
Zian masih memeluk Naya dengan berderai air mata, dia beberapa kali berusaha membangunkan istrinya itu. Namun, Naya tidak bergerak sama sekali.
Tidak lama, Dimas dan Anita tiba di ruangan itu. Dimas tercengang melihat Zian yang memangku tubuh Naya seraya menangis. Sedangkan Anita langsung mendekat dan berjongkok di depannya. Dia menatap setiap bagian tubuh gadis itu. Setitik air matanya lolos begitu saja.
"Ada apa dengan Naya?" tanya Anita.
"Nayaku pergi, Anita... Dia meninggalkanku," ucap Zian diiringi isakannya. Anita terhenyak, lalu langsung meraih tangan Naya dan memeriksa denyut nadinya. Dia dapat merasakan denyutan itu meskipun sangat lemah.
"Naya masih hidup, Maliq... Ayo cepat kita bawa ke rumah sakit!" ucap Anita dengan suara meninggi. Zian langsung melepas pelukannya dan menatap wajah pucat itu seraya membelainya. Dia menggoncangkan pelan tubuh itu, namun sama sekali tidak ada respon dari Naya.
"AYO CEPAT!" teriak Anita ketika melihat Zian diam saja. Anita lalu berdiri dari posisi berjongkoknya. Zian pun tersadar, lalu menggendong Naya keluar dari ruangan itu. Sementara Dimas membawa tas dan koper milik Naya.
Dengan setengah berlari, Zian membawa Naya di dalam gendongannya melewati lorong-lorong panjang di villa itu menuju mobil. Seorang pengawal segera membuka pintu ketika melihat tuannya keluar dari gedung dengan menggendong seorang gadis.
Mobil pun melaju dengan cepat. Kali ini Dimas yang menyetir dengan kecepatan tinggi.
"LEBIH CEPAT LAGI DIMAS!" teriak Zian ketika merasa mobil itu melaju dengan lambat. Dimas pun menginjak gas makin dalam sehingga mobil itu semakin kencang. Dia tidak peduli lagi dengan umpatan pengendara lain yang hampir ditabraknya.
Zian duduk di kursi belakang memangku tubuh Naya, terus berusaha membangunkannya. Dia menatap wajah Naya dengan make up-nya yang berantakan dan lipstik belepotan. Dia kembali membelai puncak kepala Naya kemudian turun ke wajahnya. Rasa sakit semakin merasuk ke hatinya.
Bagiku kau sangat cantik, Naya... Walaupun kau tidak memakai riasan kau tetap wanita tercantik di dunia. batin Zian.
"Anita... Apa kau punya tissue basah?" tanya Zian.
"Tunggu sebentar, sepertinya ada..." Anita lalu mengambil tasnya yang berada di bawah sana, dan mengambil tissue basah, kemudian memberikannya ke tangan Zian.
Zian pun mengusap wajah Naya dengan tissue basah itu dan membersihkan dari riasan berantakannya, sehingga tampaklah wajahnya yang pucat pasih.
"Bos, kita akan membawanya ke rumah sakit mana?" tanya Dimas seraya menyetir.
"Rumah sakit tempat Fahri praktek. Aku ingin dia yang menangani Naya. Dia yang paling tahu kondisi tubuhnya." jawab Zian tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Naya. Dia masih mengusap wajah sang istri dengan tissue basah.
"Baik..." Dimas segera mengarah ke rumah sakit tempat Fahri praktek, sedangkan Anita menghubungi Fahri untuk memberitahukan bahwa Naya sudah ditemukan dan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Kurang dari satu jam, mereka telah memasuki halaman rumah sakit itu. Ketika tiba di depan ruang IGD, sudah ada beberapa dokter yang menunggu, salah satunya Dokter Fahri.
__ADS_1
Dimas lebih dulu turun dari mobil dan membukakan pintu. Zian langsung menggendong Naya keluar. Beberapa petugas membawa brankar yang sudah disiapkan sebelumnya, Zian pun membaringkan Naya di brankar itu.
Para petugas kesehatan itu dengan sigap mendorong brankar ke dalam ruangan IGD.
****
Zian mondar-mandir di depan ruangan itu, sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Perasaan khawatir dan takut menyatu.
Sementara di dalam sana tim dokter sedang berjuang menyelamatkan nyawa gadis itu. Dokter Fahri memandangi wajah Naya dengan perasaan sedih. Untuk pertama kalinya dia melihat Naya benar-benar sekarat.
Dan, alat pendeteksi detak jantung itu berbunyi lama, menandakan jantung Naya berhenti berdetak. Suasana di ruangan itupun menjadi tegang. Beberapa perawat berlarian keluar masuk ruangan itu dengan wajah panik.
Zian yang melihat keadaan itu menjadi semakin gelisah. Kakinya mulai lemas, keringat dingin mulai membasahi keningnya. Dia jatuh terduduk di kursi tunggu, Dimas pun berusaha menguatkan bosnya itu dengan menepuk bahunya.
Sementara itu, Dokter Fahri terus berusaha menyelamatkannya dengan melakukan berbagai tindakan medis, namun tak juga berhasil.
"Kita coba sekali lagi!" ucap Sang Dokter, lalu kemudian kembali meletakkan alat kejut jantung itu di dada Naya. Layar monitor yang tadinya menunjukkan garis lurus berwarna hijau, berubah menjadi bergelombang.
