
"Apa jangan-jangan dia kabur ke rumah itu. Dia kan sangat ingin ke sana."
Zian bergumam-gumam sembari memperhatikan setiap jalan yang dilewatinya, lalu kemudian menginjak gas dalam sehingga mobil melaju sedikit lebih kencang, mengarah ke rumahnya yang lama.
Tidak butuh waktu lama, lelaki itu tiba di depan sebuah rumah sederhana dengan pekarangan sempit. Rumah itu terlihat gelap gulita karena tak ada satupun lampu yang menyala.
"Naya tidak ada. Lampunya mati semua dan tidak ada mobil di sini. Lalu Naya kemana?" ucapnya pada diri sendiri. "Apa jangan-jangan..." gumamnya sembari memikirkan sesuatu. Lalu sesaat kemudian segera melajukan mobilnya ke suatu tempat yang dia yakini ada sosok istrinya di sana.
****
Sebuah mobil hitam memasuki gerbang rumah besar setelah seorang penjaga membukakan pagar. Sepasang sandal bulu rumahan dengan boneka lucu di atasnya terlihat menuruni mobil mewah itu.
Naya menatap rumah kakak dokternya dengan perasaan sedih, lalu menyeret langkahnya menuju pintu rumah itu dengan berlinang air mata. Sesekali gadis itu terlihat menyeka air matanya.
Di sebuah ruangan, Fahri dan keluarga kecilnya sedang bercengkrama ketika bel berbunyi. Seorang wanita paruh baya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga segera menuju pintu dan membukanya.
"Nona Naya?" kata wanita itu begitu melihat Naya berdiri di depan pintu.
"Bibi, dimana Kak Elma?" tanya Naya.
"Ada di ruang keluarga. Masuklah, Nona!" Naya berlari kecil menuju ruang keluarga dimana Fahri, Elma dan Evan berada. Mereka pun terkejut melihat Naya datang dengan setelah piyama dan sandal bulunya. Ketiga orang itu menatap Naya dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Naya..." panggil Elma, kemudian menghampiri adik ipar kesayangannya itu. Wanita itu mengusap wajah Naya yang basah karena air mata. "Kau kemari dengan siapa?"
"Aku kabur dari rumah! Kakak, aku mau tinggal di sini. Dia sangat jahat padaku," ucap Naya yang langsung menjatuhkan tubuhnya di pelukan wanita cantik itu.
Fahri dan Evan langsung menggeram mendengar pengakuan Naya. Mereka langsung berdiri dan menghampiri gadis yang sedang menangis itu.
"Apa yang si Bodoh itu lakukan padamu?" tanya Fahri dengan wajah yang lumayan kesal. Evan pun terlihat ikut geram melihat Naya menangis sampai sesegukan.
"Dia berbuat seenaknya padaku, dan menjadikanku tahanan penjara."
"Akan kuhabisi dia kalau berani menyakitimu lagi."
Elma memberi kode pada suaminya dan juga Evan agar membiarkan Naya tenang dulu. Wanita itu membawa Naya duduk di sofa diikuti yang lain. Sampai Naya merasa lebih tenang.
"Aku boleh tinggal di sini lagi, kan?" tanya gadis cengeng itu.
Elma mengusap rambut panjang peri kecilnya itu dengan sayang,"Tentu saja... Rumah ini juga rumahmu. Kau boleh tinggal di sini kapanpun kau mau."
Memangnya apa yang dilakukan Kak Zian padamu? Apa dia kasar padamu lagi?" Evan bertanya masih dengan wajah menggeram. Sementara Naya menundukkan kepalanya. Tidak tahu harus menjawab apa.
Antara malu dan sedih. itulah yang dirasakan gadis itu. Malu mengatakan penyebabnya melarikan diri dari rumah hanya karena masalah sepele, dan sedih karena merasa sang suami membohonginya.
__ADS_1
Karena Naya tak kunjung menjawab, akhirnya Elma, Fahri dan Evan menjadi salah paham. Mereka mengira Zian melakukan sesuatu yang benar-benar menyakiti Naya.
"Baiklah, kalau kau belum mau cerita tidak apa-apa. Sekarang istirahatlah," ucap Elma. "Aku antar ke kamarmu, ya..." tawarnya kemudian, lalu dijawab anggukan oleh Naya.
Elma merangkul Naya menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Tinggallah Fahri bersama Evan dengan pikiran masing-masing. Kedua orang itu benar-benar sedang kesal pada saudaranya itu.
Benar saja, Fahri dan Evan masih berkutat dengan pikirannya masing-masing ketika bel rumah itu berbunyi. Mereka saling berlomba membukakan pintu, merasa yakin orang yang ada di balik pintu adalah seseorang yang mereka tunggu-tunggu.
Saat pintu terbuka, tampaklah Zian dengan senyum cerahnya. Namun, bukannya mendapat balasan senyuman, Zian malah mendapat tatapan mengintimidasi. Menyadari tatapan itu, senyum cerah di wajah Zian langsung berubah menjadi senyum getir.
"Kenapa wajah kalian kusut begitu? Kalian sakit?" tanya Zian dengan polosnya.
Fahri dan Evan menatap tajam Zian, membuat lelaki itu salah tingkah.
