Penjara Cinta Sang Mafia

Penjara Cinta Sang Mafia
SUARA


__ADS_3

Menerima apapun keadaan mu, menemani apapun suka dan duka mu.


Meskipun aku tidak memilih contoh yang benar untuk menjadi istri yang baik, tapi aku akan tetap belajar untuk melakukan hal itu*.


Rupanya Maureen tidak benar - benar sudah tertidur, Maureen hanya memejamkan matanya saja.


Sehingga Maureen masih bisa merasakan ciuman Austin, Maureen masih bisa merasakan pelukan hangat dan juga nafas dari Austin.


Malam hari Maureen sengaja membiarkan Austin untuk tetap memeluknya hingga tertidur dengan sangat lelap..


Dan pada akhirnya Maureen pun terlelap di dalam pelukan dari Austin.


"Buka penutup wajahnya."


Keesokan harinya di dalam kamar kematian Austin mengatakan hal tersebut kepada salah satu pengawal yang sudah membawa satu wanita yang kini sudah terikat di papan dengan ke dua matanya tertutup oleh kain


hitam.


"Selamat datang nona Lie, selamat datang di dalam kamar kematian di dalam mansion Black Devil."


Austin mengatakan hal tersebut sambil mendekatkan dirinya kepada wanita tersebut.


"Tuan muda untuk apa kalian menculik ku? aku ini hanya wanita biasa yang tidak terlibat di dalam kelompok mafia manapun."


Mendengarkan jawaban nona Lie, Austin kini tertawa dengan sangat keras.


"Kau katakan kau tidak terlibat dengan mafia manapun? sekarang aku akan bertanya kembali kepada mu, apakah kau mengenal keluarga Harold?"


Deg


Wanita yang kini masih terikat di papan tersebut kini hanya bisa terdiam tanpa kata.


"Ya aku yakin kau tidak akan pernah menjawabnya karena nama mu yang sesungguhnya bukan lah Lie, tapi Marsha Harold, ya Marsha Harold, keturunan Harold paling kecil yang tidak mau terlibat di dalam kehidupan para mafia."


"Apa yang kau mau tuan muda? aku sudah lama tidak kembali kepada keluarga Harold, hidupku sekarang hanya menjadi seorang suster di dalam rumah ibadah, lepaskan aku tuan muda."


Air mata terlihat jelas mengalir dari wanita yang saat ini betul - betul sedang ketakutan.


"Kau tanya apa yang aku mau, kau lihat ini!"


Austin menunjukkan para pengawalnya yang telah di bunuh dengan kejam oleh mafia Harold.

__ADS_1


"Keluarga besar mu telah menyiksa orang - orang ku!"


Dengan suara keras Austin mengatakan hal tersebut kepada Marsha Harold.


"Dan meskipun kau tidak terlibat di dalam gelapnya dunia mafia kau pasti tau hukuman apa yang biasa terjadi di dalam dunia mafia."


"Tuan muda membalas kejahatan dengan kejahatan lagi, jika seperti ini terus maka semuanya tidak akan pernah selesai."


Dengan pelan Marsha Harold mengatakan hal tersebut kepada Austin.


"Aku tidak peduli dengan perkataan mu nona Marsha terhormat, sekarang yang aku inginkan aku akan membuat perhitungan dengan keluarga Harold, itu sebabnya aku menculik mu saat ini."


Austin mengatakan hal tersebut dengan menatap tajam Marsha Harold...


"Dan pembalasan dendam ku kali ini akan membuat seluruh keluarga Harold mengalami kehancuran."


"Aku tidak peduli jika mereka pada nantinya mengatakan aku tidak jantan karena rencana ku kali ini, yang terpenting buat ku adalah balas dendam dan membuat keluarga kalian bisa merasakan sakit seperti apa yang telah para pengawal ku rasakan, dan pembalasan itu tidak harus dengan membunuh seperti yang keluarga mu lakukan."


"Tapi cukup dengan ini."


Setelah mengatakan hal tersebut Austin mengambil pisau dan merobek pakaian Marsha Harold.


"Hentikan tuan muda, jangan kau lakukan ini kepada ku!"


