"Aku kan sudah bilang, Zianku adalah pangeranku!"


"Kau benar! Kak Zian benar-benar seorang pangeran. Dia sangat berbeda dengan Kak Zian yang dulu hanya seorang montir dan berpakaian biasa."


Tapi aku lebih suka Zianku yang dulu. Aku lebih suka dia dengan penampilan biasanya.


Naya melirik Zian yang sedang mengobrol dengan beberapa pria di sana. Dia menatap Zian tanpa berkedip. Dan, matanya membulat sempurna ketika melihat seorang wanita mendekat pada suaminya itu.


Inilah alasan kenapa aku lebih suka Zianku yang lama. Kalau dia miskin, hanya aku seorang yang menyukainya. Tapi lihat dia yang sekarang. Dia banyak digilai wanita cantik. Aku kan cemburu.


Tidak lama kemudian, dua orang pria menghampiri Mia dan Naya yang hanya duduk berdua di meja itu. Naya menatap mereka dengan perasaan malas, berbeda dengan Mia yang langsung akrab dengan dua orang itu.


Zian yang melihat dari kejauhan kembali terbakar cemburu. Buru-buru, laki-laki itu meninggalkan beberapa orang itu dan mendekat pada sang istri.


"Sayang, ayo kita duduk di sana!" Zian menunjuk sebuah meja yang berada di sudut sana. Nayapun berdiri, lalu melingkarkan tangannya di lengan suaminya itu.


"Jangan bicara dengan siapa pun! Apalagi jika itu laki-laki! Aku melarangmu berbicara!" Zian berkata dengan nada menekan. Tangannya masih menggenggam jemari Naya dengan kuat. Laki-laki itu berusaha menepis rasa cemburunya dari tamu-tamu pria yang terus saja mencuri pandang pada istrinya itu.


"Kalau ada yang bertanya padaku, bagaimana?"


"Ya jangan jawab! Jadilah orang bisu dan tuli untuk malam ini!"


Apa? Aku jadi bisu dan tuli? Apa maksudnya? Jadi aku jangan bicara begitu?

__ADS_1


Acara berlanjut malam itu, sebagian lampu di dalam gedung itu dipadamkan sehingga percahayaannya menjadi remang-remang dan sangat romantis. Zian membawa Naya duduk di meja yang berada di sudut ruangan itu. Masih dengan genggaman tangannya yang tidak lepas.


Pesta dansa pun menjadi penutup acara malam itu. Banyak pasangan yang sudah berada di tengah ruangan itu untuk berdansa. Sementara Zian, masih dengan wajah datarnya. Laki-laki itu benar-benar tidak suka dengan acara dansa yang membuatnya merasa geli.


Dasar Keong kembar beracun. Kenapa mereka malah membuat pesta dansa menjijikan ini sebagai penutup. Awas saja mereka! Zian mengumpati Evan dan Rafli dalam hati karena menyelipkan acara pesta dansa pada pembukaan gedung itu.


Zian melirik jam di pergelangan tangannya, sembari berharap acara membosankan itu cepat selesai sehingga bisa pulang ke rumah dan bermesraan dengan sang istri.


Evan kemudian menghampiri mereka dan mengulurkan tangannya pada Naya.


"Naya, maukah kau berdansa denganku?" tanya Evan membuat Zian membulatkan matanya. Dia memukul tangan Evan yang berada di depan Naya.


"Kau mau aku cincang, ya? Sana pergi! Cari gadis lain saja!" bentaknya.


"Cepat selesaikan acara dansa bodohmu ini. Aku mau pulang!" Wajah Zian sudah semakin tidak bersahabat. Evan melirik jam di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam yang berarti acara itu harus segera ditutup. Evan kemudian memberi kode pada Rafli agar menuntaskan acara malam itu.


Akhirnya, aku bisa pulang dan menghabiskan malamku dengan Nayaku di kamar.


*****


Di rumah....


Naya baru saja keluar dari kamar mandi, sudah mengganti gaunnya dengan piyama. Zian merentangkan tangannya meminta Naya segera mendekat padanya. Dia meraih tubuh itu dan memeluknya erat.


Zian memberikan kecupan di kening, lalu turun ke wajah. Dia membelai wajah cantik itu, memandanginya tanpa berkedip, membuat yang ditatap salah tingkah.

__ADS_1


"Kenapa dua bulan itu sangat lama ya..." ucap Zian lemas. Laki-laki itu kembali mengumpati Fahri dalam hati. Mengingat pesan singkat yang baru saja dikirim oleh kakaknya itu.


Awas saja kalau kau membuat Naya kelelahan lagi! Akan kubawa dia pergi menjauh darimu! isi pesan sang kakak.


"Memangnya kenapa? Ada apa dengan dua bulan?" tanya Naya tak mengerti.


"Tidak! Aku hanya menunggunya saja." Zian menempelkan hidung mancungnya dengan hidung mungil Naya, lalu memainkan hidung itu dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali. Kelakuan manis itu membuat Naya tertawa senang. Mendapat perhatian dari lelaki yang dulu selalu menyakitinya seperti sebuah mimpi baginya. Terlebih, Zian telah menunjukkan cintanya yang begitu besar padanya.


Zian membaringkan Naya dan memeluknya, berusaha menahan gejolak dalam dirinya yang memuncak. Ditambah rasa cemburunya yang meluap-luap melihat istrinya ditatap laki-laki lain.


Rasanya ingin segera menjadikan Naya miliknya seutuhnya. Namun, apa daya. Zian harus bisa bersabar menunggu hari yang indah itu tiba.


Resepsi pernikahan indah dengan konsep Disney seperti yang pernah di tulis Naya dalam buku catatannya, sedang Zian persiapkan untuk sang istri tercinta.


Kau pasti akan lebih cantik dari para putri di cerita-cerita Disney itu.


****


Bersambung...


Ada yang mau tanya, "Kapan malam pertamanya?"


On proses beb....


Acian si babang

__ADS_1


__ADS_2