"Berhasil, jantungnya kembali berdetak..." ucap salah seorang dokter.
"Kau harus berjuang, Naya. Berjuanglah sekali lagi untukku. Bukankah kau juga ingin hidup bahagia bersama Zian? Kau harus berjuang untuk itu. Zian sedang menunggumu," bisik Dokter Fahri di telinga Naya. "Kau belum lupa dengan janji kita kan? Aku akan terus berjuang untukmu, walaupun kau mungkin lelah dan ingin menyerah. Tapi, aku tidak akan pernah menyerah." Setitik air matanya terjatuh saat mengucapkan kalimat itu. Dia mengecup kening gadis yang dia sebut sebagai peri kecilnya itu.
***
Pintu kaca itu terbuka, Zian langsung berdiri dari duduknya lalu mendekat pada kakaknya itu.
"Bagaimana?" tanya Zian.
Dokter Fahri melepas masker yang menutupi hidungnya, "Naya masih kritis, sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruang ICU," jawabnya dengan wajah lesu.
Cairan bening kembali menggenangi mata Zian. Dia merasa tidak akan sanggup jika harus kehilangan Naya lagi. "Tolong, Kakak... Lakukan apapun untuk Naya. Selamatkan dia..." pinta Zian dengan wajah memelas.
"Kau tahu aku selalu melakukan apapun yang aku bisa untuknya. Aku sudah merawatnya selama lima tahun," ujar Fahri.
"Aku tahu itu..."
__ADS_1
"Tapi, sekarang aku hanya bisa membantunya dengan alat-alat medis. Sisanya adalah tugasmu. Hanya kau yang bisa mengembalikan semangat hidupnya," ungkap Sang Dokter.
"Apa aku bisa melihatnya sekarang?"
"Nanti saja kalau sudah dipindahkan ke ruang ICU." Dokter Fahri menepuk bahu Zian beberapa kali lalu melangkah pergi. Zian kembali duduk di kursi panjang itu, lalu mengurut keningnya yang terasa berdenyut.
Dimas dan Anita hanya mampu saling melirik, tidak dapat berkata apa-apa lagi. Mereka pun merasakan kekhawatiran yang sama dengan Zian.
"Jika terjadi apa-apa dengannya, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku," ucap Zian seraya menyandarkan punggungnya di kursi. "Karena kesalahanku, Naya sekarang seperti ini. Jika saja aku lebih peduli padanya sejak awal, mungkin semua ini tidak akan terjadi." Zian kembali menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Naya.
"Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu. Sekarang yang harus kau lakukan adalah memberi Naya semangat untuk melawan sakitnya," ujar Anita.
"Tapi lihatlah apa yang aku lakukan. Akulah yang membuatnya lemah. Kenapa aku sebodoh ini... Aku setiap hari melihatnya memecahkan benda, tanpa bertanya ada apa dengannya. Aku malah memarahinya. Aku pernah melihatnya berdarah beberapa kali, tapi aku mengabaikannya. Dan aku tahu dia makan makanan hambar tapi aku tidak pernah peduli. Parahnya, aku menyadari wajahnya yang pucat dan tubuhnya semakin kurus, tapi aku semakin menambah siksaannya. Aku dengan tega memberinya sedikit uang dan memarahinya jika dia menghabiskan uang itu. Dan aku malah berharap dia pergi dari hidupku untuk selama-lamanya." Air mata yang mengalir pun semakin deras mewakili semua perasaan bersalahnya.
Dimas dan Anita hanya dapat bernapas panjang melihat penyesalan bosnya itu. Mereka pun menyadari bahwa selama ini Zian sudah memperlakukan Naya dengan sangat buruk.
****
Naya sudah berada di dalam ruang ICU. Dia terbaring lemah dengan banyaknya peralatan medis yang melekat di tubuhnya.
Dengan pakaian steril berwarna hijau, Zian memasuki ruangan itu. Dia terhenyak melihat Naya yang telah dipenuhi berbagai alat medis. Air matanya kembali berjatuhan.
Zian mengambil kursi dan duduk di samping Naya. Lalu meraih tangan kecil itu. Matanya membulat sempurna ketika menyadari banyaknya luka lebam di lengan istrinya itu.
Zian kemudian menyibakkan selimut dan membuka pakaian yang dikenakan Naya hingga batas dada, dia melihat sangat banyak bekas luka lebam, seperti bekas penganiayaan. Zian mengepalkan tangannya hingga bergetar.
"Alex... Aku pasti akan menghabisimu!" gumam Zian geram.
Zian kembali menatap bekas luka tembakan dan bekas jahitan yang ada di perut sebelah kanan Naya, dia mengusap bekas luka itu dengan jarinya.
Naya ... Akulah yang menyebabkan kau sekarang menjadi seperti ini. Jika suatu hari kau tahu kalau akulah penyebab hidupmu jadi begini, apa kau akan membenciku? batin Zian
Dia membelai wajah pucat itu kemudian mengecup keningnya. "Naya, aku mohon berjuanglah. Aku akan menunggumu sampai kapanpun. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi," bisiknya pelan.
Zian kemudian menyandarkan kepalanya di bantal yang sama dengan Naya, lalu melingkarkan tangannya di tubuh istrinya itu. Tidak lama kemudian, Zian ikut tertidur di sana. Melepaskan rasa lelahnya.
__ADS_1
**** bersambung