Dan Austin yang sudah gelap mata tidak peduli lagi dengan teriakan demi teriakan yang terus dia dengar .


Dan Austin yang sudah gelap mata tidak peduli lagi dengan tangisan demi tangisan yang juga didengarkan dari Marsha Harold.


Hingga pada akhirnya Austin telah berhasil membuka semua pakaian Marsha.


"Para pengawal ku, kau lihat tubuh telanjang wanita Harold ini?"


Dengan lantang Austin mengatakan hal tersebut kepada seluruh pengawal yang saat ini sama - sama melihat tubuh indah Marsha Harold.


"Mungkin ada saudara - saudara kalian yang telah mati terbunuh oleh keluarga Harold, sekarang waktunya kalian untuk bisa membalaskan dendam kalian dengan memperkosa wanita Harold ini secara beramai-ramai."


"Balaskan dendam kalian tidak harus dengan membunuh dan mengeluarkan tenaga, kalian cukup menikmati tubuh wanita ini."


Dengan keras Austin mengatakan hal tersebut dan tidak ada suara apapun yang kini terdengar oleh Marsha Harold kecuali hanya tangisan nya yang kencang.


"Baiklah, aku bebaskan kalian untuk menikmati wanita ini sampai puas, setelah kalian puas, kalian cukup mengatakan kepada asisten Jo, agar bisa mengirimkan wanita telanjang ini kepada keluarga Harold.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut Austin berjalan meninggalkan ruang kematian dan jeritan tangisan mulai terdengar ketika banyak pengawal mulai menyentuh dan melakukan pemerkosaan sadis terhadap Marsha Harold.


Austin begitu bahagia dengan hal keji yang baru saja dia lakukan, tanpa memperdulikan lagi perasaan seorang wanita yang kini masih berada di dalam kamar kematian.


Sementara itu di dalam kamar pribadi Austin, Maureen yang baru saja terbangun langsung mencari - cari keberadaan Austin ketika dengan sadar Maureen mulai menyadari Austin sudah tidak memeluknya lagi.


"Ternyata dia sudah bangun, sungguh pagi - pagi sekali tuan muda itu sudah bangun."


Maureen mengatakan hal tersebut sambil membelai samping tempat tidurnya yang kini telah kosong.


"Ah aku harus menyiapkan sarapan untuk tuan muda, tapi bagaimana caranya aku bisa pergi ke dapur? apakah aku bisa keluar dari dalam kamar ini tanpa persetujuan?"


Maureen mengatakan hal tersebut sambil berjalan mondar mandir di dalam kamar.


"Tapi alangkah baiknya aku mencoba saja."


Dan setelah selesai mengatakan hal tersebut Maureen segera keluar dari dalam kamar, berjalan dengan perlahan- lahan untuk menuju ke dapur.


Namun langkah kaki Maureen rupanya berjalan berbeda arah, karena Maureen tiba - tiba saja mendengarkan suara teriakan dan tangisan seorang wanita.


"Suara siapa itu? kenapa suara wanita itu seperti sedang kesakitan?"


Maureen yang penasaran segera menelusuri suara yang semakin terdengar dengan jelas tersebut.


"Selamat pagi nona Maureen."


Deg


Tiba - tiba langkah kaki Maureen terhenti ketika ada satu laki - laki memanggil nya dari belakang.


Dan Maureen langsung membalikkan badan kini Maureen bisa melihat laki - kaki tampan berambut pirang sedang menatap tajam ke arahnya.


"Selamat pagi, siapa anda?"


"Perkenalkan aku adalah asisten Jo, asisten pribadi tuan muda Austin."


Asisten Jo mengatakan hal tersebut sambil membungkukkan badannya terhadap Maureen.


"Ah senang berkenalan dengan anda tuan Jo."


"Apa yang sedang nona Maureen lakukan disini?"

__ADS_1


Hai, hai pembaca setia penjara cinta sang mafia, terus dukung author nya yah, dengan memberikan like dan vote sebanyak - banyaknya, agar authornya tetap semangat. Terima kasih


__ADS_2