"Ah, kalian tidak mungkin sakit. Di rumah ini kan isinya dokter semua, dan kau..." Zian menunjuk Evan dengan dagunya, "kau adalah seorang calon dokter,kan!"
Zian mencoba mencairkan suasana, namun tetap kedua saudaranya itu tak bergeming. Zian pun menatap mereka bergantian.
"Mau apa kau kemari?" tanya Fahri tanpa mempersilahkan adiknya masuk ke rumah.
"Aku mau menjemput istriku!" Zian kemudian bergerak maju. hendak masuk ke rumah, namun Evan dan Fahri dengan kompaknya memasang tubuh di pintu, sehingga langkah Zian terhenti.
"Naya akan tinggal di sini," ucap Fahri. Zian membelalakkan matanya tak percaya dengan ucapan kakaknya itu.
"Tapi Naya tidak mau bertemu denganmu," Evan menunjukkan wajah menantangnya di depan kakaknya itu. Sementara Zian terlihat mulai kesal. Seolah kedua saudaranya itu bersekongkol menyembunyikan istrinya
Kenapa mereka malah bekerja sama menyelundupkan istriku?
"Kak Fahri, ayolah! Kau sudah memisahkanku begitu lama dengan Naya. Lalu kenapa sekarang kau mau memisahkan kami lagi?" Zian mulai frustrasi di depan pintu. Sementara dua orang yang sedang berperan sebagai algojo-nya Naya itu tetap tidak mau bergeser dari tempatnya berdiri.
"Naya sudah tidur!" ucap Fahri, "jadi pulanglah dulu! Naya belum mau bertemu denganmu. Aku sudah bilang kan, jangan membuat Naya stress. Itu bisa sangat mempengaruhi kesehatannya," ujar Fahri.
Aku benar-benar ingin mencekik kalian berdua. Berani sekali kalian memisahkanku dari Naya.
Karena tak kunjung diizinkan masuk ke rumah itu, akhirnya Zian pulang dengan wajah kesal. Ribuan sumpah serapah terucap dari bibir laki-laki itu, mengumpati kedua saudaranya.
****
Malam sudah larut, namun Naya belum dapat memejamkan matanya. Sejak tadi dia hanya membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur.
"Kenapa aku jadi sangat merindukannya? Arghh aku kesal padamu, tapi kenapa aku sangat merindukanmu," gumamnya.
Sejak hubungannya dengan Zian membaik, tidak ada satu malam pun dilewati Naya tanpa dipeluk oleh sang suami dalam tidurnya. Sehingga tidur tanpa Zian terasa begitu aneh baginya.
__ADS_1
Hal yang sama pun terjadi pada Zian. Laki-laki itu terlihat begitu gelisah di tempat tidur. Memikirkan bagaimana cara untuk dapat kembali bersama sang istri. Sungguh laki-laki itu merasa tidak sanggup hidup sehari pun tanpa sosok Naya. Menyelinap masuk ke dalam kamar Naya pun tidak mungkin karena Fahri sudah lebih dulu mengancamnya.
Matanya kemudian tertuju pada layar ponsel, yang terpampang wajah cantik sang istri.
"Aku sangat merindukanmu," ucap Zian seraya menyentuh layar ponsel dengan jari telunjuknya.
Zian kemudian membuka aplikasi WhatsApp, lalu mengetikkan sebuah pesan.
Zian : [KEMBALIKAN ISTRIKU!!!!] Isi pesan Zian dengan menambahkan emoticon marah, yang dikirim di grup WhatsApp keluarganya.
Evan yang baru saja membaca pesan itu tertawa lantang di kamarnya, kemudian mulai membalas pesan itu,
Evan : [Hahaha Memang enak, tidur sendiri?] diikuti emot tertawa.
Balasan Evan itu semakin membuat Zian geram.
Zian : [Berapa lama lagi kalian mau menyembunyikan Naya! Kembalikan Naya padaku!]
Evan :[Bukan kami, tapi Naya yang tidak mau bertemu denganmu?]
Zian : [DASAR KEONG LAKNAT!!!! ]
Sementara Fahri tertawa setelah membaca pesan itu. "Si bodoh ini ada-ada saja. Dia meminta istrinya di kembalikan. Haha, dia seperti anak kecil yang merengek meminta dikembalikan mainannya yang baru saja direbut.
Setelah terlibat drama perang pesan, Zian segera menghubungi Anita melalui ponselnya. Kebiasaannya sejak dahulu yang tidak bisa hilang adalah, mengganggu wanita itu.
"APA?" jawab Anita kesal, sesaat setelah menggeser simbol hijau di ponselnya.
"Siapkan semuanya besok! Aku tidak mau ada alasan dan penolakan!" ucap Zian dengan suara menekan, "Oh ya, carikan obat tidur paling alami dan yang pasti aman untukku." titah Zian, lalu tanpa permisi memutuskan sambungan teleponnya.
"Obat tidur alami? Apa?" Anita kembali kesal mendapat perintah yang baginya semakin lama semakin aneh.
"Ya ampun, Naya membuat Maliq menjadi gila!" gumam Anita.
*****
BERSAMBUNG
kira-kira Si babang tamvan mau ngapain?
Asyik juga ya nulis novel pake visual... wkwkwk nghalu semakin menjadi-jadi
__ADS_1